Mr. Adira

Mr. Adira
16



Sing Nang Corretional Facility, New York


Dira menatap dingin sebuah gedung yang berdiri di hadapannya. Kedua kakinya seperti ragu untuk masuk ke dalam gedung itu. Sudah satu jam Dira berdiri di sana, menatap gedung yang bertuliskan Sing Nang Correctional Facility.


Sing Nang Correctional Facility atau yang lebih mudah dikenal dengan sebutan penjara Sing Nang, terletak 20 mil sebelah utara kota New York. Penjara Sing Nang adalah tempat di mana Veronica mendekam akibat ulahnya yang telah menabrak Samuel hingga tewas.


Dira tidak tahu berapa lama masa hukuman Veronica karena ia tidak hadir dalam persidangan Veronica. Hatinya pasti akan hancur saat melihat orang yang dicintainya duduk dikursi pesakitan dengan dakwaan menabrak Pamannya hingga tewas.


Dira tidak kuat. Dia tidak akan kuat. Alhasil selama persidangan hanyalah Edward dan pengacara keluarga Sanjaya lah yang hadir. Mereka berdua yang mengikuti jalannya persidangan dari awal hingga selesai.


Dira seperti menutup mata dan telinga. Ia tidak tahu dan tidak mau tahu dengan jalannya persidangan dan hasil dari persidangan. Dira juga tidak tahu vonis apa yang dijatuhkan majelis hakim kepada Veronica. Hatinya terlalu hancur untuk mencari tahu. Hatinya terlalu rapuh untuk menerima kenyataan.


Dan kini entah keberanian dari mana yang membuat Dira berdiri di depan penjara Sing Nang. Kedua netranya terus menatap dengan tajam gedung berwarna abu-abu itu. Perlahan, Dira mulai berjalan mendekati bangunan itu.


"Selamat pagi, Tuan! Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang sipir penjara Sing Nang yang kebetulan berpapasan dengan Dira.


Dira menggigit bibir bawahnya. Sepertinya ia masih ragu untuk meneruskan langkahnya.


"Hello, Tuan! Ada yang bisa saya bantu?" tanya sipir itu lagi.


Dira mengangguk.


"Saya ingin menjenguk seorang napi wanita bernama Veronica" ucap Dira.


"Veronica?."


"Veronica Meghan Hapsary" ulang Dira dengan menyebutkan nama lengkap orang yang ingin ia temui.


Sipir itu nampak berfikir sejenak. Lalu memanggil salah satu rekannya untuk bertanya tentang Veronica.


"Tahanan nomor 314, Tuan" begitulah ucapan dari rekan sipir tadi yang terdengar oleh kedua telinga Dira.


"Apakah Anda ingin menjenguknya?" tanya sipir itu.


"Iya, eh, tidak! Eh, iya! Eh, tidak! Ah, sial nih lambe!" umpat Dira merutuki kelabilan mulutnya sendiri.


"Pak, saya hanya ingin melihatnya dari jauh. Apa boleh?" tanya Dira.


Sipir penjara itu diam. Ia nampak berfikir sejenak.


"Lama kau, Pak!" cibir Dira. Ia kemudian mengeluarkan identitasnya, memberi tahu Pak sipir jika dirinya adalah orang penting di New York.


Sayangnya, si sipir tidak peduli. Ia terus membaca tanpa mengerti mengapa orang di depannya memberi kartu identitasnya.


"Pak...!" panggil Dira lagi.


"Sebentar, Anda ini siapanya Veronica?" tanya sipir itu.


"Saya...saya...keluarga jauhnya. Saya mau lihat dia dari jauh" ucap Dira.


"Memangnya kenapa kalau dari dekat? Bukannya lebih enak dan sedap di pandang?" tanya sipir itu lagi.


"Sstttt.....ssstttt.... Sudahlah, Pak! Saya mau bertemu Veronica tapi hanya ingin mihatnya dari jauh. Tolong jangan banyak bertanya karena saya pusing dan migrain" omel Dira.


Sipir itu mengangguk. Ia kemudian menyodorkan buku daftar pengunjung kepada Dira. Dira menghela nafas kesal. Ia merasa kesal dengan proses yang bertele-tele.


Dira mengambil buku daftar pengunjung itu dan dengan cepat menuliskan namanya. Tak lupa jabatan sebagai CEO paling tampan dan rupawan juga disematkan oleh Dira.


Usai mengisi buku daftar pengunjung, sipir penjara mengajak Dira untuk masuk. Sesuai keinginannya, Dira hanya ingin melihat Veronica dari jauh. Saat ini para tahanan wanita sedang belajar menjahit.


"Pak, orangnya banyak sekali" kata Dira. Kedua matanya langsung berkunang-kunang ketika melihat ribuan wanita berpakaian biru tua sedang duduk di sebuah ruangan.


