Luccane

Luccane
Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga



"Pembunuh berantai yang tak terduga? Siapa?" tanya Andri dengan alis tebal miliknya yang menukik.


"Apakah Meneer Willem pernah bilang kalau Luccane punya saudara?" aku balik bertanya, siapa tahu Andri sudah tahu lebih dulu kalau Luccane mempunyai saudara kembar.


Pemuda itu menggelengkan kepalanya.


"Nggak, dia cuma pernah bilang ke gue kalau anaknya Luccane itu anak semata wayang."


Ternyata sampai mati pun, Meneer Willem tak pernah mau menceritakan kebenaran mengenai keberadaan Vin anak kandungnya sendiri.


Apa benar semua yang dilakukan oleh Vin tanpa sepengetahuan Papa dan Mamanya? Aku jadi semakin penasaran dan ingin mengorek informasi mengenai sosok Vin lebih jauh lagi.


"Memangnya siapa yang buat buku ini? Apa sangkut pautnya sama keluarga Luccane? Terus, kenapa kamu mukanya serius banget gitu?" kini Andri yang membombardir aku dengan pertanyaan.


Aku meringis, tidak biasanya Andri jadi cerewet seperti ini. "orang yang menulis buku ini adalah Vin, saudara kembar Luccane yang tentu saja memiliki kaitan erat dengan Meneer Willem dan istrinya."


"Hah?! Saudara kembar? Bagaimana bisa mereka menyembunyikan keberadaan anak kandung mereka sendiri bahkan setelah mereka mati dan menjadi hantu?!" Andri berseru kaget, namun ia menurunkan tinggi suaranya.


Suasana mencekam kontan membuat air muka Andri berubah. Isi buku yang ditulis oleh Vin itu memang sangat mengerikan, memuat nama-nama korban beserta metode apa yang dilakukan oleh Vin untuk menghilangkan nyawa korbannya.


Keringat dingin bahkan nampak membasahi kening Andri, menyiratkan bahwa isi buku itu memang bukanlah hal yang bisa disebut sebagai hal menyenangkan.


"Iya. Aku pun baru tahu dari Luccane kemarin dan itu membuatku sangat penasaran. Lalu, aku berhasil menemukan kamar Vin berikut buku ini," tuturku sambil menunjuk buku usang milik Vin itu.


"Ternyata Keluarga Meneer Willem bukanlah keluarga kaya biasa," ucap Andri menarik kesimpulan.


"Aku juga berpikir begitu, makanya aku meminta bantuan dari kamu untuk membuka tabir misteri yang menutupi keluarga Luccane. Aku tidak bisa melakukannya sendiri, Andri. Para hantu yang tinggal di rumahku pun enggan membantuku," kataku sambil meraih tangan Andri.


Andri mengangguk. "Baiklah, Visha. Kita memang harus segera melakukan sesuatu."


Aku tersenyum lega mendengarnya.


Andri memang sepupuku yang paling bisa diandalkan sejak dulu.


"Tapi, kita juga tidak boleh mengambil langkah secara terburu-buru. Luccane bahkan tak bisa datang kepadamu setiap hari, bukan?"


"Kamu benar, Andri. Informasi yang diberikan oleh Luccane juga sangat terbatas jadi kita harus melangkah perlahan dan hati-hati," timpalku merasa sependapat dengan Andri.


Andri terkekeh kecil. "seharusnya kamu mengambil jurusan kriminologi, bukannya sejarah. kamu cocok banget jadi detektif dengan insting tajam seperti itu, tahu!"


"Baiklah, kalau begitu ayo bekerja sama mulai sekarang detektif Andri!"


Tangan Andri meraih tanganku lantas menjabatnya. "suatu kehormatan bagi saya, detektif Vishabea."


...****************...


Malam ini bulan purnama, membuat sinarnya bersinar lebih terang menemani aku yang tengah memandang ke luar jendela tak peduli meski kini sudah tengah malam.


"Meneer Willem, datanglah kemari ada banyak hal yang harus kita bicarakan malam ini juga," gumamku sambil menatap kosong kepada sang rembulan.


