Luccane

Luccane
Bab 47 : Paris van Java



Setelah merasa hatiku sedikit lebih lega usai menangis, Andri berusaha menghiburku dengan candaan receh yang ia lontarkan. Diluar dugaan, anak pendiam seperti dia ternyata juga bisa membuat candaan receh yang cukup untuk membuatku terkekeh geli.


"Kamu tahu nggak, kenapa Bandung dijuluki sebagai Paris van Java?" tanya Andri yang masih fokus dengan setirnya.


"Memangnya apa sebabnya?" aku balas bertanya dengan rasa penasaran.


"Karena dulu Bandung menjadi prototipe dari Kolonialle Stad atau kota kolonial. Dulu, pada abad dua puluh di Bandung marak sekali aktivitas perkebunan membuat bangunan-bangunan penting seperti hotel, pertokoan, tempat hiburan sampai sekolah juga ikut berdiri. Di jalan Braga, orang-orang Belanda membangun bangunan yang secara fisik menyerupai tempat-tempat tersohor di Eropa. Seperti yang bisa kamu lihat, masih ada beberapa bangunan bergaya Eropa yang masih berdiri di sana," terang Andri.


Mobil yang membawaku dan Andri lantas berbelok menuju jalan Braga, jalan yang sudah penuh hiruk-pikuk sejak era kolonial Belanda.


Ruas jalan dua arah itu memang tidak begitu besar, namun nampak padat dengan kendaraan yang berlalu lalang.


Di sisi kiri dan kanan jalan, terdapat bangunan dengan gaya arsitektur khas Eropa yang masih berdiri kokoh lengkap dengan pohon tabebuya yang bunganya sedang bermekaran menambah keindahan jalan Braga. Hatiku kembali mengenang jalan ini, yang pernah aku lalui bersama Luccane saat sedang melakukan perjalan waktu.


Malam itu, Luccane menggenggam tanganku dengan begitu erat dengan dandanan rapi selayaknya seorang Sinyo. Rindu kembali menyelinap masuk ke dalam relung hatiku membuat seulas senyum tipis terpatri di wajahku.


"Andri, apakah akan ada yang berubah jika aku dilahirkan pada masa itu juga?" aku bertanya tanpa sadar dengan pandangan kosong.


Andri mengusap puncak kepalaku, tersenyum lembut di balik kemudinya.


"Luccane lahir di masa akhir era kolonial Belanda, itu bukanlah saat yang menyenangkan dan tentram untuk hidup. Para perempuan muda dipaksa untuk menjadi Jugun Ianfu dan kamu bisa saja termasuk ke dalamnya jika berusia sama dengan Luccane. Kamu bahkan tahu bukan kenapa Luccane tewas?"


Aku memejamkan mataku, teringat kembali di masa saat Luccane dan aku pertama kali bertemu pandangan. Sorot matanya begitu sendu, penuh kesedihan dan keputusasaan yang awalnya membuatku iba.


"Iya, dia hanya pemuda malang yang tidak tahu apa-apa tapi malah dibunuh dengan cara keji seperti itu. Bagaimana para tentara Jepang itu bisa begitu kejam, menenggelamkan orang lain dengan alat pemberat di kakinya?"


"Aku dengar, para tentara Jepang itu selalu ditemani oleh iblis jahat yang dibawa langsung dari Jepang atas perintah kaisar mereka. Makanya mereka sangat kejam dan bengis," balas Andri.


"Ya, aku juga pernah dengar soal itu. Mereka tak pernah segan-segan untuk menghilangkan nyawa orang lain saat masih menjajah negeri ini," kataku, bergidik ngeri membayangkan bagaimana pada masa itu para tentara Jepang dengan ringannya menghunuskan pedang mereka.


"Sudahlah, setelah jalan-jalan ini kamu harus istirahat yang banyak. Ibu pasti akan tanya kenapa mata kamu sembab begitu," ucap Andri mewanti-wanti.


Aku akan menginap satu malam lagi di rumah Mang Ujang untuk menuruti keinginan Bibi yang terus membujuk aku untuk menginap satu malam lagi. Setidaknya, Bibi bisa merasakan keberadaan seorang anak perempuan meski sementara dengan adanya aku di rumah mereka.


"Sudah hampir malam, Andri. kita tidak usah mengambil rute yang lebih jauh nanti Bibi khawatir kalau kita pulang terlambat."


