
Bandara John. F. Kennedy, New York.
Dira menuruni anak tangga pesawat dengan perlahan. Di belakangnya, Olive berjalan mengekori Dira. Senyum Dira langsung terbit ketika melibat hamparan karpet merah di depannya. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, rasanya senang sekali melihat sambutan dari anak buahnya yang membungkuk, menunggu Dira melewati mereka.
"Bos...!!!" panggil Nadhif. Laki-laki itu berlari menghampiri Dira. Tak lupa ada Juna yang mengekori Nadhif.
"Selamat datang kembali di New York" ucap Nadhif, ia kemudian membungkuk memberi hormat kepada Dira.
Dira mengangguk. Ia menoleh ke belakang, mengulurkan tangannya kepada Olive. Gadis itu menarik nafas panjang. Mau tidak mau ia menyambut uluran tangan dari Dira.
"Itu calonnya Mr. Adirra, Bang?" bisik Juna.
Nadhif tak menjawab. Ia hanya mengangguk.
"Bule rupanya" gumam Juna.
Nadhif segera menegakkan tubuhnya. Ia berlari ke arah mobil yang tadi dibawanya. Nadhif membuka pintu belakang, mempersilakan Dira dan Olive untuk masuk ke dalam mobil.
Usai memastikan Bos besarnya merasa nhaman di dalam mobil, Nadhif berlari memutari mobil dan membuka pintu depan. Ia masuk dan duduk dibelakang setir kemudi sedangkan Juna membuka pintu depan dan duduk di sebelah Nadhif.
Nadhif menyalakan mesin. Ia mulai melajukan mobil meninggalkan area Bandara John. F. Kennedy. Tanpa diberitahu pun, Nadhif sudah tahu jika Dira akan menyuruhnya untuk membawa mereka ke mansion.
Di kursi belakang, Dira tak henti-hentinya meremat-remat jari Olive. Berkali-kali Olive mencoba menepis tangan laknat Dira. Namun, tangan dablek Dira terus saja kembali memainkan jari-jemari Olive.
Merasa jengah, Olive menginjak kaki Dira. Ia langsung membuang mukanya ke kanan, menghindari tatapan Dira.
"Aman, Bos?" tanya Nadhif ketika melihat Dira meringis kesakitan.
"Kamu fokus saja menyetir. Jangan memperdulikan apapun yang terjadi di sini!" ucap Dira. Nadhif mengangguk. Ia kembali fokus menyetir.
Dira memutar tubuhnya menghadap Olive. Gadis itu memasang tampang cemberut. Sungguh pemandangan menggemaskan bagi Dira. Melihat Olive yang menekuk wajah seperti itu membuat Dira tidak sabar untuk mengacak-ngacak perempuan itu.
Sejak tadi pagi, Olive masih saja dalam suasana hati yang buruk. Berkali-kali Olive menepis Dira yang berusaha menempel kepadanya. Dira belum menerima morning kiss dari Olive, belum mendapat pelukan dari Olive. Rasanya ia akan segera bayar hutang peluk dan cium jika sudah tiba di mansion.
Satu jam kemudian, mobil berhenti di depan gerbang mansion milik Dira. Nadhif memencet klakson berkali-kali dan dengan perlahan pintu gerbang itu terbuka.
Mobil memasuki halaman mansion milik Dira. Nadhif memberhentikan mobil itu tepat di depan pintu depan. Nadhif mematikan mesin, membuka pintu dan segera keluar, membukakan pintu untuk Dira dan Olive.
Olive berdiri mematung melihat bangunan megah di hadapannya. Kedua kakinya seperti dipaku sehingga tidak bisa melangkah.
"Ini mansion kita. Kita akan tinggal di sini bersama anak-anak kita" ucap Dira kemudian memeluk Olive dari belakang.
Ting!
Olive kembali dalam mode sadar. Ia segera menghempaskan tangan Dira dan mendorong tubuhnya ke belakang.
"Hei, sayang! Mengapa mendorongku? Apa kau tidak suka dengan mansionnya? Kurang besar? Kurang mahal? Katakan! Nanti aku belikan yang baru" ucap Dira.
"Saya ingin pulang, Mister. Saya tidak mau di sini" ucap Olive memelas.
Dira menggelengkan kepala.
"Tidak! Tidak! Tidak! Kamu akan menjadi Nyonya besar. Tidak ada ceritanya Nyonya besar tinggal di kontrakan" tolak Dira.
"Tapi saya tidak mau, Mister. Saya tidak mau menikah dengan Anda."
