
"Tidak mau, Luccane. Aku tidak akan melupakanmu selamanya. Walau kita tidak bisa bersatu itu bukan berarti kita tidak berhak untuk saling mencintai, bukan?" Aku berucap tegas, membuat Luccane sedikit tersentak kaget.
"Sungguh? Apa kamu yakin?" tanya Luccane berusaha memastikan.
Aku tahu, aku bisa dengan mudah melupakan kenangan yang sudah aku lalui bersama Luccane sampai sejauh ini hanya dalam sekejap dengan bantuan sihir dari Luccane namun aku tetap tidak mau melakukannya. Bagiku, segala kenangan itu terlalu berharga untuk aku lupakan.
"Ya. Aku mohon jangan hapus ingatanku. Aku ingin menyimpan semua kenangan yang sudah kita torehkan bersama dalam ingatanku untuk selama-lamanya," jawabku yakin.
Luccane tersenyum, sebuah senyuman yang paling tulus dan indah yang pernah aku lihat seumur hidupku. Laki-laki itu, meski dia bukan lagi seorang manusia seperti diriku namun aku sangat amat mencintai dirinya hingga aku tak mampu menjabarkan sebesar apa cintaku kepadanya. Cinta ini tak cukup jika hanya diwakilkan dengan kata-kata, tak cukup dengan puisi atau pun syair seperti yang dituliskan oleh para pujangga.
Bagiku, perasaan cintaku kepada Luccane lebih dari apa pun bahkan aku sendiri juga ragu untuk dapat bertahan melanjutkan hidupku tanpa cinta darinya lagi. Memilukan, namun kami lagi-lagi tak memiliki daya untuk melawan kehendak sang pencipta.
Hujan deras beriringan dengan rauman sang guntur malam ini menjadi saksi bisu betapa kokohnya cinta sepasang insan berbeda dimensi ini saling mencintai tak memandang perbedaan yang membentang lebar memisahkan walau sekuat apa pun usaha yang dilakukan.
Mustahil. Cinta Luccane dan aku tetap saja tak akan mungkin bisa berakhir dengan indah seperti dongeng pengantar tidur yang dulu sering dibacakan oleh Mama sewaktu aku masih kecil.
"Kalau begitu, bolehkah aku memeluk kamu untuk yang terakhir kalinya?" tanya Luccane begitu lembut, penuh dengan ketulusan.
Kedua obsidian biru jernih nan menawan miliknya bertukar pandangan denganku, berusaha menghantarkan semua cinta yang ia miliki kepadaku tanpa sisa malam ini.
Lagi-lagi aku dibuat terpesona dengan keindahan Luccane yang sama sekali tak memiliki celah itu, lengkungan indah yang diciptakan oleh kedua sudut bibirnya itu kembali menarik hatiku untuk semakin jatuh cinta kepadanya, sosok yang tak dapat aku miliki dengan upacara pernikahan.
Aku mengangguk setuju, merentangkan kedua tanganku menyambut pelukan terakhir yang harus kami lakukan sebagai langkah terakhir perpisahan yang memilukan ini. Dengan kedua pelupuk matanya yang sudah basah dengan air mata pilu, Luccane memeluk tubuhku erat-erat seolah enggan untuk melepaskan dekapan itu selamanya.
Tangisku turut larut, beriringan dengan tangisan Luccane yang terdengar semakin menyedihkan ditengah pelukan perpisahan yang sebetulnya tak pernah kami janjikan ini.
Ternyata, hanya sampai di sini saja perjalanan cintaku dan Luccane yang sudah kami perjuangkan dengan segenap tenaga.
"Meski kita berpisah di sini, demi bumi dan langit serta seisi alam semesta aku akan selalu mencintaimu, Vishabea Lazuardi," bisik Luccane dengan suaranya yang terdengar begitu berat nan menyiratkan luka dalam kesedihan.
Aku tersenyum meski air mata ini terus mengalir deras, menganak sungai di kedua belah pipiku.
"Aku mencintaimu tak peduli siapa pun dirimu, Luccane. Semoga kita bisa bertemu di kehidupan selanjutnya."
