Luccane

Luccane
Bab 56 : Satu Titik Kebenaran



"Jadi, menurutmu Pak Ricky adalah keturunan langsung dari Vin?" tanyaku kepada Andri.


Andri menjentikkan jarinya. "tepat sekali! itu bisa saja benar siapa tahu Vin tidak mati seperti keluarganya kala itu dan sempat menikah."


Aku menelan ludah, tak menyangka bahwa Andri dapat berpikir sampai sejauh itu.


Meski aku merasa teori yang dikatakan Andri itu bisa saja masuk akal namun aku masih bertanya-tanya mengapa Pak Ricky selalu berusaha menghindari kontak mata denganku.


Apa memang pria itu menyembunyikan sesuatu dariku?


"Itu memang masuk akal, tapi bagaimana dia bisa menikah dengan seseorang kalau dalam catatan sipil pun dia dinyatakan sudah meninggal?" kataku mencoba menelaah kembali teori yang dikatakan oleh Andri.


Ini memang memusingkan, tapi aku dan Andri tidak boleh sampai lengah. Kami tidak boleh kehilangan sedikit pun petunjuk agar dapat menemukan titik temu dari kasus ini.


"Dengan menggunakan identitas palsu tentu saja. Apa kamu tidak berpikir bahwa pada masa itu sangat mudah bagi orang-orang dengan uang berlimpah untuk memalsukan identitas?"


Ini juga masuk akal!


Zaman itu belum secanggih saat ini, dan tentu saja pada tahun itu belum ada sistem pengumpulan data base yang canggih seperti sekarang.


"Bisa saja Vin memalsukan identitasnya lalu menikah sampai akhirnya memiliki keturunan, itu sebuah teori yang masih masuk akal," tambah Andri dengan semangat walau aku juga dapat melihat kalau ia cukup kelelahan.


"Aku anggap kita bisa berpegang pada teori itu, tapi bagaimana kita bisa membuktikan kebenarannya?" tanyaku sambil mencoba memikirkan kemungkinan yang lain mengenai ikatan antara Vin dan Ricky.


Andri menggeser posisi duduknya, merendahkan sedikit kepalanya lalu berbisik padaku.


"Tentu saja kita harus mengikuti Pak Ricky setelah dia menjalani pemeriksaan. Lagi pula kita tidak memiliki jadwal untuk bertemu dengan penyidik hari ini, bukan?"


"Kamu memang jenius!" balasku girang.


"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita menunggu di mobil agar Pak Ricky tidak curiga," tambah Andri masih dengan suara berbisik.


Buru-buru aku dan Andri membereskan barang-barang yang kami bawa lantas langsung kembali ke dalam mobil untuk bersiap-siap mengikuti Pak Ricky.


Aku yakin, laki-laki itu memang menyembunyikan sesuatu dengan sangat hati-hati dari hingga bertatapan mata denganku saja ia tidak mau.


Untung saja tadi kami datang lebih dulu dari pada Pak Ricky sehingga kemungkinan besar ia tidak tahu kendaraan mana yang kami gunakan untuk sampai ke kantor polisi.


Dengan begitu kami bisa mengikuti Pak Ricky dengan lebih leluasa dan aman.


"Untuk berjaga-jaga lebih baik kamu duduk di bangku tengah tepat di belakangku. Karena mungkin saja Pak Ricky akan langsung menyadari kalau dia diikuti jika kamu duduk di depan," ucap Andri yang lagi-lagi memberikan ide cemerlang sesaat sebelum aku masuk ke dalam mobil.


Aku mengangguk, lalu masuk dan duduk di bangku tengah mobil. Selagi menunggu, aku melihat Andri sibuk menghubungi seseorang dengan ponselnya tanpa aku tahu apa yang sedang mereka bicarakan tapi nampaknya itu ada hal yang sangat serius.


"Sepertinya aku tahu di mana Pak Ricky dan keluarganya menginap selama di Bandung dari seorang informan terpercaya," ucap Andri sesaat setelah mengakhiri sesi berteleponnya.


