
Author POV
Suasana rumah sakit yang tadinya sunyi seketika berubah menjadi penuh isak tangis setibanya orang tua Vishabea di rumah sakit tempat anak mereka di rawat.
Mang Ujang dan istrinya mencoba menjelaskan dengan perlahan mengenai apa yang terjadi kepada Vishabea sementara Andri memilih untuk bungkam sambil terus mengawasi keberadaan Luccane yang tengah berdiri di depan ruang ICU tempat Vishabea berada.
Sama dengan saat pertama kali bertemu dengannya, Luccane tetap nampak dengan wajah yang sangat sedih serta rasa bersalah yang amat dalam. Andri dapat merasakan perasaan Luccane dengan sangat jelas, membuat pemuda itu bingung harus bersikap seperti apa.
"Bagaimana bisa anakku terluka seperti itu, Ya Tuhan..." ratap Mama Vishabea dengan wajah bercucuran air mata.
"Tuan dan Nyonya Lazuardi, anak Anda perlu mendapatkan penanganan yang lebih intensif. Apakah Anda berdua setuju untuk melakukan operasi lanjutan?" ucap seorang Dokter yang menangani Vishabea.
"Lakukan apa saja yang menurutmu terbaik untuk menyelamatkan nyawa anak kami, Dokter. Saya mohon, tolong selamatkan nyawa anak saya," balas Tuan Lazuardi lesu, suaranya nyaris hilang karena berusaha menahan tangisnya melihat kondisi sang putri yang amat mengkhawatirkan itu.
"Kalau aku mati bagaimana, Andri?"
Andri terlonjak kaget mendengar suara itu mengalun dengan penuh keputusasaan, membuat pemuda itu cepat-cepat mengalihkan atensinya.
Andri makin dibuat kaget dengan keberadaan sosok roh Vishabea yang tengah berdiri menatapnya dengan pakaian rumah sakit yang melekat di tubuh mungil gadis itu. Bingung, Andri menatap sosok sepupunya itu penuh tanya.
"Kamu belum boleh mati, terlalu banyak hal yang belum kamu selesaikan," jawab Andri tentu saja dengan suara berbisik.
"Aku akan benar-benar akan mati kehabisan darah kalau saja Dimas tidak segera datang. Sekarang pun dalam kondisi koma, aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh para hantu yang melalang buana tak tentu."
Tak berbeda jauh dengan sosok manusia Vishabea yang biasanya, penampakan roh Vishabea tetap saja cantik dengan pembawaan sejuk seperti angin yang berhembus dikala fajar.
Andri mendecak. "tidak ada yang ingin aku sampaikan padamu kecuali kembalilah ke tubuhmu segera!"
Vishabea tersenyum geli. "ya, ya, baiklah doakan saja operasinya nanti berjalan dengan lancar sehingga aku bisa kembali ke tubuhku."
Sesaat kemudian, sosok Vishabea menghilang begitu saja. Biar bagaimana pun, Vishabea belum boleh pergi sekarang masih banyak urusan yang harus dia selesaikan sebagai seorang manusia.
Andri menatap khawatir tubuh Vishabea yang tengah terbaring tak sadarkan diri dengan banyak kabel yang menyokong hidupnya.
"Visha, aku mohon bangunlah karena ada sesuatu yang harus aku lakukan demi keselamatanmu nanti," gumam Andri dengan mata yang terfokus pada Vishabea ditengah tangis kedua orang tua sang gadis malang.
...****************...
"Apa kau senang melihatku seperti ini, Jolanda?!" tanya Luccane murka, setibanya dia di salah satu pemakaman Belanda tua di sudut kota Bandung.
Pemakaman itu adalah tempat di mana Jolanda dulu dimakamkan, jadi tak heran di sini terdapat banyak sekali sosok hantu Belanda berkeliaran dengan berbagai macam bentuk mulai dari yang menyeramkan hingga yang cantik atau tampan.
Jolanda tersenyum penuh kemenangan di atas penderitaan yang diterima oleh Luccane, dia senang kini Vishabea terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit sementara Luccane terus berkeliaran dengan wajah sedih penuh dengan keputusasaan.
"Aku senang melihat kamu datang kembali kepadaku seperti ini walau dengan wajah yang sangat mengerikan seperti itu, Luccane. Apa kamu datang kemari untuk menjadi kekasihku?"
