Mr. Adira

Mr. Adira
33



Dira menggiring Olive masuk kembali ke dalam unit apartemennya. Ia langsung menyuruh Olive untuk memasak karena Dira sudah lapar. Tanpa rasa berdosa, Dira berlalu. Ia menuju kamarnya untuk mandi.


Terdengar siulan kecil dari mulut Dira. Rupanya mood Dira sudah berubah baik. Pelukan erat yang ia lakukan pada Olive, rupanya sudah menjadi obat yang ampuh untuk mengobati rasa bad mood nya.


Byuurrrrr...byurrr...


Terdengar suara air dari dalam kamar mandi. Rupanya Dira sedang bermain-main dengan benda cair itu. Tak lupa lagu jaran goyang yang ia nyanyikan selama berendam.


Puas bermain air, Dira segera menyudahi acara mandinya. Ia keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk yang menutupi daerah pinggang sampai lutut.


"Cantik...! Bisa kah ke sini sebentar?" teriak Dira dari dalam kamar.


Olive yang saat itu sedang memasak capcay, tentu saja tidak bisa langsung pergi. Ia berteriak agar Dira menunggu sebentar. Masakannya sebentar lagi selesai. Rasanya tanggung sekali jika harus berhenti karena panggilan Dira.


"Hmm... Sudah pas!" seru Olive.


Ia segera mematikan kompor dan menanggalkan celemeknya. Olive langsung berlari menuju kamar Dira. Ia ketuk pintu kamar itu terlebih dahulu sebelum masuk.


"Aarrgggg" teriak Olive.


Olive segera menutup kedua matanya ketika dirinya masuk ke kamar Dira. Penampakan Dira yang tidak memakai baju membuatnya kaget.


Ahh...sial! Bos nya itu benar-benar menggoda imannya. Olive ingin sekali kabur karena tidak kuat melihat badan Dira yang atletis tapi tidak sempurna seperti milik Ade Rai.


"Kenapa berteriak? Apa kau melihat hantu?" tanya Dira.


"Mr. Adirra, mengapa Anda tidak memakai baju? Harusnya Anda menyelesaikan dulu berpakaian lalu memanggil saya" protes Olive.


"Aku memanggilmu karena aku ingin kau mengambilkan pakaianku. Moodku selalu baik jika kamu mengurusku. Jadi cepat ambilkan bajuku dan pakaikan segera!" perintah Dira membuat Olive langsung gemetaran.


Olive belum beranjak dari tempatnya berdiri. Ia takut untuk masuk lebih dalam ke kamar Dira. Dira yang tidak suka dengan kata lelet tentu saja kesal. Ia menatap Olive dengan wajah kesal.


"Mengapa masih diam di sana? Apakah aku harus melepas handuk ini agar kamu mengambilkan bajuku hah?" tanya Dira.


Olive langsung bergidik ngeri. Ia segera berlari menuju ruang khusus tempat Dira menyimpan baju-bajunya. Olive membuka salah satu lemari. Ia mengambil dengan asal T-shirt dan celana pendek milik Dira.


Olive buru-buru keluar, menghampiri Dira yang masih duduk di atas kasurnya.


"Ini bajunya, Mister" Olive menyodorkan baju dan celana pendek yang tadi ia ambil.


"Sekarang hari apa?" tanya Dira.


"Rabu, Mister" jawab Olive.


"Catat ya sayangku! Kalau hari Rabu, bajunya kuning, kolornya kuning, semvaknya cokelat. Saya ini CEO paling tampan dan rupawan. Nggak bisa sembarangan pakai baju, harus sesuai hari karena itu bisa mempengaruhi kadar ketampanan saya" kata Dira membuat Olive hanya menarik nafas berat.


Olive kembali masuk ke ruang di mana baju-baju Dira tersimpan. Ia mengambil baju dan kolor sesuai warna yang ditentukan Dira. Tak lupa, Olive mengambil semvak, benda berbentuk segitiga untuk melindungi benda keramat Dira.


