Luccane

Luccane
Bab 28 : Mencari Alasan



"Ngomong-ngomong kamu kenapa bisa sampai terluka seperti itu sih, nak? Pelipis kamu pecah, perut kamu tertusuk pisau, itu mana mungkin terjadi karena masalah sepele 'kan?" tanya Mama yang kini membuat aku keringat dingin bingung harus mengarang alasan logis seperti apa.


Aku menghela napas lelah. "Ma, Visha trauma untuk bahas hal itu."


"Apa? Trauma?! Berarti itu bahaya banget dong, sayang. Mama jadi makin khawatir."


"Kalau begitu apa kamu mau periksa ke psikiater? Sepertinya kamu memerlukan proses trauma healing, nak," tawar Papa dengan bijak yang buru-buru aku balas dengan gelengan.


"Visha bisa hadapi sendiri kok, Papa. Visha janji semuanya akan baik-baik saja."


"Ya sudah kalau itu memang keputusan kamu, sayang. Mama dan Papa hanya bisa berharap semuanya bisa baik-baik saja," imbuh Mama seraya mengupas buah apel untukku.


Sementara aku sibuk bercakap-cakap dengan Mama dan Papa, Luccane masih setia berdiri di dekat tiang infus yang terhubung denganku sambil memperhatikan interaksi kami dengan seulas senyum tipis.


Aku yakin, perasaan Luccane saat ini tidak baik-baik saja seperti yang ia katakan. Pasti telah terjadi sesuatu namun dia berusaha menyembunyikannya dari aku, tapi apa ya?


Lagi-lagi, pemuda itu penuh akan teka-teki yang sulit untuk dipecahkan.


"Papa jadi kepikiran buat kirim kamu pulang lagi ke Palembang. Terlalu bahaya kalau kamu tinggal di sini sendirian tanpa pengawasan takutnya kejadian yang sama terulang lagi."


Suara berat khas milik Papa menguar, membuat sekujur tubuhku menegang takut.


Oh tidak! Ini yang selama ini aku takutkan, sungguh, aku tidak mau kalau harus kembali pulang dan berkuliah di Palembang!


Luccane memandangku cemas, sama cemasnya dengan aku. Ternyata ini terjadi jauh lebih cepat ketimbang prediksiku sebelumnya, padahal tadi aku sempat berpikir untuk membahas masalah ini nanti saja sepulangnya dari rumah sakit.


Ayo dong, Vishabea! Cepat pikirkan alasan yang bagus buat bisa kabur dari situasi membahayakan ini! Demi apa pun aku tidak mau pulang ke Palembang sebelum menuntaskan pendidikanku di Bandung ini...


"Visha akan pindah dari rumah itu, Papa... tapi tolong jangan bawa Visha pulang sebelum kuliah yang menjadi tujuan utama dalam hidup Visha itu belum rampung, Pa, Ma..." ucapku lesu, memohon belas kasih dari kedua orang tuaku.


"Memangnya setelah ini kamu mau tinggal di mana, nak? Sudah punya tujuan yang pasti?" tantang Papa, membuat keberanianku sedikit menciut.


Tapi bukan Vishabea namanya kalau mau menyerah begitu saja sebelum berusaha. Aku diam sejenak, memikirkan nama-nama teman dekatku yang sekiranya bisa aku jadikan tameng untuk meloloskan diri dari paksaan pulang ini.


"Sudah, Papa. Aku 'kan akan tinggal bersama dengan Carly dalam satu kost," jawabku percaya diri lengkap dengan seulas senyuman.


Mana aku mau meninggalkan rumah yang aku tempati sekarang. Toh, aku sudah membayarnya sampai masa kuliahku berakhir.


Mang Ujang dan keluarga juga harus aku ajak berkompromi setelah ini agar aku bisa mengamankan posisiku di sini.


"Kenapa tidak tinggal di rumah Mang Ujang aja sih, sayang? Toh, Mang Ujang nggak punya anak perempuan," Mama mengemukakan pendapatnya, merasa khawatir dengan pilihanku.