"Kalau pun Vishabea benar-benar akan mati aku sama sekali tidak akan sudi menjadi kekasihmu!" sahut Luccane berang.
Pemuda tampan itu tersenyum sinis, mengejek kepercayaan diri Jolanda yang sudah melampaui batas. Sesulit apa pun hubungannya dengan Vishabea, dia lebih memilih untuk tidak lagi berhubungan dengan Jolanda.
"Kamu ternyata lebih keras kepala dari pada dugaanku ya, Luccane. Harusnya kamu langsung meninggalkan manusia rendahan itu sebelum aku benar-benar melenyapkan dirinya," Jolanda berujar sombong, tersenyum meremehkan kepada Luccane.
Disaksikan oleh beberapa hantu Belanda yang menetap di sana, Luccane dan Jolanda berdebat sengit dengan menyebut-nyebut nama Vishabea.
"Kau bukan Tuhan yang berhak melenyapkan seseorang hanya karena perasaan pribadi yang tak dapat kau kendalikan," Luccane menyahut tak kalah sinis, menyindir sikap Jolanda yang ia anggap sangat egois itu.
"Walau aku harus menangis dengan darah demi memohon kepada Tuhan untuk keselamatan Vishabea yang aku cintai, aku tidak akan sungkan. Bila perlu aku juga harus meminta Tuhan untuk melenyapkan makhluk egois sepertimu," tegas Luccane dengan pandangan setajam sebilah pedang, menantang Jolanda.
"Apa aku juga harus melenyapkan dirimu, Luccane?" Jolanda sepertinya menerima tantangan dari Luccane.
"Kau tak lebih rendahan dari aku, Jolanda. Berhentilah bersikap arogan melebihi Tuhan seperti itu," peringat Luccane tegas.
Luccane yang biasanya selalu berusaha untuk selalu menjaga sikapnya kini tak lagi melakukannya.
Dia sungguh benar-benar geram dengan kelakuan sombong Jolanda yang sudah mencelakai Vishabea dengan sangat fatal.
Mau tidak mau, Luccane harus melakukan sesuatu untuk membuat Jolanda jera atau bahkan kemungkinan terburuknya, Luccane bisa saja melenyapkan Jolanda jika hantu gadis Belanda itu terus saja memancing amarahnya.
"Aku mohon hentikan, Luccane. Jangan lakukan apa yang ada di dalam pikiranmu itu," ucap Jansen, si kecil menggemaskan yang berusaha melerai pertikaian antara Jolanda dan Luccane.
Luccane menggeleng. "tidak bisa, Jansen. Jolanda sudah kelewatan tidak sepatutnya dia memberikan hukuman kepada kekasihku yang tidak memiliki salah apa pun."
Jansen yang mengerti sifat kedua hantu itu hanya bisa tersenyum miris. Apa yang dikatakan oleh Luccane mengenai sikap Jolanda memang benar, Jolanda yang terlalu terobsesi kepada Luccane memang sangat berbahaya.
Namun di sisi lain, sikap Luccane yang terlalu melindungi Vishabea cepat atau lambat akan membawa pengaruh buruk untuk Vishabea sendiri.
Hubungan mereka tidak dibenarkan, itu yang membuat Jansen menjadi jauh lebih khawatir.
Langit mendung yang menaungi mereka kini telah menjatuhkan air hujan, seolah menjadi pengingat bagi Luccane untuk meredam sedikit emosinya.
"Jansen, sepertinya kau benar. Menghadapi hantu licik dan kejam mana bisa hanya dengan mengandalkan emosi. Jolanda, kau hanya perlu menunggu giliranmu," Luccane berujar tajam kemudian menghilang begitu saja.
"Bukankah sudah aku bilang untuk tidak menyentuh gadis itu, Jolanda?" Meneer Kerkoof berkata sambil menyandarkan punggungnya di sebuah batu monumen makam besar. Seulas senyum tenang juga terpatri di wajah rupawan sang Tuan muda, membuat Jolanda semakin kesal.
"Apa kau yakin masih bisa berkeliaran dengan tenang dan bebas seperti ini beberapa hari ke depan, Jolanda? Kalau aku sesungguhnya tidak yakin karena Jonge Meester Luccane tidak mungkin hanya diam berpangku tangan," imbuh Meneer Kerkoof dengan penuh keyakinan bahwa akan terjadi sesuatu dalam waktu dekat.