Luccane

Luccane
Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka



"Cepat atau lambat, kau harus mati di tanganku, Vishabea! Jika aku tidak bisa memiliki Luccane maka jangan pernah bermimpi untuk terus bersamanya, manusia rendahan!"


Aku memandang nyalang sang hantu Noni Belanda, enak saja dia mengatakan aku manusia rendahan!


"Kalau saja kau adalah manusia rendahan seperti aku maka aku akan dengan senang hati mengantarkan kau ke neraka!" aku balas berteriak membuat Luccane tercengang.


"Kenapa kau mengusik orang yang jelas tidak menganggumu, Jolanda?" tanya Luccane berusaha bicara baik-baik dengan hantu Jolanda yang sudah berapi-api oleh emosi.


Jolanda berpaling, memandang Luccane dengan sorot yang sama tajamnya.


"bukankah sudah jelas aku katakan bahwa aku sangat menginginkan dirimu lebih dari apa pun, Luccane? kenapa kau malah memilih gadis itu?!"


"Aku sendiri pun tidak bisa mengendalikan perasaanku, Jolanda! aku mohon jangan sakiti Vishabea, dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan masa lalu kita," bujuk Luccane berusaha tetap tenang.


Mata Jolanda yang sebenarnya cantik itu terlihat begitu mengerikan karena dendam yang menyelimutinya. Sorot matanya amat tajam bagaikan sebilah pedang baru yang siap melukai siapa saja yang berurusan dengannya.


Sekujur tubuhku gemetaran akibat besarnya energi negatif yang terpancar dari Jolanda.


Hantu wanita muda itu menyimpan terlalu banyak dendam dan berbagai perasaan negatif lainnya di hari kematiannya hingga membuat ia mati penasaran.


Energi negatif yang sangat besar itu membuat napasku terasa sesak, leherku rasanya tercekik dengan begitu kuat sampai-sampai aku kesulitan menarik napas. Energi negatif dari Jolanda inilah yang membuat aku jadi sakit-sakitan selama satu pekan belakangan.


Jolanda menggeleng, tersenyum licik sembari memandangku dengan penuh dendam.


"tidak bisa, Luccane! aku harus memastikan dia mati di tanganku secepatnya!"


Tubuhku rasanya benar-benar lemas, seperti kehilangan semua tenagaku tanpa sisa. Pandanganku mengabur, namun samar-samar aku masih dapat melihat wajah pucat Jolanda yang memandangku penuh dendam.


Meski begitu, aku sama sekali tidak merasa gentar.


Aku mencintai Luccane dan Luccane juga mencintai aku, kenapa aku harus mengalah padanya?


"Jika kau benar-benar ingin membunuhku, maka aku juga sangat ingin mengirim kau ke neraka, Jolanda!"


Dengan langkah lunglai, aku memaksakan diri untuk tetap berjalan ke depan Jolanda.


Lalu dengan lantang aku melafazkan doa-doa dengan suara di hadapannya, membuat Jolanda berteriak histeris.


Aku juga tak gentar, semakin mengeraskan suaraku melantunkan firman-firman-Nya untuk mengusir Jolanda tak peduli dengan keringat dingin yang terus mengucur deras dari pori-pori.


"Tunggulah pembalasanku, Vishabea!" pekik Jolanda yang akhirnya menghilang entah kemana.


Napasku tersengal-sengal, kakiku yang lemah jatuh meluruh begitu saja di atas lantai.


Bersuara lirih, aku melantunkan nama Tuhan meminta perlindungan dari-Nya sang pencipta segala kehidupan.


"Luccane, kurasa aku tidak bisa tinggal diam. Itu hanya bisa mengusir Jolanda untuk sementara aku yakin dia akan segera kembali datang dan mengganggu aku atau bahkan benar-benar membuat nyawaku melayang," kataku dengan napas tak beraturan.


Luccane meraih tanganku, menarik tubuhku perlahan lantas membantuku berdiri.


Dipandanginya aku dengan mimik wajah penuh sesal, sepertinya dia mulai menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpaku saat ini.


"Maafkan aku, Vishabea... Aku yang terlalu mencintai kamu sampai aku berusaha memaksakan kehendak untuk tetap bersama padahal jelas-jelas kita ini berbeda," cicit Luccane dengan suara lemas.


Tanpa pikir panjang aku langsung merengkuh tubuh jangkung Luccane, membawanya ke dalam pelukanku.


"Sungguh, Luccane, aku tidak peduli! Selagi aku bisa menyentuhmu maka kau tetaplah kekasihku."


...****************...


"Lo nggak usah ke kampus dulu deh, soal urusan absen biar gue aja yang urusin," celoteh Carly via telepon pagi-pagi sekali bahkan sebelum aku bangun dari tempat tidurku.


Sudah beberapa menit kami berbincang, dia tetap bersikeras tidak mengizinkan aku untuk masuk kuliah hari ini karena terlalu mengkhawatirkan kondisi kesehatanku.


Bahkan teman sekelas yang lain juga kompak mengirimi aku pesan singkat berisi larangan untukku agar tidak masuk kuliah dulu hari ini.


"Lah, nanti ada tugas gimana?" sahutku tak mau terima begitu saja.


"Udah sih, tenang aja! Nanti pokoknya kita semua langsung info kalau ada tugas hari ini. Ya udah, gue mau siap-siap berangkat ke kampus khusus hari ini lo istirahat dulu ya, bye!"


Aku menghela resah, sementara Luccane yang sedang duduk di bangku meja belajarku terkekeh kecil melihat interaksi heboh antara aku dan Carly.


