Luccane

Luccane
Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa



Sinar mentari yang sudah perlahan masuk dari jendela kamarku perlahan namun pasti membuat retina mataku terasa silau.


Dengan kesabaran yang masih belum sepenuhnya kembali, aku menyerjapkan mata berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam mataku.


"Ah, aku ketiduran rupanya," aku bergumam sambil melakukan peregangan ringan pada tubuhku yang terasa sangat pegal sebab kecapaian kemarin.


Kamar tamu di rumah keluarga Mang Ujang resmi aku tempati sejak kemarin, terlebih itu juga sudah menjadi perintah tegas dari Mang Ujang dan Bibi.


Sementara rumahku kini sedang disterilkan oleh pihak yang berwajib sebagai lokasi Tempat Kejadian Perkara, aku sendiri pun tak diperbolehkan pulang ke sana hingga batas waktu yang telah ditentukan.


Aku memandang sekeliling ruangan kamar bernuansa putih itu, memperhatikan setiap detail ornamen yang menghiasinya. Kamar ini tak jauh berbeda dengan kamarku di rumah kontrakan itu, nampaknya kedua rumah itu memang digarap oleh satu arsitek yang sama.


Di atas nakas aku mendapati figura kecil berisi foto hitam putih milik Luccane dengan kemeja putih serta dasi kupu-kupu yang kian membuatnya menjadi makin tampan. Senyuman tipis terpatri di wajah Luccane dalam foto itu, lagi-lagi membuatku jatuh dalam pesona miliknya.


"Luccane, aku harap kau sudah pergi ke tempat yang jauh lebih baik di sisi Tuhan. Biar bagaimana pun kau memang sudah seharusnya beristirahat dengan tenang," aku berujar lembut seraya mengusap figura kecil itu, menyingkirkan debu yang melekat.


Perasaanku kepada Luccane sama sekali tak berubah meski kini kami telah terpisah dan aku tidak tahu ada di mana lelaki itu kini.


Aku hanya bisa berharap bahwa kini Luccane sudah pergi ke tempat terbaik di sisi Tuhan dan tidak perlu lagi mengalami penderitaan karena kematiannya yang tragis itu.


Buru-buru aku menghapus jejak air mataku yang tiba-tiba sudah turun membasahi kedua pipiku, aku harus kuat agar Luccane bisa tenang di tempatnya kini.


Tak boleh lagi aku menangisi kisah cinta kami yang sudah sepantasnya berakhir seperti ini, meski berat aku harus menerima semuanya dengan lapang dada.


"Visha, ayo sarapan!" teriak Andri sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarku, membuat aku buru-buru merapikan penampilanku.


"Iya, aku mau mandi dulu!" aku balas berteriak kepada Andri.


Suara kekehan renyah khas Andri kemudian terdengar dari seberang pintu kamarku.


"Ya sudah. mandinya jangan lama-lama kita 'kan harus berangkat ke kantor polisi lagi hari ini."


"Iya iya. kamu sarapan duluan saja," balasku sambil beringsut menuju kamar mandi usai mengambil sepasang pakaian dari lemari.


Semoga saja aku dan Andri dapat menemukan sesuatu lagi setelah ini seperti kata-kata suara laki-laki misterius semalam itu.


...****************...


Pukul sepuluh pagi tatkala sang mentari bersembunyi dibalik gelapnya awan mendung, aku dan Andri tiba di kantor polisi.


Beruntung hujan belum turun, mengingat lapangan parkir dan lobby utama kantor polisi terletak cukup jauh.


Sesuai jadwal pemanggilan yang sudah dilayangkan oleh pihak kepolisian, Pak Ricky selaku pemilik rumah saat ini benar-benar datang ke kantor polisi seorang diri menggunakan mobilnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Nona Vishabea?" tanya Pak Ricky dingin, menundukkan pandangannya langsung mengarah kepadaku.


Seketika sel kelabu otakku langsung teringat pada ucapan dari suara misterius semalam hingga aku lantas mendongak agar dapat bersitatap dengan pria itu, ya, dia memiliki tubuh yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan pria lokal di sini.


