
Palembang, tiga tahun setelah insiden di Bandung...
Aku melangkahkan kakiku terburu menuju sebuah coffee shop paling hits di kota Palembang sore itu.
Hari ini aku cukup sibuk, banyak sekali client dari luar kota yang harus aku temui dalam hari yang sama cukup membuatku merasa letih.
Setelah tahun demi tahun berlalu, aku berhasil lulus dengan nilai yang sangat baik dari universitas pilihanku sendiri di Bandung seperti janjiku kepada Papa dan Mama kala itu.
Kini, aku sudah berhasil mendapatkan pekerjaan yang sangat layak meski terkadang bayang-bayang Luccane masih sering datang.
Aku dapat menjalani hidupku dengan lebih baik memang, namun sampai saat ini belum ada satu pun laki-laki yang mampu mengisi kekosongan hatiku selepas kepergian Luccane lelaki yang paling aku cintai sepanjang hidupku selain Papa.
Perlahan, aku mendorong pintu kaca coffee shop, mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan guna mencari sosok client yang sudah mengatur janji denganku beberapa jam yang lalu.
"Selamat sore Pak Jake, maaf saya sedikit terlambat," sapaku setelah mendapati sosok tampan berwajah blasteran tengah tersenyum ramah kepadaku sambil berjalan menghampiri dirinya.
Pak Jake adalah client terakhir yang harus aku temui untuk membahas bisnis hari ini.
Pria itu belum terlalu tua kalau dilihat dari wajahnya, mungkin perbedaan usianya denganku tak begitu jauh hanya saja beliau sudah memiliki harta serta status sosial selangit yang membuat kesenjangan diantara kami terasa begitu kentara.
"Tidak masalah, Nona Vishabea. Kebetulan hotel tempat saya menginap memang sangat dekat dari sini jadi saya yang tiba lebih dulu," jawab Pak Jake dengan suara yang yang begitu menyejukkan.
Tak hanya wajahnya yang tampan luar biasa, ia juga memiliki kualitas lelaki idaman yang cukup membuatku takjub. Cara bicara Pak Jake sangat santun dengan tata krama yang baik, menggambarkan betapa tinggi pendidikannya.
"Silakan duduk dan pesan minuman sesuai selera Anda, Nona Vishabea," imbuh Pak Jake dengan seulas senyum.
Di atas meja yang kami tempati aku memang sudah mendapati segelas besar kopi Americano dingin, milik Pak Jake yang masih utuh.
"Terima kasih, Pak. Anda bisa minum minuman milik Anda terlebih dahulu," ucapku santun seraya melambaikan tangan, mencoba memanggil pelayan untuk mendekat.
Tak lama setelahnya seorang lelaki muda berjalan mendekati aku dan Pak Jake, siap mencatat pesananku.
"Mas, saya mau pesan hazelnut choco satu ya," kataku kepada sang pelayan.
"Mau yang hangat atau dingin, Kak?" tanya si pelayan.
"Yang dingin saja ya, Mas. Terima kasih."
"Baik, silakan ditunggu sebentar ya, Kak."
Aku mengangguk santun, menunggu pesananku datang sambil mulai membahas soal perkara bisnis yang sedang aku dan Pak Jake rencanakan.
"Sepertinya akan sangat menguntungkan jika saya melakukan investasi ke perusahaan Anda," kata Pak Jake nampak terpukau dengan caraku menerangkan mekanisme bisnis yang akan aku terapkan kali ini.
"Saya akan berusaha memberikan keuntungan maksimal untuk kedua belah pihak, Pak. Jadi saya mencoba merancang mekanisme yang paling efisien dan efektif," balasku dengan senyuman tipis.
"Baru kali ini saya menemukan rancangan bisnis yang sangat cermat seperti rancangan Anda, Nona Vishabea. Baiklah, saya akan melakukan investasi ke perusahaan Anda dengan nominal yang sudah kita sepakati," ucap Pak Jake mantap, membuat aku tersenyum penuh kemenangan.
"Saya tidak akan membuat Anda menyesal telah bekerja sama dengan kami, Pak Jake," aku berujar sambil menyodorkan beberapa lembar perjanjian kontrak bisnis.
Pak Jake mengangguk dengan seulas senyum, menandatangani kontrak yang aku sodorkan dengan begitu yakin.
"Saya yakin sebelum mendapatkan jabatan ini ada banyak sekali pengalaman hidup yang sudah Anda lalui," Pak Jake berucap seraya mengembalikan kontrak yang sudah ia tanda tangani kepadaku.
Aku tergelak halus. "tidak juga, Pak. saya hanya menjalani hidup saya dengan semestinya."
Aku mengangkat alis kiriku, bingung mendengar pembicaraan Pak Jake yang seolah sedang membahas Luccane masa laluku.
"Apa maksud Anda, Pak Jake?"
