Mr. Adira

Mr. Adira
10 - flashback



"Siapa laki-laki itu?" tanya Dira dingin. Kedua netranya memerah, menahan guyuran butiran bening yang siap jatuh membasahi pipinya.


Dira benar-benar tidak menyangka jika dirinya mendapatkan kejutan malam ini. Kejutan yang mencabik-cabik hatinya, menginjak harga dirinya sebagai laki-laki. Ve, wanita yang ia jaga selama lima tahun, begitu tega menghianatinya. Dira tidak habis pikir apa yang membuat gadis lugu itu berubah menjadi liar.


Dira tidak buta, bagaimana ia melihat banyak sekali botol minuman keras yang berserakan di ruangan itu. Sejak kapan Ve suka minum? Sejak kapan kekasihnya itu bermain api?


"Dia Rionel Vaston, fotografer terbaik yang saya punya. Perempuan tadi adalah Vero, model yang pernah saya ceritakan dulu."


Dengggggg.


Ulu hati Dira seperti dihantam paku bumi. Vero, model yang diceritakan Evan adalah kekasihnya? Sejak kapan Ve menggeluti dunia model? Setahu Dira kekasihnya itu bekerja di salah satu perusahaan yang menjadi salah satu rekan bisnisnya. Ve bekerja di divisi keuangan bukan menjadi model.


"Sejak kapan mereka berhubungan?" tanya Dira lagi.


"Ah, saya tidak tahu Tuan! Saya baru melihat mereka pamer kemesraan sejak di Miami. Mereka benar-benar hot. Tidak tahu tempat untuk bercinta. Bahkan saya pernah melihat mereka bermain di pinggir pantai. Hahahahahaha" ucap Evan dengan tawa yang meledak-ledak.


"Teruslah tertawa sampai kau lupa cara menangis."


Ucapan Dira seketika menghentikan tawa Evan. Ia menatap heran bos nya itu. Wajahnya merah padam, penuh dengan amarah.


"Tendang pasangan keparat itu dari sini!."


"Apa? Tendang mereka? Tuan, saya mohon jangan menyuruh saya menendang mereka. Rio adalah fotografer terbaik yang saya punya. Vero adalah model terbaik yang saya punya. Bisnis saya bisa hancur jika saya mendepak mereka" kata Evan pilu.


"Kau takut bisnismu hancur jika mendepak mereka? Apa kau tidak tahu jika hatiku sudah hancur melihat mereka bermain peluh?."


Evan mengernyitkan dahinya. Ia tidak paham denhan ucapan Dira. Ada apa dengan Tuannya itu? Mengapa ia berkata jika hayinga sudah hancur?


"Perempuan itu kekasihku. Lima tahun aku menjalin kasih dengannya. Dan tadi dengan kedua mataku sendiri aku melihatnya bergelut dengan laki-laki lain. Evan, katakan padaku! Apakah aku wajar jika hatiku hancur sekarang?" ucap Dira. Ia tidak lagi dapat menahan derasnya air mata yang keluar membasahi pipinya.


"Apa? Vero itu kekasih Anda? Tuan, saya...saya...tidak tahu soal itu."


"Sekarang kau sudah tahu. Cepat tendang kedua manusia laknat itu dari kantormu. Aku tidak mau lagi melihat mereka di sini."


***


Dira berlari dengan tergesa-gesa. Telepon dari pihak rumah sakit membuatnya membatalkan acara makan malam dengan kolega bisnisnya. Ia langsung kaget, menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya.


Tak hanya Dira, Edward yang duduk di sebelab bos nya itu juga kaget. Ia tidak mendengar pembicaraan antara Dira dan si penelepon. Namun, melihat tubuh Dira yang gemetar membuat Edward yakin jika sesuatu yang buruk sudah terjadi.


"Minggir! Minggir! Minggir!" teriak Dira. Ia terus berlari dengan Edward yang mengejar di belakangnya.


Pikiran Dira benar-benar kacau saat ini. Ia tidak tahu akan kemana. Ia hanya berlari dan berteriak. Tangisnya pecah, seakan ada kesedihan yang sedang di alami Dira.


"Saya Dira! Keluarga korban tabrak lari" ucap Dira pada perawat yang kebetulan berpapasan dengannya.


"Keluarga korban tabrak lari? Apakah Anda keluarga Bapak Samuel?" tanya perawat itu memastikan.


"Benar. Di mana Paman Sam? Paman baik-baik saja kan?" tanya Dira cemas.


Perawat itu tidak menjawab pertanyaan Dira. Ia memilih mengajak Dira ke kamar rawat Samuel. Perawat itu awalnya berjalan seperti biasa. Namun, karena Dira yang terus saja mengomelinya membuat perawat itu berlari.


Dira tidak berhenti memaki perawat itu dengan sebutan siput karena langkah perawat itu yang pelan. Apakah perawat itu tidak tahu jika Dira sedang terburu-buru? Apakah perawat itu tidak tahu jika Dira sedang gelisah?


Andai saja bukan perempuan mungil, Dira sepertinya akan mendamprat perawat itu. Sungguh kinerja yang lambat, yang membuat keluarga pasien naik darah.


