Miss You, Ndut

Miss You, Ndut
Hari Bahagia Akan Tiba



Hari yang ditunggu pun tiba , udara masih dingin,masih terlalu pagi dan Alexa masih mengantuk tetapi dia terbangun karena mendengar dering ponselnya.


Alexa menjulurkan badannya untuk mengambil ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya sepagi ini.


"Jo?"


"Hai..."


"Morning..."


"Morning ...."


"Pagi sekali Jo, kok sudah bangun?"


"Hmm sebenarnya belum tidur."


"What?"


"Nggak bisa tidur Lex."


"Gimana kalau besok ngantuk?"


"Kan besok sudah punya istri, jadi udah ada yang ngurus."


"Jo...gimana kalau aku gak bisa membahagiakan kamu?"


"Maksudnya ?"


"Yah gitu, gimana kalau aku gak bisa bahagiain kamu?"


"Sayang, tunggu ya, aku meluncur!"


"Jo..dengerin dulu...Jonathan...!" tapi Alexa hanya berbicara pada tilpon yang telah ditutup.


Jo segera memasukkan Jas pernikahannya beserta sepatu dan semua yang akan dibawanya saat pernikahan nanti.


Semuanya dimasukkan ke dalam mobilnya, dan masih dalam baju yang dipakainya tidur, dia meluncur ke apartement Alexa.


Dari tadi malam Jo tidak bisa tidur karena dia merasa cemas jangan-jangan sesuatu terjadi yang mengacaukan hari besarnya, hari yang sangat dinantikannya, yang nyaris tidak berani diimpikannya.


Jadi saat Alexa bertanya, dia tidak berani menjawab di telepon, dia akan menatap langsung belahan jiwanya baru dia akan menjawab keraguan Alexa.


Waktu yang ditempuh Jo untuk sampai ke apartemen Alexa hanya separuh dari waktu normal.


Begitu sampai Jo berlari turun dan berjalan menuju kamar Alexa, untunglah masih gelap, jadi semua masih tidur lelap, kalau tidak mereka akan melihat seorang pria tampan dan gagah perkasa dengan hanya mengenakan celana boxer dan kaos berjalan tergesa-gesa sambil membawa barang-barang nya.


Sesampai di depan kompleks apartemen Alexa, pintu terbuka tanpa Jo harus mengabarkan kedatangannya, kemudian Jo naik tangga menuju apartemen Alexa.


Pintu terbuka dan nampaklah calon istrinya, belahan jiwanya yang cantik jelita, dalam pakaian tidurnya yang sopan tapi tetap sexy abis.


Mereka berpandangan cukup lama, kemudian Jo melemparkan barang-barangnya, menendang pintu hingga tertutup dan menggendong Alexa serta membawanya langsung menuju kamar tidur.


Sampai di dalam kamar tidur, Jo terdiam dan masih sambil menggendong Alexa, Jo keluar dan duduk di sofa dengan Alexa diatas pangkuannya.


"Kok batal." tanya Alexa yang heran melihat Jo batal membawanya ke kamar tidur.


"Kita akan melakukannya dengan cara yang benar, hanya tinggal beberapa jam lagi, aku akan bertahan." jawab Jo.


Alexa masih melingkarkan tangannya di leher Jo, kemudian merebahkan kepalanya di leher Jo, dan membiarkan bibirnya bergerak mengikuti naluri.


"Nah kalau begini terus, aku tidak berani janji bertahan melakukan hal yang benar, godaannya terlalu besar sayang, kekuatanku bertahan sudah hampir mencapai batasnya!"


Alexa mendongakkan wajahnya yang perlahan merona, memandang Jo dan kembali menyembunyikan wajahnya di leher Jo.


Dalam hati Jo berdoa semoga dia mampu bertahan, dia ingin membicarakan apa yang menjadi keraguan Alexa, tapi karena dia melihat Alexa masih mengantuk, kembali dia mengendong Alexa dan membawanya ke kamar.


Jo membaringkan Alexa dan menutupinya dengan bed cover sampai di bawah dagu Alexa.


"Berjanjilah kau akan menjaga selimut ini tetap ditempatnya, apapun yang terjadi!" kata Jo dengan suara sexinya.


Alexa menatapnya bingung."Baiklah..."


"Berjanjilah sayang!"


"I promise but why Jo ?"


"Karena aku akan menciummu sweetheart."


Bersamaan dengan berakhirnya kalimatnya bibir Jo sudah berada di tempat yang diinginkannya, dia melakukan banyak hal bersamaan, mencixm... meraba...menggeram.. dan walaupun dipisahkan oleh bed cover yang sangat tebal, Jo masih bisa merasakan efek langsung kedekatan mereka, gairahnya melesat ke puncak.


