Mr. Adira

Mr. Adira
19



Dira menghitung satu persatu orang-orang yang berdatangan ke rumahnya. Otak dagangnya bekerja dengan cepat. Pas seratus orang.


Dira tersenyum sinis. Wajahnya langsung menampakkan seringai tidak bersahabat. Ditatapnya perempuan yang berdiri di hadapannya. Atha, perempuan itu tersenyum manis ke arah Dira.


"Selamat datang keluarga calon besan. Maaf, tempatnya sesederhana ini" kata Widya berbasa-basi sembari memeluk ibunda Athalia.


Dira berdecih dalam hati. Sederhana katanya? Rumah seluas lapangan sepak bola dikatakan sederhana? Mamanya ini benar-benar merendah. Dira tidak akan tinggal diam, jiwa sombongnya tak terima jika Widya merendah di hadapan keluarga Athalia.


Widya mempersilakan keluarga Athalia untuk duduk. Ia mengatur tempat duduk orang-orang itu sedemikian rupa. Melihat Dira dan Atha masih berdiri, Widya menghampiri mereka. Ia memegang tangan Dira hendak menyuruhnya untuk duduk di depan dekor.


"Apa-apaan ini, Mamae?" bisik Dira.


"Mengapa Mamae mengundang banyak orang ke sini? Kita tidak sedang bagi-bagi sembako, tidak juga sedang mengadakan open house. Mamae, apalagi yang kau rencanakan?" lanjut Dira.


Widya bersikap tenang. Ia mendekatkat mulutnya di telinga Dira.


"Diam dan jangan banyak protes. Ikuti saja alurnya jika tidak mau Mama malu atau terkena serangan jantung" ancam Widya dan itu sungguh membuat Dira ingin sekali tertawa terbahak-bahak.


Widya menarik Dira dan Atha. Ia menuntun kedua pasangan itu ke depan dekor. Dira dan Atha duduk berdampingan. Sedangkan Widya sudah turun, berbaur dengan orang tua dari Athalia.


"Mas Dira, hari ini aku senang sekali..." ucap Atha lirih.


"Kenapa? Menang undian?" sahut Dira cuek.


"Ini bukan sekedar undian. Ini impian yang menjadi nyata. Mas Dira, terima kasih atas hadiah ini. Aku sungguh terharu mendapatkan anugerah ini" ucap Atha lagi.


Dira tak menyahut. Ia memutar kepalanya dengan malas. Berdekatan dengan perempuan penuh drama membuatnya mual. Andai saja tidak banyak orang, Dira pasti sudah nyelonong pergi ke atas genteng untuk menghitung bintang-bintang di langit.


Sayang sekali, langit belum gelap. Jam juga menunjukkan pukul tiga sore. Rasanya keinginan Dira untuk menghitung bintang harus ditunda dulu. Setidaknya sampai orang-orang itu pergi dari rumahnya.


"Ehem...ehem...ehem..." Edo maju ke depan. Ia mengambil microphone untuk memulai sambutannya.


Dira yang masih dalam mode cueknya memilih mengambil ponsel untuk bermain game. Rupanya game cacing mencari makan lebih menarik dari pada mendengarkan apa yang akan Edo sampaikan.


"Selamat sore, Bapak-Ibu semua. Perkenalkan nama saya Edo Dwi Atmojo, selaku tuan rumah dan wali dari pihak laki-laki yaitu Adirra Marcel Putra Sanjaya. Saya ingin mengucapkan selamat datang di kediaman kami yang sederhana ini."


"Ralat, Om...!!! Ini rumah kelewat besar. Masak dibilang sederhana?" celetuk Dira. Mulutnya berteriak kencang, sedangkan netra dan tangannya fokus pada ponsel miliknya.


Edo tersenyum tipis. Baru saja memulai sambutan sudah diprotes oleh Dira. Ia menarik nafas dalam-dalam, mengambil ancang-ancang untuk melanjutkan sambutannya.


"Sore hari ini akan menjadi sore yang paling indah untuk putra kami. Karena di sore ini, Adira yang sudah menjomblo selama tiga puluh lima tahun...."


"Nggak usah buka kartu, Om....!!! Dira emang jomblo, tapi jomblo keren dan berkualitas...!" celetuk Dira lagi.


