Luccane

Luccane
Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam



Senja baru saja berlalu, bertukar menjadi kelamnya langit malam penuh bintang.


Bulan bersinar terang seperti saat bulan purnama pada umumnya.


Usai menunaikan ibadah sholat maghrib, aku mendudukkan diri di atas kursi meja belajarku hendak mengerjakan tugas kuliah yang beberapa saat lalu dikirimkan oleh Carly via surat elektronik.


Seperti biasanya, Luccane selalu siap sedia membantuku untuk mengerjakan tugas. Ia sudah berdiri di belakangku, memperhatikan dengan teliti setiap huruf dan angka yang aku tulis di atas buku.


"Aduh, kok hasilnya malah minus gini ya? Di bagian mana lagi nih yang salah?" gumamku sambil menggaruk kulit kepala yang tidak terasa gatal, bingung akan pengoperasian hitunganku yang hasilnya tidak akurat.


Luccane hanya diam, mengamati pekerjaanku dengan mata fokusnya seperti seorang boss yang sedang mengawasi anak buahnya dengan ketat membuatku merasa semakin pusing.


"Coba kamu baca ulang soalnya," perintah Luccane dengan seulas senyum kalem khasnya.


Tanpa menyahut aku menuruti perintahnya, namun aku tak kunjung juga menemukan apa yang salah dari soal yang aku kerjakan.


Ini aku yang bodoh atau bagaimana sih?


"Masih belum ketemu apa yang salah?" tanya Luccane lagi yang aku balas dengan anggukan.


"Itu bagaimana soalnya mau selesai dengan akurat kalau variabelnya tidak sama? Lihat, kamu belum menyamakan variabelnya. Biar jawaban yang benar bisa ketemu kamu harus samakan dulu variabel ini," jelas Luccane santai sambil menunjuk kesalahan pada buku tulis milikku.


"Kelemahan kamu adalah kurang teliti dalam membaca soal, kamu harus lebih memperhatikan hal itu kalau mau terus mendapatkan nilai yang tinggi. Ingat, biaya kuliah dan biaya hidup kamu di sini tidak murah kasihan kalau orang tuamu menanggung semuanya sendiri tanpa beasiswa," ucap Luccane panjang kali lebar memberikan nasihat sambil tersenyum lembut.


Aku tak tahu bagaimana metode belajar anak ini pada masa itu sampai-sampai kecerdasannya bisa melebihi aku yang lahir nyaris satu abad setelah dirinya. Luccane terlampau luar biasa.


Meski banyak nasihat yang dia berikan, aku juga juga sama sekali tidak merasa tersinggung atau merasa terpojokkan oleh kata-kata Luccane.


Pemuda itu sangat santun dalam setiap kata-katanya, membuatku terus mendambakan keajaiban Tuhan untuk membuat Luccane hidup kembali sebagai seorang manusia seperti diriku.


Ternyata aku mencintai Luccane jauh lebih dal dari yang aku pikirkan, sebuah kenyataan yang bisa saja menjadi pisau bermata dua untukku.


"Aku juga sedang mengusahakan itu, Luccane. Tapi biar bagaimana pun juga kelemahanku adalah berhitung makanya aku kadang pusing sendiri," keluhku sambil meregangkan otot-otot tubuhku yang terasa tegang karena sudah duduk cukup lama.


"Tidak ada manusia yang sempurna, sayang," balas Luccane dengan tangannya yang mengusap lembut puncak kepalaku, berusaha menghantarkan energi positif untuk diriku.


"Siapa bilang? Buktinya ada kau yang terlalu sempurna untuk dilahirkan sebagai seorang manusia," aku menyanggah dengan tegas.


Dalam hati aku juga selalu berharap bisa terlahir di zaman yang sama dengan Luccane saat masih hidup agar dapat menikmati ketampanan miliknya dengan lebih nyata.


Sungguh, mencintai sesosok hantu seharusnya bukanlah jalan yang harus aku pilih dengan mantap tanpa keraguan seperti ini.


Senyum Luccane belum juga pudar, kini tangannya sudah turun ke pipiku mencubit kedua belah pipiku dengan gemas.


"Tapi sekarang aku sudah bukan manusia, sayang. Setiap orang punya kekurangan masing-masing dan yang bisa kamu lakukan hanyalah berusaha memperbaiki kekurangan-kekurangan itu sebaik mungkin."


