
"Ada baiknya seperti itu. Kalau kamu sampai tahu siapa sebenarnya aku mau pun wanita itu, itu bisa saja dapat merubah sejarah."
Ucapan Luccane lagi-lagi membuat aku sebal, namun tidak bisa membantah.
Hujan semakin deras, seiring dengan suara guntur yang bersahut-sahutan di luar sana.
Kilat juga nampak menyambar ke beberapa penjuru langit menimbulkan kilatan cahaya yang cukup untuk membuatku tersentak.
"Semakin sering kau berkata seperti itu, maka aku juga semakin penasaran," balasku sebal seraya meliriknya tajam.
Meski aku memandangnya dengan tidak ramah, Luccane malah tersenyum lembut seraya mengusap puncak kepalaku penuh sayang.
"Maafkan aku karena harus menyimpan banyak rahasia darimu tetapi semua itu juga demi kebaikan dan keselarasan kamu," Luccane berujar dengan suara rendahnya, masih dengan senyuman yang belum memudar dari wajahnya.
"Aku mau tidur."
"Jangan bohong, Vishabea Lazuardi. Aku tahu kalau kamu sekarang sama sekali tidak mengantuk."
Bukan tanpa alasan aku mengatakannya. Di jendela, tepat di sebelah kiri tubuhku aku dapat melihat dengan jelas sosok suster yang tengah menatapku tajam.
Sosok itu bukan suster biasa, melainkan hantu dengan wajah meleleh hingga hanya menyisakan bola matanya yang berwarna merah menyala.
Seluruh wajahnya meleleh, menampilkan wajah tengkorak yang amat menyeramkan sukses membuat bulu kudukku berdiri.
Tubuhku bergetar samar, tanpa menanggapi Luccane aku langsung buru-buru membaringkan diri lalu menutupi seluruh tubuhku dengan selimut.
Luccane yang peka lantas menoleh ke arah kiri tubuhku, aku pun merasa sosok suster mengerikan itu masih ada di depan jendela menatap kami berdua dengan sangat tajam seolah menyimpan dendam kesumat selama ratusan tahun.
"Pergilah, jangan ganggu kekasihku," perintah Luccane mutlak dengan aura intimidasi yang begitu kentara.
Aku bahkan merasa tubuhku semakin kedinginan karena residual energi mereka berdua yang saling bertubrukan satu sama lain. Aroma anyir khas darah juga mengusik indera pembauanku, meningkatkan rasa ngeri yang menyelimuti diriku.
"Apa Anda tidak tahu sedang berada di mana, Meneer?" suster itu balik bertanya dengan suara lirih nan mengerikan.
"Kamu tahu kenapa aku sangat berani? Tanah tempat rumah sakit ini berdiri merupakan tanahku jadi aku pun bisa mengusir kalian jika aku mau."
Apa katanya? Tanah selebar ini merupakan milik Luccane, seorang pemuda yang bahkan belum berusia dua puluh tahun saat masih hidup?
Aku jadi semakin penasaran siapa pemuda itu sebenarnya.
Luccane terlampau penuh akan misteri namun hatiku tetap saja terus mendambakan dirinya, membuat perasaanku menjadi gamang tak menentu tak tahu bagaimana harus melangkah.
...****************...
"Kenapa kamu bersikap seperti itu kepada Luccane?" tanyaku langsung pada intinya kepada Andri selepas pemuda itu memotongkan buah apel untukku.
Aku baru saja selesai menghabiskan makan siangku.
Karena Andri tidak memiliki mata kuliah hari ini, dia berinsiatif untuk menemani aku di rumah sakit sedangkan Mama dan Papa beristirahat di rumah Mang Ujang.
"Seharusnya kamu lebih tahu dari pada aku, Visha. Bukankah aku sudah bilang untuk tidak lagi melanjutkan hubungan itu dengannya?"
Andri yang biasanya hangat dan ramah, mendadak menjadi dingin serta ketus saat aku mulai membahas tentang Luccane. Aku mengerutkan kening, bingung akan perbedaan sikap Andri yang begitu kentara tanpa aku sangka.
"Aku sungguh tidak tahu apa yang sedang kamu bicarakan, Andri," ucapku tak habis pikir dengan kelakuan pemuda satu ini.
