
Hujan deras yang mengguyur kota Bandung tanpa henti sejak dini hari tadi membuat aku membatalkan semua kegiatanku di luar rumah termasuk kuliah.
Para dosen juga membatalkan kelas mereka hari ini sebab banyak mahasiswa yang mengeluh tidak bisa hadir ke kampus hari ini mengingat beberapa ruas jalan raya juga mulai digenangi banjir.
Kalau sudah begini mau tak mau jadwal perkuliahan semuanya harus batal.
Aku duduk di atas ranjang, sendirian di dalam kamar sembari memandang keluar jendela menikmati aroma khas hujan yang menyapa indera pembauanku. Kesendirian yang kini menyelimuti diriku, rasanya begitu menyakitkan sekaligus menimbulkan rasa hampa di dalam hatiku.
Hati ini terus memanggil nama Luccane dengan penuh sesal, semakin membuatku merasa menderita serta terpuruk lagi dan lagi.
Meski aku terus berusaha untuk menyadarkan diri ini bahwasannya aku dan Luccane tak akan pernah bisa bersatu, hatiku tetap saja menyerukan nama Luccane tanpa merasa lelah.
"Sampai kapan aku harus begini?" aku bergumam, memegang figura kecil berisi foto hitam putih milik Luccane.
Di dalam foto itu Luccane nampak tersenyum tipis namun sangat memesona dengan kemeja putih lengan pendek dan dasi kupu-kupu yang menghiasi leher jenjang miliknya. Sangat tampan, itu adalah foto yang paling aku sukai seumur hidupku.
Walau foto itu tidak memiliki warna, namun tetap dapat melukiskan betapa tampannya Luccane dengan sangat baik.
Foto ini selalu aku gunakan untuk melepas rinduku kepada Luccane setiap kali sang rindu datang mengetuk pintu hati tanpa permisi
Melupakan dan merelakan memang bukanlah perkara yang mudah. Rasanya sangat sulit bagiku untuk merelakan cintaku dan Luccane yang tak akan bisa bersatu seperti halnya air dan api.
Cinta dalam benak ini terus membara tanpa bisa aku kendalikan membuat aku rasanya seperti akan kehilangan kewarasan.
Aku sudah tidak tahu berapa lama waktu telah aku lalui dengan tangis setelah hari itu.
Mataku nampak menghitam, sedikit kemerahan dan bengkak karena sudah terlalu sering menangis.
"Sampai kapan kamu akan menangis seperti itu?"
Sebuah suara lembut yang begitu aku rindukan kini terdengar menguar diantara suara gemuruh hujan, membuat aku buru-buru membalikkan badan.
Dan benar saja, sepasang netraku mendapati Luccane tengah berdiri di ambang pintu kamarku dengan pakaian serba hitam khas zaman kolonial Belanda. Laki-laki itu tersenyum, meski sepasang obsidian biru indahnya tengah basah oleh air mata.
Aku bangkit, lantas berlari menghambur ke dalam pelukan Luccane dengan air mata bercucuran berusaha melepaskan begitu banyak rindu serta beban yang selama ini sudah aku pendam dalam-dalam seorang diri.
"Kenapa kau baru datang sekarang?! Kau tahu betapa menderitanya aku?!" tanyaku marah ditengah tangisku serta napasku yang tersengal.
Luccane meregangkan pelukannya. "maafkan aku. ada banyak hal yang harus aku urus sampai akhirnya aku tahu kalau kamu berniat untuk menutup mata batinmu."
Aku menatap kedua mata Luccane dengan sorot menuntut. "kalau begitu, jelaskan semuanya kepadaku tanpa ada yang perlu kau tutup-tutupi."
Luccane mengangguk pasrah. "baiklah, kalau begitu ayo dengarkan ceritaku sambil duduk."
Aku menurut, menarik tangan Luccane untuk duduk bersamaku di atas ranjang.
"Apa Jansen pernah menceritakan sesuatu kepadamu saat aku tidak ada?" tanya Luccane sesaat setelah kami sudah duduk berhadapan.
"Iya. Jansen bilang kau memakai sihir hitam untuk melenyapkan Jolanda, apa itu benar?"