"Saya tidak menerima penolakan. Nadhif, jam berapa acaranya dimulai?" tanya Dira.
Nadhif yang saat itu sedang melamun, tentu saja kaget. Ia gelagapan mendengar suara Dira yang memanggilnya.
"Eh, Eh."
"Kok Eh? Apa belum siap?" tanya Dira, menatap tajam ke arah Nadhif.
"Si...si...ap kok Mister. Tapi saya belum menghubungi penghulu dan lain-lainnya. Hanya dekorasi tempat dan panggung yang sudah selesai. Saya pikir nikahannya besok atau lusa....."
"APA????" Kamu ini bagaimana, Nadhif!!! Harusnya kami sudah menyiapkan dari kemarin. Saya tidak mau tahu, paling lama nanti sore acara pernikahan saya dan Olive harus diselenggarakan" ucap Dira kesal.
"Nanti soree????" tanpa sadar Juna dan Nadhif berteriak bersama-sama.
"Kenapa? Kelamaan? Nanti siang kalau begitu."
"Jangaaannnnnnnnn....!!!" kali ini Olive juga berteriak bersamaan dengan Nadhif dan Juna. Kekompakan mereka bertiga membuat Dira berdecih sebal.
Dira menarik tangan Olive, mengajaknya masuk ke dalam mansion. Ia tidak mau calon istrinya bergabung dengan Nadhif dan Juna membentuk trio kwek-kwek.
Dira menuntun Olive menuju sebuah kamar di lantai dua. Ia membawa Olive masuk ke dalam kamar itu berharap calon istrinya akan memberi rate bintang lima dengan pilihan kamarnya.
"Kamu suka?" tanya Dira.
Olive menggeleng. Ia sudah tidak mood untuk sekedar mengobrol dengan Dira.
"Yah...! Kenapa tidak suka? Ini warna pink lho, warna sejuta umat anak gadis" kata Dira heran.
Olive tidak menjawab ucapan Dira. Ia berjalan menuju balkon, menatap halaman belakang yang sudah disulap menjadi tempat pernikahan mereka.
Dira menyusul Olive, melihat calon istrinya menatap ke arah taman belakang membuat Dira tersenyum senang. Dira beranggapan jika Olive sedang dag dig dug menuju sah menjadi istrinya sehingga ia nampak malu-malu kucing berhadapan dengan Dira.
"Saya tidak bisa, Mister! Saya tidak bisa" ucap Olive sembari menahan diri agar tidak terbawa arus permainan Dira.
"Apa yang membuatmu tidak bisa?."
"Cinta. Tidak ada cinta di antara kita dan itu akan menyakitkan jika kita bersama."
Olive melepaskan diri dari pelukan Dira. Ia mengambil nafas banyak-banyak untuk menetralkan jantungnya.
"Kau mau cinta? Akan ku berikan, asal kau mau berada di sampingku."
"Mister, berhentilah! Hatimu dan cintamu masih terikat pada perempuan itu. Hati dan cintaku pun sama, masih terikat pada Jeremy. Mister, kita tidak bisa menikah jika kita tidak saling mencintai. Rumah tangga apa yang akan kita bangun? Hambar dan kosong" ucap Olive mengeluarkan uneg-uneg.
Dira menggelengkan kepalanya. Lagi-lagi Olive membahas Veronica yang membuatnya kesal. Sepertinya Dira harus meminta Nadhif untuk mencari tahu siapakah yang mempengaruhi Olive. Dira sudah bertekad akan menyunat orang itu sampai minimalis tak berbentuk.
"Kata siapa tidak ada cinta? Kita bisa memberikan cinta kita masing-masing. Kalau kamu bertanya rumah tangga apa yang akan kita bangun? Jawabannya adalah rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warohmah."
Olive menggeleng.
"Kamu tidak punya pilihan, Olive. Aku sudah memilihmu untuk menjadi istriku dan itu artinya kau tidak bisa menolak menjadi istri seorang CEO tampan dan rupawan seperti saya. Beristirahatlah! Karena sebentar lagi akan ada MUA yang akan membantumu untuk berdandan" ucap Dira kemudian ia keluar dari kamar Olive.
***
Mansion Dira, 04.00 p.m
Dira berdiri gagah di hadapan penghulu. Balutan tuxedo hitam menambah kadar ketampanannya. Tegang, tetapi Dira berusaha menutupinya dengan cara bersiul-siul.
