
Jonathan selesai mandi dan keluar menuju ruang ganti, saat itulah dia melihat sepucuk surat di meja rias.
Apa-apaan sih Alexa, batin Jo, dia bergegas membaca surat Alexa, kemudian Jo tersenyum, ada ada aja.
Menurut Alexa mereka bertemu di gereja saja, Alexa akan numpang di tetangganya.
" Tunggu aku di depan altar Jo, see you."
Setelah mendekati jam pernikahannya, Jo semakin tenang, kegelisahannya mulai berkurang, walaupun dia berada jauh dari orang-orang yang dicintainya, jauh dari keluarganya, yang penting baginya ada Alexa di sisinya.
Tiba-tiba ponsel Jo berdering dan setelah Jo mengecek ternyata panggilan dari Sam.
Jo keluar dari kamar tidur, berjalan menuju ke teras di samping ruang makan.
"Ya."
"Jo, semua sudah siap, tapi mempelai pria dan wanita tidak nampak, tak satupun sampai aku ragu-ragu, pernikahan ini jadi dilaksanakan?"
"Kopler lu Sam, jadi dong!"
"Kalau jadi, cepetan kali Jo, kasihan pendetanya!"
"Oke, gue berangkat sekarang!"
"Jangan lupa tugasmu yang satunya, yang jauh lebih penting, temani aku hingga mempelaiku tiba." Jo mengingatkan.
"Kau kira aku mau melewatkan hari dimana aku melihat sahabatku si Miliarder muram tersenyum lebar walau tanpa sebab."
"Sembarangan, aku balikin kalimatmu itu jika saatnya tiba!"
"Aku menikmati hidupku Jo, nyaman, tenang, gak ribet."
"Aku sudah pernah merasakan dan menikmati hal itu Sam, tapi begitu ketemu Alexa, Nyaman jadi membosankan, tenang jadi kesepian, gak ribet jadi hampa."
"Busyett Jo, parah bener bener parah kamu!!!!"
"Cinta itu menguatkan bukan melemahkan Sam, memberi warna bukan menghilangkan, itu saat aku menemukan Alexaku, Sam."
"Jo, cukup! Perutku sepertinya masuk angin, aku merasa sangat mual bos!"
"Ha ha ha...sudah Sam, bye!"
"Ok Jo, bye."
Selama dalam perjalanan menuj gereja, Jo teringat saat Alexa menginginkan mereka berangkat sendiri-sendiri, Jo tiddk menganggapnya serius.
"aku ingin kita berangkat tidak bersamaan Jo."
Jo melihat keinginan yang kuat di mata Alexa, dan Jo pun luluh, Akexa tidak bisa mengalami pernikahan normal karena keadaan mereka belum beres, dia sudah membayar mahal untuk membuat dekorasi yang luar biasa segar dan hangat, yang mencerminkan karakter Alexa, tapi hanya itu.
Dia tidak bisa mendatangkan Orkestra ternama untuk memainkan nada-nada tak terlupakan.
Dia tidak bisa membayar chef terkenal untuk memanjakan lidah sahabat dan teman-teman Alexa, semua karena 'dia' ingin segera menikah dan mengikat Alexa segera.
Jadi kali ini dia tidak tega menolak permintaan Alexa mungkin Alexa menginginkan sedikit saja bagian yang agak normal dari pernikahan mereka.
Bagian saat mempelai pria menunggu mempelai wanita tiba, bukannya datang bersamaan.
***
Setelah dandanannya beres, Alexa segera berangkat menuju Gereja di samping Balai kota.
Alexa membayangkan pesta pernikahannya yang tertutup hanya dihadiri beberapa orang teman kerja mereka, tetapi Alexa tidak menyesal, yang penting dia memasuki gerbang pernikahan yang diberkati.
Saat mobil sampai, Alexa melihat gereja tua berada di tengah hamparan alam yang indah, tetapi Alexa tidak melihat mobil Jo, juga tidak ada siapapun di halaman kecuali ada 2 orang tukang kebun yang sedang merapikan tanaman yang sudah rapi.
Di jalan masuk ada sekelompok orang yang sepertinya sedang membetulkan pintu gerbang yang barusan mereka lalui.
