Mr. Adira

Mr. Adira
35



Dira menatap malas laki-laki yang menjadi assisten barunya. Nadhif, sebelas dua belas dengan Edward yang suka sekali mengomelinya. Baru sehari Nadhif menjadi assistennya, Dira sudah merasa sumpek dan frustasi. Andai saja tidak ada rentetan rapat yang harus ia hadiri, pastilah Dira memilih kabur ke butik Evan untuk menemui Olive.


Dira juga tidak bisa menjenguk Veronica. Nadhif tak segan memberinya tatapan tajam jika Dira mengatakan hal itu. Entah, titisan siapa yang diwariskan pada Nadhif sehingga Dira merasa sedikit ngeri jika assistennya itu sudah menampakkan wajah dinginnya.


"Nadhif...." panggil Dira.


Nadhif langsung bergerak, berjalan dengan tegap layaknya pasukan militer yang sedang upacara bendera. Lagi-lagi Dira dibuat sebal. Kalau Nadhif berjalan seperti itu? Kapam sampainya?


"Ada apa, Tuan?" tanya Nadhif. Ia memposisikan dirinya dalam keadaan siap menerima perintah.


"Apa jadwalku selanjutnya?" tanya Dira.


"Anda akan meeting dengan Mr. Josh di Max Cafe sekalian makan siang di sana. Setelah itu Anda lanjut meeting dengan Mr. Kiel dari Amariz tour and travel. Setelah itu free" kata Nadhif menjelaskan.


Dira mengangguk. Ia melirik arloji di pergelangan tangannya. Satu jam lagi ia akan meeting dengan Mr. Josh. Dira menyuruh Nadhif untuk berangkat sekarang saja. Ia khawatir akan terlambat dan hal itu dapat menjadi nilai minus pada dirinya.


Waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa langit sudah gelap. Rangkaian meeting sudah diselesaikan oleh Dira. Dira meminta Nadhif untuk mengantarkannya ke apartemen. Dira ingin tidur. Tubuhnya lelah sekali.


Nadhif yang paham dengan kondisi Tuannya langsung tancap gas. Ia mengantarkan Dira ke apartemennya dengan cepat dan selamat.


"Besok, apakah jadwalku masih padat?" tanya Dira ketika mobil yang membawanya sudah tiba di depan lobby apartemennya.


"Besok hari Sabtu, Tuan. Waktunya libur. Anda tidak memiliki jadwal apapun. Karena sesuai perintah Nyonya Kiara, saya harus mengosongkan jadwal Anda di hari Sabtu dan Minggu agar Anda bisa beristirahat dan bersenang-senang" kata Nadhif menjelaskan.


Dira bersorak senang. Ia tidak memyangka jika Kiara memperhatikan kesenangan batinnya. Dira langsung melompat, keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam apartemennya. Ia tidak memperdulikan Nadhif yang berteriak memanggil Dira.


"Besok liburrrr!!! Gue bebasss....!!!" sorak Dira kegirangan.


Pemandangan aneh yang ditampakkan oleh Dira. Biasanya ia tidak pernah mengeluh tentang hari. Tidak pernah mengeluh jika tidak ada libur. Namun, sekarang Dira nampak berbeda. Ia menyambut suka cita hari libur yang diberikan Kiara. Dira akan memanfaatkan dua hari liburnya. Entah dengan mengunjungi Veronica atau ke butik Evan.


Dira masuk ke unit apartemennya. Ia segera melempar jas, sepatu dan dasi sembarangan. Dira bersiul-siul senang masuk ke kamar mamdi untuk membersihkan tubuhnya.


Usai menyelesaikan ritual mandinya. Dia segera berpakaian sembari menunggu makanan yang ia pesan datang. Tepat setelah Dira selesai menyisir rambut, pintu apartemennya diketuk. Dira bergegas membuka pintu dan mengambil makanan yang ia pesan.


"Selamat makan....." seru Dira.


Ia membuka box berisi makanan yang ia pesan. Tampilan makanan langsung menggugah selera Dira. Ia segera menyendok makanan itu dan menyuapkan ke dalam mulutnya.


Tiba-tiba Dira menyudahi mengunyah makanannya. Dira menatap kosong makanan di hadapannya. Entah mengapa terbiasa disuapi Olive membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda. Dira menjadi tidak nafsu makan. Ia ingin disuapi Olive.


"Kenapa gue jadi manja begini sih? Biasanya juga makan sendiri" guman Dira.


Ia mengangkat wajahnya, menatap langit-langit kamarnya. Hatinya kembali merasakan kesedihan. Biasanya ada Olive yang menemaninya. Mengeloni Dira sampai ia tertidur.


Dira menutup kembali box makanan di hadapannya. Ia mengambil air mineral dan meneguknya. Dira berjalan menuju kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya yang sudah lelah setelah beraktifitas seharian.


"Andai Veronica tidak berselingkuh pastilah kita sudah menikah" gumam Dira sedih.


"Kenapa harus Veronica yang menabrak Paman Sam? Dari sekian banyak orang, mengapa Veronica yang melakukannya?" guman Dira lagi.


"Perselingkuhan Ve bisa aku maafkan. Tapi kalau masalah pembunuhan Paman Sam, aku masih berat untuk memaafkanmu" Dira menitikkan air mata dan buru-buru ia mengusap pipinya yang basah.


