Luccane

Luccane
Bab 24 : Kekhawatiran Luccane



Author POV


Bau anyir menyelimuti rumah Vishabea setelah gadis malang itu berhasil dilukai secara fatal oleh hantu Jolanda yang begitu membenci dirinya.


"Apa kau sudah gila, hah?!" teriak Luccane murka tatkala melihat Vishabea yang sudah terkapar tak sadarkan diri dengan tubuh bersimbah darah tepat di depan matanya.


Jolanda tersenyum sinis. "itu adalah ganjaran bagi wanita penggoda kekasih orang, dia pantas mendapatkannya."


Setelah berusaha keras mengumpulkan semua tenaga yang ia miliki, Luccane akhirnya berhasil melepaskan diri dari kuatnya cekraman magis yang diciptakan oleh Jolanda.


Pemuda hantu tampan itu menatap Jolanda nyalang penuh emosi yang berkecamuk dalam benaknya, namun dia segera berbalik untuk menyelamatkan nyawa Vishabea yang sudah sekarat.


Air mata membanjiri kedua belah pipi Luccane, ia merasa luar biasa terluka melihat pujaan hatinya menderita seperti itu. Luccane yang kalut mencoba mencari cara untuk menyelamatkan Vishabea dibalut dengan perasaan khawatir serta takut dalam benaknya.


"Apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan kamu, sayang?" lirih Luccane sambil terus berpikir.


Air mata pemuda itu tak kunjung berhenti mengalir, membuat Jolanda yang semakin sakit hati memilih untuk pergi dari sana setelah puas menyakiti Vishabea.


Hantu perempuan Belanda itu yakin dengan luka telak yang berhasil ia berikan, Vishabea pasti akan segera mati dan berpisah dengan Luccane.


Meski secara logika Vishabea tidak memiliki setitik pun kesalahan padanya, Jolanda tetap membenci gadis itu hanya karena Luccane mencintai gadis cantik berwajah oriental itu.


Luccane sadar, menangis saja tidak akan menyelesaikan masalah yang ada Vishabea bisa segera mati kehabisan darah jika darahnya terus mengalir seperti itu.


Terpikirkan akan sebuah ide, Luccane langsung berlari cepat menuju kamar Vishabea membuat para hantu lain kebingungan sebenarnya apa yang baru saja terjadi di rumah ini.


"Jolanda berusaha menghabisi nyawa gadis penghuni rumah ini," tutur Kuntilanak memberikan keterangan kepada rekan sesama hantunya yang penasaran.


Para hantu yang tidak tahu apa-apa itu tengah menyaksikan kejadian yang menguras air mata itu di ambang pintu, tak berani masuk karena takut dimarahi oleh Luccane sang Tuan.


"Dia pasti sudah benar-benar tidak waras," timpal Pocong geram.


"Sejak masih hidup juga Jolanda itu sudah gila, dia bahkan mati bunuh diri karena keluarga Tuan Luccane menolak perjodohan yang diajukan oleh ayahnya," imbuh hantu Jansen, seorang anak Belanda yang mati akibat lehernya ditebas oleh serdadu Jepang.


Anak bertubuh gembul itu sebenarnya tinggal di rumah yang tak jauh dari rumah tempat tinggal Vishabea, yang menjadi rumahnya semasa hidup dulu, dan di sana juga masih ada beberapa hantu Belanda lainnya.


Jansen tahu banyak mengenai kehidupan hantu-hantu Belanda yang menetap di kawasan ini hanya saja dia memang tak pernah menampakkan diri di depan Vishabea.


Jika kalian bisa melihatnya, Jansen pasti nampak sangat menggemaskan dengan sifatnya yang ramah serta pipi gembul miliknya jika saja luka bekas sabetan senjata tajam di lehernya itu tak nampak.


"Halo? Bisakah kamu menolong Visha? Cepatlah datang kemari dengan ambulance!" Luccane berusaha mengeluarkan semua tenaganya sambil berbicara menggunakan ponsel Vishabea.


Berinteraksi dengan manusia yang tidak memiliki kemampuan untuk melihat makhluk astral bukanlah hal mudah, diperlakukan energi besar hanya untuk mengeluarkan suara untuk dapat mereka dengar.