Celetukan Dira yang kedua kali membuat Widya gemas. Ia maju menghampiri Dira, mencubit pahanya dengan gemas. Tak lupa Widya juga mengambil ponsel Dira dengan paksa.


Dira hendak protes. Namun, Widya dengan cepat melotot ke arah Dira sehingga membuat Dira meleyot perlahan. Ia memilih mengalah daripada harus baku hantam dengan Widya. Tak baik, karena Dira tidak ingin menjadi anak durhaka yang dikutuk menjadi ulekan oleh Widya.


"Maaf, Bapak-bapak Ibu-ibu. Anak saya memang suka sekali bercanda. Papa, lanjutkan sambutannya!" ucap Widya kemudian ia kembali duduk di samping Ibunda Athalia.


"Dira memang bukan darah daging saya. Dira memang tidak saya rawat dengan kedua tangan saya. Tapi, rasa sayang saya kepadanya sangatlah besar layaknya ayah kandung kepada anak kandungnya."


"Di sore yang berbahagia ini. Putra kami ingin meresmikan jalinan kasihnya dengan wanita spesial pilihannya. Kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan agar acara ini lancar, hubungan mereka harmonis, dan segera lanjut ke tahap berikutnya."


"Bapak Ibu sekalian. Marilah kita saksikan acara pertunangan Ananda Adirra Marcel Sanjaya dan Adinda Athalia Fajrina Lestari....."


Prangggg


Dira melempar vas yang tadinya berdiri cantik di atas meja. Ia langsung menatap tajam ke arah Edo yang juga menatapnya dengan heran. Dira bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan mendekati Edo yang berdiri tak jauh dari posisinya .


"Om Edo tadi ngomong apa?" tanya Dira.


"Ngomong apa?" Edo balik bertanya karena ia juga bingung dengan sikap Dira yang menakutkan seperti itu.


"Om Edo ngomong acara apa ini?."


"Oh, acara pertunanganmu dan Athalia."


"Pertunanganku dan Athalia? Dokter tidak terkenal itu?."


Gluk.


Edo menelan salivanya. Melihat wajah Dira yang gelap gulita seperti awan mendung membuatnya ketar ketir. Apakah Edo salah bicara? Apakah Edo salah dalam menyebut nama? Tapi seingatnya Widya memang mengatakan jika sore ini adalah acara pertunangan Dira dan Atha. Lalu mengapa Dira nampak tidak suka dengan ucapannya?


Brakkkk


"Siapa yang mau bertunangan? Siapa yang membuat acara ini? Aku tidak pernah memiliki hubungan dengan dokter tidak terkenal itu. Bisa-bisanya Om Edo memberikan sambutan seperti itu?" Dira mulai mengamuk. Emosinya sudah naik 60%.


"Kalian, kalian, kalian. Rombongan berjumlah seratus orang. Sore-sore begini, mengganggu acara rebahanku. Kalian ke sini mau apa? Saya tidak bagi-bagi sembako. Pulang kalian semua! Pulang!."


"Mas Diraaaa.....!" panggil Atha lirih.


"Jangan panggil namaku, wahai dokter tidak terkenal! Aku bukan Mas-Mas pemilik panti pijat. Aku ini CEO terkenal, CEO paling tampan dan rupawan."


Plakk


Widya bangkit dan langsung memukul mulut Dira. Ia malu mendengar ucapan Dira yang menghina tamu-tamu dari pihak keluarga Athalia.


"Mamae..."


"Apa-apaan kamu, Dira? kamu mau membuat Mama malu?."


"Mama yang apa-apaan. Bisa-bisanya mengadakan acara pertunangan tanpa sepengetahuan Dira. Lagian siapa sih yang menjalin kasih dengan perempuan ini? Dira masih jomblo, Dira belum punya gandengan."


"Dira...!!! Diam kamu!" bentak Widya.


"Bagaimana mungkin Dira diam jika Mama seenak saja buat acara beginian? Dira tidak mau bertunangan, apalagi dengan dokter tidak terkenal seperti dia" tunjuk Dira tepat di wajah Athalia.


"Dira, diam kamu! Mama bilang diam...!!!."


