
"Luccane, aku mau kembali ini sudah cukup."
"Baiklah."
Aku memejamkan mataku, lagi-lagi aku dibawa berpindah ke dimensi yang berbeda.
Kali ini aku dibawa oleh Luccane ke jalan Asia-Afrika, yang sampai sekarang masih mempertahankan beberapa bangunan peninggalan Belanda.
"Kenapa aku dibawa kesini?" tanyaku bingung.
Luccane tersenyum tipis. "aku mau memperlihatkan semuanya selagi aku bisa. nikmati saja sisa waktu yang kita punya."
Kali ini Luccane berpenampilan sangat berbeda, ia mengenakan kemeja putih polos lengan panjang dengan sebuah dasi kupu-kupu hitam, senada dengan celana panjang yang ia kenakan.
Luccane sangat rapi serta tampan, membuat aku tersenyum kemudian mengangguk setuju membalas ucapannya barusan.
Lagi-lagi aku dibuat lupa kalau Luccane merupakan sesosok hantu saking terpesonanya aku padanya.
Riak wajahnya kali ini begitu tenang serta bahagia, membuat aku pun turut tersenyum.
Dengan lembut Luccane menggandeng tanganku, menuntun setiap langkahku dengan sabar, membawaku melihat-lihat kehidupan yang ada pada zaman itu.
Aku melihat dengan penuh antusias kepada Paman penjual es limun yang menjajakan dagangannya dengan cara dipanggul seraya berjalan kaki, dikerumuni oleh anak-anak kecil yang kehausan sehabis bermain.
Ada pula seorang anak kecil yang membawa berbagai jenis perabotan rumah tangga dengan cara dipanggul, berjalan tanpa pamrih, perlahan seraya mencari orang yang sekiranya mau membeli barang dagangannya membuat hatiku merasa sedih sekaligus miris.
"Dulu, Mama sering kali mengajakku pergi ke tempat ramai seperti ini. Meski Papa selalu melarang aku untuk minum es limun, Mama sering kali membelikannya untukku secara diam-diam saat kami sedang pergi berdua saja. apa kamu tahu? es limun itu rasanya sangat enak dan menyegarkan," cerita Luccane seraya mengenang masa lalunya dengan sang Mama.
Waktu aku masih kecil dulu, aku pernah minum es limun yang sering berjualan di depan sekolah dasar tempat aku bersekolah. Rasanya memang enak tapi aku tidak tahu apakah rasanya sama dengan yang dimaksud oleh Luccane.
"Saat aku dan Mama hanya pergi berdua, kami sering membeli makanan di pinggir jalan dan bersekongkol untuk tidak bilang pada Papa," tambah Luccane saat melewati Paman pedagang es limun sambil terkekeh geli.
Jalan Asia-Afrika hari itu nampak ramai orang berlalu lalang, kebanyakan orang berjalan kaki ada pula yang menggunakan sepeda menuju tempat tujuan mereka.
"Apa Papamu tidak pernah tahu kalau kalian jajan di pinggir jalan?" tanyaku.
Luccane meringis geli. "pernah ketahuan satu kali, lalu Papa mengomeli aku dan Mama sepanjang hari. kalau dipikir-pikir, itu adalah cara Papa menyampaikan kasih sayangnya kepada kami."
Aku jadi teringat pada hari saat aku bertemu dengan Papanya Luccane di rumah Mang Ujang. Aku dapat melihat dengan jelas betapa dalam rasa cinta beliau kepada anak dan istrinya dari mata birunya yang sayu.
"Iya, Luccane. Aku tahu Papa dan Mamamu sangat menyayangi dirimu," aku menyahut sambil mengeratkan tautan tangan kami.
"Andai saja waktu itu aku sempat membalas kasih sayang dari mereka dengan sama baiknya," pemuda itu berujar penuh sesal, menuntun langkahku menuju sebuah bangku taman yang terletak di bawah pohon sebelah trotoar.
"Apakah aku memang ditakdirkan untuk selalu kehilangan orang yang aku cintai ya?" ia kembali bergumam dengan sorot mata sendu.
