Mr. Adira

Mr. Adira
24



Dira celingak-celinguk ketika melihat suasana apartemen Elang yang sepi. Seingatnya apartemen ini berisi 4 orang yaitu Kiara, Elang, Edward dan dirinya. Kiara dan Elang tidur di kamar mereka. Dira tidur di sofa sedangkan Edward tidur di lantai.


Tapi mengapa sekarang hanya ada Dira seorang? Kemana ketiga makhluk lainnya? Bukankah Dira sudah berpesan agar dibangunkan pagi-pagi? Ini sudah jam 9 dan Dira bangun dengan mandiri.


"Kirr....Kiara.... Lu di mana woy...???" teriak Dira.


Krik..krik..krik...


Semenit dua menit, belum ada jawaban dari Kiara. Dira memegang perutnya. Ia kelaparan dan di sana tidak ada Kiara yang bisa ia suruh untuk membuat sarapan.


"Makanya cepetan nikah! Biar bangun tidur langsung ada yang nyiapin sarapan"


Dira langsung bergidik ngeri. Suara omelan Widya terdengar olehnya. Dira kembali celingak-celinguk mencari sosok Widya yang siapa tahu mengumpet di apartemen Kiara.


"Tuan...!!"


"Hoooiiiiii...." Dira langsung kaget ketika Edward memanggilnya. Tangannya secara spontan langsung memukul Edward berkali-kali.


"Maaf, Tuan! Maaf!."


"Tiada maaf bagimu. Apa kau tidak punya cara lain untuk memanggilku hah? Jantungku hampir copot karena panggilanmu" Dira tetap memukuli Edward.


"Ampun, Tuan! Maaf, saya tidak sengaja" kata Edward.


Dira menghentikan pukulannya. Ia menatap Edward dengan tajam.


"Saya maafkan asal kamu traktir saya makanan padang 4 porsi."


"Masakan padang? 4 porsi? Beli di mana Tuan? Kita sedang di Spanyol bukan di Mangga dua" kata Edward frustasi.


"Yang bilang di sini Mangga dua kan kamu. Saya tidak mau tahu pokoknya belikan masakan padang 4 porsi. Kalau tidak, kamu tidak saya maafkan" ancam Dira.


Edward menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar tidak tahu harus membeli ke mana pesanan dari Tuan besarnya. Edwaed memutar tubuhnya. Ia melangkah dengan perlahan meskipun dalam keadaan bingung.


"Eddddd..... Sebentarrrrr....." panggil Dira.


Edward berhenti dan kembali memutar badannya.


"Ada apa Tuan?."


"Ke mana Kiara dan Elang? Mengapa apartemen ini sepi?."


"Oh, Tuan Elang dan Nyonya Kiara sudah berangkat pagi-pagi tadi."


"Berangkat? Ke mana?" tanya Dira kaget.


"Mereka menjemput Mas Juna. Nona Lily menghubungi Nyonya Kiara untuk meminta tolong agar me make over Mas Juna. Nona Lily ingin Mas Juna tampil sempurna di hari bahagianya."


"Dooohhhh....!!! Mereka ini gimana??? Saya kan lebih dulu berpesan sama tuh papa mimi biar bangunin saya pagi-pagi. Kenapa malah nganterin si Juna????? Arrggghhh...! Menyebalkan!" omel Dira.


Edward mengedikkan kedua bahunya. Ia terlalu speechless untuk berkomentar tentang tingkah Dira.


"Ed, antarkan saya ke salon sekarang. Acara si dakocan nanti malam. Saya harus tampil maksimal."


Dira menyuruh Edward untuk menunggunya. Ia akan mandi terlebih dahulu. Lupakan urusan memesan masakan padang. Dira sudah tidak ingin lagi. Sekarang ia hanya ingin cepat-cepat ke salon karena sebagai tamu VVIP, Dira harus tampil bersinar seperti bintang di langit.


"Du...du....du..."


Dira bersenandung sembari menyabuni tubuhnya. Bermacam-macam lagu sudah ia senandungkan. Mulai dari jaran goyang, lagu favoritnya, hingga lagu bintang kecil, lagu favorit tetangganya. Dira melupakan Edward yang sudah karatan menunggunya. Sudah tiga puluh menit lebih dan Dira belum juga menyelesaikan ritual mandinya.


"Hmm....."


Dira keluar dari kamar mandi. Ia masuk ke kamar Kiara untuk berganti baju. Di sisirnya rambut hitam legam miliknya. Ganteng, satu kata itulah yang paling pantas menggambarkan penampilam Dira versi dirinya sendiri.


"Tuan, apakah belum selesai?" tanya Edward.


"Belum, Ed. Masih nyemprot parfum. Bentarrrrrr....." teriak Dira.


Edward kembali menarik nafas. Menunggu Dira seperti menunggu seorang princess. Lamaaa...sekali. Untung saja Edward memiliki stok kesabaran yang banyak sehingga meski ingin memakan Dira hidup-hidup, Edward masih bisa menahannya.


"Ed, saya ganteng nggak?" tanya Dira ketika ia muncul dari kamar Kiara.


"Ganteng, Tuan! Ganteng! Mari segera berangkat sebelum nomor antrean Anda hangus" kata Edward.