Luccane yang bijak selalu saja berhasil membuat perasaanku membaik dengan cepat. Dia pandai memicu semangat belajarku hingga nilai-nilai yang aku peroleh di setiap mata kuliah semakin membaik.


Tak jarang teman-temanku di kampus bertanya tentang metode belajar yang aku pilih karena hal menakjubkan itu.


"Jika tidak ada kau mungkin aku akan malas belajar, Luccane. Terima kasih sudah memberikan banyak semangat untukku," cicitku sambil tersenyum malu-malu, memeluk tubuh tegap milik Luccane dengan erat.


Aku dan Luccane sama-sama dikagetkan oleh suara benturan keras dari balik pintu kamarku hingga kami terperanjat kecil.


"Siapa itu?" tanyaku.


"Apa mungkin ada orang yang masuk?" Luccane bertanya dengan bingung.


Aku menggeleng. "mana mungkin, aku mengunci semua pintu dan jendela dengan benar kok."


Dahi mulus milik Luccane mengernyit, membuat aku menjadi bertanya-tanya agaknya siapa yang barusan menggedor pintu kamarku dengan begitu keras. Oh, jangan-jangan ada maling yang mau merampok rumah ini!


Dengan sigap, aku meraih sebuah tongkat baseball yang aku letakkan di sudut kanan kamarku tak jauh dari meja belajar.


Aku melangkah perlahan, mengendap-endap lantas membuka pintu kamarku pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara.


Kedua tungkaiku seketika membeku tatkala melihat seorang gadis Belanda bergaun hitam dengan leher penuh luka memar menatapku sangat tajam penuh dengan dendam.


Tajamnya tatapan yang dilemparkan oleh hantu gadis berkulit putih pucat itu seolah bisa menguliti tubuhku hidup-hidup membuat aku tak mampu berkutik hanya bisa berdiam diri sambil balas menatapnya.


Tongkat baseball di tanganku seketika jatuh dan menggelinding menjauh karena sekujur tubuhku terasa lemas dan aku tak dapat bergerak!


"Siapa bilang kau boleh bahagia di atas penderitaanku?!" teriak Jolanda begitu kencang hingga menyakiti telingaku.


"Aku tidak akan membiarkan kau hidup lebih lama lagi, Vishabea!"


"Kau harus mati! Matilah sekarang juga!"


Saat aku sedang berusaha melindungi telingaku dari kencangnya teriakan Jolanda, tiba-tiba sebuah gelas kaca kosong yang entah berasal dari mana melayang ke arah wajahku lantas terlempar keras hingga pecah mengenai keningku.


Rasa ngilu serta perih kontan saja menjalari keningku berbarengan dengan darah segar yang mengalir deras dari luka terbuka akibat goresan serpihan gelas yang pecah itu.


Belum sempat aku menghentikan pendarahan pada keningku, Jolanda kembali melemparkan sebilah pisau besar ke arahku yang membuatku berteriak histeris namun tak mampu melakukan apa pun.


Sama seperti diriku yang dibuat membeku di tempat, Luccane pun bernasib sama. Dia tak dapat bergerak barang satu sentimeter dari tempatnya membuat suasana semakin tidak menguntungkan bagiku.


Sial bagiku karena sesuai dengan perhitungan dariku sendiri pisau daging itu terlempar dengan sangat akurat ke arah tengah perutku, menusuknya dengan cukup dalam.


Rasa hangat dari darah yang mengalir deras dari luka akibat pisau besar itu membuatku lantas berpikir bahwa ini adalah hari terakhir dalam hidupku.


Terbesit banyak sekali penyesalan serta rasa bersalah dalam benakku terlebih kepada Papa dan Mama yang kini berada jauh dari pulau seberang.


Papa... Mama... Maafkan aku yang belum bisa menjadi anak terbaik untuk kalian berdua.


Maafkan aku, Mama, Papa, jika aku harus pergi secepat ini.


"Luccane, maafkan aku karena tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Aku mencintaimu meski iblis itu terus saja berusaha memisahkan kita berdua..."


"Tidak, Visha! Tidak, jangan katakan itu! Aku tidak akan bisa membayangkan bagaimana diriku tanpa kamu setelah ini!"


Tepat setelah aku mengatakan semua isi hatiku pada Luccane yang sudah menangis sesenggukan tak jauh dariku, aku merasakan kegelapan sekonyong-konyong mengambil alih kesadaranku.