
Sang maha luas cakrawala tak bertepi di kota Bandung malam ini nampak memancarkan atmosfer yang berbeda kali ini.
Begitu banyak bintang yang menghiasi langit malam ini, selaras dengan sang raja malam yang bersinar terang dengan wujud penuhnya.
Aku dan Luccane melangkah bersama bertemankan candaan manis yang dilontarkan oleh Luccane. Tangan kami saling tertaut seolah enggan untuk dipisahkan, menikmati setiap momen yang dapat kami nikmati bersama yang mungkin tak akan pernah lagi bisa kami rasakan.
Waktu yang bergulir pun terasa lambat, seolah mengizinkan aku dan Luccane untuk saling bertukar cinta ditengah kian menyempitnya kemungkinan kami untuk dapat bertemu lagi seperti ini.
"Aku tidak menyangka akan menjadi kekasih dari seorang manusia," tutur Luccane diselingi tawa renyah, mengingat kembali momen saat kami pertama kali bertemu malam itu.
"Bagaimana bisa aku jatuh cinta kepada seorang hantu? Kalau aku pikir-pikir lagi semuanya terasa sangat tidak masuk akal," timpalku, merasa geli sendiri.
Tapi ya mau bagaimana lagi, aku dan Luccane memang saling mencintai walau kami tahu betapa besar dan jauh perbedaan yang harus kami hadapi.
Perbedaan dimensi, perbedaan ruang waktu bahkan sampai perbedaan keyakinan semuanya harus kami hadapi meski sebesar apa pun kami berdua saling mencintai.
"Maafkan aku, karena kamu mencintai aku hidupmu jadi semakin sulit seperti ini," sesal Luccane dengan air mata yang sudah nampak menggenangi kedua pelupuk mata indah miliknya.
Banyak sekali hal yang harus aku lalui seiring dengan perjalanan cinta yang aku rajut bersama Luccane namun aku menerima semuanya dengan lapang dada. Cinta yang harus kami jalani memang berat dan menyakitkan, namun luka terasa tak berarti setelah aku dapat melihat sepasang netra indah penuh cinta milik Luccane yang hanya ia tunjukkan kepadaku.
"Mencintaimu adalah pilihan hatiku sendiri, kau tidak bersalah atas hal itu jadi berhentilah meminta maaf dan ayo kita habiskan malam ini dengan mesra," pungkasku berusaha untuk tidak ikut menangis.
Luccane buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangan. "kamu benar. setidaknya mari kita menikmati malam terakhir ini."
Jemari tangan Luccane kembali menggenggam erat tanganku, membawa diriku kembali berjalan menyusuri jalan Braga menikmati setiap detik yang dapat kami habiskan bersama.
Jalan ini sangat indah, ingin rasanya aku menetap dalam dimensi waktu ini namun tentunya itu tak dapat aku lakukan.
Luccane menggenggam erat tanganku, menuntun jalan sambil bercerita mengenang sedikit masa lalu yang telah ia lalui di salah satu kota pusat pemerintahan Hindia-Belanda kala itu.
Kalau diperhatikan dengan seksama, kota Bandung kala itu memang sangat indah dan tertata layaknya sebuah kota di benua Eropa.
Langkah kakiku dan Luccane lantas terhenti di depan bangunan megah hotel Bidakara Grand Savoy Homann, salah satu bangunan bersejarah di kota Bandung yang masih berdiri kokoh hingga masa kini. Semua bangunan yang ada di sepanjang jalan ini sungguh berhasil membuatku terpukau mengingat aku sendiri memang pecinta bangunan bergaya klasik sejak kecil.
"Maaf aku tidak bisa menikah denganmu, Vishabea. Tapi aku tak akan pernah mengkhianati cinta tulus yang sudah kamu percayakan kepadaku. Sampai bumi ini berhenti berputar, matahari tak lagi bersinar, bahkan sampai waktu berhenti bergulir pun aku akan tetap selalu mencintaimu," ucap Luccane penuh kesungguhan sambil menggamit kedua tanganku.
