
Seiring dengan laju mobil Andri yang kian melambat karena padatnya jalan malam itu, pikiranku terus terusik oleh suara laki-laki misterius yang aku dengar sepersekian saat lalu.
Namun aku memilih untuk diam, enggan mengganggu konsentrasi berkendara Andri mengingat jalanan juga menjadi licin karena hujan deras yang baru saja turun.
"Kamu mikirin apa?" tanya Andri tiba-tiba mengoyak kesunyian.
"Nggak mikirin apa-apa, cuma lagi lihat-lihat pemandangan," aku berdalih, membuat Andri kontan tertawa.
"Pemandangan apaan? orang yang ada di kanan kiri jalan ini cuma tanah kosong mana gelap pula," balas Andri dengan sisa tawanya membuat aku ikut terkekeh geli.
Karena hujan yang sangat deras, wilayah yang kami lewati malam ini terkena pemadaman listrik sedikit membuat suasana menjadi mencekam.
"Sudahlah, kamu tidak perlu memikirkan hal yang bukan-bukan. Kita hanya perlu fokus menyelesaikan urusan kita dengan pihak berwajib setelah ini," ucap Andri mencoba menghibur sembari tetap memfokuskan pandangannya ke jalan raya.
"Iya iya. terima kasih banyak ya, Andri. Aku harap semuanya cepat selesai," aku menimpali dengan seulas senyum tipis.
Mobil melesat perlahan namun pasti, melintasi jalanan basah yang masih diguyur oleh derasnya hujan. Aku dan Andri kemudian berbincang ringan, berusaha saling menghibur dengan candaan-candaan receh yang sesekali dilontarkan oleh Andri sampai akhirnya kami berhasil tiba di rumah keluarga Mang Ujang.
Pasangan suami istri itu menyambut kepulangan kami dengan air muka khawatir, membuat hatiku merasa bersalah. Aku merasa tak enak hati karena sudah melibatkan Andri dan keluarganya sampai sejauh ini padahal awalnya aku menolak untuk tinggal bersama keluarga ini.
Mang Ujang dengan sigap membuka bagasi mobil, membawa masuk tas berisi pakaian milikku sementara barang-barang yang lainnya akan aku urus lain kali setelah proses investigasi dari pihak kepolisian rampung.
"Ayo masuk, Nak. Nanti kalian malah sakit," ucap Bibi khawatir sambil merangkul aku dan Andri untuk masuk ke dalam rumah.
"Sebenarnya apa sih yang kalian lakukan?" tanya Mang Ujang tegas setelah kami semua masuk ke dalam rumah.
Aku menunduk dalam-dalam, sementara Andri mengusap lembut punggungku.
"Jadi begini Ayah, karena aku dan Visha bisa melihat hal-hal yang tak bisa dilihat oleh orang lain kami jadi harus melakukan semua itu untuk kebaikan semuanya," ucap Andri mencoba menjelaskan secara ringkas apa yang terjadi kepada kedua orang tuanya.
"Untuk kebaikan semuanya bagaimana? Kalian sampai melibatkan polisi, mana mungkin kami tidak khawatir?" tekan Mang Ujang.
"Mamang... Bibi... Maafkan Visha ya, semuanya karena Visha yang terluka karena gangguan dari 'mereka'. Jadi karena Andri memiliki kemampuan yang sama jadi Visha mencoba minta bantuan Andri tapi kami berdua sama sekali tidak menyangka kalau masalahnya akan jadi rumit seperti ini," aku turut mencoba menjelaskan meski dengan suara yang bergetar karena berupaya menahan tangis.
Andri masih setia mengusap lembut punggungku, sementara Bibi menggenggam tanganku berusaha menenangkan diriku. Mang Ujang juga nampak khawatir hingga aku tak kuasa menahan tangisku, merasa terharu sekaligus sedih.
"Jadi Neng Visha kemarin terluka parah karena hal itu?" tanya Bibi.
Aku mengangguk mengiyakan, membuat Mang Ujang dan Bibi menghela napas panjang.
