Luccane

Luccane
Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran



"Aku tidak menyangka kalau kamu akan menemukan aku secepat ini, Mevrouw Vishabea. Kamu memang sangat hebat," sebuah suara mengalun di udara, membuat aku kaget luar biasa.


Aku mengenal suara itu, aku sungguh mengenal suara itu dan tahu siapa pemilik suara itu!


Oh, apakah aku sedang bermimpi?!


Sekujur tubuh terasa menegang, lidahku pun kelu tak berdaya untuk mengucapkan kata-kata.


Andri nampak bingung dengan apa yang terjadi hanya bisa memandangku penuh tanya.


Seiring dengan rasa terkejut yang mendera diriku serta kebingungan yang menyelimuti Andri, aku mendengar suara langkah kaki yang lambat namun melangkah dengan pasti menuju ke arah kami.


"Aku sungguh tidak menyangka kalau kita akan bertemu di sini," ucap suara itu lagi, berbarengan dengan suara langkah kakinya yang begitu tenang.


Sial, seumur hidup tak pernah aku merasakan perasaan yang terlalu berkecamuk ini!


Pelan-pelan aku mengarahkan pandangan ke arah sumber suara, mencoba mencari tahu dengan lebih jelas siapa gerangan sosok pemilik suara barusan.


Mataku terbelalak, begitu tak mempercayai apa yang baru saja aku lihat. Napasku tercekat seolah tersangkut begitu saja di dalam paru-paru tanpa bisa keluar melewati rongga pernapasanku.


Bagaimana tidak? Kini aku melihat sosok Vin yang tengah berdiri dengan bantuan sebuah tongkat antik dengan air muka yang ia buat begitu ramah lengkap dengan seulas senyum.


Manik mata hijau miliknya tentu saja langsung membuat aku menyadari dengan siapa aku bicara saat ini, sepasang netra hijau yang begitu langka itu tentunya buru-buru menggiring ingatanku untuk mengingat sosok Vin yang pernah mendatangiku dalam wujud hantu.


"Kau... Masih hidup?!" tanyaku yang begitu terkejut melihat pria yang nampak sudah tua itu bersikap seolah sudah begitu mengenalku.


"Memangnya siapa yang bilang kalau aku sudah mati? Itu lucu sekali," timpal Vin yang kini semua rambutnya sudah berwarna putih karena termakan usia.


Aku tak menyangka teori yang Andri katakan selama ini bukanlah isapan jempol belaka.


Itu semua sungguh mencengangkan membuat otakku tak habis pikir harus bagaimana setelah ini.


"Ricky van Mottman, pria pemilik rumah yang kamu sewa adalah cucu pertamaku sekaligus cucu dari kekasihmu yang tercinta itu, Mevrouw. Bagaimana? Bukankah itu mengejutkan?" Vin berujar santai, mengambil posisi duduk santai di sebuah sofa tak jauh dari tempat kami duduk.


"Tidak! Kau pasti berbohong!"


Vin menggeleng. "sayang sekali yang aku katakan itu benar. aku berhasil bertahan hidup setelah Luccane dan kedua orang tuaku mati, tak lama setelahnya aku menikahi seorang wanita asal Swiss yang bekerja sebagai perawat di sini setelah perang."


Kedua lututku terasa lemas, tak mampu menopang berat tubuhku sebab terlalu terguncang mendengar kenyataan mengejutkan ini.


Bagai disambar petir di siang bolong, otakku seketika terasa kosong.


Tak banyak yang dapat aku lakukan selain menangis, kenyataan yang menamparku ini terasa sangat menyakitkan.


Jadi, sosok hantu yang selama ini aku cintai adalah Luccane van Mottman?!


Tuhan, kenyataan pahit apa lagi ini?


Jika benar Vin dan Luccane memang berasal dari keluarga Van Mottman yang sangat berpengaruh itu, artinya mereka masih memiliki kekerabatan langsung dengan Mamaku dan Ibunya Andri.


Seketika kepalaku terasa sangat berat dan pening, aku tak mampu menerima semua kenyataan ini.


Tangisku mengalir deras, namun Vin tetap duduk di atas sofa dengan tenang.