Dari balik kaca, aku dapat melihat samar-samar bayangan putih tengah berdiri di ambang pintu kamar sembari mengamati diriku.


"Cepat kemari, jangan mencoba untuk menghindar," ucapku tegas setelah hidungku menangkap aroma wangi cengkeh serta kayu manis yang menjadi ciri keberadaan Meneer Willem.


Bayangan putih yang tengah berdiri di ambang pintu kamar itu perlahan-lahan mulai memadat, membentuk sosok Meneer Willem dengan pakaian djas toetoep serba putih khas orang Belanda di era kolonial.


"Apa yang mau kamu tanyakan? Sepertinya wajah kamu serius sekali," Meneer Willem berucap sambil menatapku lurus namun dengan tatapan dingin khas miliknya.


"Siapa itu Vin? Bisakah Meneer jelaskan secara rinci kepadaku?" aku berbalik, langsung menatap tajam kepada Meneer Willem menuntut kejujuran darinya.


"Sudah aku duga, kamu memang sangat peka tapi tak aku sangka kamu akan tahu secepat ini. Baiklah, aku tahu yang kamu inginkan hanyalah kejujuran dariku, bukan begitu?"


"Katakan saja semuanya, jangan bertele-tele!"


Keheningan lantas menyelimuti aku dan Meneer Willem, yang jika saja Luccane anaknya belum mati ingin aku jadikan sebagai ayah mertuaku.


"Pantas saja Luccane sangat tergila-gila padamu. Tak hanya cantik, kamu juga memiliki semua standar istri idaman seperti tegas dan cerdas," ucap Meneer Willem dengan seulas senyum tipis.


"Baiklah, karena kamu yang meminta aku akan langsung mengatakan kejujuran yang ingin kamu ketahui sekarang juga. Kamu bisa tanyakan apa saja, aku akan menjawabnya dengan jujur."


"Kenapa kalian menutupi keberadaan Vin, anak kalian yang lain?" tanyaku tegas langsung pada intinya.


Air muka tenang bagai air danau milik Meneer Willem lantas mengalami perubahan, agaknya dia tidak menyangka aku akan langsung menanyakan hal ini.


"Vin pernah secara tak sengaja membunuh seorang Jongos di taman bunga saat malam hari. Maka dari itu, aku dan istriku sepakat menutupi kasus tersebut dan mengatakan kalau Jongos itu mati karena sakit. Tak berselang lama, Vin yang kala itu masih berusia tujuh tahun malah berulah lagi dengan membunuh seorang kolega bisnisku setelah perjamuan makan malam," jelas Meneer Willem dengan wajah sedih sekaligus menyesal.


"Dengan apa anak sekecil itu menghabisi nyawa dua orang pria dewasa?" tanyaku merasa janggal.


"Aku pun tidak tahu, aku baru tahu kalau mereka tewas setelah Vin selesai mengeksekusi mereka. Sungguh, aku tidak pernah menduga bahwa aku akan memiliki anak dengan kelainan mental ekstrim seperti Vin. Dia sangat berbanding terbalik dengan Luccane yang selalu bersikap lurus dan tak pernah menentang orang tuanya," jawab Meneer Willem.


Aku tahu, apa yang dikatakan oleh Meneer Willem memang bukanlah sebuah kebohongan.


Dia menceritakan dengan jujur dari apa yang ia ketahui, aku mengerti, pria itu sama sekali tak menduga akan memiliki seorang anak berdarah dingin seperti itu.


"Karena dua tindakannya yang mengerikan itu, kami semua sepakat untuk mengatakan kepada semua orang bahwa Vin, saudara kembar Luccane sudah mati karena terkena penyakit saat sedang pulang ke Netherland. Tak ada yang tahu kebenaran yang sebenarnya selain aku, istriku dan Luccane serta beberapa Babu dan Jongos yang bekerja di rumah kami. Waktu itu, aku pikir ini adalah langkah yang terbaik untuk menyelamatkan citra keluarga kami namun ternyata itu tidak benar."


"Memangnya apa yang terjadi setelahnya?"


Tatapan Meneer Willem yang semakin sendu itu kini beradu pandang denganku, membuat napasku tercekat di dalam tenggorokan.