
Aku dan Luccane duduk saling berhadapan, saling memandang lekat-lekat dalam diam.
Diluar hujan turun dengan cukup deras, menambah suasana syahdu yang menyelimuti kami berdua.
"Sepertinya kamu betah berada di sini," ucap Luccane lembut, menyapu wajahku dengan pandangan.
"Jika saja Indonesia sedang tidak di jajah dalam lingkup waktu ini, mungkin aku akan memilih untuk tinggal di sini," balasku setengah bercanda.
Kondisi kota Bandung sebelum kemerdekaan, lingkup waktu dimana Luccane masih hidup memang sangat berbeda.
Kendaraan bermotor masih sedikit, jalanan yang lengang serta rumah-rumah penduduk yang juga masih saling berjauhan.
Tata letak kota pada zaman ini juga menurutku jauh lebih rapi dan lega ketimbang di masa aku hidup, serba sempit dengan lahan terbatas belum lagi kemacetan yang terjadi dimana-mana.
"Di zaman ini kesenjangan sosial sangat tinggi. Jika di masa kamu hidup keindahan rupa yang kamu miliki akan sangat menguntungkan, dimasa ini aku malah tersiksa karena wajahku yang serupa dengan orang Eropa ini. Para pribumi sangat membenciku, tak jarang memperlakukan aku dengan kasar. Terlebih mereka para orang-orang Belanda asli, mereka selalu memperlakukan aku sesuka hati mereka hanya karena ibuku seorang pribumi," tutur Luccane dengan air muka yang begitu menyiratkan luka.
Sel kelabu otakku menerawang jauh, membayangkan bagaimana buruknya perlakuan orang-orang Belanda mau pun pribumi kepada para Sinyo dan Noni yang sebenarnya bisa saja tidak tahu apa-apa seperti Luccane ini.
Bagi para Sinyo dan Noni yang beruntung, mereka bisa mendapatkan pendidikan serta pekerjaan yang baik. Ada pula yang bahkan dikirim oleh Ayah Belanda mereka untuk meneruskan pendidikan di Eropa. Sementara bagi mereka yang malang, tentunya akan dibiarkan hidup terlantar.
Luccane tersenyum penuh misteri, menggamit tangan kananku. "aku akan memperlihatkan kepadamu bagaimana kala itu aku diperlakukan atas perbuatan yang aku lakukan sama sekali."
"Kenapa harus?" tanyaku.
"Agar kamu dapat memahami bagaimana realita kehidupan saat itu. Tutuplah matamu, aku akan membawamu untuk melihat masa laluku."
Dalam hitungan ketiga, lagi-lagi aku dibawa oleh Luccane berpindah ke dimensi lain.
...****************...
Flashback On
"Pergi kau dari sini! Dasar manusia rendahan, kau bahkan tidak pantas memakai gelar kehormatan sebagai Tuan Muda!" maki seorang pria Belanda begitu kasar kepada Luccane yang masih begitu belia dan tidak tahu apa-apa.
Luccane kecil yang saat itu bingung mengapa ia diperlakukan dengan begitu berbeda dari anak-anak Belanda seusianya hanya bisa diam dan patuh, pergi dari restoran tempat berkumpulnya para Tuan serta Nyonya Belanda hari itu.
Kasihan, saat itu Luccane masih seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang polos mana ia tahu apa itu Tuan Muda. Luccane masih belum mengerti apa itu uang dan bagaimana caranya mengelola keuangan seperti yang selalu dilakukan oleh sang Papa hingga dapat menghasilkan begitu banyak kekayaan.
"Kenapa kau memperlakukan dia dengan begitu kasar, Meneer? Dia hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa," salah seorang Nyonya Belanda menyahuti perkataan lelaki itu dengan sedikit keras, membuat Luccane yang sudah mengambil langkah keluar dari restoran itu menghentikan langkahnya.
"Dia adalah anak dari pernikahan Tuan Willem dengan seorang Inlander yang bodoh lagi menjijikan!" bantah Nyonya satunya lagi.