Entah sudah berapa kali Nadhif menyodorkan air putih untuk Dira agar ia berhenti bersiul. Namun, Dira menolaknya. Dira lebih memilih semakin keras bersiul daripada minum karena dengan bersiul hatinya bisa tenang sedangkan jika ia minum, pastilah Dira akan beser dan berpotensi untuk bolak balik kamar mandi.
"Beri hamba kesabaran, Tuhan!" seru Nadhif.
Juna langsung menghampiri Nadhif dan menepuk bahunya. Ia yang sudah terlebih dahulu mengenal Dira tentu saja sudah tidak heran dengan tingkah absurd Dira.
Juna mengajak Nadhif mengecek mempelai wanita. Dari pada di sana, stress melihat Dira yang tidak pernah diam seperti ulat bulu.
Ceklek.
Nadhif dan Juna masuk ke dalam kamar di mana Olive sedang di rias. Dua orang MUA sedang membereskan tatanan rambut Olive. Untuk make up dan gaun sudah beres.
"Kalian?" Olive sedikit kaget ketika melihat Juna dan Nadhif berada di kamar itu.
"Acara akan segera dimulai, Nona. Kami hanya memastikan jika Nona sudah siap untuk turun" ucap Nadhif dengan sopan
Olive memberi kode kepada MUA untuk berhenti menaga rambutnya. Ia bangkit dari tempat duduknya, berjalan mendekati Nadhif lalu bersujud di hadapan Nadhif.
"Ehhhhhh....?" Nadhif dan Juna berteriak bersama-sama. Mereka kaget dengan Olive yang tiba-tiba bersujud di hadapan mereka.
"Nona, jangan begini! Saya bisa dimutilasi jika Tuan Dira tahu" ucap Nadhif cemas.
Olive tak bergeming. Ia terus bersujud di hadapan Nadhif dan Dira.
"Nona....oh, Nona...! Janganlah begini! Saya tidak mau ditelan mentah-mentah oleh Bos Dira. Bangun, Nona! Bangun!" bujuk Juna.
"Tolong saya! Tolong saya!" ucap Olive dan kini air matanya sudah mengalir deras membasahi kedua pipinya.
"Waduh...! Make up nya nanti rusak! Cup...cup...cup... Nona berhenti menangis, ya! Jangan seperti ini! " Nadhif semakin ketakutan.
"Saya tidak mau menikah dengan Mr. Adirra. Tolong bawa saya kabur! Tolong!" pinta Olive dengan wajah memelas.
"Saya mau menolong tapi saya tidak bisa. Karena nyawa saya cuma sebiji. Sekali di dor, saya pindah alam. Nona, mohon kerja samanya. Hapus air mata Anda! Acara akan segera dimulai" bujuk Nadhif lagi.
"Kenapa harus saya? Kenapa harus saya, Tuan? Saya tidak mencintai Mr. Adirra. Mengapa saya yang dia pilih?" Olive bertanyea-tanyeaa.
"Kami bukan Mr. Adirra. Jadi kami tidak tahu jawabannya. Nona, saya mohon berhentilah menangis!" bujuk Juna.
Ceklek!
Pintu kamar Olive terbuka. Nampak seorang perempuan paruh baya muncul di balik pintu.
"Acara akan di mulai. Mempelai perempuan harap turun untuk berdiri di samping mempelai laki-laki" ucap perempuan itu.
"Tidak! Saya tidak mau!" teriak Olive.
"Anda tidak punya pilihan, Nona."
Perempuan paruh baya itu membuka pintu kamar lebar-lebar. Muncullah 4 orang perempuan berpakaian serba hitam di samping perempuan paruh baya tadi. Dengan sekali anggukan kepala, keempat perempuan itu masuk ke dalam kamar Olive dan membawa paksa Olive.
Olive terus meronta. Salah satu perempuan itu mengambil ponsel dan memperlihatkan sebuah foto kepada Olive.
"Kalau Anda tidak bisa diajak bekerja sama, kami pastikan kedua orang ini besok akan pindah alam" ancam perempuan itu.
Olive melebarkan kedua netranya. Tubuhnya langsung terkulai lemas ketika melihat foto Evan dan Rio yang sudah babak belur.
"Kami bisa lebih kejam dari ini. Tolong kerja samanya. Bos kami sudah menunggu dari tadi" ucap perempuan itu.
Salah satu MUA menghampiri Olive dan merapikan make upnya yang rusak. Setelah semua dirasa OK, Olive digiring keluar oleh keempat perempuan itu. Tak lupa Nadhif dan Juna berjalan di belakang mengekori mereka.