Luccane

Luccane
Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua



"Hah, apa?!"


Air muka terkejut Andri membuat aku terkekeh geli, wajahnya nampak lucu sekali dengan mata membulat sempurna seperti mau keluar dari tempatnya.


"Kita harus segera menemukan jawaban atas misteri di dalam buku ini agar mereka semua bisa beristirahat dengan tenang," ucapku sambil mengambil buku milik Vin yang tergeletak begitu saja di atas nakas.


Andri tersenyum, menepuk samar bahuku.


"Aku bangga banget sama kamu. Nggak aku sangka, kamu benar-benar rela melakukan semuanya."


"Ini semua aku lakukan bukan semata-mata karena aku cinta kepada Luccane, tapi semuanya memang harus diselesaikan dengan tuntas. Aku ingin Luccane dan keluarganya bisa kembali ke sisi Tuhan serta mendapatkan tempat yang terbaik segera," balasku dengan pandangan tertunduk, setia memandang buku milik Vin dengan tatapan sendu.


Walau sepertinya akan melewati banyak lika-liku, aku yakin dapat menyelesaikan semua persoalan yang ada dengan baik.


Cepat atau lambat aku akan segera menemukan jawaban atas semua hal ganjil yang terjadi.


Tangan Andri dengan lembut menggiringku keluar dari kamar, tatapan pemuda tampan berwajah serupa dengan orang Eropa itu melembut seolah membujukku untuk tidak membantah apa pun yang akan ia katakan.


"Kalau begitu kita harus makan terlebih dahulu, bukankah kita tak akan bisa berjuang dalam keadaan lapar?" Andri berujar setengah bercanda sambil merangkul bahuku untuk berjalan menuju dapur.


Aku sekali lagi terkekeh. "ya, aku akui kamu memang sangat rasional."


Berdua, aku dan Andri kemudian bertolak menuju dapur bermaksud mengisi amunisi terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaan yang rumit ini.


"Wah, lihat deh kayaknya ada yang lagi akur. bukannya kemarin cuma saling lihat-lihat aja?" goda Mang Ujang yang sedang sibuk menata piring kosong di atas meja makan.


Bibi tersenyum lembut. "mereka dari dulu juga sudah akur kok, tapi lebih adem dilihat kalau kalian semakin rukun begini."


Aku dan Andri hanya bisa menanggapi candaan dari kedua orang tuanya Andri dengan tawa, kemudian menikmati mulai berdoa sebelum masakan nikmat yang telah disiapkan oleh Bibi.


"Masakan Bibi selalu nikmat, terima kasih ya Bibi udah selalu mau dibuat repot sama Visha. Terima kasih juga buat Mang Ujang yang selalu siaga saat Visha butuh bantuan," aku berterima kasih dengan tulus kepada Bibi dan Mang Ujang yang selama ini selalu dengan penuh kehangatan turut menjagaku sejak tinggal di Bandung.


"Sama-sama atuh. Neng Visha 'kan anak kami juga jadi nggak perlu sungkan-sungkan begitu," tutup Mang Ujang dengan suara santun namun penuh wibawa khasnya.


Sekali lagi aku dibuat bersyukur karena begitu banyaknya orang-orang baik yang selama ini bersedia mendukungku tanpa pamrih meski kini Luccane tak dapat lagi aku temui.


...****************...


Cuaca terik siang itu membuat aku dan Andri berderap tergesa menuju paviliun belakang rumah untuk memulai diskusi penting kami.


Angin memang bertiup cukup kencang tetapi sayangnya tidak menghantarkan rasa nyaman apalagi sejuk bagi kami berdua.


"Dari mana kita akan mulai?" tanya Andri sambil memegangi barang-barang yang aku bawa sebelumnya.


Aku memutar kenop pintu tua paviliun belakang rumah keluarga Mang Ujang dengan hati-hati, tidak mau sampai kenop pintu tua yang masih asli sejak zaman kolonial Belanda itu sampai rusak.