"Apa kalian tidak tahu kalau Papa dari anak itu adalah tambang emas untuk kita? Perlakukan dia dengan sedikit lebih baik, lupakanlah sejenak kalau ia adalah seorang Sinyo."
Luka yang tak kalah dalam kini menyayat hati Luccane kecil, hingga anak malang itu menangis seraya melangkah menjauh dari restoran itu.
Setelah beberapa meter berjalan, ada sekelompok anak pribumi yang tiba-tiba melempari Luccane dengan kerikil dan telur busuk secara membabi-buta membuat Luccane kaget sekaligus takut.
"Anak penjajah memang pantas mati!"
"Kau lebih baik mati saja atau pulanglah ke negerimu sendiri!"
"Dasar bangsa tidak tahu diri, seharusnya kau pergi ke neraka saja!"
"Berhentilah menjajah negeri kami orang Eropa busuk!"
"Kau tidak pantas untuk hidup di negeri kami!"
Umpatan dan hinaan yang dialamatkan kepada Luccane yang masih polos dan tak mengerti apa yang mereka katakan lagi-lagi hanya bisa membuat anak itu menangis.
Ia sungguh tak mengerti apa yang sudah terjadi serta apa yang telah dilakukan olehnya sampai-sampai banyak sekali orang yang memperlakukan dirinya dengan begitu buruk seperti ini.
Dalam tangisnya, Luccane terus bertanya-tanya dalam benaknya kesalahan apa yang pernah ia lakukan tanpa memikirkan pelipis kirinya yang sudah mulai mengeluarkan darah segar karena terkena lemparan kerikil tajam dari anak-anak pribumi tadi.
Kehidupannya sebagai seorang Sinyo alias keturunan Indo-Belanda tak pernah ia sangka akan sangat menyakitkan seperti ini.
Jika bisa memilih, ia pun memilih untuk tidak usah lahir saja ke dunia ini.
"Luccane, ya ampun! Kamu tidak apa-apa, Nak?" Sulastri, wanita pribumi berwajah ayu yang merupakan sang Mama bertanya dengan begitu khawatir setelah melihat pelipis kiri putra semata wayangnya itu mengeluarkan banyak darah.
Luccane hanya menangis sesenggukan, terlalu sedih untuk menjelaskan apa yang terjadi kepada sang Mama. Ia tak mau mendengar sang Mama menjadi bahan olok-olokan lagi hanya karena beliau merupakan seorang pribumi.
Kepala Luccane kecil hanya menggeleng pelan, enggan menjawab pertanyaan sang Mama.
Tanpa pikir panjang, Sulastri lantas membawa anaknya ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.
Dalam diam, aku melihat semua kejadian yang terjadi persis di depan mataku itu seperti sedang menonton adegan runtut dalam sebuah film.
Aku melihat dengan jelas bagaimana wajah seorang perawat wanita yang seperti enggan melakukan penanganan untuk Luccane hanya karena ibu dari anak itu merupakan seorang pribumi.
Sungguh kejam, hanya karena setitik perbedaan mereka enggan memandang orang lain sebagai mana mestinya.
Dengan masuknya aku ke dalam dimensi waktu yang berbeda seperti ini, aku dapat melihat langsung bagaimana kehidupan Luccane kala itu berjalan dan dapat mempercayai betapa berat kehidupan yang harus ia jalani waktu itu.
Belum lagi bagaimana wajah para pribumi yang tetap berusaha ramah meski selalu diperlakukan tak lebih baik dari seekor binatang oleh para orang Belanda membuat perasaanku sungguh terasa pedih.
Belum lagi para orang tua pribumi yang sudah tak memiliki pilihan lain selain menjual anak mereka kepada Tuan Belanda untuk membayar hutang mereka yang menumpuk beserta bunganya.
Aku bersyukur terlahir dalam keadaan dimana negeri ini sudah merdeka. Kehidupan sudah lebih membaik, meski kesenjangan sosial juga masih tetap ada dan terasa.
"Luccane, aku mau kembali ini sudah cukup."
"Baiklah."