
"Wah, tak kusangka kalau Mevrouw Vishabea akan memanggilku bahkan lebih cepat dari perkiraanku."
Sapaan Meneer Kerkoof hanya aku tanggapi dengan seulas senyum paksa sementara Luccane tetap diam saja di belakangku
"Aku juga melakukan ini karena terpaksa, bukan karena aku mau berhubungan denganmu," balasku ketus memandang hantu Belanda berambut pirang itu sinis.
"Oh, biar aku tebak, apa ini semua ada hubungannya dengan Jolanda yang terus mengikuti kamu belakangan ini?" tebak sang hantu bangsawan santai dengan seulas senyum tenang.
Aku mengangguk. "kenapa dia seperti itu padaku? bahkan dia juga mengirim beberapa kuntilanak untuk terus menggangguku."
"Jonge Meester Luccane adalah yang paling tahu akan akar masalah yang menjeratmu, Mevrouw. Coba tanyakan saja padanya apa yang masih ia tutup-tutupi," sahut Meneer Kerkoof santai.
"Ah dan ya, Mevrouw tidak perlu repot-repot memanggilku dengan sebutan Meneer panggil saja Aku Han yang mulai sekarang akan dengan senang hati membantuku dalam berbagai situasi."
Perkataan santun Meneer Kerkoof seperti pisau bermata dua bagiku, aku mana bisa sepenuhnya mempercayai hantu Belanda satu ini karena aku tahu dia adalah sosok yang licik.
Aku tersenyum simpul. "baiklah, Han. biarkan soal hubunganku dan Luccane menjadi urusanku. Berhubung kau sudah datang kemari maka aku akan langsung bertanya ke intinya agar tidak membuang waktumu yang berharga."
"Apa yang ingin kamu tanyakan, Vishabea?" tanya Meneer Kerkoof masih dengan wajah setenang air danau tanpa riak.
"Bagaimana cara melenyapkan Jolanda? kau harus memberitahukan hal itu secara rinci padaku, Han."
Suara gemuruh hujan deras yang turun di luar terdengar kian nyata setelah keheningan menyelimuti kami bertiga, ya, dua orang hantu dan seorang manusia.
"Satu-satunya cara yang bisa membuat Jolanda pergi menjauh darimu hanya dengan menjauhi kekasihmu itu. Jadi pertimbangkan kembali saranku ini, Mevrouw Vishabea."
Luccane menahan emosinya dalam diam.
Aku tahu dia sangat mengkhawatirkan keselamatanku, tetapi aku juga yakin bahwa ada jalan lain yang bisa membuat Jolanda berhenti mengganggu ketenangan hidupku.
"Aku akan mempertimbangkan saranmu, Han. Terima kasih. sekarang kau boleh kembali karena saat ini aku juga butuh istirahat."
Hantu tampan berambut pirang itu tersenyum tipis, memasukkan sepasang tangannya ke dalam saku celananya lantas mengangguk.
Seiring dengan suara alunan lagu Belanda yang berhenti, sosok Meneer Kerkoof juga lantas menghilang begitu saja bagai menyatu dengan udara kamar itu.
Aku memandang nanar lantai berdebu yang kini menjadi pijakanku, sedikit menyesali keputusanku sendiri yang terlalu buru-buru ingin kuliah di Bandung hanya karena ingin lepas dari ketatnya larangan Mama dan Papa di Palembang.
Sungguh aku tidak menyangka bahwa ambisiku yang ingin bebas dari peraturan orang tuaku dapat berakhir menjadi masalah rumit yang harus aku selesaikan seorang diri seperti ini.
Mana mungkin aku bisa meminta tolong kepada sembarang orang saat harus berurusan dengan makhluk halus seper mereka, jadi satu-satunya harapanku adalah diriku sendiri.
"Ayo keluar, debu di kamar ini tidak baik untuk kesehatan paru-parumu," ucap Luccane dengan suara parau.
Tangan dinginnya yang pucat seperti kapas meraih pergelangan tanganku, berusaha mengajakku untuk beranjak namun aku tak bergeming.
"Biarkan aku di sini dulu, Luccane. aku harus merenungkan kesalahan yang aku perbuat sampai aku harus mendapatkan hukuman seperti ini," lirihku sambil memandang kosong ke luar jendela.
...****************...
