
"Untuk Vishabea-ku tersayang. Bacalah isinya jika kita sudah tidak bertemu selama lebih dari satu pekan," aku membaca tulisan tangan dengan tinta merah yang tertera di sudut kanan amplop itu.
Perasaanku seketika berubah menjadi resah bercampur dengan khawatir, terlebih Luccane memang sudah nyaris satu pekan ini tidak datang menemui aku.
Pikiranku sudah tidak tenang, apa mungkin aku harus membuka surat ini sekarang? Tapi, bukankah di sini tertulis aku harus membukanya setelah lebih dari satu pekan tidak bertemu?
Tanganku dengan cepat menutup buku harian milik Luccane, menyimpannya ke dalam laci meja belajarku, berusaha untuk menahan diri agar tidak membuka surat itu sebelum waktunya.
Aku bangkit dari dudukku, beringsut menuju ruang tengah kemudian menyalakan gramophone tua yang memang sengaja aku letakkan di sudut ruangan.
Alunan musik instrumen klasik khas Eropa lantas melantun lembut, membuat aku ingin berdansa meski kini aku harus berdansa seorang diri tanpa Luccane.
Dengan air mata yang sudah menggenang, aku tetap berdansa menyelaraskan gerak tubuhku dengan setiap nada yang terdengar amat romantis itu meski dalam hati terus menyerukan nama Luccane yang tak kunjung datang.
Tangan dan kakiku bergerak seirama, menikmati lantunan lagu romantis itu walau hati sedang teriris, begitu terluka.
Jika waktu bisa diputar kembali, apa aku bisa hidup dengan lebih baik tanpa bertemu dengan Luccane?
Apakah jika aku tidak dapat melihat Luccane sejak hari itu semuanya akan baik-baik saja?
Aku tidak tahu, perasaanku terlalu dalam kepada Luccane meski logika ini selalu berusaha menyadarkan diriku tetap saja hatiku mendambakan Luccane dengan begitu hebat hingga dapat membuat sang logika mengalah.
Cinta ini memang begitu menyulitkan baik untukku mau pun untuk Luccane, namun kami berdua pun tak dapat memilih kepada siapa kami akan jatuh cinta. Semuanya begitu rumit untuk kami yang bahkan tak bisa mengendalikan perasaan masing-masing.
Derai air mata terus mengiringi setiap gerakan dansa yang aku lakukan, membayangkan setiap langkah yang biasa aku rajut bersama Luccane. Merelakan memanglah sangat berat, namun aku harus mampu rela dan memantapkan hati.
"Kamu sangat pandai berdansa, Vishabea. Sayang sekali kalau kamu berdansa sendiri seperti itu. Apakah kamu mau berdansa denganku?"
Gerakan tubuhku terhenti, menolehkan kepalaku ke belakang dan mendapati Vin tengah tersenyum menyambut tatapanku.
"Aku tidak mau berdansa dengan laki-laki selain Luccane," aku menolak dengan tegas, kembali melanjutkan dansa guna menikmati setiap luka yang ada agar bisa lekas terbiasa.
"Walau pun jika aku kemari karena perintah dari Luccane?" tanya Vin seraya menaikkan alisnya.
Aku menggeleng kukuh seraya menghapus jejak air mataku dengan ujung kaos lengan panjang yang aku kenakan.
"Jawabanku tetaplah tidak, Vin. biar bagaimana pun Luccane adalah orang yang mengajari aku caranya berdansa."
"Sepertinya kamu sangat mencintai Luccane, lebih dari yang aku kira," Vin berujar dengan nada tenang, namun seperti memiliki niat lain dalam ucapannya membuatku merasa sedikit was-was.
Lelaki tampan itu melangkah mendekat kepadaku dengan tatapan yang sulit untuk aku artikan, berhasil membuat dadaku berdebar dua kali lebih kencang. Tatapannya fokus tertuju padaku, membuatku semakin teringat kepada Luccane.
"Kalau aku menyentuhmu sedikit, aku rasa Luccane tidak akan merasa keberatan," ucap Vin dengan suara rendah, semakin mendekatkan dirinya kepadaku.