Selain mereka tidak nampak ada orang lain ataupun penduduk yang melintas.
Alexa memandang sekeliling, kemudian menapak anak tangga menuju pintu masuk gereja yang perlahan terbuka.
Terdengar alunan lagu pernikahan.
Alexa tercengang karena di dalam gereja begitu penuh bunga kesayangannya, begitu lembut dan segar, ada beberapa orang yang hadir, ada sepasang suami istri yang tidak dikenalnya tapi langsung bisa ditebaknya karena si pria adalah versi Jo di masa tuanya, berarti itu ayah dan ibu Jo?
Ada sekelompok choir dengan jubah keemasan, lengkap dengan pianisnya.
Siapa yang mendatangkan mereka semua?
Kemudian mengalunlah instrumentalia lagu pernikahan "Beautiful in White" mengiringi langkah kaki-kaki mungil dua orang anak kecil yang menaburkan kelopak mawar peach buat Alexa.
Alexa tidak dapat menahan rasa harunya
saat memandang anak-anak itu apalagi ketika pandangannya bertumbuk pada sosok kuat yang menunggunya di depan altar.
Instrumentalia itu mengalun indah dan Jo begitu tersentuh karena dia ingat persis setiap liriknya :
You're my every reason
You're all that i believe in
..So as long as I live I'lI love you
Will have and hold you..
Saat itulah Jo membalikkan badan dan melihat pemandangan yang akan selalu terpatri di benaknya selamanya.
Dua bidadari kecil yang menggemaskan sedang menaburkan bunga di sepanjang jalan yang akan dilalui mempelainya yang begitu jelita dalam gaun pengantin dan berjalan dengan anggun menuju ke arahnya.
Jo tidak dapat memalingkan pandangannya. Seandainya bisa dia akan mengabadikan saat ini.
Dadanya serasa mengembang mengingat keresahannya selama ini, setiap usahanya untuk menjadikan mereka miliknya dan akhirnya tidak lama lagi dia bisa tenang menjalani hari-hari nya bersama Alexa.
Kemudian Jo melihat langkah Alexa sempat terhenti, dan setitik airmata jatuh di pipinya.
Hingga terdengar pendeta mengeluarkan bunyi yang tak berarti, dengan sengaja untuk memecahkan suasana haru yang mulai mengental di udara.
Kemudian prosesi pernikahan mulai dipimpin pendeta senior itu, diiringi penampilan paduan suara yang menyanyi dengan luar biasa merdu.
Alexa tidak menyangka akan mengalami pernikahan seindah ini, kembali Alexa menitikkan airmata bahagia.
Kemudian mereka saling berhadapan untuk mengucapkan sumpah pernikahan.
Jo menggenggam kedua tangan Alexa
dan mereka saling berjanji.
"Aku Jonathan Prawiro akan selalu mencintaimu sepanjang hidupku, aku akan selalu ada untukmu, disetiap langkahmu, setiap waktu hingga ... nafas terakhirku," mata Jo berkaca-kaca saat mengucapkan sumpahnya dengan sepenuh hati kepada satu-satunya wanita di hatinya.
"Aku Alexandra Ishaily berjanji hanya kaulah satu-satunya pria dalam hidupku, aku sangat mengasihimu dan aku akan selalu menemanimu, ada untukmu hingga maut menjemputku," dan kembali airmata bahagia menetes di pipinya.
Setelah saling berjanji dan menyematkan cincin di jari masing-masing kini tibalah saatnya yang ditunggu-tunggu, ciuxan pertama kali sebagai suami dan istri.
Jo menangkup wajah Alexa dengan kedua tangannya, menatapnya penuh cinta, lama.., kemudian memiringkan kepalanya dan mencixm bibir Alexa ringan dan segera mengakhiri ciumxnnya.
"Nanti," bisik Jo di bibir Alexa.
Jo tidak berani mencixm Alexa dengan sungguh-sungguh, dia tahu pasti ledakan hebat yang seketika terjadi saat tubuhnya mengenal pasangannya.
Alexa menengadah dan akan bertanya tentang pemberkatan yang indah saat dia melihat Jo sedang memandangnya mesra.