"Kalau begitu kalian harus menyelesaikan semuanya dengan baik. Ingat, kalian juga tidak boleh sampai terluka. Mengerti?" tukas Mang Ujang kemudian.
"Ya sudah kalau begitu kalian berdua makan malam dulu sana, habis itu baru istirahat," titah Bibi dengan lembut, mengarahkan aku dan Andri menuju dapur.
Aku melangkah lunglai, perutku terasa enggan untuk menerima makanan namun apa boleh buat aku harus tetap makan agar tidak sampai jatuh sakit terlebih banyak hal yang harus aku urus.
...****************...
Hujan masih menemani malamku, tak reda juga barang sedikit. Yang ada hujan malah semakin deras membuat aku menarik selimutku hingga sebatas dada.
Suara gemuruh terdengar begitu menyeramkan, mengusir keheningan yang biasanya menemaniku setiap malam sejak aku dan Luccane tak dapat bertemu lagi. Meski begitu, aku berusaha untuk tetap memejamkan mataku siapa tahu aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini.
"Kamu melewatkan sesuatu, Vishabea. Sepupumu benar ada sesuatu yang melibatkan pemilik rumah saat ini dengan Vin!"
"Siapa kau?!" tanyaku penuh penekanan meski berusaha menahan suaraku agar tidak terdengar sampai keluar kamar.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, yang jelas aku berniat untuk mengingatkanmu agar tidak melewatkan sesuatu yang lebih besar lagi. Bukankah besok pihak kepolisian akan memanggil pemilik rumah itu?"
"Lalu aku harus apa?"
Aku memberanikan diri untuk bertanya meski aku merasa sangsi dengan kata-kata yang diucapkan oleh suara tak bertuan itu. Terlebih, suara itu memang sudah menganggu aku sejak masih dalam perjalanan pulang tadi.
"Temui laki-laki itu, kamu harus menggali informasi sebanyak mungkin. Ajak laki-laki itu bicara sambil menatap matanya, kamu pasti akan menemukan sesuatu. Bukankah kamu tahu bahwa mata adalah jendela jiwa seseorang?"
Ada benarnya juga. Selama ini aku jarang sekali bertemu dengan pemilik rumah itu, kami hanya dua kali bertatap muka tetapi sejak awal yang aku ingat hanya ketampanan pemilik rumah itu yang nampak tidak umum.
"Tapi apa yang salah dari seorang pria berwajah tampan dan kaya itu? Aku sama sekali tidak menemukan keganjilan darinya," aku menyahut sambil mencoba mengingat-ingat kembali saat aku bertemu dengan sang pemilik rumah.
"Kamu sungguh lamban, Vishabea. Bukankah kamu tahu kalau rumah itu diambil alih oleh mantan Babu yang pernah bekerja pada keluarga Luccane?"
"Aku tahu benar soal itu. Tapi apa yang salah dari itu? siapa tahu, mantan Babu itu menikah dengan orang Belanda juga makanya beliau bisa mendapatkan keturunan yang tampan seperti si pemilik rumah," balasku.
"Jangan berdebat denganku, kamu hanya perlu menatap mata laki-laki itu dan jangan banyak tanya. Jika kamu masih belum juga menemukan sesuatu walau sudah menatap mata laki-laki itu artinya kamu memang sangat lamban."
Memangnya apa yang salah dari mata Pak Ricky, pria pemilik rumah itu? Kenapa aku harus menatap matanya? Tapi apa boleh buat, sepertinya aku memang harus mencoba melakukannya siapa tahu aku akan benar-benar menemukan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk selanjutnya untuk memecahkan misteri keluarga Luccane.
"Apa pun yang kamu pikirkan saat ini, aku harap kamu bisa melakukannya dengan baik. Lakukan saja interaksi senatural mungkin dengan laki-laki itu hingga kamu bisa menatap matanya, lagi pula siapa yang tidak mau ditatap oleh gadis secantik dirimu?"
"Ya, baiklah. Aku akan mencoba melakukannya sebaik mungkin besok."