Luccane

Luccane
Bab 46 : Mengenang Kembali



"Memangnya apa yang terjadi setelahnya?"


Tatapan Meneer Willem yang semakin sendu itu kini beradu pandang denganku, membuat napasku tercekat di dalam tenggorokan.


"Apa yang kami pikir akan menjadi jalan yang terbaik, justru menjadi malapetaka besar. Tanpa sepengetahuan kami, dia semakin menggila, membunuh orang lain hanya demi memuaskan keinginan batinnya," tutur Meneer Willem dengan air matanya yang sudah bercucuran membasahi wajahnya.


"Jika Anda tahu anak itu memiliki gangguan mental kenapa tidak segera mengobatinya? Menyembunyikan Vin sama sekali bukan solusi, Meneer!"


"Itulah penyesalan terbesarku sebagai seorang ayah, Mevrouw. Aku gagal mendidik anakku sampai dia menjadi monster seperti itu," jawab Meneer Willem masih dengan air matanya yang mengalir deras, menggambarkan betapa dalam penyesalan lelaki itu.


Aku terhenyak, kesedihan dan penyesalan terasa begitu kuat mengikat Meneer Willem malam ini membuat perasaanku pun ikut terasa perih.


Perasaan pria Belanda itu terasa sangat kuat, membawaku turut merasakannya.


"Saat Luccane dibawa oleh tentara Jepang dan aku bersama istri juga mati, Vin tidak berhasil kami temukan bahkan sampai saat ini."


"Memangnya Vin ada di mana saat kalian sekeluarga dibantai oleh tentara Jepang?" tanyaku tak habis pikir, mengingat kondisi Vin yang sangat penuh dengan misteri berbeda dengan kedua orang tuanya dan saudaranya.


"Kala itu, seperti biasanya Vin selalu berdiam diri di rumah karena mematuhi perintahku sebagai orang tuanya. Dia sering menghabiskan waktunya di dalam kamar sambil membaca buku. Setelah aku dan istriku mati, aku tidak tahu lagi anak itu ada di mana karena kami tersegel di dalam rumah ini."


"Baiklah, Meneer. terima kasih sudah memberikan aku sedikit informasi."


Penjelasan Meneer Willem membuatku menarik satu kesimpulan yang harus segera aku buktikan kebenarannya dalam waktu dekat bagaimana pun caranya. Aku yakin, pasti ada lagi sesuatu yang berkaitan erat dengan Vin dan aku harus memastikannya sendiri tanpa bantuan Andri.


Ngomong-ngomong sudah lama aku tidak bertemu dengan Vin semenjak ia datang terakhir kali untuk menggodaku hari itu.


Tapi, kapan ya anak itu akan datang lagi kepadaku?


...****************...


"Lo mau kemana hari ini?" sapa Carly heboh seperti biasanya via telepon, membuatku tersentak kecil karena suaranya yang nyaring.


Andri yang duduk di sebelahku lantas memasang wajah kepo, membuat aku cepat-cepat menjaga jarak darinya.


"Nggak kemana-mana gue, ini lagi nginep di rumah Andri," jawabku ala kadarnya, membuat Carly berseru semakin heboh.


"Emangnya ngapain? Si Andri nggak ngajakin lo jalan-jalan keliling Bandung gitu?"


"Andri baru selesai ujian, dia baru mulai libur hari ini," balasku.


Carly memang tipikal sahabat yang heboh, suka menanggapi berbagai macam hal sepele dengan berlebihan membuat persahabatan kami terasa lebih seru. Aku tidak menyangka, sampai detik ini masih bisa berteman baik dengan gadis itu.


Setelah beberapa saat berlalu, pembicaraanku bersama Carly sepakat kami sudahi. Tidak ada pembicaraan penting, dia hanya bercerita kalau ia pulang ke rumah keluarganya di Bali untuk berlibur.


"Ngomongin apa? Kayaknya heboh sekali," cibir Andri dengan mulutnya yang penuh dengan kukis almond.


"Carly 'kan memang selalu heboh. Dia cuma cerita kalau lagi pulang ke Bali, rumah orang tuanya," jawabku sekenanya.


Andri manggut-manggut, kembali memakan kukis almond buatan ibunya dengan penuh semangat. Sama seperti Mama, Bibi memang sangat piawai membuat kue kering khas Eropa dengan cita rasa yang sangat nikmat. Tak heran, saat mendekati hari raya, Bibi akan sangat sibuk membuat pesanan kue kering dari berbagai macam kalangan masyarakat.


"Oh, kirain dia mau ajak kamu pergi liburan ke luar," Andri menyahut, membuat aku memandangnya dengan kode.


