Mr. Adira

Mr. Adira
14



"Apa-apaan ini?" teriak Dira.


Kedua netra Dira terbelalak tatkala melihat banyaknya makanan yang tersaji di meja kerjanya. Dira baru selesai meeting dari luar. Niatnya kembali ke kantor untuk membahas hasil meeting tadi bersama Edward. Namun, rupanya Dira dibuat shock. Meja yang biasanya penuh dengan berkas-berkas penting. Kini berganti dengan piring.


"Edward, apa ini?" teriak Dira lagi.


Edward yang saat itu masih berada di luar karena tali sepatunha copot, tentu saja langsung banhkit dan berlari tergopoh-gopoh.


Mendengar bos besarnya berteriak seperti itu, pastilah ada hal buruk yang akan ia terima. Ada apa lagi ini? Baru beberapa menit otaknya segar terkena angin lalu, sekarang ia akan dibuat ruwet lagi.


Edward menarik nafas panjang-panjang. Ia masuk ke dalam ruangan Dira dengan perlahan.


"Jelaskan! Apa ini?" ucap Dira.


Edward menelan ludahnya. Wajah bos besarnya semakin mengerikan. Ia melihat meja kerja milik Dira. Ia pun dibuat kaget dengan apa yang dilihatnya.


"Maaf, Tuan! Saya juga tidak tahu. Bukankah dari tadi saya bersama Tuan, meeting bersama klien. Jadi saya tidak tahu mengenai hal ini."


Tiba-tiba muncullah Athalia. Ia masuk ke dalam ruang kerja Dira dengan wajah tanpa dosa. Di tangannya, nampak Athalia menenteng dua gelas plastik yang berisi es teh. Ia tersenyum ketika melihat Dira sudah berada di ruang kerjanya.


"Kau???" Dira menunjuk wajah Atha dengan jari telunjuknya.


"Siang, Mas Dira! Mas Dira sudah datang rupanya" ucap Atha.


"Mas?" ulang Edward.


Edward menahan tawanya ketika mendengar Atha memanggil bos besarnya dengan panggilan Mas. Ia tidak habis pikir, dokter tidak terkenal itu sungguh berani sekali memanggil Dira seperti itu?


Apakah ia tidak tahu bagaimana tata cara memanggil Dira? Apa ia tidak punya rasa takut sehingga memanggil Dira dengan sebutan itu?


Dira memang tidak suka dipanggil dengan sebutan Mas. Menurutnya panggilan itu terdengar menggelikan. Kiara saja yang nota bene adiknya malah memanggil dengan sebutan Kadir. Sebuah kata yang bila dipecah akan menjadi Kak Dira.


"Tertawalah, Ed, dan aku pastikan kau akan menangis ketika melihat slip gajimu!" ucap Dira dingin dan itu berhasil membuat Edward kembali berwajah dingin.


"Mas Dira, sebaiknya makan dulu! Saya sudah siapkan makanan di meja."


"Diam di situ!" teriak Dira.


Langkah kaki Athalia seketika terhenti. Ia menatap Dira yang entah sejak kapan sudah berubah menjadi sosok yang menyeramkan.


"Siapa yang menyuruhmu datang ke sini hah?" teriak Dira.


Melihat bosnya sepertinya akan meledak seperti itu membuat Edward langsung ketar-ketir. Ia mundur beberapa langkah dan bersembunyi di belakang pintu. Jujur saja Edward tidak ingin menjadi bahan amukan Dira lagi. Hari ini dirinya sudah cukup sabar menjadi samsak hidup saat meeting berlangsung.


"Mama yang menyurunya, Mas."


"Kau tahu ini ruangan apa?."


"Tahu, Mas! Ini ruang kerjamu. Aku tidak salah masuk kan?" ucap Atha polos.


Brakkk


Dira menggebrak meja. Ia benar-benar kesal pada Athalia. Bagaimana bisa perempuan ini masuk ke dalam ruangannya? Apakah tidak ada security yang menghalanginya?


"Ed, panggil semua security! Potong semua gaji mereka! Bisa-bisanya mereka membiarkan orang ini masuk ke dalam ruanganku" murka Dira semakin menjadi.


"Mas, mengapa marah? Jangan salahkan security! Aku ke sini bersama Mama sehingga bisa masuk ke sini."


"Mama?" beo Dira. Ia meraup wajahnya dengan kasar.


"Lalu ke mana Mama sekarang?."


"Mama sudah pulang dan beliau berpesan agar Mas Dira yang mengantarkanku pulang."


Lagi-lagi Dira memukul meja kerjanya dengan keras. Untung saja piring-piring di atas meja itu tidak ada yang pecah.