"Istriku, milikku, belahan jiwaku."
"Suamiku, hidupku."
Mereka hanya berpandangan tanpa berani berciuman.Kemudian Alexa memecahkan keheningan.
"Jo, apa isi tas itu?"
"Makanan, kue, souvenir ."
"Siapa yang pesan."
"Semua Sam."
"Jangan lupa bawa oleh-oleh buat Sam, jo."
"Gampang."
"Jo, kok nggak bilang ada orangtuamu?"
Seketika wajah Jo kehilangan keceriaannya.
"Aku tidak mengundang mereka!"
"Tapi mereka sudah datang Jo, dan mereka orangtuamu, berarti mertua aku, yuk kenalin Jo."
Jo yang sedang bingung darimana orangtuanya tahu dengan pasti bahkan datang ke pemberkatan mereka, ngikut saja saat Alexa menariknya.
Dia akan bertanya selengkapnya pada Sam.
Sesampai di hadapan orang tuanya Jo memperkenalkan Alexa kepada ayah dan ibunya, dalam bahasa Inggris.
Masih dengan sisa air mata di pipinya, ibu Jo memeluk dan menxium Alexa.
"Dia tidak pernah terlihat sebahagia hari ini, terimakasih terimakasih."
Kemudian giliran ayah Jo yang memeluk Alexa dengan badannya yang masih kekar.
"Selamat memasuki lembaga pernikahan, berjuanglah kalian berdua agar kalian bisa selalu bersama."
Sebuah ucapan selamat yang tidak biasa.
Jo hanya melihat kedua orang tuanya.
Ayahnya yang sudah kaya raya sejak lahir, ditambah otaknya yang pintar kini semakin kaya, hingga datang melintasi belasan ribu kilometer tanpa terlihat sibuk adalah hal yang mudah. Tidak mengherankan sama sekali.
Ada hal yang lebih menimbulkan tanda tanya, bagaimana mereka berdua mau berdiri bersisian ? Setelah sekian lama bertahan dengan kesibukan dan gengsi masing-masing.
Tidak pernah ada yang mau mengalah jadi mereka hidup sendiri sendiri dalam satu rumah tapi tidak pernah bersinggungan hingga saat ini.
Alexa yang merasakan ketegangan di sekitarnya berusaha memecahkan dengan bertanya tentang di mana mereka tinggal untuk sisa waktunya di Inggris.
"... Atau tante dan om bisa tinggal di rumah kami?" Alexa menawarkan dengan sepenuh hati.
"Di rumah lajang aja sayang, jangan di rumah kita." Tolak Jo halus, dia masih belum sepenuhnya berdamai dengan masa lalunya.
Alexa berbalik menghadap Jo.
"Jo, Aku sangat bahagia mereka datang, biasa kita sendirian, tiba-tiba mereka datang, berusahalah untuk memaafkan, kalau bukan untuk mereka, untuk aku Jo!"
Dalam hati Jo sangat bersyukur bertemu wanita yang begitu penuh kasih.
Jo pun mengangguk dan menjauh, berjalan mendekati Sam.
Alexa bersyukur, memang butuh waktu bagi Jo untuk menerima kehadiran kedua orang tuanya yang selalu meninggalkannya sibuk dengan urusan mereka masing-masing, saat dia mulai beranjak remaja.
Kemudian Alexa kembali bercakap-cakap dengan mereka berdua dan mereka dengan senang hati akan menerima undangan Alexa untuk menginap agar bisa lebih saling mengenal.
Jo, bingung dengan perasaannya, dia kaget bercampur sedikit perasaan senang karena orang tua nya menyediakan waktu buat hadir di pernikahannya, tapi dia gemas melihat mereka menerima tawaran Alexa untuk tinggal di rumah mereka.
Masa honeymoon mereka hanya satu minggu, karena itu batas waktu yang Sam Montgomery berikan, itupun dengan ancaman dari Jo.
Ya sudahlah, nanti dia akan bilang Alexa mereka akan temani mama dan papa hanya satu hari saja, setelah itu berangkat ke Bora Bora memulai surga mereka, berdua, tanpa orang lain.
Oh Cinta .. sebuah kekuatan besar yang tidak terlihat.