Usai semua lengkap, Olive kembali menghampiri Dira. Ia menyodorkan kembali pakaian yang sudah diambilnya. Namun, Dira malah menggelengkan kepala.


"Kamu yang memakaikannya. Saya sedang tidak mood untuk melakukannya sendiri" kata Dira berkilah.


Lagi-lagi Olive hanya bisa menghela nafas. Ia meletakkan pakaian yang tadi ia bawa di atas kasur. Olive mengambil kaos yang sudah terlipat. Ia membuka kaos itu hendak memasukkan melalui kepala Dira.


Lagi-lagi Dira bersuara, Olive belum menyemprotkan parfum ke sekujur tubuh Dira. Dira menunjukkan letak deretan parfumnya di dalam laci. Parfum-parfum itu dilabeli dari hari Senin sampai Minggu.


Tak mau kembali melakukan kesalahan. Olive mengambil botol parfum berlabel hari Rabu. Ia segera menyemprotkan parfum itu ke sekujur badan Dira.


"Stop! Stop! Stop! Cuma tiga kali semprot karena parfum mahal wanginya semriwing" kata Dira.


Olive segera mengembalikan parfum itu ke tempatnya. Ia kembali memakaikan kaos ke tubuh Dira.


"Untuk kolor dan temennya, Mister pakai sendiri ya" pinta Olive.


"Tidak! Pakaikan sekalian! Saya tidak mood, jadi jangan membuat saya semakin kesal" kata Dia beralasan.


"Tap...tapi...saya malu, Mister."


"Malu? Memangnya yang polosan itu kamu? Lagi pula cacing saya jinak kok, lucu dan menggemaskan. Saya yakin kamu pasti hemas dengan dia" goda Dira membuat wajah Olive langsung merah padam.


Olive menelan ludahnya. Ia tidak lagi membantah karena menurutnya percuma. Olive mengambil benda segitiga itu. Ia mulai memasukkan kaki Dira secara bergantian pada lubang benda itu.


Olive memejamkan kedua matanya. Ia menarik benda segitiga itu ke atas dan...


"Auuuww.." pekik Olive. Ia tidak sengaja menyenggol cacing mungil milik Dira.


"Baru nyenggol dikit aja udah panik" kata Dira cekikikan. Ia melanjutkan memakai semvak dan celana pendeknya. Setelah itu ia memyisir rambut dan berias untuk memaksimalkan penampilannya.


Dira keluar dari kamarnya. Ia mencari keberadaan Olive yang tadi kabur dari kamarnya. Kedua netranya menangkap sosok Olive sedang berada di dapur.


Dira bergegas menghampiri Olive. Lagi-lagi terlintas ide jahil untuk mengerjai Olive. Dira beejalan perlahan menghampiri Olive lalu dengan santainya ia memeluk Olive dari belakang sembari mendusel-dusel kepalanya di ceruk leher Olive.


"Mister...." tegur Olive. Jujur ia merasa tidak nyaman dengan tingkah Dira.


"Tolong, jangan begini! Saya tidak nyaman" kata Olive lagi yang tidak digubris oleh Dira.


"Apa kau sudah mandi hah?" tanya Dira.


Olive melebarkan kedua matanya.


"Saya...belum...mandi, Mister. Saya mandi dulu. Mister silakan makan!" Olive berusaha menjauh dari Dira. Namun, usahanya itu sia-sia karena Dira semakin mengeratkan pelukannya.


"Saya mau makan kamu. Seperti lebih enak meskipun kamu belum mandi."


Olive semakin merasa sesak nafas. Ia sudah tidak tahan dan langsung menginjak kaki Dira. Dira mengaduh dan secara spontan melepas pelukannya. Kesempatan itu membuat Olive bisa kabur.