"Aku yang jauh lebih mencintai kamu, Vishabea."
"Iya, aku tahu, Luccane."
Seiring dengan sentuhan lembut yang Luccane berikan pada puncak kepalaku, seketika semuanya berubah menjadi gelap.
...****************...
Mataku yang terasa berat serta perih ini perlahan-lahan aku buka, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina agar dapat melihat dengan baik.
Aku terbangun di kamar tamu rumah keluarga Mang Ujang, seperti malam terakhir sebelum aku pergi melintasi paradoks waktu bersama Luccane.
Perasaanku terasa lega meski tetap saja ada luka yang tersisa di dalam lubuk hati ini namun aku mencoba berdamai dengan rasa sakit itu untuk hidup yang lebih baik.
Cahaya mentari pagi ini nampak begitu cerah dan menghangatkan, membuat seulas senyum tipis terukir di wajahku. Aku bersyukur masih dapat bertahan hidup meski aku sudah beberapa kali mengalami nasib malang selama tinggal di kota Bandung yang kaya akan sejarah ini.
Saat aku menoleh ke sebelah kiri ruangan, aku mendapati kedua orang tua Luccane yang tengah tersenyum dengan wujud terbaik mereka.
Mama Luccane yang nampak cantik serta elegan dengan kebaya jawa berwarna putih dipadukan dengan kain batik, berdiri di samping Papa Luccane yang juga nampak gagah dan tampan dengan balutan setelan djas toetoep serba putih.
Pasangan suami istri berbeda kebangsaan itu tersenyum lembut menyambut tatapanku, sekilas mereka sangat mirip dengan manusia pada umumnya jika saja aku tidak memperhatikan kaki mereka yang tak menapak pada bumi.
"Papa dan Mama, aku sudah melakukan yang sebagaimana mestinya. Aku harap keluarga kecil kalian dapat segera kembali bersatu dan berbahagia di surga," ucapku pelan, jaga-jaga kalau nanti ada Mang Ujang atau Bibi yang datang.
"Terima kasih, sayang. Kami harap kamu juga bisa melanjutkan hidup dengan bahagia. Kami juga sedih karena tak bisa menjadikan kamu sebagai menantu," balas Mama Luccane dengan senyuman hangat khas seorang ibu, sementara suaminya hanya tersenyum sambil mengangguk.
Ah, iya. Kalau saja Luccane bukan hantu aku pasti akan dengan senang hati menjadi menantu dari pasangan yang sangat romantis itu.
Aku terkekeh. "aku juga sejujurnya sedih karena harus kehilangan calon suami dan calon mertuaku. tapi aku harus mengambil langkah ini demi kebaikan kita semua."
"Aku harap kita benar-benar bisa bertemu di kehidupan selanjutnya sebagai mertua dan menantu, Vishabea," sahut Papa Luccane dengan nada bicara yang terdengar lebih lembut.
Aku mengangguk antusias. "ya, semoga saja kali ini Tuhan mau mendengarkan doaku."
Tiba-tiba aku mendengar suara ketukan dari pintu kamar, membuat Papa dan Mama Luccane langsung menghilang.
Tergopoh-gopoh aku bangkit dari tempat tidur menuju pintu kamar yang terus diketuk tanpa henti itu.
"Kamu masih hidup atau tidak sih?" gerutu Andri dari balik pintu.
"Kenapa sih?" tanyaku ketus sesaat setelah pintu kamar itu terbuka.
Andri mendecak sebal. "kamu masih tanya kenapa? bukankah kamu harus ingat apa tujuan kamu datang kemari?"
Buku Vin. Ya, buku penuh misteri yang harus aku cari tahu kebenarannya agar bisa melepaskan segel yang membuat arwah Mama dan Papa Luccane juga tak dapat kembali dengan tenang ke pangkuan Tuhan beserta hal-hal ganjil dan menyeramkan lainnya.
"Iya, Andri. Aku sudah menyelesaikan urusanku dengan Luccane semalam, jadi kita akan mulai menyelidiki buku itu mulai hari ini juga untuk mengisi waktu senggang liburan kita selama tiga bulan ke depan."
"Hah, apa?!"