"Sedari tadi Dira sudah diam, Mamae. Dira mencerna ada apa di rumah ini. Ketika Dira tahu jika ini adalah acara pertunangan Dira dengan perempuan ini, maaf Dira tidak bisa diam lagi."


Dira memanggil semua maid yang bekerja di rumahnya. Mereka yang berjumlah dua puluh orang itu tentu saja lari terbirit-birit mendengar teriakan Dira. Bukan hal baru dikalangan para maid, jika tuan muda mereka tidak suka pekerja yang lelet. Dira tidak segan-segan mengomel dan memberi hukuman aneh kepada maid yang membuatnya kesal dan marah.


Para maid berdiri berjejer di hadapan Dira. Mereka kompak menunduk menerima perintah dari Dira. Dira dengan tidak sungkannya menyuruh para maid itu untuk membungkus semua makanan hang sudah tertata di atas meja. Ia juga menyuruh memasukkan makanan-makanan itu ke dalam mobilnya.


"Dira, apa-apaan kamu? Mau kamu bawa kemana makanan itu?" teriak Widya panik.


Dira tidak menyahut. Ia malah sibuk mencopoti aneka hiasan pada dekor yang sudah nampak cantik. Inisial A dan A, tak luput dari amukan Dira. Dira mencopot dengan kasar dan membuangnya begitu saja.


Keluarga Athalia yang hadir di kediaman Sanjaya hanya bisa melongo. Mereka tidak menyangka jika acara pertunangan Athalia menjadi ajang amukan Dira.


"Lakinya bar-bar begini, masak diterima jadi mantunya Pak Fajar?" celetuk salah satu kerabat Athalia.


"Iya, mana sok kepedean. Dia bilang CEO paling tampan dan rupawan, padahal mirip kanebo kering" celetuk yang lain.


"Kasian Neng Atha kalau menikah sama dia, pastilah ntar KDRT. Kue tart gede aja di tendang, apalagi Neng Atha yang kecil dan mungil seperti itu? Pastilah gampang dijadikan samsak hidup."


"Silakan kalian mengoceh sebelum mulut kalian saya robek."


Dira melempar kedua sepatunya dengan asal. Terlalu sering mendapat hadiah heels terbang dari Kiara, membuatnya mendapatkan inspirasi dalam mengamuk.


Kerabat dari pihak Athalia langsung bungkam. Mereka bergidik ngeri melihat Dira yang sudah kesetanan seperti itu.


"Kamu!" Dira menunjuk wajah Athalia dengan geram.


"Saya tidak akan berbicara dua kali. Dengarkan baik-baik! Saya, Adirra Marcel Putra Sanjaya. Tidak akan pernah jatuh hati dengan dokter tidak terkenal sepertimu. Jadi jangan ngarep bisa jadi istri gue..."


Brakkk


Dira menendang kursi kosong di hadapannya. Ia kemudian berlalu dengan wajah angkuh dan cuek. Dira melangkah dengan cepat. Ia harus buru-buru pergi dari rumahnya agar tidak semakin menjadi-jadi.


"Tuan, semua makanan sudah ada di dalam" ucap salah satu maid yang menunggu di samping mobil Dira.


Dira merogoh saku celananya. Ia mengambil lembaran-lembaran uang merah dan memberikannya kepada maid tersebut.


"Ini untukmu dan yang lainnya. Aku tidak mau tahu. Kembalikan taman belakang seperti semula! Buang semua pernak pernik acara sialan itu! Dan usir semua orang yang masih berada di sana!."


Dira langsung masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mesin dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Sanjaya.


Dira menyambar ponselnya. Ia menghubungi Kapten Jack agar segera menyiapkan jet pribadinya.


"Siapkan jet pribadi sekarang juga! Saya akan bertolak ke Spanyol."


Sambungan langsung diputus sepihak oleh Dira tanpa menunggu jawaban dari Kapten Jack. Dira terus melajukan mobilnya, memecah jalanan ibu kota yang padat merayap.


'Maafkan Dira, Mama! Dira tidak mau dipaksa. Hatiku masih bertaut pada Veronica. Aku tidak mau menjalin hubungan palsu yang akan menyakiti banyak pihak'