Olive masuk ke dalam kamar tamu. Ia segera menutup pintu dan menguncinya. Olive memukul-mukul kepalanya. Semakin lama tingkah Dira semakin meresahkan. Olive harus pulang. Olive tidak bisa berlama-lama di tempat itu.


"Aku harus mandi terlebih dahulu. Setelah itu langsung pulang" gumam Olive.


Gegas ia masuk ke dalam kamar mandi, menyelesaikan ritual mandinya secepat mungkin. Olive mengambil kimono handuk untuk menutupi tubuhnya.


"Lah? Pakaianku?" Olive baru teringat jika ia tidak membawa baju ganti. Piyama yang dipakainya tadi tidak mungkin ia kenakan lagi.


Olive berjalan mondar-mandir. Bagaimana ia bisa pulang? Apakah ia akan pulang dengan memakai kimono handuk?


Arrggghhh!! Olive menghentakkan kakinya dengan kesal. Haruskah ia keluar kamar dan meminta Dira untuk mengambilkan pakaian Kiara? Tapi, jika itu ia lakukan bukankah itu sama saja tidak sopan?


Ceklek.


Pintu kamar tamu di buka. Olive langsung mematung melihat Dira yang bisa membuka pintu yang ia kunci. Olive tidak tahu saja seperti apa saktinya Dira. Dira memiliki kunci cadangan sehingga ia bisa membuka pintu kamar itu kapan saja.


"Cantik sekali? Sudah mandi hah?" Dira semakin mendekat ke arah Olive.


Olive yang melihat wajah konyol Dira, mulai mundur perlahan. Sialnya, langkah Olive harus berhenti tatkala tubuhnya menyentuh dinding kamar. Olive diam membeku. Ia langsung sesak nafas melihat Dira yang semakin mendekatinya.


"Tadi kenapa kabur hah? Saya belum selesai memakai semvak dan kau sudah pergi" bisik Dira membuat bulu kuduk Olive merinding.


"Saya...saya..."


"Jangan gugup, cantik! Cacing imutku tidak menakutkan. Kau hanya menyenggolnya, tidak membangunkannya. Kalau kau mau, kau bisa berkenalan dulu dengannya agar kau tidak kaget jika menyentuhnya lagi."


Kedua netra Olive langsung melebar. Ucapan mesyum Dira membuatnya ingin kabur saja.


Dira semakin memasukkan kepalanya ke dalam ceruk leher Olive. Entah bagaimana ceritanya, Dira malah membuat tanda kepemilikan di sana.


"Misss....terr...." panggil Olive.


"Hemm.....?"


"Tolong, jangan begini!" pinta Olive frustasi.


"Jangan begini? Lalu saya harus bagaimana? Begitu mau kamu?" ucap Dira sembari mengendus leher Olive.


Olive menahan nafasnya. Perlakuan Dira membuatnya panas dingin. Olive ingin sekali mendorong tubuh Dira. Namun, ia takut karena Dira adalah atasannya.


"Mister...., saya mau pulang. Tolong, jangan begini!" pinta Olive lagi.


"Pulang? Pulang ke mana? Rumahmu di sini. Kamu tidak boleh ke mana-mana."


"Mister tidak bisa begitu. Saya hanya assisten. Saya harus profesional. Mister, tolong jangan begini! Saya mau pulang. Saya harus pulang" rengek Olive.


Dira kembali menggeleng. Baginya permintaan Olive adalah angin lalu yang tidak perlu ia dengarkan. Dira butuh Olive. Ia butuh teman untuk mengalihkan pikirannya tentang Vero.


Dira takut jika ia sendirian di apartemen, otaknya terus memikirkan Vero. Jika ada Olive, fokus Dira akan teralihkan sehingga ia bisa melupakan masalah Vero.


"Suapi saya dan setelah itu kita rapat masalah proyek di perbatasan. Cepat berpakaian! Pakailah baju milik Kiara! Saya tunggu 10 menit dari sekarang" ucap Dira kemudian ia pergi meninggalkan Olive yang masih diam mematung.