"Makanya, kau lahir saja di tahun yang sama denganku pasti hidupmu akan terasa lebih baik," cibirku sambil membuka-buka majalah yang membahas tentang idola KPop pria.


Luccane tergelak. "andai bisa seperti itu tentu saja aku juga mau. tapi semua yang sudah menjadi garis takdir Tuhan mana bisa kita ganggu gugat."


Aku tersenyum tipis, mengangguk karena merasa setuju dengan apa yang Luccane katakan.


Sayang sekali anak yang terlampau tampan dan cerdas ini harus kehilangan nyawanya sebelum bisa melakukan hal-hal besar dalam hidupnya.


"Kau sangat bijak. Andai saja jodoh itu bisa di pilih tentu saja aku akan dengan senang hati memilih untuk menjadi jodohmu," kelakarku berusaha menghangatkan suasana meski tubuhku masih terasa sangat lelah dan berat karena energi negatif dari Jolanda kemarin.


"Jangan menggodaku," sahut Luccane cepat sembari berpindah tempat ke ujung ranjangku.


"Kita harus mulai melakukan berbagai hal untuk menghalau gangguan Jolanda, bukan?" imbuh Luccane dengan air muka lebih serius.


Aku hampir saja melupakan hal penting itu karena terlalu senang melihat wajah Luccane yang tersipu-sipu setelah mendengar gombalan dariku.


"Apa yang harus kita lakukan lebih dulu, Luccane?" tanyaku risau saat membayangkan betapa mengerikannya sosok Jolanda.


"Dengan berat hati aku harus mengatakan ini, kamu bisa menemui dan bertanya kepada Meneer Kerkoof apa pun tentang Jolanda karena semenjak menjadi hantu dia sering berhubungan dengan Jolanda entah dalam konteks apa," papar Luccane.


"Aku tidak bisa pergi ke kampus hari ini. Apa kau tahu cara untuk memanggil Meneer Kerkoof tanpa harus pergi ke kampus?"


Luccane mengusap dagu runcing miliknya dengan jari telunjuk, berpikir dengan serius untuk menemukan solusi terbaik untukku kali ini.


"Ah, aku tahu! Kamu bisa memanggil Meneer Kerkoof dengan salah satu lagi Belanda yang sangat dia sukai," kata Luccane antusias.


"Bukankah aku tahu aku ini tidak bisa berbahasa Belanda?" tanyaku sinis dengan muka masam.


"Maka dari itu kamu harus pergi ke gudang, Visha. Di sana ada gramophone beserta beberapa koleksi piringan hitam berisi lagu Belanda milik Papa. Nyalakan saja di ruang tengah sambil terus memanggil namanya," jelas Luccane sabar.


Aku mengangguk mengerti, beringsut menuju gudang yang dulunya merupakan kamar Luccane bermodalkan sebuah kunci tua yang berhasil aku temukan di lemari kamarku.


Tanpa ragu aku langsung membuka pintu kamar itu. Suara derik pintu yang amat kentara terdengar kemudian, pertanda kamar itu benar-benar hampir tak pernah tersentuh selama puluhan tahun.


Aroma lembab dan debu menyapa indera pembauanku, sementara indera pengelihatanku dihadapkan dengan kegelapan.


"Dimana saklar lampunya, Luccane?" tanyaku kepada sang pemilik kamar.


"Saklar lampunya ada di sebelah kirimu, Visha."


Mengandalkan tanganku, aku mulai meraba-raba dinding kamar Luccane yang terasa begitu dingin dan lembab hingga berhasil menemukan saklar lampu yang aku cari.


Aku merasa takjub setelah melihat dengan jelas bentuk kamar Luccane. Kamar itu sangat rapi dengan dekorasi minimalis yang terkesan maskulin.


Di sisi kanan kamar, aku dapat melihat sebuah figura berukuran sedang berisi foto Luccane yang sedang duduk di atas kursi dengan setelan jas rapi membalut tubuhnya.


Luccane terlihat sangat tampan dalam foto itu, membuatku mengambil figura itu dengan penuh antusias tanpa mempedulikan ocehan Luccane yang merasa malu akan foto itu.


Di atas meja belajar, aku dapat melihat satu figura kecil berisi foto Luccane saat masih kecil yang sedang mengenakan kemeja putih lengan pendek. Walau kedua foto itu berwarna hitam putih, aku dapat membayangkan betapa tampannya Luccane dalam foto itu.


"Kau bahkan tampan sejak kecil, Luccane," pujiku sambil mengusap lembut figura kecil yang tertutup debu cukup tebal itu.


"Mana mungkin kalau aku cantik," balasnya malu-malu membuatku tergelak.


Setelah mendapatkan gramophone dan piringan hitam yang diperlukan, aku dengan sigap memasangnya sesuai dengan arahan dari Luccane.


"Semoga benda tua itu masih bisa bekerja dengan baik," gumam Luccane usai aku berhasil memasang piringan hitam di atas gramophone.


Tak lama berselang, lagu Belanda yang sama sekali tak aku mengerti mengalun merdu dari gramophone. Luccane memandangku, memberikan isyarat.


Buru-buru aku menyalakan lilin, meletakkannya di atas meja di depan gramophone yang sedang memutar lagu Belanda kesayangan Meneer Kerkoof.


"Meneer Kerkoof, datanglah kemari..." gumamku dengan mata terpejam.


Beberapa saat berselang, aku dapat mencium aroma bunga-bungaan yang tidak familiar datang mendekat ke arahku.


"Wah, tak kusangka kalau Mevrouw Vishabea akan memanggilku bahkan lebih cepat dari perkiraanku."