"Mana ada penjara sepi, Pak. Kuburan aja ramai, apalagi penjara?" cibir sipir itu.


Sipir itu kemudian berjalan, mendekati petugas yang sedang memberi pelatihan. Sipir itu berbisik. Ia kemudian berjalan kembali mendekati Dira.


"Tahanan nomor 314 akan segera dipanggil. Bapak bisa melihatnya dari sini" kata Pak sipir.


Dira mengangguk. Hatinya langsung gelisah menunggu kemunculan Veronica. Seperti apa Veronica sekarang? Apakah ia bisa mengenali Dira setelah 10 tahun lebih mendekam di penjara?


Dira semakin cemas tidak karuan. Ia ingin kabur saja, kembali ke apartemennya. Namun, niat itu urung dilakukan karena tiba-tiba kedua netranya melihat sosok perempuan berambut panjang keluar dari kerumunan orang-orang itu.


Nafas Dira langsung terputus-putus. Melihat penampakan Veronica yang sekarang sungguh membuat hatinya menjerit. Meski Dira tidak bertemu dengan Veronica dari jarak dekat. Namun, kedua mata elangnya dapat menangkap dengan jelas seperti apa penampilan Veronica sekarang.


"Mau di sini atau mendekat ke sana?" tanya sipir penjara itu, kembali menawari Dira.


Dira menggeleng. Hatinya tetap kokoh untuk melihat Veronica dari jarak jauh.


"Berapa lama hukuman yang diterima Veronica?."


"Seumur hidup, Pak."


Dira langsung menoleh ke arah sipir. Ia sedikit terkejut dengan penuturan sipir itu.


"Sebenarnya pihak keluarga korban meminta hukuman mati, Pak. Namun, setelah beberapa kali sidang. Akhirnya Nona Veronica dijatuhi hukuman penjara seumur hidup" kata sipir itu menjelaskan.


Sakit! Begitulah perasaan Dira sekarang. Perasaannya campur aduk, antara benci dan masih cinta. Disatu sisi Dira merasa marah kepada Veronica atas perbuatannya itu. Di satu sisi rasa cintanya masih ada untuk Veronica.


Dira menarik nafas panjang. Ia kembali melihat Veronica yang sedang duduk sembari menjahit. Sepertinya ia harus pergi dari tempat itu agar tidak terlalu terbawa perasaan.


"Apakah selama ini ada keluarga Veronica yang menjenguknya?" tanya Dira.


"Tidak ada, Pak. Dia mengaku jika sudah yatim piatu" jawab sipir itu lagi.


Dira tersenyum getir. Hatinya seperti dicabik-cabik mendengar penjelasan sipir itu.


"Mulai besok, akan ada orang yang akan mengantar makanan untuk Veronica. Tolong berikan padanya! Tapi jangan beritahu identitas pengirim. Cukup Anda saja yang tahu. Saya permisi dulu."


Dira lalu beranjang meninggalkan penjara Sing Nang. Ia berjalan dengan gontai.


Dira masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mesin dan mulai melajukan mobilnya dengan perlahan.


'Andai kau tidak berkenalan dengan si basreng Vaston, Kau pasti masih bersamaku sekarang' gumam Dira lagi.


Dira terus melajukan mobilnya. Sepertinya ia tidak akan ke kantor Sanjaya corp. Ia memilih membelok ke kanan, menuju butik Evan.


"Tuan...!!!" pekik Evan.


Evan buru-buru bangkit ketika melihat Dira muncul dari pintu masuk butiknya. Ia membungkuk, memberi hormat kepada Dira sesuai SOP yang ditetapkan oleh Dira.


"Ke mana yang lainnya?" tanya Dira dingin.


Ia mengacuhkan salam dari Evan dengan berlalu begitu saja. Dira mengambil alih kursi kebesaran Evan. Ia duduk di kursi itu sembari menyandarkan kepalanya.


"Mereka sedang pemotretan. Mungkin sebentar lagi akan selesai. Tuan mau makan atau minum? Biar saya siapkan" ucap Evan menawari.


Dira menggeleng. Ia sebenarnya tidak mengerti mengapa melajukan mobilnya ke tempat Evan. Efek hati gundah gulana membuat seorang Dira tidak dapst berfikir jernih.


Evan yang sudah paham dengan kondisi bosnya itu, memilih diam. Ia pamit dari hadapan Dira dan pergi melanjutkan mengecek baju-baju rancangannya.


Baru sepuluh menit terbebas dari Dira. Ponsel Evan berdering. Evan buru-buru pergi menemui Dira ketika melihat nama Dira yang terpampang di layar ponselnya.