Bagai terkena hipnotis, aku terbuai dengan ketampanan Vin yang memang tak kalah jika dibandingkan dengan Luccane.
Semakin lama aku memandang wajah Vin, semakin dalam aku terperosok ke dalam pesona miliknya yang juga tak kalah luar biasa dari milik Luccane.
Sepasang obsidian milik Vin terus menatapku lamat, begitu lembut hingga membuat aku merasa terhanyut.
"Ya betul Vishabea, terus tatap aku seperti itu," bisik Vin terus menggoda, semakin membuat aku terlena.
Vin meraih leherku, membawa tubuhku untuk lebih mendekat masuk ke dalam jangkauannya.
Aroma maskulin yang tak dapat aku jabarkan dengan kata-kata sebab begitu asing menyeruak masuk menyapa indera penciumanku.
Oh, aroma tubuh Vin sangat memabukkan, kian membuat aku terbius ke dalam pesonanya dan tak mampu mengalihkan pandangan ke lain arah. Atensiku sepenuhnya dikuasai oleh Vin, makhluk tampan yang sialnya lagi-lagi merupakan seorang hantu Belanda.
"Aku akan mencintai kamu lebih dari Luccane..."
Vin perlahan bergerak maju berusaha memangkas jarak kecil yang tersisa diantara kami berdua. Tatapannya turun ke arah bibirku, membuat mataku secara otomatis mulai tertutup menanti sentuhan yang akan diberikan oleh Vin beberapa saat lagi.
Entah pengaruh apa ini, yang jelas tindakanku kini sangat berlawanan dengan apa yang diinginkan oleh perasaanku. Jauh di lubuk hatiku, aku tetap merindukan dan menginginkan Luccane lebih dari apa pun.
PRAAAAANNGG!!!
Aku tersentak kaget hingga melepaskan diri dari dekapan Vin, buru-buru menoleh ke sumber suara.
Dari arah berlawanan, aku dapat melihat Luccane datang dengan wajah tampannya yang sudah basah oleh air mata.
Luccane memecahkan kaca besar yang memang sengaja aku letakkan di ruangan itu hingga hancur berkeping-keping dengan tinjunya.
"Berani sekali kau datang untuk menggoda kekasihku!" teriak Luccane murka, mendorong Vin menjauh dari tubuhku dengan gerakan yang begitu cepat.
Aku yang terlalu terkejut hanya bisa melihat Luccane melayangkan tinjunya kepada Vin, sungguh ajaib, aku baru tahu kalau hantu juga bisa adu jotos seperti itu karena memperebutkan satu orang perempuan.
"Kekasihmu? Kau bahkan tidak ada disaat dia terluka batinnya karena terlalu mencintai kau yang bahkan akan segera lenyap!" Vin balas berteriak, matanya menyiratkan api amarah membuat aku mulai merasa takut.
Luccane menyeringai. "kau pikir aku sengaja melakukan itu?! aku melakukan semua itu semata karena aku mencintai Vishabea lebih dari aku mencintai diriku sendiri! sampai kapan pun aku tidak akan rela jika ada sosok lain yang mau berada di sisinya!"
"Kalian berdua tolong berhentilah! Bukankah kalian juga tahu kalau aku mana mungkin bisa mencintai salah satu dari kalian ini untuk selamanya?!" aku memekik tertahan, mendorong dada mereka berdua memberikan jarak bagi keduanya.
Vin lantas menghilang tanpa permisi setelah mendengar ucapan tegas dariku, sementara Luccane berbalik menatapku masih dengan sisa amarah di kedua netra jernih miliknya.
"Aku tahu kita tidak akan mungkin bersatu, Visha... Tapi bisakah kamu jangan sampai terlena dengan pesona Vin? Dia itu jahat," suara Luccane merendah dengan pandangan memelas, berusaha mengendalikan emosinya.
"Aku cemburu melihat kamu dan Vin nyaris berciuman tadi. Aku tidak akan rela kalau kamu sampai jatuh cinta kepada Vin," tambah Luccane lagi dengan pandangan yang ia jatuhkan ke sepasang kakinya yang tak lagi menapak di atas tanah.
Aku tertawa satir. "kau tak berhak mengatur kepada siapa aku harus jatuh cinta, Luccane."