Luccane memainkan ekspresi wajahnya membentuk air muka yang lucu, berusaha memberikan aku semangat agar bisa mendapatkan alasan yang tepat untuk membuat Mama dan Papa yakin untuk melepaskan aku terus belajar di Bandung.


Aku menggeleng sekali lagi. "bukan pilihan yang rasional, Ma. yang ada Visha bakalan bikin Mang Ujang sama Bibi repot."


Papa mengusap jari telunjuknya di atas dagu, memandang lurus kepadaku.


"Oke kalau kamu tetap kekeuh dengan pendirianmu. Tapi Papa punya satu syarat kalau kamu memang mau terus kuliah di Bandung sampai selesai."


"Syarat apa itu, Pa?"


"Karena kamu yang memutuskan sendiri untuk kuliah di sini, maka kamu harus mendapatkan nilai yang bagus di semua mata kuliah utama," sekali lagi Papa memberikan aku tantangan.


Meski sempat terbesit sedikit keraguan, akhirnya aku tetap mengangguk dengan penuh keyakinan.


"Baiklah, Visha terima tantangan dari Papa mulai semester depan."


...****************...


Hari sudah berganti malam sekarang.


Mama dan Papa sedang beristirahat di rumah Mang Ujang, berhubung besok Andri libur sekolah maka ia yang datang untuk menjaga aku malam ini di rumah sakit.


Sejak Andri datang sebelum adzan maghrib berkumandang tadi, aku menceritakan semua yang terjadi tadi siang kepadanya dengan perlahan agar ia tidak salah kaprah.


"Apa?! Kamu nggak bercanda, 'kan?!" Andri berseru kaget mendengar penjelasan panjang lebar dariku.


Cepat-cepat pemuda itu menutup mulutnya yang kini menganga lebar karena betul-betul terkejut.


Reaksinya jauh berbeda dari ekspektasi yang aku pikirkan, aku juga bahkan sampai tersentak kecil karena suaranya yang cukup keras itu.


"Huh, santai aja kali! Aku juga kaget tahu!" seruku penuh penekanan, sebal akan sikap Andri barusan.


"Aku tidak punya pilihan lain selain bohong sama Mama dan Papa begini, Andri. Kamu mau 'kan bantu aku sedikit buat yakinkan Papa dan Mama? Kalau aku pulang, hancur sudah semua cita-cita yang sejak dulu aku impikan," kataku penuh harap, menatap Andri juga dengan penuh pengharapan.


Tidak ada orang lain yang bisa aku andalkan selain Andri untuk saat ini.


Carly mana mungkin menemui Mama dan Papa sekarang mengingat jadwal kuliah sedang padat-padatnya dan lagi jarak antara rumah sakit ini dan kampus memang tidaklah dekat.


Jadi secara teknis, memang hanya Andri yang bisa membantu aku untuk meyakinkan kedua orang tuaku terlebih dia adalah sepupuku sendiri.


Orang tuaku jelas akan lebih mempercayai Andri dari pada semua teman-temanku, bukan begitu?


"Selain dari jurusan kuliah yang kamu pilih berdasarkan minat dan passion itu, aku yakin ada satu lagi alasan kuat yang membuat kamu rela melakukan hal bodoh ini," Andri berkata sambil melihat ke arah Luccane dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kamu juga bisa lihat dia?" tanyaku yang langsung dibalas dengan anggukan oleh Andri.


"Kalau untuk alasan pertama aku akan dengan senang hati membantu kamu, tapi untuk alasan kedua aku tidak akan mau melakukannya," ujar Andri dingin kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan aku dan Luccane di dalam ruang rawat.


Kata-kataku yang sudah berada di ujung lidah batal aku ucapkan. Dalam diam, aku hanya memandangi punggung Andri yang sudah menghilang ditelan oleh pintu kamar rawat yang dilapisi dengan kaca buram itu.


Luccane juga hanya diam, menunduk dalam-dalam seolah memang memiliki kesalahan sampai bisa membuat Andri bersikap demikian.


Aku semakin bingung dengan apa yang terjadi kini. Apa yang dilakukan oleh Luccane sampai Andri memandangnya dengan sorot dingin seperti itu?


Apa yang terjadi selama Luccane tidak kemari?