"Ada sosok laki-laki tampan di belakang Anda yang sedang memandang dirimu dengan penuh cinta, Nona Vishabea. Siapa dia?"
Hatiku seketika bergetar hebat, otakku kembali memutar semua ingatanku tentang Luccane secara otomatis hingga sosok itu kembali muncul dalam ingatan dengan begitu jelas.
Luccane, laki-laki itu tak pernah sepenuhnya dapat hilang dalam hati dan pikiranku.
"Wujudnya sangat tampan dengan rambut berwarna cokelat terang serta alis yang tebal, sepasang mata biru dan tubuhnya juga tinggi serta tegap. Apa Nona memang sengaja memelihara sosok itu?"
Tangis tak dapat aku bendung lagi, membuat Pak Jake terkejut sehingga ia buru-buru memberikan aku sapu tangan miliknya.
Pak Jake juga nampak merasa sangat bersalah sampai berkali-kali meminta maaf kepadaku karena sudah menyinggung soal Luccane.
Aku tertunduk lesu, merasa sangat bersalah kepada Luccane karena sudah pergi tanpa berpamitan yang pasti menimbulkan luka mendalam juga baginya.
Luccane dan aku sama-sama korban, kami terlalu saling mencintai satu sama lain sampai melupakan kenyataan bahwa kami tak akan pernah bisa bersatu waktu itu.
Semesta dan Tuhan yang juga menentang kisah cinta kami pun sempat tak kami hiraukan karena terlalu jatuh ke dalam indahnya pesona cinta yang membara.
Cinta yang sangat indah serta memabukkan itu harus berakhir dengan amat menyakitkan, sukses melukai aku dan Luccane dengan sangat dalam satu sama lain. Ya, sebuah luka yang tak pernah dapat aku lupakan barang sedikit.
"Dia Luccane, Pak Jake. Dia bukan sosok yang saya pelihara melainkan sosok yang saya cintai sampai saat ini. Hubungan kami tidak mungkin bisa bersatu membuat saya memutuskan untuk menutup mata batin saya agar bisa terus menjalani hidup," tuturku dengan napas terputus-putus, berusaha mengendalikan diri ditengah tangisku yang sesenggukan.
"Maafkan saya, saya sungguh tidak menyangka kalau kisahnya sangat menyakitkan seperti itu. Anda pasti merasa sangat terluka karena hal itu," sesal Pak Jake, membuat aku berupaya menerbitkan seulas senyum sebagai pembuktian bahwa aku baik-baik saja.
"Saya baik-baik saja, Pak Jake. Saya mencintai Luccane dengan tulus begitu juga sebaliknya. Meski kami tak dapat bersatu tetapi kenyataan pahit itu membuat saya kini bisa menjadi pribadi yang lebih kuat seperti sekarang," balasku.
"Saya harap kebahagiaan yang terbaik akan segera menghampiri Anda, Nona Vishabea," kata Pak Jake sambil menepuk samar bahu kananku.
"Terima kasih, Pak. Saya mohon bantu saya mendoakan Luccane agar dia mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya."
Pak Jake mengangguk. "tentu, semua ciptaan Tuhan harus kembali ke tempat yang seharusnya setelah tiba waktunya. Luccane, kamu tidak perlu khawatir sekarang kekasihmu sudah hidup dengan lebih baik dan bahagia."
Bulu romaku meremang, sementara Pak Jake hanya tersenyum sambil memperhatikan sisi belakang tubuhku dengan seksama.
"Aku akan selalu mencintaimu bahkan hingga matahari tak akan terbit lagi, Vishabea Lazuardi. Sekarang aku harus kembali ke tempat yang seharusnya jadi berjanjilah kepadaku untuk selalu bahagia. Sampai bertemu lagi di keabadian, sayangku."
Bisikan itu terdengar begitu pelan dan tipis, namun aku dapat mendengarnya dengan sangat jelas dari sisi kanan tubuhku.
Tangisku semakin pecah setelah menyadari bahwa suara itu adalah suara yang selama ini diam-diam sangat aku rindukan.
Tentu saja, suara itu milik Luccane, laki-laki yang menorehkan kisah cinta yang begitu indah untukku.
Luccane, satu-satunya lelaki yang selalu aku dambakan setiap saat, yang selalu aku rindukan setiap detik berganti.
"Luccane sudah pergi menuju ke tempat terakhirnya, Nona. Tolong tepati janji Anda kepadanya, Nona Vishabea," ucap Pak Jake.
Aku tak bisa mengatakan apa pun untuk membalas perkataan mereka karena hatiku terasa sangat kacau, perasaanku campur aduk tak dapat aku jabarkan satu persatu.
Kepalaku hanya bisa tertunduk lesu, berharap Luccane akan selalu berada di tempat terbaik di sisi Tuhan.