
Esoknya, Dira kembali datang ke Penjara Sing Nang untuk melihat Veronica dari kejauhan. Dira juga membawa tiga kotak berisi makanan kesukaan Vero. Meski sudah sepuluh tahun lebih berlalu, Dira masih mengingat apapun tentang Vero.
Sudut bibirnya terangkat manakala melihat wajah Vero yang kebingungan ketika mendapatkan kiriman makanan dari Dira. Dira memang tidak mencantumkan namanya. Ia sudah membungkam semua sipir di penjara sing nang agar tidak memberi tahu Vero tentang dirinya.
Vero yang baru pertama kali mendapatkan kiriman makanan seperti itu sepertinya tidak terlalu ambil pusing. Ia makan dengan lahap. Wajahnya benar-benar bahagia.
'Hatiku kembali berperang. Kali ini perang badar. Ve, apa aku salah jika aku masih mencintaimu? Ve, apa aku salah jika masih mengharapkan bisa hidup denganmu? Sayang, seribu kali sayang. Tanganmulah sudah mengambil nyawa pamanku. Rasanya hatiku juga nyeri-nyeri sedap jika saat bersamamu tiba-tiba teringat dengan Paman Samuel' batin Dira dalam hati.
Ia mengusap bulir bening yang muncul di ujung netranya. Dira masih berdiri, menatap Vero yang sedang menyantap makanan darinya.
"Pak, kenapa tidak mendekat saja? Tahanan wanita itu tidak pernah mendapat kiriman dari keluarganya. Mungkin ia akan senang jika tahu Anda yang mengirimkan makanan itu" saran Pak sipir yang langsung dibalas dengan gelengan kepala oleh Dira.
"Saya akan tetap melihatnya dari jauh. Jaga dia. Kalau dia butuh apa-apa, hubungi nomor ini" ucap Dira menyodorkan kartu nama Daniel, salah satu karyawan kepercayaannya di New York.
Sipir itu mengangguk. Dira kemudian pamit meninggalkan penjara sing nang. Terlalu lama di sana membuat hatinya baper. Untung saja tidak ada Kiara, sehingga Dira aman dari ledekan adik bungsunya itu.
Dira masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya secara perlahan. Entah setan dari mana yang menggerakkan tangan Dira. Ia kembali mendatangi butik Evan. Dira pun heran. Tapi karena sudah terlanjur tiba di sana, akhirnya Dira memilih masuk saja.
"Mister Adirraaa....." Evan kembali memekik ketika melihat wajah Dira muncul dari balik pintu utama. Ia buru-buru bangkit dari kursi kebesarannya, berjalan terburu-buru dan membungkuk ke arah Dira.
"Selamat siang, Mister! Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Evan ramah.
Dira tak menyahut. Ia berjalan menuju kursi kebesaran Evan. Dira duduk dengan kedua kaki yang diangkat di atas meja.
Melihat tingkah Dira dan wajahnya yang datar sedatar triplek, membuat Evan ketar-ketir. Pasti akan ada hal buruk yang akan terjadi di butiknya.
"Ke mana Si Cantik?" tanya Dira.
"Euhh... Si Cantik? Maksud Tuan, Olive?."
Dira mengangguk.
"Olive sedang makan siang di luar, Tuan."
"Dengan Vaston?."
"Tidak. Dengan kekasihnya" jawab Evan santai.
Kedua alis Dira menyatu. Ia tidak menyangka jika gadis yang selalu ia goda ternyata sudah memiliki kekasih. Dira jadi bimbang sendiri. Mau berhenti menggoda, sudah kebiasaan. Mau dilanjutkan, nanti salah paham. Ah, sudahlah! Dira tidak mau ambil pusing. Ia kembali duduk sembari menggerakkan kursi kebesaran Evan ke kanan dan ke kiri.
"Evan... Aku mau...." ucapan Rio terhenti ketika melihat siapakah yang sedang duduk di kursi milik Evan.
"APA???" tatapan nyalang Dira membuat Rio sedikit kaget.
"Mis...mis...ter... Adirra. Maaf, saya sedang mencari Evan. Mau laporan" kata Rio gugup.
Dira bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan menghampiri Rio dan memutarinya. Sungguh, Dira seperti orang yang tidak ada kerjaan. Berputar-putar seperti itu apakah tidak membuat kepalanya pusing?
"Dunia ini sungguh tidak adil" kata Dira tiba-tiba.
"Kau bisa dengan mudahnya menghirup udara segar sedangkan dibalik jeruji, ada orang yang sudah bertahun-tahun mendekam di sana" kata Dira lagi.
Rio diam. Ia masih mencerna ucapan dari Dira. Ada apa gerangan dengan orang ini? sejak kemarin Dira seperti sedang mengintimidasi Rio.
"Harusnya kau juga mendekam di sana! Harusnya kau juga membusuk di sana! Kau beruntung! Kau beruntung, Vaston!!!" teriak Dira tepat di telinga kanan Rio.
Rio meringis. Gendang telinganya pasti kaget mendengar suara keras milik Dira.
"Mister Adira, saya tidak paham dengan ucapan Anda."
