
Aku terbangun dari tidurku.
Mataku mengedarkan pandangannya, mencoba mencari tahu jam berapa sekarang namun aku mendapati suasana gelap masih menyelimuti diriku.
Jemariku bergerak cepat, meraba-raba nakas guna mencari ponselku dan benar saja aku dapat melihat dari ponsel bahwa sekarang masih pukul satu dini hari.
Napas panjang aku hembuskan, bingung kenapa tidurku kerap terganggu seperti ini belakangan. Apa ini karena Luccane sudah tidak bisa melindungi aku seperti biasanya?
"Maaf sudah mengganggu tidurmu yang nyenyak, Vishabea Lazuardi."
Sebuah suara mengalun tipis namun sangat jelas, tertangkap oleh sepasang telingaku membuat aku berjengit bingung.
Suara siapa itu? Kedengarannya sangat asing, aku belum pernah mendengar suara itu sebelumnya.
"Siapa kau?" tanyaku tegas, melirik tajam ke arah sebuah siluet tubuh laki-laki yang tertutup oleh kegelapan di balik gorden jendela kamarku.
Aku memang terbiasa tidur dalam kamar dengan penerangan dari lampu temaram, sehingga aku tak dapat melihat dengan jelas siapa lawan bicaraku.
Siluet laki-laki itu lantas mendekati aku dengan langkah perlahan namun pasti, hingga akhirnya gorden yang menutupi sosoknya tersingkap sepenuhnya.
Meski dalam cahaya remang-remang aku dapat melihat dengan jelas bahwa sosok laki-laki yang sedang berjalan mendekat kepadaku itu memiliki wajah yang sangat tampan.
Rambutnya pirang dengan potongan rapi yang menawan, sepasang netra berwarna hijau bersorot lembut menyapa diriku seolah meminta semua perhatianku tertuju kepadanya.
Walau lelaki itu memancarkan energi yang sejuk jauh dari kesan jahat, aku tetap tidak tahu siapa dia dan apa yang ia inginkan dariku.
"Mungkin ini agak mengejutkan untuk kamu. Tapi apakah kamu tahu siapa sosok yang dilihat oleh Paman dan Bibimu tempo hari di jalan Asia-Afrika?" tanya sosok itu masih dengan pembawaan tenang seperti sebelumnya membuat aku mengernyitkan dahi bingung.
"Mana mungkin aku tahu karena aku tidak melihatnya. Lagi pula apa maksud dan tujuanmu datang kepadaku?" tukasku cepat.
Lelaki itu menarik seulas senyum, terlihat tipis namun tetap menawan tetapi menyiratkan misteri di baliknya.
"Kamu tidak perlu tahu dengan jelas siapa aku. panggil saja aku Vin. Aku datang kemari untuk memberi tahukan sesuatu yang selama ini kamu cari-cari," lelaki itu masih menyahut dengan santai, mengambil posisi berdiri tepat di depanku.
Aku diam saja, menunggu lelaki itu meneruskan ucapannya meski aku sudah sangat penasaran.
"Laki-laki yang dilihat oleh Paman dan Bibimu waktu itu adalah aku, yang dikirim kemari untuk sebuah misi penting."
"Lalu, apa hubungannya misi penting itu denganku?" tanyaku bingung.
"Erat hubungannya, karena aku harus menyelesaikan misi terkait dengan hubungan yang kamu jalin dengan Luccane. Maka dari itu aku mohon kerjasama darimu, Vishabea Lazuardi," lelaki itu berujar tegas, membuat aku semakin menajamkan tatapan mencoba mencari tahu apa maksud dari perkataannya.
"Kerjasama apa maksudmu?"
Aku meneguk ludah mengingat ini adalah keputusan yang sangat berat untukku.
"Satu-satunya cara agar kamu tidak terkena pengaruh buruk dari Luccane yang sudah kehilangan jati dirinya adalah dengan menutup mata batinmu sepenuhnya," tambah Vin yang semakin membuat aku dilema.
...****************...
