Luccane

Luccane
Bab 58 : Keputusan Yang Berat



Pagi-pagi sekali, belum genap pukul tujuh pagi aku sudah merapikan penampilanku bersiap untuk menemui seseorang membuat Andri memandangku penuh tanya.


"Kamu mau kemana dengan penampilan rapi begitu?" tanya Andri kepo sesaat setelah aku keluar dari kamar.


Aku tersenyum tipis seraya membetulkan ikatan rambutku. "mau pergi menyelesaikan hal yang seharusnya sudah lama aku lakukan, Andri."


Kedua alis Andri menukik curiga, memandangku tak percaya setelah mendengar jawabanku.


"Hal yang seharusnya sudah lama kamu lakukan? Memangnya apa?" Andri kembali bertanya dengan tak sabaran, membuat derai tawa lolos dari bibirku begitu saja.


"Aku mau pergi menemui Pak Sajad, aku pikir sudah saatnya aku menutup mata batinku agar aku bisa benar-benar terlepas dari semua luka ini. Hubunganku dan Luccane memang tak sepantasnya aku lanjutkan sejak awal jadi kurasa ini adalah keputusan yang terbaik," jawabku dengan seulas senyum, berusaha meyakinkan sepupu kesayanganku itu agar percaya padaku kali ini.


Andri tersenyum lega, merentangkan kedua tangannya memberikan aku ruang untuk menguatkan diri sedikit lagi melalui pelukannya.


Kedua tungkaiku otomatis berlari, masuk ke dalam dekapan hangat Andri yang selama ini selalu bisa sedikit memberikan aku rasa lega dan tenang.


Walau berat, mau tak mau aku harus mengambil keputusan ini demi kebaikan diriku sendiri.


Meski aku memang sangat mencintai Luccane tapi aku juga harus memberikan kebahagiaan untuk diriku sendiri. Pilihan yang begitu sulit, namun tak ada pilihan lain yang bisa aku pilih.


"Aku tahu kamu kuat, Visha. Ambillah keputusan ini untuk kebahagiaanmu sendiri dan aku akan selalu ada di sisimu sampai kapan pun," bisik Andri penuh peneguhan berusaha menenangkan hatiku.


Meski air mata terus meleleh dari kedua pelupuk mataku, namun aku tak akan mundur.


Keputusan yang akan aku ambil ini memang sudah aku pikirkan selama semalaman suntuk sampai tidak tidur demi dapat mempertimbangkan semuanya dengan baik.


Dan ya, akhirnya keputusan final ini aku ambil demi kebaikan aku dan juga Luccane yang aku harap kini sudah tenang di alamnya, tempat yang seharusnya sudah lama menjadi tempat baginya untuk kembali.


...****************...


"Jadi, Neng Visha sudah yakin dengan keputusan ini?" tanya Pak Sajad setelah aku menyampaikan maksud dan tujuanku yang datang menemuinya.


Aku mengangguk kukuh. "saya rasa ini sudah saatnya, Pak. saya tidak mau terus terbebani karena perasaan cinta saya yang terlarang itu."


"Baiklah kalau begitu, kita bisa mulai prosesi ruqyah selepas sholat zhuhur kalau Neng sudah merasa benar-benar yakin mau melakukannya," final Pak Sajad.


Mengingat waktu sholat akan tiba tak lama lagi, aku langsung bertolak ke bilik wudhu untuk mensucikan diri dari hadas kecil. Dalam hati, perasaanku benar-benar terasa tidak nyaman terselimuti oleh perasaan gelisah.


"Luccane, aku melakukan semua ini demi kebaikan kita berdua. Sayang sekali Vin tak dapat menerima ganjaran dari semua perbuatan jahatnya," gumamku setelah selesai membasuh diri dengan air wudhu.


Meski pembunuhan atas banyak korban itu sudah terbukti dilakukan oleh Vin, namun pihak kepolisian tak dapat menjerat pria itu dengan hukuman dengan alasan tenggat waktu yang sudah terlalu lama dan berbagai alasan hukum lainnya yang tak dapat aku mengerti.


Sayang sekali, dia tak mendapatkan hukuman yang sepantasnya atas apa yang sudah ia lakukan di masa lalu membuatku sangat geram.