Semenjak tinggal di Bandung, aku memang belum pernah pergi jalan-jalan berkeliling kota. Siapa tahu, pergi dengan Andri akan menjadi lebih menyenangkan.


"Ya sudah, ayo bilang dulu sama Ibu," ucap Andri yang langsung bisa memahami kode yang aku berikan.


Aku tersenyum penuh kemenangan, beringsut dengan penuh semangat mendatangi Bibi yang sedang duduk di teras, menyirami beberapa tanaman hias miliknya.


Bibi tersenyum lembut, mengangguk kemudian.


"Boleh kok. Tapi naik mobil aja ya, takutnya kalian kehujanan sekarang lagi musim hujan."


"Andri, sana ganti baju! Kita mau berangkat sekarang!" aku berseru penuh antusias kepada Andri yang sedang duduk di ruang tamu.


Pemuda itu hanya tersenyum masam, kemudian melenggang menuju kamarnya.


"Terima kasih, Bibi. Mau titip apa, Bi? Biar sekalian Visha sama Andri belikan," tawarku.


Bibi menggeleng. "nggak. kalian jalan-jalan aja sampai puas tapi pulangnya jangan kemalaman."


Aku mengangguk patuh, kemudian beringsut menuju kamar untuk mengganti bajuku.


Hari ini merupakan hari kerja, jalanan pasti tidak begitu macet jika dibandingkan dengan saat akhir pekan.


Setelah selesai bersiap, aku dan Andri lantas pamit pergi kepada Bibi.


Menggunakan mobil sedan milik Mang Ujang, kami mulai beranjak untuk menjelajah kota Bandung.


Langit sudah nampak mendung, sama kelabunya dengan hatiku yang kian terasa hampa.


Luccane yang aku cintai semakin jarang datang menemui aku, semakin membuat perasaanku tak nyaman. Entah apa yang terjadi, tapi aku selalu berharap segala hal baik yang akan terjadi kepadaku mau pun Luccane.


"Kamu masih mikirin Luccane?" tanya Andri langsung pada intinya, membuat aku menarik napas panjang.


"Bagaimana caranya supaya aku bisa lupa? Perasaanku kepada Luccane sudah terlanjur dalam," jawabku lesu.


Andri mengangguk paham, nampaknya sikap pemuda itu sudah agak sedikit melunak kepada Luccane. Sepertinya ia tahu, apa yang Luccane lakukan semata karena dia mencintai aku.


"Kalau saja Luccane bukan hantu, aku nggak keberatan kamu nikah sama dia," ucap Andri setengah bercanda membuat aku terkekeh kecil.


Jalanan Bandung hari ini nampak ramai lancar, diiringi dengan gerimis yang menemani perjalanan aku dan Andri untuk menghabiskan hari libur.


"Aku tahu hubungan aku dan Luccane bukanlah sesuatu yang pantas. Aku juga sadar bahwa kami tidak bisa bersatu. Tapi, siapa yang bisa mengendalikan perasaannya?"


Suaraku mulai bergetar menahan tangis, tangan Andri terulur mengusap puncak kepalaku dengan lembut. Sungguh aku tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan perasaanku kini.


Satu-satunya orang yang tahu betapa menyedihkannya kisahku dan Luccane ini hanyalah Andri, satu-satunya orang yang kini bisa aku percaya.


"Kamu dan Luccane tidak bersalah, semuanya karena keadaannya yang salah," balas Andri sambil menyodorkan kotak tissue kepadaku.


"Apa aku mati saja ya supaya bisa bersama Luccane?" tanyaku putus asa membuat Andri menginjak rem mobilnya secara mendadak.


"Jangan sekali pun kamu berpikir untuk mengakhiri hidup. jika hidupmu juga berakhir, itu bukan jaminan kamu bisa bersatu dengan Luccane seperti apa yang kalian inginkan," ucap Andri tegas.


Aku menghambur ke dalam pelukan Andri, menumpahkan kesedihan yang tak lagi mampu aku bendung seorang diri.


"Menangislah kalau itu memang bisa membuat kamu lega. Tapi sebaiknya kita melanjutkan acara jalan-jalan kita, ingat? 'kan kamu yang ajak aku jalan-jalan keliling kota."


Aku mengangguk lesu kemudian melepaskan pelukanku dari Andri. Pemuda itu tersenyum lembut, kembali melajukan mobilnya melintasi jalan raya di sepanjang kota Bandung.


Bangunan-bangunan tua dengan gaya arsitektur khas Eropa mulai menyapa indera pengelihatanku, membuatku serasa sedang melakukan perjalanan waktu di kota yang menjadi saksi bisu kisah cintaku dengan Luccane, hantu tampan yang begitu aku cintai entah sampai kapan.