
Pukul delapan pagi, aku dan Andri bertolak menuju rumahku menggunakan mobil milik Mang Ujang dengan berbagai macam persiapan yang sudah kami siapkan dengan matang.
Mulai dari cangkul sampai berbagai alat untuk berkebun turut kami bawa dalam investigasi lapangan pertama yang akan kami lakukan mulai hari ini.
Sinar matahari yang belum begitu menyengat membuat aku dan Andri buru-buru memulai pekerjaan kami setibanya di halaman rumahku.
Bermodalkan buku-buku tua milik Vin yang sudah kami catat intinya, aku dan Andri mulai menyisir kawasan bekas kebun bunga milik keluarga Luccane mencoba mencari petunjuk.
Berkat bantuan dari Carly dan beberapa teman satu jurusanku, aku berhasil mendapatkan beberapa lembar koran tua yang memuat hilangnya orang-orang penting di era Hindia-Belanda.
Entah bagaimana bisa mereka menemukan koran itu, yang jelas ini akan sangat membantuku.
Meski Luccane sudah tak bisa muncul lagi untuk membantuku, tapi aku bersyukur masih memiliki Andri yang senantiasa mau berdiri di sisiku untuk membantu setiap langkah yang aku pilih meski aku yakin itu bukanlah hal yang mudah untuknya.
Tangan kokoh Andri sudah siap sedia memegang cangkul, bersiap menggali titik tanah yang kami anggap mencurigakan mengikuti arahan dari catatan yang aku pegang.
"Mari kita mulai. Aku akan coba memanggil Jansen sambil membantumu menggali," kataku sembari memasukkan buku catatan yang sebelumnya aku pegang ke dalam saku celana.
Andri mengangguk takzim, memberikan aku sepasang sarung tangan karet kemudian.
"Pakai ini, tangan kamu tidak boleh sampai terluka. Kalau sampai tanganmu luka bisa-bisanya aku dimarahi oleh Ibu dan Ayah," ucap Andri sambil mulai mengayunkan cangkulnya di tempat yang sudah kami tandai.
Aku mulai memejamkan mata, mencari gelombang keberadaan Jansen berusaha memanggilnya agar dapat segera membantu kami menemukan apa yang sedang aku dan Andri cari.
"Tepat sekali, Andri memang harus menggali di sana sampai kedalam dua meter," kata Jansen yang tiba-tiba muncul dari balik pohon besar dekat gerbang belakang, cukup membuatku kaget sampai tersentak kecil.
"Siapa yang dikubur di situ?" tanyaku seraya menunggu Jansen datang mendekat.
"Korban pertamanya, Mevrouw Adelia. Seorang putri dari saingan bisnis keluarga Luccane. Aku sempat bertemu gadis itu beberapa kali saat masih hidup, kudengar dari berbagai sumber katanya dia memang menaruh hati kepada Luccane," tutur Jansen menjelaskan.
Sambil mendengarkan penjelasan dari Jansen, aku juga sibuk membantu Andri menggali menggunakan cangkul kecil agar penggalian menjadi lebih cepat.
Napas Andri nampak tersengal, namun ia tetap semangat menggali membuat semangatku juga turut terbakar.
"Lihat! Ada tengkorak manusia!" seru Andri sambil menunjuk sebuah tengkorak di dalam lubang yang berhasil kami gali.
"Kita coba angkat saja dan hubungi polisi. Aku akan menghubungi pemilik rumah ini untuk mencoba mencari petunjuk lain," pungkasku kemudian mulai mengumpulkan tulang belulang yang kami temukan.
...****************...
"Bagaimana bisa kalian menemukan tulang belulang manusia yang bahkan sudah tewas dalam waktu yang sangat lama ini?" tanya seorang petugas kepolisian sesaat setelah aku memasuki ruang pemeriksaan di kantor polisi.
Aku dan Andri dibawa ke dalam ruangan yang berbeda tetapi aku yakin Andri dapat memberikan jawaban yang kira-kira serupa denganku.
Yang jelas, aku dan Andri berhasil maju satu langkah untuk membantu Luccane agar dapat kembali beristirahat dengan tenang di sisi-Nya.