Aku melangkah masuk ke dalam masjid berbarengan dengan lantunan suara azan zhuhur yang telah berkumandang.


Tanganku memasang mukenah dengan terburu, seraya mengisi shaft yang ada untuk mengikuti ibadah sholat berjamaah.


Sejuknya aura di dalam rumah ibadah ini membuat kerisauan dalam hatiku sedikit mereda.


Aku mengikuti ibadah dengan khusyuk, memperbanyak rasa syukur dari dalam hati.


Usai dengan semua rangakaian ibadahku, Pak Sajad mendatangiku bersama dua orang gadis yang seperti berusia sebaya dengan aku.


Salah seorang dari gadis itu membawa sebotol besar air mineral, sementara yang satunya membawa kitab suci Al-Qur'an.


"Mari kita mulai prosesi ruqyah, Kak Visha. Kami akan membantu, namaku Rini dan ini adikku namanya Rika," ucap Rini santun, mendudukkan dirinya bersebelahan denganku.


Aku mengangguk paham, mengikuti arahan dari Rini dan Rika. Sementara Pak Sajad mulai membaca kitab suci Al-Qur'an dengan begitu merdu yang semakin membuat hatiku kian lega.


"Nah, sekarang Neng Visha pejamkan mata. Bapak akan langsung memulai proses ruqyah penutupan mata batinmu," ucap Pak Sajad lembut memberikan arahan padaku.


Tanpa menjawab aku lantas memejamkan mata, dengan harapan bahwa semuanya akan segera baik-baik saja.


...****************...


Langit malam yang kelam menyambut kepulanganku ke rumah keluarga Mang Ujang kali ini.


Mang Ujang, Bibi dan Andri sudah menanti kedatanganku di serambi rumah dengan senyuman menghiasi wajah mereka.


"Apa ruqyah tadi berjalan dengan lancar?" tanya Andri sesaat setelah aku memasuki serambi rumah.


Aku mengangguk dengan perasaan dilema, kini aku sudah resmi tak bisa melihat para makhluk astral sebab mata batinku telah sepenuhnya ditutup.


"Alhamdulillah kalau begitu. Sekarang kita masuk lalu makan malam ya, Neng," ucap Bibi lembut seraya menggiring diriku masuk ke dalam rumah.


Aku benar-benar tak menyangka kini sudah tidak dapat lagi merasakan apalagi melihat mereka yang berasal dari dimensi seberang.


Rumah Mang Ujang yang biasanya nampak ramai oleh entitas tak kasat mata kini hanya terlihat seperti rumah tua biasa di mataku.


"Jadi, Neng Visha menutup mata batin sepenuhnya?" tanya Mang Ujang sambil membantu Bibi menyusun piring di atas meja makan.


"Iya, Mang. Visha rasa itu adalah keputusan yang paling tepat agar bisa sepenuhnya bebas dari gangguan mereka yang tak kasat mata," tuturku seraya menuang air putih ke dalam gelasku.


"Ya sudah kalau begitu. Mamang harap kehidupan Neng Visha selanjutnya bisa berjalan dengan lebih baik," sahut Mang Ujang.


Aku juga berharap demikian, meski perasaanku kepada Luccane tak kunjung berubah.


Aku tetap saja mencintai pemuda hantu tampan itu meski kini mata batinku sudah tertutup dengan sempurna berkat bantuan dari Pak Sajad.


Dengan perasaan yang campur aduk itu, aku tetap memaksakan diri untuk makan malam.


Tubuhku rasanya letih sekali mengingat begitu banyak energi dari tubuhku yang terkuras karena prosesi ruqyah yang aku jalani tadi.


"Makanlah yang banyak, Visha. Sekarang tenaga kamu pasti terkuras hampir sepenuhnya," ucap Andri bijak, mendekatkan piring besar berisi ayam goreng hangat kepadaku.


Aku tersenyum penuh syukur, berusaha menikmati makanan nikmat yang sudah dibuat dengan sepenuh hati oleh Bibi.


Entah apa jadinya aku kalau tidak ada keluarga Mang Ujang yang selalu memberikan aku dukungan yang begitu tulus ini.


Walau dengan berat hati, aku harus menutup kisah cintaku bersama Luccane sepenuhnya sambil selalu mendoakan semua yang terbaik untuknya.