Mr. Adira

Mr. Adira
07-flashback



Dira menatap dengan pandangan tidak suka pada sosok laki-laki yang berdiri di hadapannya. Edward Monterez, nama laki-laki itu. Adik dari Alisa Monterez yang bekerja sebagai asissten Paman Samuel.


Alisa dan Edward adalah anak yatim piatu. Mereka hanya tinggal berdua di apartemen. Edward lebih sering ditinggal Alisa karena kakaknya itu sering lembur dan menginap di kantor. Bosan sendirian di apartemen membuat Edward meminta ikut ke kantor. Edward yang memang memiliki otak yang cerdas, cepat menangkap dan beradaptasi dengan situasi perusahaan.


Kecerdasaan Edward itu tidak luput dari perhatian Samuel. Ia mendidik Edward sebagai calon assisten seperti Alisa. Edward berhenti dari sekolah formal dan mulai mengikuti home schooling. Hal itu dipilih Samuel agar Edward lebih memiliki waktu yang fleksibel dalam belajar.


Hanya dalam waktu lima tahun, kecakapan Edward hampir setara dengan Alisa. Samuel menempatkan Edward sebagai tangan kanan Alisa saat usia Edward dua puluh tahun. Samuel sepertinya memang berencana untuk menjadikan Edward seperti Alisa.


"Tuan, hari ini Anda ada rapat dengan Mr. Andalas di Jack Resto pukul sepuluh pagi" ucap Edward sopan.


"Batalkan! Hari ini aku mau kencan dengan Veronica" ucap Dira dingin.


Edward menggeleng.


"Pertemuan ini penting, Tuan. Mr.Andalas adalah orang yang sangat sibuk. Untuk bisa membuat janji dengan beliau butuh waktu yang sangat lama. Suatu keberuntungan bagi perusahaan Sanjaya bisa diberi kesempatan ini" bujuk Edward lagi.


"Tidak bisa, Ed. Aku ada kencan. Pacarku itu juga orang sibuk. Dia ada waktu untuk berkencan denganku saja sudah untung. Sudahlah, batalkan saja!" perintah Dira enteng.


Edward menghela nafas panjang. Ia kemudian menelpon seseorang. Tak lama dua orang laki-laki bertubuh kekar masuk ke ruang kerja Dira. Laki-laki itu membungkuk dan langsung membawa Dira dengan paksa.


Dira yang kaget, tentu saja berteriak layaknya orang yang sedang kesetanan. Ia memaki-maki orang yang membawanya dengan bahasa kebun binatang.


Dua orang laki-laki itu membawa Dira masuk ke dalam mobil Mercedez-benz hitam milik Dira. Dira duduk di kursi belakang dengan diapit oleh kedua laki-laki itu.


"Apa maumu, Ed?" teriak Dira kesal.


"Maaf, ini demi masa depan Anda, Tuan!" ucap Edward saat duduk di kursi pengemudi.


Edward menyalakan mesin mobil. Ia mulai melajukan mobilnya. Sesekali Edward melirik ke belakang, ke arah Dira yang menampakkan wajah kesalnya.


"Awas saja kau, Ed! Aku akan menyiksamu kalau aku sudah resmi menjadi pemegang tahta perusahaan Sanjaya" umpat Dira.


Edward tersenyum tipis mendengar umpatan Dira. Tingkah Dira yang masih kekanak-kanakan membuatnya ingin tertawa saja. Namun, karena SOP seorang asisten yang dilarang menertawai atasan. Jadilah, Edward hanya bisa menahan senyum.


"Sudah sampai, Tuan" kata Edward ketika mobil yang dikendarainya berhenti.


Dira tidak menyahut. Ia hanya memutar kedua bola matanya dengan malas. Tanpa di perintah, kedua laki-laki kekar tadi keluar dari mobil. Salah satu dari mereka mempersilakan Dira untuk keluar.


Sebal! Dira ingin sekali memukul dua laki-laki tadi. Tapi melihat tubuhnya yang kekar membuat nyalinya ciut. Dira sepertinya harus belajar beladiri terlebih dahulu agar bisa balas dendam terhadap mereka.


"Mr. Andalas, maaf membuat Anda menunggu" ucap Edward sopan.


Laki-laki berambut putih itu tersenyum. Ia mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Edward dan Dira.


Edward diam, ia menunggu Dira terlebih dahulu. Tapi rupanya Dira tidak tahu maksud dari Edward. Ia juga diam saja sehingga membiarkan tangan kanan Mr. Andalas menggantung.


"Maaf, Tuan Adira sepertinya masih bingung bertemu klien" Edward menarik tangan kanan Dira dan mengarahkan untuk menerima uluran tangan Mr. Andalas.


"Hmmm... Mr. Monterez, apakah anak ini yang akan menggantikan Samuel di Sanjaya corp?" tanya Mr. Andalas sembari memindai penampilan Dira.