Ruangan pemeriksaan itu sangat tenang, hanya ada aku dan seorang petugas kepolisian itu namun sukses membuat dadaku berdebar kencang karena gugup. Seumur hidup, baru kali ini aku berurusan dengan pihak berwajib secara langsung seperti ini.
"Lalu, kemana pemilik rumah yang asli?" petugas kepolisian itu lanjut bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari monitor di hadapannya.
"Pemilik rumah itu tinggal di Jakarta saat ini, Pak. Saya tidak tahu pasti apa alasan beliau memilih untuk menetap di Jakarta," aku menjawab dengan sejujurnya, mengingat kembali keterangan dari para tetangga sekitar yang lebih mengenal sosok Pak Ricky, sang pemilik rumah.
"Sudah berapa lama saudari tinggal di rumah itu?"
"Sekitar satu tahun lebih sebulan, Pak. Tapi belakangan karena merasa rumah itu sudah kurang nyaman untuk ditinggali membuat saya jadi lebih sering menginap di rumah keluarga Andri."
"Bisakah saudari bawakan buku-buku itu kemari nanti? Kami membutuhkan buku itu sebagai bahan penyelidikan."
"Tentu, Pak. Besok pagi saya akan membawakan buku-buku itu kemari."
"Terima kasih atas kerja sama saudari. Kami akan segera menghubungi kembali apa bila mendapatkan perkembangan terbaru mengenai kasus ini."
Setelah cukup lama diinterogasi, aku dan Andri akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Beriringan, aku dan Andri berjalan keluar dari kantor polisi bermaksud untuk langsung pulang ke rumah keluarga Mang Ujang.
"Apa kita sudah melakukan hal yang benar, Andri?" tanyaku sangsi kepada Andri.
Pemuda itu tersenyum, menyiratkan ketenangan di balik wajah rupawan miliknya berusaha mengusir rasa gelisah dalam benakku.
"Tenanglah, kita sudah melakukan hal yang terbaik yang bisa kita lakukan. Aku harap kita juga bisa menemukan petunjuk lain setelah ini," ucap Andri berusaha menghiburku.
Saat memasuki mobil, aku merasa kepala dan bahuku terasa sangat berat seperti ada 'sesuatu' yang hendak masuk ke dalam ragaku.
Aku cepat-cepat mengucapkan nama Tuhan dengan lantang, berusaha mengusir siapa pun yang berusaha masuk ke dalam diriku.
"Kamu kenapa?" tanya Andri khawatir.
"Kamu lihat nggak ada 'sesuatu' yang mencoba merasuki aku?" aku balas bertanya kepada Andri yang kini sedang duduk di balik kemudi mobilnya.
Dia menggeleng cepat. "nggak ada kok, mungkin itu karena kamu lagi kecapekan makanya sampai begitu."
Aku sebenarnya sangat ingin mempercayai ucapan Andri namun sayang perasaanku mengatakan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Andri terkait kejadian barusan. Lagi pula intuisi milikku sangat tajam, aku bahkan dapat tahu bahwa seseorang sedang berkata jujur atau berbohong padaku.
"Aku harap kamu nggak mencoba menutupi sesuatu dari aku ya. Aku cuma pingin semuanya selesai dan bisa menjalani hidupku dengan normal," cicitku sambil memasang sabuk pengaman usai Andri menyalakan mesin mobilnya.
"Aku juga berharap kamu bisa segera move on dari Luccane agar bisa hidup dengan lebih bahagia," Andri menyahut dengan suara pelan, nyaris tersamarkan oleh suara mesin mobilnya.
Aku memilih untuk diam, pikiranku rasanya sangat kacau karena teringat kembali akan sosok Luccane yang masih tetap aku cintai.
"Vishabea, kamu melewatkan sesuatu!"
Aku mencoba untuk mencari sumber suara bisikan barusan, namun nihil. Aku hanya mendapati Andri yang sedang menyetir mobilnya dengan tenang bertemankan suara musik mengalun pelan dari radio.
Lantas, siapa yang berbisik barusan? Aku yakin suara itu adalah milik seorang laki-laki!