Bertemankan keheningan, aku duduk terpaku di atas meja belajarku sambil membaca sebuah buku tua yang aku temukan di dalam kamar Luccane saat sedang beres-beres tadi pagi.
Buku itu sudah nampak usang, menguning dimakan usia namun aku masih dapat membaca dengan jelas tulisan tangan yang tertulis di atas lembar demi lembar buku harian itu.
Ya, tidak lain tidak bukan, buku ini adalah buku harian milik Luccane yang menuliskan berbagai macam hal yang terjadi kepadanya dalam bahasa Belanda. Sesekali, aku menggunakan bantuan penerjemah bahasa dari ponsel untuk mengartikan kata yang tidak aku mengerti.
Tulisan tangan Luccane sangat rapi dan cantik, begitu nyaman untuk dibaca. Namun sialnya aku tetap tidak dapat menemukan nama lengkap pemuda itu meski aku sudah membaca buku itu lebih dari setengah bagiannya.
Informasi yang aku dapatkan dari buku harian ini hanyalah hobinya, hari ulangtahunnya dan beberapa resep masakan khas Belanda serta Nusantara yang ia catat di dalam buku itu.
Kadang, aku tersenyum tipis saat menemukan momen lucu yang dia tuliskan di dalam buku harian. Tak jarang juga aku merasa iba saat membaca cerita sedih yang dialami Luccane semasa hidupnya dari buku itu.
Perlakukan diskriminatif orang-orang terhadap dirinya tak jarang membuat Luccane terluka tak hanya secara psikis namun juga fisik membuatku merasa sedih. Luccane yang malang, dia harus menerima takdir pahit begitu hanya karena terlahir dari seorang wanita pribumi.
"Luccane, Luccane! kau ada dimana sih?" panggilku sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarku, barangkali dapat melihat Luccane datang.
Tidak ada jawaban, membuat bibirku menekuk ke bawah merasa sedih. Ini sudah hampir seminggu sejak pertemuan terakhir kami membuat aku mulai khawatir akan apa yang akan terjadi kepada Luccane.
"Aku harap bisa mencintai seseorang dengan sepenuh dan setulus hatiku saat telah tiba waktunya. Tuhan, aku sudah lelah selalu dijauhi dan diolok-olok seperti ini atas apa yang tidak aku lakukan. Aku akan memperlakukan dia yang aku sayangi dengan baik dan menjaga gadis itu sekuat tenaga. Aku yakin Engkau menggariskan satu takdir yang paling baik dan bahagia untukku," gumamku, membaca satu lembar tulisan Luccane yang sengaja dia tulis menggunakan tinta merah.
Air mataku mengalir, tetes demi tetes mulai membasahi pipiku karena merasa begitu tersentuh sekaligus terluka dalam waktu yang sama.
Lagi-lagi aku teringat pada semua hal manis dan semua perjuangan Luccane selama ini dalam menjaga diriku. Luccane benar-benar menepati janjinya seperti yang ia tuliskan di buku ini, sebuah janji yang sudah puluhan tahun berlalu bahkan saat pemuda itu sudah tak lagi berada di dalam dimensi yang sama.
"Kenapa kita harus bertemu setelah kita tidak lagi mungkin bisa bersama, Luccane?" tanyaku berusaha menumpahkan semua sesak, menahan rindu yang teramat berat kepadanya sosok hantu yang sayangnya terlalu aku cintai.
Masih dengan tangis sesenggukan, aku kembali melanjutkan membaca buku harian itu dengan cara membuka lembar berikutnya.
Meski mataku mengabur karena adanya air mata yang menggenang, aku tetap dapat melihat ada sebuah amplop kecil berwarna biru muda di tengah-tengah coretan buku harian Luccane.
Aku meraihnya, memperhatikan amplop itu dengan seksama mencoba mencari petunjuk kira-kira apa isinya.
"Untuk Vishabea-ku tersayang. Bacalah isinya jika kita sudah tidak bertemu selama lebih dari satu pekan," aku membaca tulisan tangan dengan tinta merah yang tertera di sudut kanan amplop itu.