"Apa? Bawa ambulance? Tapi kamu siapa?!" tanya seseorang di seberang telepon dengan panik.


"Tunggulah sebentar, sayang. Aku sedang berusaha memanggil seseorang untuk datang kemari semoga saja dia bisa mendengar dengan jelas apa yang aku katakan," lirih Luccane sambil menangis sesenggukan, memangku kepala Vishabea dengan pahanya.


...****************...


"Lo nggak bercanda 'kan, Dimas?!" Carly tak dapat menahan tangisnya sesaat setelah Dimas menjelaskan situasi apa yang terjadi pada Vishabea kepada Mang Ujang dan keluarga serta Carly di depan ruang ICU rumah sakit.


Dimas menggeleng lesu. "gue cuma dengar suara cowok yang pelan banget dari telepon tadi. dia nggak jelasin apa-apa karena khawatir gue langsung aja ke rumah Visha."


Carly menggeleng tak percaya, terduduk di atas ubin keramik rumah sakit yang dingin sambil terus menangis. Gadis itu tak habis pikir mengapa ada seseorang yang tega melukai gadis sebaik Vishabea.


Andri, putra dari Mang Ujang yang merupakan sepupu Vishabea tentu saja mengerti situasi apa yang dijelaskan oleh Dimas barusan.


Meski tidak memiliki kepekaan setajam milik Vishabea, tetapi Andri juga dapat mengetahui keberadaan mereka yang tak kasat mata di sekitarnya.


Baru-baru ini Andri memang sudah membuka mata batinnya secara menyeluruh dibantu oleh salah seorang temannya yang memiliki kemampuan khusus, jadi ia dapat melihat sosok pemuda astral berwajah Eropa tengah menangis tak jauh dari posisinya berdiri.


"Pasti kau yang menghubungi Dimas," bisik Andri seraya berjalan mendekati pemuda astral itu.


Pemuda itu tidak nampak seperti hantu, membuat Andri akhirnya mengerti mengapa Vishabea sangat menyayangi sosok itu meski mereka berada dalam dimensi yang berbeda.


Dengan gerakan lesu, hantu tampan itu mengangguk. "maafkan aku karena tidak bisa menyelamatkan Vishabea lebih cepat."


"Aku mengerti karena kau adalah hantu yang tak bisa berbuat banyak. Orang tua Vishabea sedang dalam perjalanan kemari, doakan saja operasinya nanti berhasil dan dokter dapat menyelamatkan nyawa Vishabea," balas Andri.


"Apa yang bisa aku lakukan sekarang?" tanya Luccane tak berdaya.


Hati Luccane rasanya hancur berkeping-keping melihat Vishabea terluka separah itu sampai harus mendapatkan tindakan operasi.


"Jika kau percaya pada Tuhan maka pergilah berdoa. Vishabea sekarang hanya dapat diselamatkan oleh kemurahan hati sang Pencipta," jawab Andri berusaha memberikan solusi terbaik.


"Baiklah, aku titip Vishabea. Jika ada apa-apa kepadanya kamu bisa memanggil namaku tiga kali, namaku Luccane."


Belum ada satu menit berlalu, sosok Luccane langsung menghilang berganti dengan udara kosong yang membingungkan Andri.


Namun dari percakapan singkatnya dengan Luccane, dia jadi mengetahui bahwasanya Luccane memang sangat mencintai Vishabea seperti kata temannya beberapa hari yang lalu.


Dicintai oleh makhluk astral tentu saja bukanlah pertanda yang baik, meski pun makhluk itu tidak ada maksud melukai sedikit pun membuat Andri gelisah akan keselamatan Vishabea.


"Jika ada sosok hantu yang berhasil melukai Visha karena hantu tampan yang tadi, berarti hubungan Visha dan Luccane memang harus segera disudahi agar tidak terjadi lagi hal berbahaya seperti ini," ucap Andri dalam hati.


Andri menyandarkan punggungnya di dinding rumah sakit, menatap nanar ke arah dalam ruang rawat Vishabea sambil terus memikirkan keselamatan sang sepupu.


Dalam diamnya, Andri hanya bisa berharap semoga ada keajaiban dari Tuhan agar Vishabea bisa selamat.