Pertanyaan Andri semakin membuat keningku kusut. Apa lagi maksud dari pertanyaannya itu? Luccane tidak mengatakan apa-apa kepadaku selain mengenai Jolanda yang tak akan lagi bisa mengganggu diriku.
"Memangnya itu urusanku? Andri, aku hanya ingin hidup dengan tenang seperti sebelumnya," balasku resah.
"Apa kamu tahu kalau Luccane menggunakan-"
"Selamat siang!"
Ucapan Andri terputus karena kedatangan Carly, sahabatku yang sangat aku rindukan. Rasanya sudah lama sekali aku tidak menghabiskan waktu seru bersama Carly dan teman-temanku yang lain.
"Gimana kabar lo, Visha?" tanya Carly dengan seulas senyum cerah khasnya seraya menaruh keranjang buah yang ia bawa di atas nakas besi di sampingku.
"Udah banyak perkembangan baik. Gue cuma perlu nunggu luka bekas operasinya sembuh total kok," jawabku senang.
"Wah, ini cowok lo?" tanya Carly sekali lagi setelah menyadari kehadiran Andri yang berada tepat di sebelahnya.
Andri yang tampan dengan wajah yang mirip dengan orang Eropa memang cukup menarik perhatian. Tak jarang memang kami disangka sebagai sepasang kekasih seperti ini.
Aku menggeleng sambil tersenyum masam.
"dia Andri, sepupu gue dari sebelah Mama. Andri, ini Carly bestie aku di kampus."
Andri tersenyum simpul. "udah tahu, kok. kemarin waktu kamu belum sadar dia sering ke sini cuma belum pernah ngobrol."
Carly mengangguk, menelisik wajah Andri dengan amat teliti sepasang netra miliknya.
"Lah, gue pikir keluarga besar lo semuanya keturunan Tionghoa," gadis itu berujar heboh, mengambil sepiring apel yang sudah dipotong oleh Andri lantas memberinya kepadaku.
"Nggak. Keluarga besar dari Mama ada keturunan Belanda kok, makanya Andri mukanya agak mirip orang Eropa," paparku memberikan penjelasan singkat.
"Kalian ngobrolnya seru banget, kalau gitu gue tunggu diluar aja dulu ya," Andri pamit undur diri, kembali kepada sikap hangatnya. Ia bangkit dari duduknya, beringsut menuju pintu.
"Oke deh. Jangan lupa makan ya, Andri," balasku, kemudian ditanggapi dengan anggukan kecil dari Andri.
"Gue kira si Andri itu pacar lo, Sha. Abisnya dia cakep banget persis kayak bule," cerocos Carly sepeninggal Andri yang sudah menghilang ditelan pintu kamar rawatku.
Aku menghela pendek. "gue 'kan udah bilang pacar gue lagi di Belanda. dia belum bisa pulang karena di sana lagi musim ujian."
"Oh gitu ya? Sayang banget dia nggak bisa ada di samping lo disaat begini. Apa ini nggak saatnya buat lo buka hati ke cowok yang baru?"
Aku hanya bisa tersenyum tipis membalas ucapan Carly yang sebenarnya tidak sepenuhnya salah atau pun benar. Andai saja dia tahu kalau melupakan Luccane tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Dalam hati aku mengutuk diriku sendiri karena terus saja membuat kebohongan karena ketidakmampuan diri ini untuk menunjukkan sosok Luccane kepada teman-temanku.
Luccane berbeda alam dengan kami mana mungkin aku bisa memperkenalkan ia kepada teman-teman?
Hatiku tiba-tiba merasa sedih setelah melihat Luccane datang dengan air muka sedihnya yang sangat mendalam, seperti saat pertama kali kami berjumpa. Dia berdiri di pojok kanan ruangan, sepertinya dia mendengar semua pembicaraan aku dan Carly mengenai dirinya barusan.
Wajah rupawan miliknya nampak begitu sendu, sepasang obsidian birunya yang begitu memukau itu bahkan terlihat menyimpan bulir air mata menyiratkan luka yang amat mendalam.
Kekasihku yang malang, maafkan aku.