Mang Ujang merawat setiap jengkal dari bangunan ini dengan sangat baik serta hati-hati sehingga tetap dapat mempertahankan keasliannya.


"Tentu saja kita harus mempelajari lebih jelas siapa saja yang namanya ada di dalam buku itu," jawabku seraya membantu Andri menurunkan barang bawaan ke atas meja kaca di depan kami.


"Terlalu banyak nama yang dimuat dalam buku ini bagaimana kita bisa menemukan petunjuk?" Andri berujar kemudian duduk di depanku.


Aku menghela napas, benar juga kata Andri.


Terlalu banyak nama orang yang tertulis di dalam buku itu akan sulit bagi kami jika harus mencarinya satu persatu. Ini agak merepotkan, tapi aku dan Andri harus bergerak cepat.


Jemariku lantas membuka halaman buku milik Vin yang sudah aku tandai dengan melipat sedikit halamannya, ya, halaman itu sejak awal memang sudah menyita perhatianku karena memang nampak berbeda jauh dengan halaman yang lainnya. Di dalam lembaran itu, Vin menulis semuanya menggunakan tinta merah yang sangat mencurigakan jika dilihat dari warnanya.


"Kamu lihat halaman ini deh, kayaknya aneh banget gitu lain dari yang lain," kataku sambil menunjukkan halaman yang aku maksud kepada Andri.


Dengan kening kusut, Andri mulai membaca tulisan berbahasa Belanda itu perlahan mencoba mengartikan setiap kata yang tertulis di atas halaman itu dengan tepat.


"Laki-laki itu sangat berdosa, aku memutuskan untuk langsung mengantarnya ke neraka dengan cepat karena orang seperti itu tak pantas dibiarkan hidup. Aku jadi penasaran apakah laki-laki sombong dan congkak itu juga bisa merasakan takut?" dengan kening yang masih berkerut Andri menerjemahkan bahasa Belanda yang ia baca ke bahasa Indonesia.


Sebenarnya dari awal pun aku sudah tahu arti dari halaman itu, hanya saja aku tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Vin dalam halaman itu. Dia hanya menuliskannya sebagai laki-laki yang tentu saja ada jutaan lelaki yang hidup di dunia.


"Laki-laki itu? siapa ya yang dimaksud oleh Vin pada saat itu?" gumamku sambil mengusap dagu menggunakan jari telunjuk.


Terlebih, ada banyak sekali nama yang sudah di tulis oleh Vin di dalam buku itu sehingga aku tak dapat dengan mudah menebak siapa yang dimaksudkan oleh Vin.


"Hanya itu petunjuk yang kita temukan untuk saat ini, Visha. Kita harus mengumpulkan petunjuk sebanyak-banyaknya," sahut Andri, mengusap-usap halaman buku yang paling menarik perhatianku itu dengan telunjuk tangannya.


"Andri, telunjuk kamu kenapa jadi ikutan merah?" tanyaku sedikit terkejut melihat jari telunjuk Andri yang warnanya juga berubah menjadi sama merahnya dengan halaman misterius itu.


Andri mencium ujung jari telunjuknya itu, membuat aku meneguk ludah karena merasakan sensasi yang sangat aneh menjalari diri ini.


"Hueeek! Visha, kok tanganku jadi bau anyir darah ya? Apalagi ini baunya kuat banget apa iya ini ditulis pakai darah orang?!" Andri berseru panik.


Aku berusaha untuk tetap tenang walau darahku terasa menyebarkan semua rasa takutku ke seluruh tubuh, meraih tangan kanan Andri yang ujung jari telunjuknya berwarna merah darah itu.


Pelan-pelan aku membaui jari telunjuk Andri mencoba menemukan petunjuk atas keanehan yang baru saja kami berdua temukan.


"Andri, mau dengar sesuatu yang mengejutkan?" tanyaku serius dengan pandangan terpusat kepadaku Andri.


"Ada apa memangnya?"


"Vin menulis halaman itu menggunakan tinta darah manusia asli."