"Hah? Bagaimana bisa?" aku jelas bingung dan bertanya-tanya bagaimana bisa Andri melakukan penyelidikan dengan sangat baik selayaknya seorang polisi profesional.


"Kamu tidak perlu tahu detailnya, tapi yang pasti sekarang kita harus mulai bergerak karena subjek yang sedang kita cari bisa jadi sedang ada di hotel itu."


Lantunan musik Baroque klasik khas Belanda yang lembut menemani perjalananku dan Andri menuju salah satu hotel bintang lima yang diyakini Andri adalah tempat di mana Pak Ricky menginap bersama seseorang.


Berbanding terbalik dengan lantunan musik yang tenang, kini hatiku sama sekali tidak tenang.


Aku merasa sangat gelisah, tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini jika aku benar-benar berhasil bertemu dengan orang itu.


Jalan lintas arteri yang kami lewati pun sedang dalam kondisi lancar, membuat Andri menaikkan kecepatan mobilnya sedikit agar lebih cepat mencapai tujuan.


"Kalau kita berhasil, aku tak tahu harus mengucapkan berapa banyak terima kasih sama kamu," ucapku berusaha mengusir rasa gelisah.


Andri tersenyum, nampak dari pantulan kaca spionnya. "jangan terlalu berterima kasih, aku melakukannya karena sebagai saudara kita memang harus saling membantu."


Peta digital yang menjadi petunjuk arah yang mengarahkan Andri dan aku menuju hotel itu berbunyi, pertanda tujuan kami sudah dekat.


Andri memelankan laju mobil lalu perlahan memposisikan mobil ke lajur kiri arah di mana hotel itu berada.


Setelah tepat berada di jalan masuk bangunan hotel yang sudah nampak berumur itu, Andri mengarahkan mobil untuk masuk ke dalam hotel.


"Aku baru tahu ada juga bangunan tua seperti ini di kota Bandung selain di kawasan jalan Asia-Afrika," ucap Andri sambil mengamati bangunan tua yang nampak sangat menonjol dibandingkan bangunan modern di sekitarnya itu.


"Ya sudah pikirkan itu lain kali, kita harus mencari subjek seperti katamu," ujarku tak sabaran, menarik lengan Andri untuk memasuki bangunan hotel itu.


Kami lantas beringsut masuk, berjalan lurus menuju resepsionis hotel itu tanpa banyak basa-basi.


"Di mana subjek menginap?" tanya Andri kepada pemuda tampan yang merupakan resepsionis hotel itu.


Pemuda itu memberikan sebuah kunci yang aku yakini sebagai kunci master lalu berbisik kemudian.


"Di lantai dua, kamar nomor seratus dua. Dia laki-laki tua berwajah Eropa yang sepertinya memang berkerabat dengan Tuan Ricky van Mottman."


Andri mengangguk paham, ia lalu menuntun aku untuk mengikuti langkahnya menuju lantai dua hotel menaiki lift. Setibanya di lantai dua, aku dan Andri lantas mengedarkan pandangan mencari di mana letaknya kamar yang menjadi tujuan kami sambil berharap tidak ada petugas keamanan yang berjaga di sekitar sini.


"Itu kamarnya, ayo cepat!" Andri berseru dengan suara tertahan, membuat aku langsung mengambil langkah tepat di belakangnya.


Aku juga agak kaget saat tahu bahwa hotel ini tak memiliki kamera pengawas setelah cukup lama mengamati keadaan sekitar. Ini adalah kesempatan yang bagus, tak boleh kami sia-siakan!


Bermodalkan kunci pemberian resepsionis hotel tadi, aku dan Andri berhasil masuk ke dalam kamar dengan fasilitas yang cukup mewah itu.


Berdua, aku dan Andri mencoba mencari seseorang yang mungkin saja ada di dalam kamar itu.


"Aku tidak menyangka kalau kamu akan menemukan aku secepat ini, Mevrouw Vishabea. Kamu memang sangat hebat," sebuah suara mengalun di udara, membuat aku kaget luar biasa.


Aku mengenal suara itu, aku sungguh mengenal suara itu dan tahu siapa pemilik suara itu!


Oh, apakah aku sedang bermimpi?!