"Di sini?" tanya Dira ketika perempuan itu berhenti di depan sebuah pintu.


"Apa maksudmu mengantarku ke kamar jenazah? Aku mau melihat pamanku. Pamanku bukan di sini!" teriak Dira.


"Bapak Samuel tiba di sini dengan kondisi yang sangat menghawatirkan. Beliau kehilangan banyak darah. Kondisinya juga sudah parah. Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, Tuhan berkata lain."


"Apa maksudmu? Apa maksudmu, hah? Kau hanya perawat. Ilmumu belum tinggi. Panggil dokter yang mengurus Paman sam! Panggil dia!" Dira kembali berteriak.


Edward datang, ia melihat penampakan bos nya yang sudah kacau balau. Hatinya juga bertanya-tanya ada apakah gerangan? Mengapa bos nya bisa meraung-raung seperti orang gila?


"Edward! Panggil dokter yang mengurus Paman Sam! Akan aku tuntut dia kalau terjadi apa-apa dengan Paman."


Ceklek.


Pintu kamar jenazah terbuka. Muncullah seorang laki-laki berambut putih dari ruangan itu. Laki-laki itu mengenakan snelli. Wajahnya masam. Di belakangnya terdapat beberapa pemuda berpakaian serba putih. Sepertinya mereka juga perawat di rumah sakit itu.


"Dokter, beliau adalah keluarga Bapak Samuel" ucap perawat perempuan tadi yang di maki-maki Dira.


Dira segera menghampiri dokter itu, menatap nyalang seakan-akan dokter itu memiliki kesalahan padanya.


Edward yang melihat aura gelap pada diri Dira, langsung bergerak cepat. Ia menahan tubuh Dira agar tidak kelepasan dalam bertindak.


"Anda dokter yang menangani Paman Sam?" tanya Dira.


Dokter itu mengangguk.


"Di mana Pamanku? Bagaimana keadaannya?" teriak Dira.


Dokter itu menghela nafas kasar.


"Saya sudah melakukan yang terbaik. Namun, nyawa Tuan Samuel tidak dapat tertolong. Maaf, saya hanya manusia bukan Tuhan" ucap Dokter itu kemudian berlalu dari hadapan Dira.


Dira langsung tumbang. Ia kembali menangis meraung-raung. Edward mencoba menenangkan bos nya itu. Namun, ia malah menjadi korban amukan Dira. Sudah tidak dapat terhitung berapa kali Dira memukulnya. Sudah berapa kali Dira mencakarnya.


Untung saja Edward memiliki stok sabar yang banyak. Ia tidak melawan balik melainkan memasrahkan tubuhnya menjadi pelampiasan Dira.


Puas mengamuk, Edward mengajak Dira untuk masuk ke dalam kamar jenazah. Mereka akan memastikan jika jenazah korban itu adalah Samuel.


Dira lagi-lagi menangis histeris ketika perawat tadi membuka kain yang menutupi wajah jenazah itu. Dia memang Samuel. Wajahnya penuh darah.


"Paman! Bangun, Paman! Jangan tiduran di sini! Ayo, Pulang!" teriak Dira, tangisnya semakin pecah ketika melihat tubuh Samuel hang dingin dan kaku.


"Bangun, Paman! Bangun! Jangan tinggalkan Dira! Perusahaan masih butuh Paman. Dira belum mampu memegang perusahaan sendiri. Paman Sam, bangunnn!!!! Bangun...!!!."


Edward menarik tubuh Dira agar menjauh dari jenazah Samuel. Ia tidak kuat melihat Dira yang histeris seperti itu. Edward mengajak Dira untuk keluar. Ia akan mengurus administrasi agar jenazah Samuel bisa di bawa pulang untuk segera dimakamkan.


Susah payah, Edward menarik Dira yang tidak mau beranjak dari jasad Samuel. Edward sampai meminta bantuan beberapa perawat laki-laki untuk membantunya.


Dira yang sedang berada dalam pusara emosi tinggi, tentu saja tidak mampu mereka atasi. Dira semakin mengamuk ketika melihat perawat-perawat itu mencoba menariknya keluar.


Tidak ada cara lain, Edward meminta Dira agar disuntik obat penenang. Dengan susah payah, akhirnya perawat itu berhasil menyuntikkan obat penenang pada Dira sehingga Dira perlahan tenang dan tertidur.


Edward memejamkan kedua matanya. Ia terpaksa melakukan itu. Edward segera menghubungi anak buahnya untuk menyusul mereka ke rumah sakit. Edward tidak mungkin mengurus Dira dan jasad Samuel seorang diri. Ia butuh bantuan.


Tak lupa Edward menyuruh anak buahnya untuk bergerak, mencari penyebab kecelakaan Samuel. Edward yakin seorang Dira tidak mungkin akan melepaskan pelaku tabrak lari itu. Apalagi nyawa Samuel tidak tertolong.


Semoga saja anak buahnya segera datang sehingga Edward dapat menyelesaikan urusannya secepat mungkin.