"Kamu boleh mengambil keputusan yang sudah kamu pikirkan sejak lama itu. Ambillah keputusan yang terbaik demi hidupmu sendiri, jangan pikirkan aku," imbuhnya dengan sepasang obsidian biru jernih miliknya yang terpusat kepadaku.
Tanpa pikir panjang aku langsung menghambur ke dalam pelukan Luccane, berbarengan dengan hujan deras yang tiba-tiba turun.
Dalam pelukan itu, aku berusaha meyakinkan hatiku bahwa semuanya akan baik-baik saja meski aku harus tetap bertahan seorang diri tanpa Luccane, meratapi kisah cinta menyedihkan ini.
Hatiku serasa diremas-remas hingga terkoyak dan berdarah, sakit sekali setelah harus menerima kenyataan pahit bahwa aku akan berpisah seperti ini dengan Luccane.
Namun aku tak memiliki pilihan lain selain harus menerima semuanya meski hati ini merasa tak rela.
"Ya, Luccane. Aku akan berusaha untuk tetap menjalani hidupku dengan sebagaimana mestinya. Kau tak perlu khawatir, sayangku."
Kalung berlian biru yang menghiasi leher jenjangku mulai bersinar, membuat Luccane tersenyum lembut penuh makna.
"Aku lega mendengarnya. Setidaknya dengan begini aku bisa pergi dengan tenang," balas Luccane sambil menangkup wajahku.
Aku memejamkan mata, seiring dengan gerakan Luccane yang mulai menghapus jarak di antara kami berdua. Dadaku rasanya berdebar luar biasa, darahku berdesir hebat membuat lututku turut terasa lemas seakan tak mampu menopang berat tubuhku.
Tangan Luccane dengan sigap menahan tubuhku agar tidak kehilangan keseimbangan, menarik tubuhku lebih dekat hingga akhirnya ia berhasil mendaratkan kecupan manis penuh cinta yang begitu memabukkan. Kali ini, Luccane melakukannya dengan sangat baik hingga membuatku dapat merasakan betapa banyak cinta yang ia salurkan dari setiap sentuhan yang ia berikan padaku.
Bangunan-bangunan tua yang menemani kami merajut kisah malam ini menjadi saksi bisu betapa tulus dan dalam cinta yang kami miliki masing-masing. Namun, kami tetaplah makhluk Tuhan yang tak berdaya untuk melawan sang penguasa semesta sebesar apa pun rasa cinta yang kami miliki.
Cinta antara aku dan Luccane tak akan pernah bisa bersatu, sehebat apa pun kami berjuang menentang semua perbedaan yang menghalangi.
Jurang perbedaan yang begitu dalam dan luas tak mampu kami lalui membuat aku mau pun Luccane harus memilih pilihan paling sulit ini.
Meski air mata bercucuran membasahi kedua pipiku dan Luccane, kami tetap berusaha saling menghantarkan cinta dalam ciuman terakhir di ujung kisah cinta ini.
Ya. Berpisah.
Kami sudah memutuskan untuk melakukan pilihan paling sulit sekaligus menyakitkan ini demi kelangsungan hidupku mengingat bahwa Luccane tak akan mampu lagi melindungi aku seperti hari-hari sebelumnya.
"Sudah waktunya aku kembali. Aku akan mengantar kamu pulang lebih dulu, ingat, lanjutkan saja hidupmu seolah-olah kita tidak pernah bertemu," kata Luccane lirih setelah melepaskan tautan kami.
"Baiklah kalau begitu ayo pulang," sahutku sambil berusaha menghapus air mata.
Luccane nampak berpikir sejenak setelah mengamati setiap jengkal wajahku dari dekat.
"Atau kamu mau aku membuatmu melupakan semuanya dengan kekuatan sihir? Sepertinya itu akan sangat bagus untukmu agar tidak selalu memikirkan aku."
Cepat-cepat aku menggelengkan kepala setelah mendengar tawaran dari Luccane.
"Tidak mau, Luccane. Aku tidak akan melupakanmu selamanya. Walau kita tidak bisa bersatu itu bukan berarti kita tidak berhak untuk saling mencintai, bukan?"