
Aku tertawa satir. "kau tak berhak mengatur kepada siapa aku harus jatuh cinta, Luccane."
Luccane tersenyum asimetris, tanpa meminta persetujuanku ia meraih tubuhku ke dalam rengkuhan hangat khasnya yang begitu aku rindukan. Aroma musk yang memabukkan membuat cintaku kepada Luccane kembali membara.
Dalam diam, aku merasakan dadaku berdebar hebat berbarengan dengan darahku yang berdesir.
"Harusnya kamu bertanya kepadaku lebih dulu siapa itu Vin sebelum memutuskan untuk berciuman dengannya," ledek Luccane, tidak menanggapi perkataan ketus yang aku lontarkan beberapa saat lalu.
Luccane malah memperlakukan aku dengan lembut dan penuh cinta seperti biasanya, membuat aku terjebak kembali ke dalam pesonanya yang amat luar biasa itu.
"Memangnya siapa dia, Luccane? dia hanya bilang padaku kalau aku hanya perlu memanggilnya Vin," balasku seraya membenamkan wajahku di dada bidang milik Luccane.
Sial, hanya dada Luccane yang dapat menjadi sandaran paling menenangkan bagiku selama ini.
Luccane memberikan sedikit jarak dariku, wajahnya nampak sedang mengenang sesuatu membuat aku kian penasaran sepertinya Vin memang memiliki kaitan dengan Luccane semasa hidupnya.
"Bagaimana menurutmu jika aku mempunyai saudara?" tanya Luccane sambil mengusap puncak kepalaku.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Jika memang kai punya saudara pun tidak akan merubah apa pun, bukan?" balasku bingung, memandang Luccane dengan alis nyaris tertaut.
Luccane membalas tatapanku, melepaskan pelukannya kemudian.
"Sebenarnya, Vin adalah saudara kembarku yang mengalami gangguan mental semasa hidupnya," ucap Luccane pelan dengan mimik penuh penyesalan.
"Apa? Saudara kembar? Bagaimana bisa? Kau jangan bercanda!"
Aku jelas terkejut mendengar penuturan Luccane yang sama sekali tak pernah aku duga itu.
Saudara kembar? Bukankah Papa dan Mama Luccane bilang bahwa Luccane adalah anak mereka yang satu-satunya? Kenapa Luccane malah bilang kalau Vin adalah saudara kembarnya?
Luccane menggeleng. "sayangnya aku tidak bercanda. aku dan Vin adalah saudara kembar yang tidak identik, Papa dan Mama sepakat menyembunyikan Vin dengan mengatakan bahwa dia sudah meninggal sejak masih kecil."
"Apa yang membuat Papa dan Mamamu melakukan itu, Luccane?" tanyaku bingung sekaligus heran, mengingat Vin tak kalah tampan dan lembut seperti Luccane.
"Vin memiliki gangguan mental yang parah, pada masa itu belum ada obat-obatan atau terapi yang benar-benar mampu membantu Vin untuk mengobati penyakitnya itu. Tapi, ada hal yang membuat Papa dan Mama selalu dihantui rasa bersalah karena sudah menjadi orang tua Vin," papar Luccane.
"Rasa bersalah? Kenapa? Memangnya apa yang terjadi?"
"Gangguan mental yang dialami oleh Vin sangatlah ekstrim membuat dia menjadi sangat manipulatif bahkan tak segan-segan untuk menghilangkan nyawa orang lain untuk mencapai tujuannya," tutur Luccane dengan pandangan menerawang jauh.
Aku menutup mulutku dengan tangan, tak menyangka akan mendengar rahasia gelap dari keluarga Luccane seperti ini. Aku tak menyangka bahwa kehidupan Luccane dimasa lampau ternyata jauh lebih berat ketimbang bayanganku selama ini.
"Saat itu aku masih muda dan lugu, tidak tahu bagaimana caranya agar dapat mencegah Vin melakukan hal nekat seperti itu," sesal Luccane.