Langit biru yang menaungi kami berdua kali ini pun seolah tahu betapa berat takdir yang harus kami berdua lalui. Perlahan, langit biru itu mulai ditutupi oleh awan mendung setibanya aku dan Luccane di bangku taman yang terbuat dari besi itu.
"Sepertinya hujan deras akan turun, ayo kita cari tempat berteduh," Luccane berseru panik tatkala tetesan air hujan mulai jatuh satu persatu berbarengan dengan suara gemuruh sang guntur.
Tangan Luccane masih setia menggamit tanganku, membawa diriku masuk ke sebuah gedung teater yang di zaman modern sudah tidak ada lagi.
"Memangnya kita bisa terkena hujan?" tanyaku, mengingat paradoks waktu tempat kami berada saat ini berbeda dari tempatku berasal.
Luccane menggeleng sambil tersenyum usil.
"Tidak, hanya saja aku sangat suka jika bisa melihat air hujan turun dari balik kaca," Luccane mengakui dengan jujur, membuatku cemberut sebal.
Langit sudah mulai menumpahkan semua bebannya sesaat setelah aku dan Luccane duduk di depan sebuah jendela besar yang menampilkan pemandangan di luar, hujan deras seperti prediksi Luccane benar-benar turun disertai angin kencang dan petir.
Suara gemuruh petir yang menyambar ke berbagai arah cukup membuatku gentar. Dalam diamnya, Luccane meraih pinggangku lantas membawa tubuhku ke dalam dekapan hangatnya yang selalu aku rindukan.
Aroma musk yang menguar lembut dari tubuh Luccane lagi-lagi membuatku melupakan fakta bahwa Luccane bukanlah seorang manusia sama seperti diriku.
Tetapi cinta lagi-lagi menutup logikaku rapat-rapat.
Aku memejamkan mata, menikmati setiap detik yang aku punya bersama Luccane sebelum akhirnya aku benar-benar kehilangan dirinya.
Luccane mengusap lembut punggungku, menghantarkan rasa sayangnya yang masih begitu menggebu-gebu kepadaku.
"Vishabea, aku tidak tahu lagi harus bagaimana untuk menunjukkan perasaanku kepadamu," pemuda tampan itu berujar lembut, masih bertahan dalam dekapan hangat yang ia ciptakan.
"Kenapa kau terus menyatakan perasaanmu seperti itu?" tanyaku sambil terkekeh geli, membenamkan wajahku di dada Luccane yang begitu bidang serta nyaman untuk disandari.
"Aku harus melakukannya selagi aku bisa dan memiliki kesempatan. Bukankah kamu juga tahu kalau aku tidak akan bisa seperti ini bersama denganmu selamanya," Luccane menjawab dengan kekehan ringan, menghadiahi aku dengan beberapa kecupan hangat di atas puncak kepalaku.
Walau hatiku terasa sakit setelah mendengarkan fakta yang diucapkan oleh Luccane, aku tetap berusaha tersenyum dan menguatkan hati.
Hatiku terasa sangat nyaman dan damai, betah berlama-lama berada dalam rengkuhan Luccane yang begitu hangat dan menenangkan.
Benar kata Luccane, meski tak banyak lagi waktu yang bisa aku miliki bersama Luccane aku harus tetap menikmati setiap momen yang tersisa.
"Aku mencintaimu lebih dari kata cinta itu sendiri, Visha. Jika nanti waktuku sudah habis, aku akan selalu berusaha memastikan bahwa kamu bisa hidup dengan lebih baik tanpaku," bisik Luccane seraya membelai rambutku.
Air mataku yang sudah menggenang di pelupuk mata akhirnya tidak bisa aku tahan lebih lama. Mereka menetes bersama, sama derasnya dengan hujan di luar sana.
"Kuharap, nanti setelah aku menghilang kamu bisa hidup dengan bahagia bersama laki-laki baik yang memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan untukmu. Semoga nanti air matamu yang sangat berharga ini tak lagi sering menetes," kata Luccane penuh kesungguhan.
"Aku juga mencintaimu, Luccane. Namun apalah daya cinta kita tidak direstui oleh semesta."