"Benar sekali, Tuan."


"APA???!!!"


Dira memukul meja. Ia sangat kesal dengan ucapan Mr. Andalas. Berani sekali dia mengatainya tidak ada bakat. Sudah bosan hidup rupanya. Adira siap membogem pipi gembul Mr. Andalas. Namun, dengan secepat kilat bisa digagalkan oleh Edward.


"Tahan emosi Anda, Tuan!."


"Bagaimana aku tidak emosi, Ed? Dia mengataiku" bentak Dira.


"Untuk menjadi orang sukses, Anda harus kuat. Tahan kritikan dan cacian. Silakan duduk kembali, Tuan! Kita akan membahas kerja sama perusahaan."


"Kau saja yang bahas. Aku sedang tidak mood. Sudah gagal kencan dengan Veronica, sekarang malah dikatai tidak berbakat. Sakit hati aku, Ed" ucap Dira sembari menghempaskan tubuhnya di kursi.


Edward menghela nafas. Ia harus menyetok stok kesabaran yang banyak menghadapi bos barunya. Edward memang harus banyak mengalah. Setidaknya untuk merubah seorang Adira menjadi sosok yang diinginkan Samuel tidak membutuhkan waktu yang lama.


Dira berotak encer, hanya saja dirinya belum fokus dalam bekerja. Hubungan cintanya dengan Veronica menjadi salah satu penyebab ketidak fokusan Dira. Edward sepertinya harus memutar otak agar bisa menjauhkan Dira dengan Veronica terlebih dahulu.


"Jangan melamun, Ed! Bicaralah! Aku akan menjadi pendengar setia" perintah Dira.


Edward mengangguk. Ia mulai membahas rencana kerja sama dengan Mr. Andalas. Edward memaparkan rencana proyek kerja sama itu dengan jelas. Sesekali Dira nyeletuk, membenarkan rencana kerja yang dipaparkan Edward.


Edward memang sengaja melakukan hal itu. Ia ingin Dira mengeluarkan kemampuannya. Tak apalah jika dirinya harus berkorban, menerima pukulan dan cubitan keras dari Dira.


Tingkah absurd Dira rupanya mencuri perhatian Mr. Andalaz. Ia diam-diam mengagumi Dira. Laki-laki yang tadi ia sebut tidak berbakat itu ternyata sangat cerdas. Hanya bermodal kedua telinganya, Dira bisa mendeteksi kesalahan yang dilakukan oleh Edward. Kagum, Mr. Andalaz benar-benar dibuat kagum dengan kemampuan Dira.


"Deal!"


Mr. Andalaz dan Edward berjabat tangan. Rencana kerja sama perusahaan mereka menemui kesepakatan.


Dira menghela nafas lega. Setidaknya ia bisa segera pergi dari tempat itu.


"Oh iya, ngomong-ngomong...."


"Saya tidak mau ngomong" Dira memotong ucapan Mr. Andalaz. Tingkah Dira itu benar-benar membuat Edward malu.


"Maaf, Mr. Andalaz! Tuan Adira memang suka becanda. Maklum, anak muda zaman sekarang. Tingkat kelucuannya di atas rata-rata" kata Edward.


"Ah, kau benar Ed! Mr. Adira benar-benar lucu. Merajuk saja sudah menggemaskan apalagi serius. Pasti Samuel tidak akan stress menghadapi tumpukan pekerjaan karena ada Dira yang menghiburnya" ucap Mr. Andalaz.


Dira mendelik ke arah Edward. Ucapan Edward tadi seperti boomerang baginya.


"Saya ingin melanjutkan ucapan saya tadi. Hmm...ngomong-ngomong apakah Mr.Adira sudah mempunyai istri? Saya memiliki seorang anak perempuan bernama Elsa. Dia cantik, baru lulus dari Oxford university. Bagaimana kalau Mr. Adira berkenalan dengan Elsa? Siapa tahu jodoh" ucap Mr. Andalaz menawari.


"Tidakkkk....!!!! Tidakkk.....!!! Tidakk.....!!! Saya sudah memiliki kekasih. Tidak berminat mencari yang lain. Mau dia Elsa, Elsi, Elsu, saya tidak mau. Jika urusan kerja sama ini sudah selesai, saya mohon undur diri. Kekasih saya sudah menunggu dari pagi. Permisi" ucap Dira kemudian menyambar kunci mobil yang berada di atas meja.


Dira langsung berlari dan membuka pintu mobil. Secepat kilat, ia masuk dan mengunci dari dalam. Dira tidak peduli dengan teriakan Edward dan bodyguardnya. Ia menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil dengan cepat.


"Veronica....!!!! I'm coming...!!! Tungguin Abang Dira datang...!!!" teriak Dira dari dalam mobil.