"Ya, sebenarnya di foto itu ada dua orang yaitu aku dan Vin tapi Papa merobek foto Vin karena memang orang-orang selain keluarga di rumah ini serta para Babu dan Jongos yang bekerja di sini sudah menganggap Vin telah tiada," jelas Luccane dengan pandangan yang sulit untuk aku artikan.
Kenyataan bahwa Vin dan Luccane adalah saudara kembar saja sudah membuat kepalaku pusing.
Apa yang harus aku lakukan? Lebih lagi, Vin kerap kali muncul dan menggodaku belakangan ini. Jika aku sampai terkena godaan Vin maka aku bisa saja terseret semakin jauh dalam masalah.
Ya Tuhan, kenapa berurusan dengan makhluk astral bisa membuat aku sangat kerepotan seperti ini? Hah.. Aku harus bagaimana?
"Visha, apa pun alasannya aku mohon jangan terlalu dekat dengan Vin," pinta Luccane dengan sepasang netra miliknya yang memandangku penuh harap.
...****************...
Aku memandang nanar pintu kayu usang yang terletak di ujung lorong menuju dapur rumahku. Aku tidak tahu kalau kamar yang aku sangka gudang ini adalah kamar Vin, saudara kembar Luccane yang barusan aku ketahui kebenarannya.
Bermodalkan sebuah kunci dengan model jadul yang aku temukan di kamar Luccane, aku membuka pintu kamar milik Vin mencoba mencari tahu kebenaran lain tentang keluarga pengusaha kaya raya ini.
Aroma lembab khas debu menyapa indera pembauanku, membuat aku sedikit terbatuk. Buru-buru aku memasang masker medis yang menggantung di kedua telingaku, mulai berjalan pelan menyusuri kamar Vin.
Kamar itu bernuansa serba hitam yang tak memancarkan kehidupan, membuatku bergidik. Dalam batin, mencoba menerka agaknya bagaimana sifat Vin semasa ia masih hidup.
Semua perabotan di kamar itu pun berwarna hitam, senada dengan warna cat dindingnya.
Atensiku kemudian tertarik pada sebuah figura berukuran sedang yang tergeletak begitu saja di atas kasur Vin, berisi foto keluarga Luccane yang lengkap. Di dalam foto itu ada Mama, Papa, Luccane dan juga Vin yang sedang tersenyum bahagia nampak seperti keluarga pada umumnya pada masa itu.
"Apa yang membuat mental Vin jadi rusak begitu ya? Apa mungkin ini hanyalah faktor kebetulan? Tapi entah mengapa aku merasa ada keganjilan di dalamnya," gumamku penasaran, teringat pada ucapan Luccane tadi.
Aku menaruh kembali figura itu, beringsut menuju meja belajar di sudut kiri kamar itu. Nampak sebuah wadah kaca berisi bunga yang sudah mengering di pinggir meja membuat aku kian penasaran agaknya apa yang terjadi kepada Vin.
Luccane bahkan enggan menceritakan bagaimana Vin betul-betul meregang nyawa membuat rasa penasaranku semakin tinggi.
Tanganku meraih sebuah buku yang menarik perhatianku dari rak buku berbahan kayu setinggi kira-kira dua meter itu. Sampul buku tua berbahasa Belanda langsung menyapa sepasang mataku, beruntung aku selalu berusaha keras belajar Bahasa Belanda secara otodidak sejak beberapa bulan yang lalu.
"Daftar target? Apa maksudnya ini? Kenapa ada buku aneh seperti ini di dalam kamar seorang pemuda?" aku bergumam, duduk di atas kursi meja belajar milik Vin dan mulai membaca buku tebal yang telah menguning termakan usia itu.
Aku mulai membaca buku itu bermodalkan penerangan alami dari cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamar yang tirainya memang sengaja aku singkap tersebut.
Kedua mataku terbelalak tak percaya setelah lembar demi lembar dalam buku itu terus aku baca dan balik membaca setiap kata yang tertulis dengan rapi menggunakan tulisan tangan berbahasa Belanda itu. Napasku tercekat di tenggorokan mendapati fakta mengejutkan dalam setiap lembar buku itu.
"Hah? Apa-apaan semua yang tertulis di buku ini?!"