Dira keluar dari unit apartemen Kiara. Ia berjalan menuju lift yang akan mengantarkannya ke loby. Tak lupa Dira bersenandung kecil. Apalagi jika bukan lagu jaran goyang favoritnya.


"Eh?" celetuk Dira tiba-tiba.


"Ada apa Tuan?."


Edward mengangguk.


"Dakocan tunangannya Juna?."


Edward mengangguk lagi.


"Sepertinya saya batal ke salon."


"Loh? Kenapa Tuan?" tanya Edwaed kaget.


"Saya baru mandi saja sudah ganteng seperti ini. Apalagi kalau make over di salon. Pastilah ketampanan saya akan naik berkali-kali lipat. Saya tidak mau si dakocan terpesona dengan saya. Cukup si Juna saja yang menjadi korbannya" ucap Dira bangga. Ia kemudian masuk ke dalam lift bersama Edward yang mengekorinya dari belakang.


"Jika Anda batal ke salon, lalu apa agenda Anda selanjutnya?" tanya Edward.


Cettasss...


Dira memukul bahu Edward.


"Kau ini sekretarisku, assistenku. Seharusnya kamu yang tahu agendaku, bukan kau yang bertanya kepadaku" teriak Dira.


Edward diam. Mau menjawab khawatir akan kena damprat lagi.


"Sekarang kita beli masakan padang. Saya lapar. Kamu kan masih punya hutang buat traktir saya makan" kata Dira enteng.


***


Hotel Sixty Two


"Kir, tega lu ya ama gue."


Dira langsung mencubit kedua pipi Kiara dengan gemas. Kiara yang sedang menikmati makanan pembuka di acara ulang tahun Lily, tentu saja merasa kesal. Kakak absurnya ini benar-benar pengganggu. Baru satu suap, makanan di mulut Kiara berhamburan ke lantai. Cubitan Dira di pipi Kiaralah penyebabnya.


"Kadir...!!! Lu apaan sih?" teriak Kiara.


"Lu yang apaan! Kenapa lu ninggalin gue? Gue kan sudah bilang bangunin gue pagi-pagi soalnya gue mau salon" ucap Dira tak mau kalah.


"Gimana lu mau bangun kalau lu tidurnya kayak kebo'. Gue udah bangunin tadi, lu nya aja yang budeg."


Kiara dan Dira siap saling sikut. Elang yang melihat kedua kakak beradik yang sedang memanas itu langsung saja berdiri menjadi penengah.


"Abang, Ara, jangan bertengkar ya! Kita sedang di tempat umum. Banyak orang di sini. Tolong ya kalian berdua! Harap tenang! Hargai Mas Juna, Lily dan Tuan Carlos. Kita sebagai tamu tidak boleh ramai sendiri" ucap Elang berkhotbah panjang kali lebar.


Kiara mendengus kesal. Ia menarik kursi dan duduk dengan kesal. Elang yang melihat kekesalan istrinya segera berlari ke tempat makanan. Ia mengambil berbagai macam kue pastry untuk meredakan amarah istrinya.


"Loh?"


Elang terkesima saat dirinya kembali ke tempat Kiara. Ia melihat Dira sedang menyuapi istrinya dengan sayang.


Ah... Adem sekali hati Elang. Andai tingkah kedua kakak-beradik ini seperti itu setiap hari, pastilah hidup Elang akan nyaman dan tentram.


Elang menarik kursi di samping Kiara. Ia duduk dan meletakkan piring berisi kue itu di hadapan Kiara.


"Abang, sini biar Elang saja yang nyuapin Ara" pinta Elang.


"No! Biar Abang saja. Kamu makan sana! Abang kangen nyuapin my little pony seperti ini" kata Dira membuat Elang kembali tersenyum.


"Eh, iya Edward kemana ya?" tanya Kiara.


"Dia keliling cari jodoh. Sudahlah, biarkan saja. Namanya juga bujang" jawab Dira santai.


"Heh, lu juga bujang. Malah lebih bujang dari Edward. Cepetan nikah! Biar nggak diteror mulu sama Mama" cibir Kiara.


"Gue sih mau nikah besok juga bisa."


"Halah, kayak ada calonnya aja" sahut Kiara lagi.


"Ada dong...!!! Gue kantongin di celana" jawab Dira santai.


Kiara tak menyahut lagi. Mereka bertiga melahap makanan bersama-sama. Alunan musik nan syahdu menemani para tamu yang asyik menikmati berbagai hidangan yang disajikan.


Acara ulang tahun Lily terkesan elegan, jauh dari pesta huru-hara. Namun, meski begitu para tamu undangan benar menikmati acara ulang tahun Lily. Tidak ada yang berkomentar megatif ataupun berghibah mengenai kekurangan acara itu. Semua senang, hati riang, perut kenyang.


Tepat pukul sepuluh waktu Barcelona, Kiara mengajak Elang untuk pulang. Kedua matanya sudah terasa berat. Elang mengangguk karena dirinya juga lelah.


Dira yang merasa sendiri pun juga memilih ikut dengan mereka. Ia melupakan Edward yang sejak tadi belum keliatan batang hidungnya.