
"Yakinkan hatimu terlebih dahulu, Neng. Nanti kalau sudah yakin kamu dengan sendirinya akan datang lagi ke sini untuk menemui bapak."
Ucapan Pak Sajad aku balas dengan anggukan.
Tubuh ini rasanya letih sekali, belum lagi kepalaku yang rasanya sangat sakit dan berat seperti mau pecah namun tangisku tak juga bisa berhenti.
Meski begitu, aku tetap berpamitan kepada Pak Sajad dan berterima kasih. Aku memang harus meyakinkan diriku lebih dulu sebelum memutuskan untuk menutup mata batinku atau tidak.
Diantar oleh Carly, aku bertolak kembali pulang.
Meski rencana berbelanja kami batal hari ini, Carly mengerti dengan baik dan mengatakan bahwa keselamatan diriku jauh lebih penting.
Carly dengan sabar mendampingi aku menjalani prosesi ruqyah tanpa menuntut penjelasan, pun ia menawarkan diri untuk menginap malam ini di rumahku untuk memastikan bahwa aku benar-benar akan meminum air ruqyah yang telah di doakan oleh Pak Sajad tadi.
Setelah beberapa menit berselang, aku dan Carly berhasil tiba di rumahku.
Dapat aku lihat dengan jelas beberapa entitas seperti pocong dan kuntilanak yang masih ada di sekitar rumahku menatapku dengan sangat berbeda dari pada biasanya, terasa begitu janggal.
Namun aku tidak mau ambil pusing. Tubuhku rasanya sudah tidak kuat, aku harus segera beristirahat di dalam rumah untuk memulihkan diri.
Perlahan Carly memapah tubuhku, berjalan pelan-pelan masuk ke dalam rumah.
"Kenapa lo nggak pernah bilang sih kalau memang lo punya kepekaan lebih?" tanya Carly sambil menyodorkan segelas air untukku setibanya kami di ruang tamu rumahku.
Aku tersenyum tipis berterima kasih, menerima uluran tangan Carly. "gue nggak mau bikin lo sama teman-teman yang lain memperlakukan gue dengan cara yang berbeda, Car. Karena ya seperti yang lo tahu, orang dengan kelebihan seperti gue sering di-bully."
Aku menenggak air minum pemberian Carly hingga tandas, lalu kembali memusatkan atensi sepenuhnya kepada gadis itu.
"Tapi gue rasa ini udah saatnya buat lo tahu rahasia yang selama ini gue pendam, Car."
Carly tetap mendengarkan aku dengan sabar. Ia diam, menunggu rentetan kalimat yang sudah ada di ujung lidahku.
"Pacar gue... yang selama ini gue bilang sama lo sebenarnya bukan manusia, Car. Dia Luccane, cowok blasteran Belanda yang hidup di zaman penjajahan Belanda dulu. Gue cinta sama dia, gue sayang sama dia. Berat banget buat gue kalau harus lupain dia..." aku merintih dengan berlinang air mata kepada Carly, membuat sahabatku satu itu dengan sigap merengkuh tubuhku dengan erat.
Hatiku yang hancur berkeping-keping rasanya sakit sekali, tersiksa akan dilema ini.
Di sisi lain aku tak mampu melupakan Luccane tetapi di satu sisi aku harus melupakan Luccane demi kebaikan hidupku sendiri.
Entah ada di mana Luccane sekarang.
Sampai detik ini aku tidak mengerti mengapa dia tak juga muncul menampakkan diri untuk membantu aku menyelesaikan tumpukan masalah yang kini datang menghadang hidupku.
"Jadi, Luccane itu nggak pernah lo kenalin ke gue karena dia hantu bukannya lagi tinggal di Belanda?"
Pertanyaan Carly aku jawab dengan anggukan lesu. Air mataku juga terus bercucuran dengan deras, membuat kedua mataku membengkak dan memerah bak terbakar.
"Gue nggak bisa bilang kalau mencintai Luccane itu salah, tapi lo harus pikir baik-baik tentang keselamatan hidup lo sendiri, Sha. Lo harus ambil keputusan yang terbaik," bisik Carly memberikan masukan.
