Luccane

Luccane
Bab 26 : Pembalasan Luccane



"Apa kau yakin masih bisa berkeliaran dengan tenang dan bebas seperti ini beberapa hari ke depan, Jolanda? Kalau aku sesungguhnya tidak yakin karena Jonge Meester Luccane tidak mungkin hanya diam berpangku tangan," imbuh Meneer Kerkoof serius yang hanya ditanggapi oleh seulas senyuman meremehkan dari Jolanda.


"Hei, Meneer. Luccane itu terlalu bodoh dan hanyalah mementingkan perasaan mana mungkin dia mau melakukan sesuatu padaku," sahut Jolanda enteng membuat Meneer Kerkoof mendecak sebal.


"Justru itu yang akan menjadi bahaya untuk kau sendiri dasar perempuan bodoh," sarkas Meneer Kerkoof merasa muak dengan kebodohan serta keegoisan Jolanda.


Tanpa menunggu tanggapan dari Jolanda, sang Meneer pergi begitu saja. Dia sudah merasa benar-benar kesal dengan Jolanda yang sangat keras kepala dan egois itu.


Diam-diam, Meneer Kerkoof pergi menuju rumah sakit tempat Vishabea mendapatkan perawatan intensif. Hantu tampan itu melangkah perlahan, sesekali mendapati entitas lain yang juga berada di sana, sekedar singgah atau juga menetap.


Rumah sakit sebetulnya adalah tempat yang sangat 'penuh'. Jika kamu memiliki kepekaan terhadap kehadiran makhluk astral kamu akan merasa sangat tidak nyaman berada terlalu lama di rumah sakit. Berbagai macam wujud penampakan entitas selalu siap mengagetkan kamu kapan saja saat sedang berada di rumah sakit.


Dari kejauhan, sepasang netra milik Tuan muda itu dapat melihat ada banyak orang yang sedang menunggu dengan resah di depan ruang operasi.


Wajah manusia-manusia itu kacau karena terlalu sedih dan sering menangis, membuat perasaannya terenyuh. Walau Vishabea tidak begitu menyukai dirinya, namun Meneer Kerkoof sama sekali tidak ingin mencelakainya gadis cantik itu.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Pertanyaan tiba-tiba itu sontak membuat sang Meneer terperanjat kaget.


"Astaga! kamu membuatku kaget!" hantu tampan itu berseru kaget, membuat sang lawan bicara tergelak.


"Aku baru tahu kalau hantu juga bisa kaget," sang gadis berujar dengan sedikit sisa tawa.


"Kenapa Mevrouw berkeliaran seperti ini? Dirimu bahkan belum mati," tanya sang Meneer heran tatkala melihat sosok Vishabea dalam bentuk arwah sedang berkeliaran dengan tubuh yang dibalut dengan pakaian rumah sakit.


Vishabea tersenyum manis, merasa senang karena selain teman sesama manusia para teman hantunya juga datang untuk menjenguknya bahkan termasuk Tuan Belanda muda satu ini yang tidak begitu akrab dengannya.


"Aku memang belum mati, tapi tubuhku sedang menjalani operasi. kau belum menjawab pertanyaanku, cepat katakan apa yang kau lakukan di sini?"


"Di mana Luccane? Aku harus bicara dengannya," Meneer Kerkoof mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Luccane.


Vishabea mengangkat kedua bahunya. "mana aku tahu. terakhir kulihat dia datang kemari tadi pagi setelah itu dia tidak datang lagi sampai sekarang."


"Aduh, kalau begitu gawat!"


Vishabea mengernyitkan dahinya. "memangnya ada apa, Han? kenapa kau panik begitu?"


"Sepertinya Luccane akan melakukan sesuatu yang sangat berbahaya. Pokoknya sekarang aku harap Mevrouw bisa segera siuman, kalau begitu aku pergi dulu!"


Melihat Meneer Kerkoof berkata dengan buru-buru lantas menghilang begitu saja menimbulkan tanda tanya baru dalam benak Vishabea.


"Memangnya Luccane akan melakukan apa sampai dia panik sekali seperti itu?" gumam sang gadis bingung.


...****************...


"Semuanya sudah siap. Silakan laksanakan, Tuan Luccane."


Luccane mengangguk, menanggapi perkataan sang entitas hitam berbulu lebat di sekujur tubuhnya dengan sepasang mata merah menyala.


Satu buah nampan besar yang terbuat dari anyaman bambu kini sudah terduduk di depan Luccane. Isinya berbagai macam bentuk sajen, mulai dari bunga tujuh rupa, kopi hitam pahit, seekor ayam cemani yang sudah di sembelih serta tiga botol menyan lengkap dengan tungku pembakarannya.