"Mas, berhentilah memukul meja! Meja itu tidak bersalah. Sekarang, ayo makan!" ajak Atha.


"Makan? Kau mengajakku makan? Kau tahu ini meja apa?" bentak Dira lagi.


"Aku tahu, Mas. Itu kan mejamu."


"Bodoooohhhh....!!!" teriak Dira lagi.


Sungguh Edward ingin kabur saja ketika berada di situasi seperti ini. Edward berusaha memberi kode kepada Athalia agar diam. Namun, rupanya gadis itu tidak mengerti dengan kode yang ia berikan.


"Apa aku salah?" tanya Atha heran.


"Salaahhh...!!! Jelas-jelas salah...!!! Ini meja kerjaku!! Tempatku berkerja dan meletakkan berkas-berkas yang harus aku periksa. Bukan tempat meletakkan piring berisi makanan seperti ini! Kau pikir ini meja prasmanan hah?" Teriak Dira.


Atha menunduk. Ia mulai menyadari kesalahannya. Seharusnya ia meminta meja lain kepada OB untuk meletakkan piring-piring itu. Bukan memakai meja kerja milik Dira.


Atha meminta maaf pada Dira. Namun, namanya juga Dira. Ia yang sudah emosi level 100, mengacuhkan ucapan Atha. Emosinya benar-benar mendidih, persis seperti kuah bakso yang baru matang.


"Edward...!!!" panggil Dira.


Edward yang sejak tadi bersembunyi akhirnya muncul. Ia membungkuk seperti biasa, sesuai dengan SOP yang dibuat oleh Dira.


"Buang meja prasmanan itu! Ganti meja kerjaku dengan yang baru! Aku tidak mau tahu. Besok, saat aku datang ke kantor. Meja kerjaku sudah baru" ucap Dira.


"Siap, Tuan!."


Dira mengambil tas kerjanya. Mood kerjanya sudah hilang. Ia memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya, hendak meninggalkan ruang kerjanya.


"Urus perempuan itu! Aku tidak mau dia muncul lagi dalam hidupku" ucap Dira dingin. Lalu ia melanjutkan melangkah meninggalkan Edward dan Atha yang masih berada di ruang kerjanya.


Edward mengambil ponsel untuk menghubungi OB. Ia meminta empat orang OB untuk datang ke ruang kerja Dira. Edward juga menelpon kepala devisi penyediaan barang dan jasa. Ia memeberi perintah agar membelikan meja kerja milik Dira yang baru.


"Pak Edward, maaf jika saya membuat Anda susah" ucap Atha. Ia benar-benar tidak hati pada Edward.


"Tidak apa-apa, Nona. Sudah tugas saya untuk melayani Tuan Adirra."


"Pak Edward, menurut Anda apakah saya salah? Saya hanya mengikuti kemauan Mama Widya untuk mengantarkan makan siang kepada Mas Dira. Sungguh tidak ada niat untuk membuatnga marah" ucap Atha.


Edward tersenyum. Ia bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh perempuan di hadapannya. Edward bisa melihat, ada hati yang perempuan itu simpan untuk bos nya.


Andai Edward bisa memberi saran. Alangmah baiknya jika ia tidak menaruh hati pada bosnya. Bos nya itu terlalu menguras emosi. Lebih baik berikan hatinya pada laki-laki lain saja yang bisa membuatnya lebih bahagia.


"Tuan Adirra memang tidak suka privasi nya di ganggu. Nona belum kenal dan akrab dengan Tuan Dira. Namun, sudah berani mengacak- ngacak ruang kerjanya. Maaf, Tuan saya memang memiliki tingkat emosi yang tinggi. Beliau memang gampang marah dan begitulah. Dingin seperti kulkas."


"Tapi dia menggemaskan, Pak Edward" ucap Atha keceplosan.


"Menggemaskan? Menggemaskan dari mana? Mungkin Anda salah orang" ucap Edward. Ia benar-benar tidak percaya jika perempuan itu mengatakan jika Dira adalah sosok yang menggemaskan.


"Menggemaskan dari lahir sepertinya, Pak. Lihatlah hidungnya menggemaskan, kembang kempis apalagi saat marah. Pipinya, matanya, bibirnya. Ah... Mas Dira memang lucu" ucap Atha membuat Edward tercengang.


Reflek, Edward menempelkan telapak tangannga di dahi Athalia. Ia ingin mengecek apakah dahi perempuan di hadapannya ini panas apa tidak.


"Kenapa, Pak?" tanya Atha.


"Dahi Anda tidak panas, berarti Anda baik-baik saja."


"Lah? Memangnya saya sakit?" Atha bertanya balik.


'Sepertinya begitu. Anda sedang sakit, Nona. Sakit jiwa' gumam Edward dalam hati.