Di dalam pelukan Carly, ekor mataku mendapati sekelebat bayangan Luccane yang berlalu dengan begitu cepat bagaikan hembusan angin.
Bunyi alarm yang nyaring dari ponselku memecah keheningan malam, membuat mataku seketika langsung terjaga.
Cepat-cepat aku mematikan alarm dari ponselku, membaca doa dalam hati dan mulai meminum air ruqyah yang diberikan oleh Pak Sajad tadi.
Di sisi kiri ranjangku, sudah ada Carly yang sedang tertidur pulas. Dia benar-benar menepati janjinya untuk menemani aku tidur malam ini, tapi gadis itu tidur dengan terlalu nyenyak membuat aku tak tega untuk membangunkannya.
Suara deru angin berhembus kencang terdengar jelas dari luar, menarik perhatianku untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar.
Meski tubuhku masih terasa sakit dan lelah, aku tetap beringsut menghampiri sumber suara.
Kedua kakiku melangkah perlahan menuju jendela di dorong oleh rasa penasaranku yang membuncah.
Jemariku dengan ragu-ragu bergerak meraih tirai hitam yang menutupi jendela besar yang ada di kamarku. Besarnya rasa penasaran akhirnya berhasil membuat aku yakin untuk menyingkap tirai hitam lebar itu.
Betapa terkejutnya aku ketika mataku mendapati sosok yang selama ini aku cari-cari tengah memandangku dengan sorot begitu sedih dari luar rumah.
Sepasang netra biru miliknya kini menyiratkan kesedihan yang begitu mendalam, turut membuat aku merasakan kesedihan yang sangat menyiksa.
Luccane kembali datang dengan penampilan yang sama persis seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya. Pakaiannya serba hitam, sorot sedih yang menggambarkan begitu banyak luka itu lagi-lagi membuatku terbawa perasaan.
Air mataku tanpa aba-aba mengalir dengan begitu hebatnya, jatuh karena harus merasakan patah hati yang sangat menyakitkan seperti ini.
Mau sekeras apa pun aku dan Luccane berusaha serta berjuang untuk mempertahankan cinta kami, Tuhan dan semesta tak akan pernah memberikan kami berdua kesempatan untuk dapat bersatu, meski sekecil apa pun celah itu.
Dari kedua pelupuk mata Luccane juga mengalir air mata, semakin menambah rasa perih di hatiku.
Bagai luka menganga yang diberikan perasaan air lemon, perih yang mendera hatiku terasa sangat menyakitkan hingga aku tak mampu berkata-kata.
"Maafkan aku karena hanya bisa hadir lalu memberikan luka seperti ini untuk kamu, Vishabea. Lakukan saja apa yang menjadi keputusan terbaik untukmu nanti."
Suara itu terdengar sangat pelan, namun begitu nyata dan jelas hingga tersampaikan dengan baik ke dalam memoriku.
Dibalik wajahnya yang menggambarkan begitu dalam kesedihan, lelaki astral yang begitu aku dambakan itu mengulas senyum penuh akan makna.
Tangisku semakin menjadi tatkala Luccane berbalik arah menuju pohon besar di belakang rumahku kemudian tubuhnya lantas memudar, hilang seolah menyatu dengan udara.
Kakiku yang sudah terasa lemas kini jatuh meluruh di atas dinginnya ubin lantai rumah. Aku menyandarkan punggungku pada tembok, menutup bibirku rapat-rapat dan menangis sejadi-jadinya di dalam sunyi.
Kenapa aku harus jatuh cinta sedalam ini kepadanya, Tuhan?
Mengapa harus aku dan Luccane terluka sampai rasanya sangat sakit seperti ini?
Apa salah kami sehingga Engkau melibatkan kami berdua ke dalam kisah asmara yang bahkan tak memiliki satu titik pun kesempatan untuk bersatu?
Aku memang tak sepantasnya menyalahkan Tuhan atas luka yang kini aku rasakan karena mencintai makhluk-Nya dari dimensi seberang itu, tetapi kepada siapa lagi aku harus mengadu ditengah sakitnya luka ini?