Bibir ranum milik Luccane mulai komat-kamit membaca mantra dengan konsentrasi penuh, sepasang netra biru Luccane yang biasanya bersorot lembut dan tenang itu kini menyiratkan dendam yang sangat dalam membuat siapa pun ngeri melihatnya.


Selain nampan sesaji, di hadapan Luccane juga ada sebuah baskom berisi air yang berfungsi sebagai cermin untuk melihat apa yang terjadi kepada sang target.


Perlahan namun pasti, target dari mantra magis yang dibacakan oleh Luccane mulai merasakan panas di sekujur tubuhnya menerbitkan seringai di wajah tampan Luccane.


Semakin banyak mantra yang digumamkan oleh Luccane, semakin tersiksa pula sosok entitas yang menjadi targetnya itu kian membuat Luccane merasa puas.


Targetnya terus meraung-raung kesakitan meminta ampun, namun semuanya sudah terlambat. Luccane sudah merasa benar-benar dendam kepada sosok itu hingga memilih jalan ini untuk membalaskan dendamnya sebelum semakin banyak dendam yang bersarang dalam hatinya.


Beberapa hantu yang turut menyaksikan aksi Luccane hanya bisa terdiam dengan pandangan ngeri, tak menyangka kalau sang Tuan akan benar-benar melakukan hal ini.


"Bukankah sudah aku bilang untuk tidak mengganggu kekasihku, Jolanda? Sekarang kau terpaksa harus aku lenyapkan seperti ini walau sejak dulu aku enggan berurusan denganmu," gumam Luccane dengan seringai puas setelah sosok Jolanda berhasil dia lenyapkan dengan sihir hitam yang dia kuasai.


Selain memiliki kecerdasan luar biasa, tak banyak yang tahu kalau sebenarnya Luccane bisa menggunakan sihir hitam yang sangat berbahaya baik bagi para manusia mau pun bangsa lelembut seperti dirinya sendiri.


Namun Luccane sudah tidak peduli akan bahaya dari perbuatannya itu, toh dia sudah mati jadi yang ia pikirkan sekarang hanyalah keselamatan Vishabea yang tengah sekarat saat ini.


Meneer Kerkoof yang menyaksikan kejadian itu dari ambang pintu hanya bisa diam terpaku. Apa yang ia takutkan ternyata benar-benar terjadi kepada Jolanda, kini gadis itu lenyap dan tak akan bisa ditemukan lagi.


Sihir hitam yang digunakan oleh Luccane barusan sangatlah berbahaya karena merupakan sihir hitam tingkat tinggi yang tidak bisa sembarangan orang atau jin dapat menguasainya.


Hanya mereka yang terpilih saja yang bisa menguasai sihir hitam yang sangat mengerikan itu membuat hantu berambut pirang itu bergidik ngeri takut kalau-kalau nanti bernasib sama dengan Jolanda jika berani berurusan dengan Luccane.


"Sampai kapan kau akan berdiri di sana, Han?"


"Kau benar-benar melenyapkan Jolanda, Jonge Meester?"


Pertanyaannya dibalas oleh pertanyaan membuat Luccane tersenyum penuh misteri.


Ia bangkit dari posisi duduknya, memandang lawan bicaranya itu dengan tenang.


"Memangnya kenapa, Han? Bukankah itu juga merupakan hal yang kau inginkan? Baik menjadi manusia atau pun hantu dia tetap saja menjengkelkan," ucap Luccane yang sudah sangat muak berurusan dengan Jolanda.


"Yang kau katakan memang benar, tapi bukankah kau terlalu gegabah menggunakan sihir hitam itu?"


Luccane menggeleng. "tidak apa-apa, Han. lagi pula aku sudah terlalu lama melupakan tujuanku kembali ke bumi sebagai hantu jadi sudah waktunya bagiku untuk menghilang. aku sangat mencintai Vishabea, aku tidak mau Jolanda kembali mencelakainya jadi kurasa ini adalah saat yang paling tepat."


Meneer Kerkoof menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman sendu, bahkan setelah menjadi hantu mereka tetap saja menyedihkan seperti ini. Berkelana tidak tentu tujuan tanpa bisa kembali ke pangkuan Tuhan, entah surga atau neraka karena ada urusan dunia yang belum usai.


Saling mencintai meski berbeda dimensi seperti Vishabea dan Luccane memang sangat menyakitkan, membuat Meneer Kerkoof mengerti mengapa Luccane mau berkorban untuk melakukan sihir hitam yang bahkan akan menumbalkan dirinya sendiri itu.


"Ya. aku mengerti sekarang, Luccane. Kuharap Vishabea pulih secepatnya sebelum waktu terakhirmu tiba."