"Aku mungkin bodoh masih menyimpan rasa ini untuk Ve. Terbuat apa hatiku ini? Mengapa sangat sulit aku palingkan dari Veronica? Apa mungkin adonannya terlalu lembut? Apa mungkin terlalu banyak air? Ah... Hatiku galau. Segalau Kiara saat aku jodohkan dengan Elang."


Dira terus bermonolog hingga tanpa sadar ia terlelap sembari memeluk guling.


***


"Mr. Adirra...!!!" pekik Evan.


Ia langsung berdiri dan menghampiri Dira. Sesuai SOP, Evan langsung membungkuk memberi hormat kepada Dira.


Evan melirik arloji. Kedua netranya membola ketika melihat waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi waktu New York. Ada apa ini? Tumben sekali Dira datang ke butik sepagi itu?


"Mana Olive?."


"Olive? Mister mencari Olive?" tanya Evan heran.


"Tentu saja aku mencari Olive. Di mana dia?" tanya Dira.


"Mister, apakah Anda tidak tahu sekarang hari apa?."


"Hari Sabtu, lalu?."


"Hari Sabtu, nanti malam minggu. Olive itu bukan jomblo. Dia punya kekasih. Olive meminta libur hari Sabtu karena akan berkencan dengan kekasihnya."


"APA..??!!! Tidakkkkkk!!!! Tidak boleh. Olive tidak boleh berkencan. Dia harus di sini menemaniku" teriak Dira.


Evan menggelengkan kepalanya. Merasa tidak aneh dengan tingkah bos nya yang absurd itu.


"Mengapa kamu mengijinkan Olive berkencan hah? Kau ini bodoh! Bodoh, Evan" maki Dira.


"Ya ampun, Mister! Siapa saya sehingga saya berhak menghalangi Olive berkencan? Saya bukan bapaknya bukan juga suaminya. Olive memiliki hak untuk berkencan setelah ia berkerja penuh di butik. Saya tidak sekejam Anda, Mister. Hati saya selembut sutera."


"Tapi kamu bodoh!" umpat Dira lagi. Ia masih kesal dengan Evan yang mengijinkan Olive berkencan padahal dirinya sengaja datang pagi-pagi sekali untuk menemui Olive.


"Saya tidak mau tahu. Hubungi Olive! Suruh dia datang ke sini sekarang!" perintah Dira.


Evan menggeleng.


"Tidak bisa, Mister. Hari ini Olive libur. Saya tidak boleh mengganggu hari libur Olive."


"Ini perintah! Ini perintah!" teriak Dira lagi.


Evan menghela nafas panjang. Ia sudah kehabisan akal untuk membujuk Dira.


"Di mana Olive akan berkencan?" tanya Dira.


"Saya tidak tahu, Mister. Itu privasi Olive. Saya tidak boleh ikut campur."


"Aarggggghhhhhhh.........." Dira berteriak kesal. Ia menjambak rambut Evan dengan gemas. Evan yang memang kemayu tentu saja menjerit kesakitan. Ia bahkan berteriak meminta tolong agar Dira berhenti menjambak rambutnya.


"Lu tahu nggak sih...? Gue lagi stress! Stresss!" teriak Dira kemudian melepas rambut Evan.


"Mister kalau mau stress, silakan stress sendiri! Jangan melampiaskan pada saya! Saya bisa botak lho" kata Evan sembari memegangi kepalanya yang sakit.


"Saya mau Olive! Saya bosan sendirian di apartemen" teriak Dira lagi.


"Makanya cepat nikah, Mister. Mister tidak akan kesepian kalau menikah. Makan, ada yang masakin. Ada yang nyuapin. Tidur, ada yang ngelonin. Duit, ada yang ngabisin" canda Evan sembari tertawa cekikikan.


Dira diam sejenak, memikirkan ucapan Evan yang memang banyak benarnya. Dira memang harus segera menikah. Ia bosan sendiri tanpa ada yang memperhatikan. Di tatapnya Evan dengan tajam lalu terbitlah senyum licik dari bibir seorang Dira.


"Siapkan pernikahanku! Aku ingin menikah besok" kata Dira.


"Jangan becanda, Mister. Ngomong nikah kayak ngomong beli semvak. Cepet banget nggak pikir panjang" cibir Evan.


"Saya tidak becanda! Siapkan pernikahanku. Saya ingin menikah besok" perintah Dira lagi kemudian ia berlalu meninggalkan butik Evan.


Evan hanya mengangkat bahu. Ia tidak menganggap serius ucapan Dira. Mau menikah besok katanya? Memangnya calonnya sudah ada? Memangnya sudah mengurus berkas-berkasnya?


Mana mungkin Evan menuruti keinginan Dira itu?Segala persiapan untuk menikah tidak bisa diselesaikan dalam sehari semalam. Lagi pula keluarga Dira ada di Indonesia. Mana mungkin Kiara dan lainnya langsung terbang ke New York dalam waktu sekejap? Mau pinjem pintu doraemon? Ngimpi! Dira sedang bermimpi.


Evan yang sudah hatam dengan tingkah absurd Dira, tidak memperdulikan ucapan Dira. Ia melanjutkan pekerjaaannya yang tertunda akibat kedatangan Dira.