"Seharusnya saya yang bertanya begitu, bagaimana bisa selama setahun lebih saya tinggal di rumah sewaan yang bahkan lebih mirip dengan pemakaman itu?" tanyaku sengit.


Laki-laki itu belum terlalu tua untuk dipanggil dengan sebutan Bapak, hanya saja aku bingung harus memanggilnya bagaimana.


Alis kiri Pak Ricky naik, memandangku dengan pandangan mengejek.


"Anda pikir di mana Anda bisa mendapatkan sebuah rumah sewaan besar dengan harga miring?"


"Oh, hanya karena Anda menawarkan harga sewa yang murah lalu Anda merasa tidak bersalah setelah saya beberapa kali mendapatkan teror yang membahayakan nyawa saya? Saya pikir Anda adalah seorang yang berpendidikan ternyata saya sudah salah menilai," jawabku ketus.


Laki-laki itu menyebalkan sekali! Bisa-bisanya dia menganggap nyawaku tak lebih penting dari tumpukan kerta bernominal yang disebut sebagai uang itu? Bagus, jika memiliki cukup bukti aku bisa menjeratnya ke dalam proses hukum juga!


"Kenapa Anda marah begitu? Padahal sejak awal saya sudah memperingati untuk berpikir ulang sebelum menyewa rumah saya," pria itu menyahut sambil berjalan masuk ke dalam kantor polisi.


Setelah Pak Ricky masuk ke dalam ruang pemeriksaan, aku lantas memandang Andri lurus.


"Apa kamu merasakan ada sesuatu yang aneh dari orang itu?" tanyaku pada Andri.


Pemuda itu mengangguk mantap.


"Mata Pak Ricky berwarna biru, mana mungkin aku tidak merasa ada keanehan?"


Andri lalu mengajakku duduk di ruang tunggu untuk dapat berpikir lebih jernih. Kantor polisi pagi itu belum terlalu ramai, jadi kami masih dapat memiliki ruang yang leluasa untuk berdiskusi dengan Andri.


Beruntung sebelum menyerahkan buku-buku tua milik Vin kepada pihak yang berwajib kami sempat memfotokopi buku-buku itu.


"Jelas itu sangat aneh kalau Pak Ricky memang merupakan keturunan dari seorang mantan Babu," jawabku sambil melihat-lihat catatan yang sudah aku rangkum.


"Dengan begitu aku jadi terpikirkan satu teori lain yang mungkin saja benar meski presentasinya kecil," ucap Andri sambil memainkan pulpen di tangannya.


Cuaca yang semakin dingin membuat aku mengeratkan jalinan pakaianku, namun fokus Andri nampaknya sama sekali tak terganggu meski cuaca semakin terasa dingin.


"Teori seperti apa yang kamu maksud?" aku bertanya setelah memakai tudung hoodie, melindungi telingaku dari dinginnya tekanan udara.


"Bagaimana kalau aku bilang kalau Vin sebenarnya belum mati, tetapi semua anggota keluarganya itulah yang sudah mati lebih dulu?" kata Andri dengan pandangan serius, mencatat kemungkinan itu dalam buku catatan kecil miliknya.


Sungguh, sekarang Andri nampak keren sekali seperti seperti seorang detektif sungguhan. Dengan begini aku yakin bahwa Andri akan benar-benar menjadi detektif yang sukses di masa depan nanti.


Aku mengernyitkan dahi, bingung dengan perkataan Andri barusan.


Kemungkinan bahwa Vin masih hidup?


Bukankah itu sangat mustahil? Bangsa ini bahkan sudah merdeka selama lebih dari tujuh puluh tahun, apa bisa Vin hidup selama lebih dari tujuh puluh tahun? Itu terdengar tidak masuk akal.


Ibu jari dan telunjukku lantas bergerak memijat pelipis, berusaha mengurangi rasa pening yang mulai datang mengganggu konsentrasiku.


"Jadi, menurutmu Pak Ricky adalah keturunan langsung dari Vin?"