Meski wajah Andri menyiratkan bahwa ia juga bingung sekaligus tak menyangka bahwa Vin dan Luccane masih terbilang kerabat dekat kami, ia buru-buru menghampiri aku dan memapah tubuhku agar segera pergi dari kamar hotel itu.


Tepat setelah itu, Andri yang menggendongku dengan langkah tergopoh-gopoh menyadari bahwa aku telah kehilangan kesadaranku perlahan.


...****************...


Terangnya cahaya yang menyapa kedua kelopak mataku membuat aku merasa tidak nyaman.


Meski terasa berat dan perih, perlahan aku bisa melihat Andri yang tengah menatapku dengan harap-harap cemas sembari duduk di tepi ranjang.


"Visha, kamu nggak apa-apa?" tanya Andri khawatir sesaat setelah aku membuka mataku perlahan.


Aku menggeleng lemah, tak mampu untuk mengerti apa yang sebenarnya sudah terjadi kepadaku.


Aku hanya bisa berharap semuanya hanyalah mimpi, semuanya terlalu pahit untuk disebut sebagai kenyataan terlebih akulah pihak yang harus menelan kenyataan pahit itu bulat-bulat.


Wajar saja jika selama ini Luccane selalu enggan memberi tahu kepadaku siapa nama lengkapnya ternyata inilah kenyataan yang ada.


Kenyataan pahit yang terus saja menghantam diriku ini membuatku patah arang.


Aku mencintai sosok yang seharusnya aku panggil dengan sebutan kakek karena dia adalah saudara sepupu dari kakek kandungku sendiri.


Ya, Kakek kandungku yang merupakan ayah dari Mama dan Ibunya Andri.


Sebuah kenyataan yang begitu pahit serta mencengangkan yang tak bisa aku terima begitu saja.


Aku mengedarkan pandangan guna memperhatikan sekitar, memastikan bahwa aku sudah benar-benar pulang dengan selamat ke rumah keluarga Mang Ujang. Setelah yakin aku sedang berada di kamarku, aku lantas merengkuh tubuh tegap Andri berusaha mencari ketenangan darinya.


"Aku harus bagaimana, Andri?" tanyaku yang sudah mulai menangis lagi setelah sepenuhnya menyadari apa yang baru saja terjadi kepadaku.


Andri menepuk lembut punggungku, membiarkan aku menangis di dalam pelukannya tanpa menjawab apa yang aku katakan.


Hatiku serasa ditusuk oleh seribu belati usai mendapati kenyataan luar biasa pahit ini.


Ternyata aku dan Luccane memang tidak ditakdirkan untuk bersama oleh semesta ini dari sudut mana pun.


Sakit sekali. Hati ini hancur berkeping-keping tak lagi berbentuk namun aku tak bisa melakukan apa-apa selain menangis saat ini dan tak ada tempatku berbagi selain Andri.


"Lakukan saja apa yang menurut kamu benar tapi ingatlah untuk tidak menyakiti diri sendiri, oke? Aku bakal selalu support kamu kok," balas Andri setelah sekian lama membiarkan aku menangis di dalam dekapannya.


Bahu kiri Andri pun nampak basah karena terkena tetesan deras air mataku, namun ia nampak tidak mempedulikan itu sama sekali.


Dia terus berusaha membuat aku tenang dan merasa lebih baik dengan lembut serta sabar.


"Sekarang kamu harus tenang dulu. Biar aku yang urus semuanya setelah ini, kamu perlu istirahat mulai sekarang," titah Andri lembut, mengusap puncak kepalaku penuh kasih sayang selayaknya seorang kakak.


Aku hanya bisa mengangguk lemah, pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah ini.


Tapi aku hanya bisa meyakini satu hal bahwa Andri akan melakukan semuanya dengan baik hingga selesai sesuai janjinya.


"Aku akan cari informasi lebih lengkap dari Ibu setelah ini tapi kamu harus janji nggak boleh keluar dari rumah dan makan yang benar selama aku pergi melakukan pekerjaanku," ucap Andri berusaha membujukku.


"Iya. Aku mohon untuk yang terakhir kalinya lakukan saja yang terbaik, Andri."