"Tuan butuh sesuatu?" tanya Evan.


"Tidak."


"Lalu, mengapa Anda menelepon ponsel saya?."


"Kepencet. Pergilah! Aku ingin sendiri" usir Dira.


Evan langsung menampakkan wajah datarnya. Dalam hatinia mengomel panjang kali lebar. Sudah buru-buru menghampiri Dira, ternyata hanya salah pencet. Benar-benar menyebalkan.


Evan melanjutkan pekerjaannya. Lalu tiba-tiba datanglah Olive dan Rio. Mereka baru selesai mengurus pemotretan salah satu model asuhan Evan yang dipilih menjadi Brand Ambassador salah satu produk kecantikan.


"Bos, pemotretan selesai. Sukses dan lancar seperti biasa" ucap Olive kemudian ia menyodorkan kertas berupa laporan kegiatan hari ini.


"Bagus. Kau memang bisa diandalkan. Dan kau Rio segera proses foto-foto hari ini dan kirim ke pihak perusahaan make up itu. Semakin cepat selesai, semakin cepat pula honor turun" perintah Evan.


Rio mengangguk. Ia segera memutar badan untuk pergi ke ruangannya. Namun, alangkah terkejutnya Rio ketika kedua netranya melihat penampakan Dira di depan pintu ruang kerja Evan. Dira berdiri sembari bersedekap, pandangannya tajam ke arah Rio. Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa heran dengan sikap Dira kepadanya.


Dira melangkah perlahan mendekati Rio. Tatapan tajam dan wajah dinginnya masih setia ia tampakkan untuk Rio.


Evan yang melihat sikap Dira terhadap Rio tentu saja heran. Ada apa lagi ini? Seingatnya perang dingin diantara mereka sudah selesai sejak Kiara menikah?


"Tuan Dira" sapa Olive, memecah ketegangan yang tercipta.


Dira berhenti melangkah. Ia menoleh ke arah Olive dan mencubit pipinya. Seperti biasa, Dira akan menggoda Olive karena itu sudah menjadi SOP yang ditetapkan oleh Dira.


"Hai, cantik! Kamu sudah pulang?."


"Su...sudah, Tuan."


"Sudah makan?."


"Sudah, Tuan."


"Sudah minum?."


"Sudah, Tuan."


"Sudah cinta sama aku?."


"Su... Eh?" Olive segera menutup mulutnya. Untung ia segera sadar dengan pertanyaan Dira sehingga ia tidak melanjutkan ucapannya.


Cup


Dira mengecup pipi Olive dengan cepat. Tingkah sat set Dira itu tentu saja membuat Evan dan lainnya kaget.


"Sebenarnya kepalaku pusing sejak tadi. Aku ke sini ingin melihatmu, cantik. Karena kamulah obat segala penyakitku. Namun, sayang seribu kali sayang. Hatiku kembali panas ketika melihat manusia ini" tunjuk Dira pada Rio.


Rio mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti dengan ucapan Dira yang sepertinya sedang marah kepadanya. Apa salahnya? Seingatnya ia sudah lama tidak berinteraksi dengan Dira.


"Tuan, mau saya buatkan jus?" tawar Evan. Ia berusaha mencairkan suasana dingin di kantornya.


"Tak perlu. Jus buatanmu hambar seperti orangnya. Aku mau kembali ke kantor karena tidak mau hatiku semakin panas berada di sini" ucap Dira kemudian keluar dari butik Evan.


Evan menghembuskan nafas panjang. Ia seperti baru saja terbebas dari tekanan batin. Di tatapnya Rio yang sedang melamun. Ia menepuk bahu Rio agar segera sadar dari lamunannya.


"Boy! Kau membuat ulah lagi, hah?" tanya Evan.


"Tidak."


"Lalu mengapa dia seperti dulu terhadapmu, Boy? Tuan Dira seperti kembali menabuh genderang perang denganmu" tanya Evan lagi.


"Tak tahulah. Aku sendiri baru bertemu lagi dengannya tadi."


"Apa kau kembali merebut kekasihnya?" selidik Evan.


"Aku masih sendiri, Evan. Aku belum bisa move on dari adiknya" gerutu Rio kesal.


"Sudahlah, jangan berselisih! Mungkin Tuan Dira sedang ada masalah dan kau menjadi pelampiasannya. Lebih baik kita lanjutkan bekerja. Besok masih ada proyek yang harus kita kerjakan" ajak Olive.


"Eh, ngomong-ngomong bagaimana rasanya mendapat kecupan dari Tuan Dira?" goda Evan.


Olive memicingkan kedua matanya. Ia lalu memukul bahu Evan dengan keras. Olive tidak menanggapi ucapan Evan. Ia memilih pergi ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya.