
Dira menekuk wajahnya saat Widya menyuruhnya sarapan. Sejak tiga puluh menit yang lalu aneka hidangan yang di masak oleh Widya belum disentuh Dira. Dira sedang dalam mode merajuk. Mama nya itu membuat hatinya dongkol.
Bagaimana Dira tidak dongkol? Baru dua hari di Milan, Widya sudah menyuruhnya pulang. Widya bahkan mengancam akan gantung diri di tali jemuran jika Dira tidak kunjung pulang.
Dira tahu jika itu hanya akal-akalan Widya saja. Mamanya itu mana muat jika digantung di jemuran. Jemuran keluarga Sanjaya pasti langsung ambruk jika Widya nekat gantung diri di sana.
Dira bukan menyumpahi, tapi ia lebih berpikir logis. Ia tahu jika Mamanya pasti sedang merencanakan sesuatu. Dari mulut Edward, Dira tahu jika Widya sedang merencanakan kencan buta antara dirinya dan Athalia.
Dira benar-benar tidak habis pikir. Mengapa Mamanya sangat ngebet sekali inhin menjodohkan dirinya dengan dokter tidak terkenal itu? Jika diamati sekilas maupun dengan seksama, tidak ada nilai plus dari dokter itu.
Cantik? Standart. Sexy? Jauhhhh. Kaya?? Ah, sudahlah Dira pasti ingin tertawa jika harus menjawab itu. Dira belum menemukan sisi positif dari dokter itu. Semua sudah ia beri tanda silang. Tak ada yang menarik, membosan dan mengesalkan. Begitulah penilaian Dira pada sosok Athalia.
Andai saja Widya tidak memberi ancaman super horor pada Dira, pastilah Dira tetap anteng di Milan. Mengganggu bulan madu adiknya di sana. Sayangnya keinginannya tidak terkabul. Jantung Dira langsung ingin lepas saat menonton video yang dikirim oleh Edward
Dalam video itu nampak Widya sedang mengomel-ngomel sembari menggunting sem pak limited edison milik Dira. Dira tentu saja langsung berteriak histeris.
Ia menelpon Edward, menanyakan sudah berapa sem pak yang dimutilasi oleh Mamanya. Edward dengan berat hati mengatakan jika Widya sudah menggunting setengah lusin sem pak limited edison milik Dira.
Seketika Dira pingsan. Namun, hanya 1 menit. Ia kembali sadar dan langsung menghubungi Kapten Jack agar menjemputnya. Secepat kilat Dira bertolak ke Indonesia untuk menyelamatkan sem pak - sem pak miliknya yang tersisa.
"Aduh..., anak Mama yang paling ganteng lagi melamun nih!" goda Widya, ia lalu duduk di sebelah anaknya.
Dira melengos. Ia membuang wajahnya ke kanan sebagai bentuk merajuk kepada Mama Widya.
Widya menahan tawanya, anak bujang lapuknya itu sangat lucu jika sedang merajuk. Ia mengambil piring milik Dira yang masih kosong dan mengisinya dengan nasi plus lauknya.
"Mama masak rendang, ayam kecap, gulai kambing. Ah, rugi bener nih kalau ada yang ngambek tidak mau makan" goda Widya lagi. Ia berpura-pura menyantap makanan dengan lahap.
Dira kembali melengos. Ia yang memang tidak lapar, tidak terpengaruh dengan godaan Widya. Dira tetap saja membuang muka hingga Widya selesai menghabiskan makanannya.
"Enak sekali masakan Mama" ucap Widya bangga.
"Anak Mama yang paling tampan dan rupawan. Apa nggak mau makan juga?" tanya Widya sembari menyolek-nyolek punggung Dira.
Dira menepis tangan Widya. Ia bertambah kesal dengan ulah Mamanya itu.
Ting...Tong...
Widya segera memanggil ART agar membuka pintu. Wajahnya langsung sumringah ketika melihat siapakah yang datang berkunjung.
"Selamat pagi, tante" ucap Athalia. Ia yang sedang libur itu diminta Widya untuk datang ke rumahnya.
"Cih...!!! Masih pagi sudah ke sini. Mau numpang sarapan?" cibir Dira, ia lalu bangkit dari tempat duduknya hendak meninggalkan ruang makan.
"Dira, kamu mau kemana?" tanya Widya kesal. Widya menarik tangan Dira dan kembali mendudukkan Dira di kursi.
"Duduk di situ! Ada tamu" perintah Widya dengan tatapan setajam parang.
"Dira mules, Mamae. Udah di ujung. Udah lah! Jangan halangi Dira! Ini panggilan alam sudah tidak dapat ditahan" ucap Dira beralasan.
"Tidak! Tidak! Tidak! Kamu pasti berbohong. Duduk di sini! Jangan ke mana-mana!" perintah Widya lagi.
Dira mengacak-ngacak rambutnya dengan kesal. Ia semakin menekuk wajahnya. Berbeda dengan Widya, perempuan paruh baya itu nampak berbunga-bunga dengan kedatangan Atha. Ia memeluk Athalia, bercipika-cipiki dan memintanya duduk di sebelah Dira.
Sungguh, Dira ingin menghilang saja sekarang. Situasi seperti ini benar-benar ia benci. Duduk berdampingan dengan dokter tidak terkenal, Ah...! Levelnya sebagai CEO paling tampan dan rupawan pastilah jatuh. Dira tidak ingin itu terjadi. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Atha, Mama masak banyak hari ini. Tapi anak bujang Mama yang tampan dan rupawan sedang badmood. Boleh ya Mama minta tolong temenin Dira sarapan?."
"Mama!!! Apa - apaan sih?" protes Dira. Namun, Widya mengacuhkan Dira dan tetap melancarkan aksinya.
Widya berlalu. Ia sengaja meninggalkan Dira dan Atha berdua. Buru-buru Widya mengambil posisi, posisi nyaman untuk mengintip interaksi kedua orang itu.
"Mas Dira, mau makan apa?" tanya Atha malu-malu.
Dira langsung menoleh ketika Atha memanggilnya dengan sebutan "Mas".
"Hei, dokter tidak terkenal! Kau memanggilku dengan sebutan Mas? Nggak sekalian manggil perak, besi, alumunium, timah, timbal?" ucap Dira nyolot.
Atha bertepuk tangan. Ia kagum dengan pengetahuan Dira tentang unsur-unsur logam. Atha menduga Dira pasti anak yang pintar. Rajin belajar dan suka berada di perpustakaan.
"Dih malah tepuk tangan. Aneh!" ucap Dira lagi.
"Apanya yang aneh sih, Mas? Saya hanya memberi apresiasi kepada Mas Dira. Mas Dira lancar sekali menyebutkan nama-nama logam."
"Tidak perlu!" ucap Dira dingin.
Ia kemudian bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan Athalia sendiri di ruang makan. Dira menuju kamarnya. Ia sudah tidak nyaman berada di rumahnya.
Dira buru-buru berganti baju. Setelan jas kerjanya sudah melekat di tubuh Dira. Dira menyisir rambutnya, menyemprotkan parfum dan tentu saja ia mengambil tas kerjanya.
Kabur ke kantor lebih baik daripada harus berada di rumah. Sebenarnya hari ini Dira berniat akan berangkat ke kantor agak siang. Namun, karena keberadaan Athalia di rumahnya membuat Dira mengubah niatnya.
"Loh? Dira, mau kemana kamu?" tanya Widya kaget ketika melihat Dira keluar dari kamarnya dengan memakai baju kerja.
"Ada meeting mendadak, Mamae. Dira berangkat dulu" ucap Dira.
"No, Dira! No! Kamu berangkat ke kantor agak siang saja. Temani Athalia sekarang" perintah Mama Widya.
"Aduh, Mamae! Nggak bisa! Dira ada meeting penting. Kalau Dira nggak dateng, saham Sanjaya bisa turun. Mama mau nanti nggak bisa belanja?" kata Dira menakut-nakuti Widya.
"Kamu kan kaya-raya. Masak bolos meeting sekali langsung kere? Lagian di sana ada Edward. Suruh Edward yang berangkat meeting" perintah Widya lagi.
Dira menggeleng.
"Edward nggak bisa bahasa Turki, Mamae. Ini kliennya pangeran Turki. Cuma Dira yang bisa berkomunikasi dengan dia" ucap Dira kembali berkilah.
"Kenapa tidak pakai bahasa Inggris saja?" tanya Widya heran.
"Pangeran Turki nya belum les bahasa Inggris sama Om Edo. Jadi belum fasih. Dah ah Dira berangkat dulu" ucap Dira kemudian buru-buru pergi sebelum dipanggil kembali oleh Widya.
Widya menggeleng-gelengkan kepalanya. Anak lelakinya itu memang susah diatur. Ia menatap Athalia dengan iba. Sudah jauh-jauh datang, malah diacuhkan.
"Athalia, maafkan anak Mama yang sedikit gila itu. Kau sudah jauh-jauh ke sini tapi dia mengacuhkanmu" ucap Widya sedih.
Atha tersenyum.
"Tidak apa-apa, Mama. Mungkin memang Mas Dira ada keperluan."
"Anak itu selalu bikin Mama emosi. Ah, begini saja! Karena kamu sudah di sini dan kamu juga pintar memasak. Ayuk kita masak bareng! Nanti kamu antarkan hasil masakan kita ke kantor Dira. Buat dia terkesan dengan masakan kamu. Bagaimana?" usul Widya yang langsung dijawab Athalia dengan anggukan kepala.
"Tapi, Ma. Masakan di meja masih banyak. Apa perlu kita memasak lagi?" tanya Atha ragu.
"Tentu saja. Makanan ini bisa dihabiskan ART di sini. Kau harus tahu ART di sini banyak. Mereka juga suka makan. Jadi kita memang perlu memasak makanan baru untuk dibawa ke kantor Dira" ucap Widya semangat.
Widya dan Atha bangkit dari tempat duduk mereka. Kedua perempuan beda generasi itu segera menuju dapur di kediaman Sanjaya. Entahlah, apa yang akan dimasak oleh mereka berdua. Keduanya sibuk mengobrak-abrik isi kulkas guna mempersiapkan bahan makanan yang akan mereka masak.