Beberapa saat lamanya mereka berada dalam ketidakpastian, terus atau tahan ....., tahan atau terus....., hingga Jo membenamkan kepalanya di atas bantal di sebelah kepala Alexa.


Setelah berdiri tegak disamping tempat tidur, dia memandang Alexa, membelai Alexa dari atas bed cover.


"Kau tidak bermain dengan adil Jo," gumam Alexa.


Jo hanya menatapnya dalam diam kemudian berjalan menjauhi Alexa.


"Mau ke mana Jo?"


"Mandi... air dingin! setelah itu kita akan bicara tentang kalimatmu yang tidak masuk akal tadi!"


kemudian Jo menghilang dari pandangan.


Jo merasa luar biasa tersiksa, karena pertahanan dirinya, karena pertanyaan Alexa, dia ingin jam ini cepat berlalu, saat dia sudah memiliki ijin untuk terbang bersama kekasihnya.


Setelah Jo menghilang dari pandangan kembali Alexa panik apa yang harus dikatakannya? masak dia harus mengatakan langsung bahwa dia masih belum berpengalaman dan butuh diajari, nggak mungkin kan, konyol rasanya.


Sudah berminggu-minggu Alexa memikirkan hal ini tetapi tetap saja dia tidak menemukan cara yang agak elegan untuk menyampaikan kepada Jonathan-nya.


klik.


Alexa mendengar pintu terbuka dan Jo keluar hanya berbalut handuk.


Alexa melarang matanya untuk melihat, walaupun hatinya memaksa, bagaimana mungkin anggota tubuh yang sama menginginkan hal yang berbeda.


"Lex."


"Hm." Aexa menjawab masih sambil membenamkan wajahnya di bantal.


"Lex!"


"Iya ..ngomong Jo.. lanjutin aku dengerin."


"Kenapa gak mau lihat aku Lex?"


Dari ekor matanya Alexa tahu Jo bertanya sambil berkacak pinggang, alamakkkk!


Kemudian Alexa memandang Jo sekilas dan segera membenamkan wajahnya kembali sambil berkata,"Gerah."


Jo tersenyum lebar, dan timbul keinginannya untuk menggoda.


"Kenapa sayang, nggak denger." Jo bertanya sambil mendekati kepala tempat tidur.


"Gerahhhhh." suara Alexa walaupun teredam bantal masih jelas sampai di telinga Jo.


"Karena?"


Alexa mengangkat kepalanya mendengar pertanyaan Jo, dan melempar bantalnya sekuat tenaga.


Jo tergelak-gelak bahagia, ternyata dia tidak sendirian, calon istrinya yang cantik jelita juga menderita karena harus menahan diri.


Kemudian Alexa bangkit dan berjalan melewati Jo, Jo segera menangkap pinggang Alexa dan memutar tubuhnya hingga kini mereka berhadapan.


"Cantiknya yang lagi merajuk."


"Lepasin ." Alexa berusaha melepaskan diri.


"Nggak akan."


"Lepasin ."


"Sampai kapanpun gak bakalan aku lepasin, kau terjebak denganku sweetheart, terimalah itu!"


Alexa menengadahkan kepalanya, melihat mata, hidung, bibir, dada Jo kemudian kembali ke mata.


Mereka berada dalam posisi itu untuk waktu yang lama hingga Alexa merebahkan kepala di dada Jo.


"Aku bersyukur karena memilikimu dalam hidupku Jo, saat kita masih berteman kemudian bersahabat dan menjadi kekasih hingga hari ini, aku ingin kamu yakin, kamu tidah salah memutuskan berjalan bersamaku."


"Akhirnya kita sampai di percakapan yang harusnya sudah kita lakukan dari tadi."


Kemudian Jo melanjutkan,


"Tahukah kau apa yang salah dari pernyataanmu ? yang salah adalah saat kamu bilang dulu kita berteman, bersahabat kemudian menjadi kekasih, itu dari sudut pandangmu Lex, bagiku dari dulu kau adalah kekasih hatiku, hanya karena kau sudah ada yang punya tidak berarti aku berhenti menginginkanmu.


"Aku sampai keluar dengan Jelita dan banyak lagi gadis yang lain, tapi semua tidak bisa memenangkan hatiku, hingga akhirnya aku berhenti mencoba."


"Karena kita harus segera bersiap-siap aku akan mempersingkat hal ini, jadi kau di ciptakan untukku, aku akan melakukan apapun untuk tetap bersamamu, jangan pernah meragukan cintaku, ok!"


"I LOVE YOU"