Langit kelabu masih setia menemaniku bahkan hingga senja hari ini. Aku duduk di bawah pohon besar di belakang rumah ditemani dengan musik dari sepasang earphone yang menutupi kedua telingaku.
Irama musik kesukaanku bahkan seolah tidak membantu apa-apa, perasaanku tetap saja terasa kacau tak karuan karena rentetan kejadian yang aku alami karena ulah Jolanda yang semakin menjadi-jadi.
Dalam diamku, dendam mulai menumpuk. Aku tak memikirkan hal lain selain bagaimana caranya untuk menyingkirkan Jolanda secepatnya.
"Visha, masuklah. Hujannya semakin deras nanti kamu malah semakin sakit," bujuk Luccane yang tiba-tiba sudah berdiri di depanku.
Pemuda itu masih berpenampilan sama saat pertama kali aku bertemu dengannya, tubuh tegap miliknya dibalut oleh satu setel pakaian mewah yang sangat mahal pada masa itu.
Luccane sangat rupawan dengan sepasang netra biru bersorot lembut miliknya yang begitu aku sukai. Aku sangat mencintai laki-laki itu meski pun tahu bahwa kami selamanya tidak akan bisa bersatu, sebuah kenyataan pedih yang membuatku menjadi seperti ini.
"Apakah akan ada yang berubah jika aku sakit, Luccane?" tanyaku lirih.
Luccane berjongkok di hadapanku, menyamakan tingginya denganku. Tatapannya nampak sangat terluka, membuat perasaanku makin tak menentu.
"Jika kamu ingin mengalahkan semua gangguan yang ada maka setidaknya kamu harus mempunyai tubuh yang sehat untuk melawan," bujuk Luccane dengan wajah memohon membuat setitik air mata menggenangi kedua pelupuk mataku.
"Aku mohon kembalilah bersemangat, sayangku. Ingatlah bahwa aku akan selalu di sini, menjagamu sekeras yang aku bisa," imbuh Luccane dengan suara bergetar.
Cepat-cepat aku menghapus jejak air mataku yang terjatuh, menengadahkan kepalaku guna menatap wajah Luccane.
Mata biru miliknya yang biasanya terlihat menawan dengan sorot positif serta menenangkan itu kini nampak sayu membuat hatiku teriris.
"Aku mencintai kamu, dan selamanya akan selalu seperti itu Vishabea Lazuardi. Jadi kumohon, bangkitlah dan jangan putus asa seperti orang bodoh begini," kata Luccane seraya menggamit pergelangan tanganku.
"Aku juga cinta padamu, Luccane. Tapi apa yang bisa aku lakukan?"
Luccane menyadarkan kepalaku di dadanya.
"kamu bisa melewati semua ini, yakinlah. Aku tahu kamu adalah wanita yang kuat dan hebat."
Hembusan angin yang kian kencang serta derasnya air hujan yang mulai turun membuat Luccane yang sudah tak sabaran menarik pelan tanganku, membawaku masuk ke dalam rumah tanpa meminta persetujuan dariku.
"Mawar ungu kesayanganku tidak boleh menjadi layu, tetaplah cantik dan segar mengalahkan segala rintangan," ucap Luccane setibanya kami berdua di dalam kamarku.
Tanpa pikir panjang, aku langsung merengkuh rahang tegas milik Luccane membawa wajah tampan itu lebih dekat.
Aku mengalungkan tangan ke leher jenjang Luccane sambil menatapnya lekat-lekat, berusaha menyampaikan betapa aku mencintai dirinya lebih dari apa pun.
Luccane merunduk, sedikit menurunkan tubuh mencondongkan wajahnya mendekat kepadaku.
Dengan lembut aku mengecup bibir ranum milik Luccane ingin menunjukkan kepada 'mereka' semua bahwa Luccane adalah milikku.
Kecupan manis yang aku berikan disambut dengan baik oleh Luccane yang balas mengulum lembut bibirku membuat dadaku berdebar semakin kencang namun lututku terasa lemas akibat sentuhan luar biasa yang diberikan oleh Luccane.
Dari ekor mataku, dapat kulihat wajah Jolanda yang tengah berapi-api akibat emosinya sendiri sedang berdiri di ambang pintu kamarku.
Layulah engkau mawar hitam, karena kumbang ini adalah milikku sang mawar ungu.