Luccane menatapku lekat-lekat, meraih kedua tanganku dengan lembut kemudian.
"Aku terpaksa melakukannya karena tidak ada pilihan lain. Aku tidak mau terjadi hal buruk lagi kepada kamu," tambah Luccane dengan air muka khawatir.
Aku mengerti mengapa Luccane rela melakukan hal sejauh ini, semuanya semata karena dia terlalu menyayangi aku.
Tetapi bukankah sihir hitam selalu memiliki efek negatif di belakangnya?
"Apa yang kau tukarkan untuk mengaktifkan sihir hitam itu, Luccane? Bukankah sihir hitam tingkat tinggi seperti itu biasanya membutuhkan tumbal?" aku membombardir Luccane dengan pertanyaan yang sudah sekian lama aku pendam.
Luccane menurunkan pandangannya, wajahnya seketika berubah menjadi sendu.
"Aku menukarkannya dengan jiwaku, Visha."
Kedua mataku kontan terbelalak tak percaya.
"Apa?! Kau sudah gila, hah?! Kenapa kau rela menukarkan jiwamu untuk mengaktifkan sihir hitam itu?"
Luccane tersenyum sendu. "untuk apa aku mempertahankan jiwaku, Visha? toh, aku juga sudah mati dan sudah seharusnya aku pergi dari dunia ini."
Jawaban dari Luccane membuat tangisku seketika pecah lagi. Aku terharu sekaligus sedih mendengar Luccane yang telah berkorban banyak untukku, ia bahkan rela menukarkan jiwanya hanya untuk melindungi aku dari Jolanda.
Dengan seulas senyum yang begitu tulus, Luccane berusaha menghapus jejak air mataku dengan kedua ibu jarinya.
"Kamu tidak perlu menangis, sayang. Aku baik-baik saja, aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan untukmu karena aku sadar tak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain ini untuk membuktikan cintaku untukmu," Luccane berujar lembut, membawa tubuhku ke dalam rengkuhan hangatnya.
Aku menangis sejadi-jadinya, lelah terus menerus menerima kenyataan menyakitkan seperti ini.
Kalau Luccane telah mengorbankan jiwanya untuk melakukan ritual sihir hitam, maka aku tak punya banyak waktu yang bisa aku habiskan bersama dengannya seperti sebelumnya.
"Aku yang sudah mati ini sepatutnya memang telah lama berpulang entah ke surga atau neraka. Kamu tidak perlu menangis lagi seperti ini, ya?" Luccane berusaha membujukku untuk berhenti menangis, tapi air mataku tetap saja mengalir deras seolah tak ingin berhenti.
Tanganku menggenggam erat figura yang berisi foto Luccane, menggambarkan begitu besar cintaku kepadanya.
"Aku melakukan apa yang sudah sepantasnya aku lakukan, jadi kamu harus hidup dengan baik ya. belajarlah yang benar dan jadilah lulus terbaik," Luccane berbisik lembut, menyelipkan helaian rambutku ke belakang telinga.
"Terima kasih, Luccane. Aku akan belajar dengan benar sampai lulus dan melanjutkan hidup dengan baik jika nanti kita tidak bisa lagi bertemu," cicitku berusaha mengendalikan napasku yang tersengal.
"Bagus, aku lega mendengarnya. Kamu harus hidup dengan baik meski pun nantinya aku tidak bisa lagi ada di sisimu. Terima kasih sudah mencintai aku dengan sangat luar biasa, Vishabea Lazuardi."
Aku menyeka kasar jejak air mataku dengan ujung kaos lengan panjang yang aku kenakan, berusaha untuk tetap tegar.
"Iya, Luccane. selagi masih bisa mari habiskan waktu bersama sebaik-baiknya."
Luccane mengangguk, memamerkan seulas senyum lebar yang begitu menawan seperti biasanya.
Meski kebersamaan kami tidak akan berlangsung lama, tetapi aku akan menghabiskan waktu yang masih ada sebaik-baiknya agar tak ada penyesalan yang tertinggal.
Luccane mengusap puncak kepalaku dengan begitu lembut. "pejamkan matamu sebentar, sudah lama kita tidak pergi ke taman bunga, bukan?"