"TIDAK PAHAM???? KAU BILANG TIDAK PAHAM??? APAKAH OTAKMU TIBA-TIBA NGEHANG HAH????" Lagi-lagi Dira berteriak di telinga Rio, kali ini telinga kiri Rio yang menjadi korban.
"Saya memang tidak paham. Apa yang kau bahas hah? Bicara itu yang jelas!" Rio mulai tersulut emosinya.
Pandangan Dira mulai menggelap. Ia lalu menarik kerah baju Rio dan memberinya sebuah bogem mentah.
"Aaaaa....." suara teriakan Evan terdengar bersamaan dengan jatuhnya Rio ke lantai. Ia buru-buru menghampiri Rio dan membantunya untuk bangkit.
"Mister Adirra, ada apa? Mengapa Tuan memukul Rio?" tanya Evan.
Dira mencengkeram jari-jari tangannya. Rasanya ia ingin memberi bogem mentah lagi kepada Rio.
"Boy, apa yang kau lakukan? Mengapa Mister Adirra sampai memukulimu?" bisik Evan, jujur ia cemas melihat pertikaian Dira dan Rio itu.
"Aku tidak tahu, Evan. Dia datang-datang sudah emosi. Aku hanya ingin memberi laporan kepadamu dan dia malah marah-marah kepadaku" adu Rio pada Evan.
Dira menyambar kunci mobilnya. Hatinya yang panas membuatnya harus segera pergi dari tempat Evan. Dira bukannya tidak tahu apa akibatnya jikania tetap berada di sana. Ia pasti akan semakin menjadi-jadi, memukuli Rio hingga dirinya merasa puas melampiaskan amarahnya.
"Hei? Dia pergi?" Rio speechless ketika melihat Dira pergi begitu saja.
"Sudah, Boy! Biarkan saja! Mungkin bos besar sedang ada masalah" cegah Evan yang tahu dengan niat Rio yang akan menyusul Dira.
"Dia yang ada masalah, kenapa aku yang menjadi korban?" tanya Rio tak terima.
"Mungkin wajahmu mirip dengan samsak tinju sehingga ia memukulimu. Sudahlah! Kembali bekerja karena deadline kita sudah dekat" usir Evan.
***
'Kau lihat, Ve? Lelaki barongsai itu tidak ingat dengamu. Lelaki barongsai itu sudah lupa jika telah menjerumuskanmu. Andai kau tidak berpaling dariku, kau pasti sudah menjadi istriku'
Dira memukul-mukul kemudi mobilnya dengan keras. Tak ada Rio, benda padat itu menjadi pelampiasan amarahnya. Entah, apa yang membuatnya sekacau itu. Menyetir dengan hati penuh amarah.
Mulut Dira tak henti mengeluarkan makian untuk Rio, bergantian dengan ungkapan penyesalannya pada Vero. Dira benar-benar kacau. Luka yang dipendamnya kembali menganga dan itu sukses membuat seorang CEO paling tampan dan rupawan seperti Dira berubah menjadi manusia kusut dan berantakan.
Kringgg
Ponsel Dira berbunyi. Ia buru-buru menepikan mobilnya, menetralkan emosinya karena sekilas kedua netranya menangkap nama Kiara yang muncul di layar ponselnya.
Dira menarik nafas panjang. Ia hembuskan perlahan. Ponsel Dira terus berdering, sepertinya ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh adiknya itu.
"Kadirrrrrr......!!!!!! Lama banget sih ngangkat telepon dari gueeeee....." teriakan Kiara langsung menusuk indra pendengaran Dira. Sudah biasa, sehingga Dira tidak begitu kaget akan hal itu.
"Maaf, my little pony! Gue lagi nyetir. Ada apa?."
Sedetik, dua detik. Tak ada jawaban dari Kiara. Namun, tiba-tiba....
"Elangggg.... Si Kadir kesambet! Masak dia minta maaf sama aku?."
Dira mengusap wajahnya dengan kasar. Dua menitnya terbuang percuma karena mendengar teriakan Kiara.
"Ada apa lu nelpon gue?."
"Eh? Kok balik lagi mode Kadir kulkas? Perasaan tadi suaranya lembut kayak softener" sahut Kiara.
"Kiara sarang burung!!! Ada apa lu nelpon gue????" kali ini Dira yang gantian berteriak pada Kiara. Rasanya Dira lagi-lagi butuh pelampiasan amarahnya.
"Ih, kok ngamuk sih? Setannya ganti apa ya?."
"Kiara...!!!."
"Eh, iya Kadirku sayang! Gue cuma mau ngecek lu ada di mana? Mama telepon katanya lu ilang. Cuma ada Edward di kantor."
"Gue di New York."
"New York? Berapa lama?."
"Entahlah! Sampai hati gue tenang" ucap Dira dengan nada melankolisnya.
"Ya sudah, lu baik-baik aja di sana. Kalau belum mau balik ke Jakarta, di situ aja. Gue mau lanjutin bulan madu biar cepat melendung. Bye kadirrrr" ucap Kiara kemudian memutuskan panggilan teleponnya.