"Iya, sebaiknya kita langsung pulang setelah ini."


Lembayung senja berwarna jingga keemasan sudah menghiasi langit kota Bandung hari ini, nampak begitu indah membuat aku tak ingin waktu terus bergulir. Hangatnya rindu yang menyelimuti hatiku semakin besar enggan pergi, aku memejamkan mata untuk kembali merasakan sentuhan lembut dari Luccane.


Luccane, aku harap kita bisa bertemu sekali lagi sebelum aku memutuskan untuk melanjutkan pilihan yang sudah aku pikirkan matang-matang itu.


Usai makan malam bersama keluarga Mang Ujang, aku langsung disuruh Bibi untuk beristirahat di kamar. Meski wajahku cemberut karena Bibi selalu melarang aku untuk membantunya namun aku tidak memiliki pilihan lain selain menurut.


Aku masuk ke dalam kamar lantas duduk di atas ranjang, mengamati bulan purnama yang bersinar dengan begitu terangnya. Setelah berbicara denganku semalam, Meneer Willem tak nampak batang hidungnya entah pergi kemana hantu lelaki Belanda itu.


"Visha..." panggil sebuah suara berat nan lembut, membuatku menoleh ke arah sumber suara.


Lelaki itu, lelaki yang selama ini aku rindukan tengah berdiri di sudut kamar dengan mengenakan setelan kemeja putih rapi, lengkap dengan dasi kupu-kupu.


"Kau mau kemana dengan setelan rapi itu, Luccane?" tanyaku dengan suara yang sudah bergetar menahan tangis.


"Malam ini mungkin akan menjadi waktu terakhirku untuk bisa datang ke dunia ini. Bukankah setidaknya kita harus berkencan untuk yang terakhir kalinya?" sahutnya lembut.


Tangisku pecah, aku lantas menghambur ke dalam pelukan Luccane. Dengan lembut dan sabar, Luccane berusaha untuk membuatku berhenti menangis meski dirinya sendiri pun menangis.


"Kamu harus hidup dengan baik dan bahagia setelah ini meski pun tanpa aku, Vishabea Lazuardi. Cintailah seseorang yang memang sepantasnya kamu cintai, jangan lagi mencintai sosok yang berbeda dimensi denganmu seperti aku. Buatlah Mama dan Papamu bangga, berjanjilah padaku," Luccane membisikkan semua kata-kata itu di telinga kananku.


Aku tak mampu menjawab ucapan Luccane, hanya mampu mengangguk pelan berusaha menyanggupi permintaannya. Pertemuan ini harus bisa menjadi kencan kami yang paling berkesan baik bagiku mau pun untuk Luccane.


"Apa pun yang terjadi aku akan selalu mencintaimu, Vishabea Lazuardi," tambah Luccane masih sama lembutnya.


Aku melonggarkan pelukan kami, mendongak untuk menatap wajah tampan milik Luccane yang selalu menjadi candu bagiku selama ini.


Tatapan kami bertemu, berusaha saling melepaskan rindu yang selama ini hanya bisa dipendam dalam diam.


"Aku tak akan mampu melupakanmu, Luccane."


Luccane tersenyum, memangkas jarak di antara kami kemudian memberikan kecupan manis yang sarat akan cinta serta kerinduan kepadaku.


Aku akan mengingatkan baik-baik perasaan ini, rasa berdebar luar biasa pada dadaku, rasa hangat yang menjalari sekujur wajahku sampai darahku juga yang terasa berdesir hebat menghantarkan gelora cinta yang bergejolak ini.


"Selamanya aku akan selalu mencintai kamu, Vishabea. Ingatlah semua kenangan yang terjadi malam ini, simpan baik-baik semuanya dalam memori dan hatimu," kata Luccane dengan suara yang rendah, kembali menggiringku untuk memeluk tubuhnya erat-erat.


Ini ajaib, meski kami berbeda dimensi entah bagaimana bisa aku dapat menyentuh Luccane selayaknya sedang menyentuh seorang pemuda biasa sejak kami pertama kali bertemu.


"Terima kasih sudah mencintai aku dengan sehebat ini, Luccane."


"Itu bukan masalah besar. Kalau begitu ayo kita pergi berkencan dengan romantis, Vishabea kekasihku."