Luccane

Luccane
Bab 59 : Membiasakan Diri



Hari-hari yang harus aku lalui menuju semester baru masih panjang.


Aku masih harus menikmati hari liburan yang masih tersisa dua bulan lagi itu mau tidak mau, mengesampingkan keinginanku untuk kembali dibuat sibuk dengan segala macam kegiatan perkuliahan di kampus.


"Yakin cuma mau bawa ini saja, Neng Visha?" tanya Mang Ujang sekali lagi, meninjau barang bawaanku yang sangat sedikit --hanya berupa sebuah tas selempang berukuran sedang, pun isinya hanya dompet serta beberapa barang penting.


Aku mengangguk yakin. "iya, Mang. ayo kita langsung berangkat saja nanti terlambat sampai di bandara."


Ya. Hari ini aku memutuskan untuk pulang ke Palembang guna menjernihkan pikiranku sesaat, sekaligus berusaha untuk membiasakan diri setelah mata batinku telah tertutup sepenuhnya.


Kini aku merasa benar-benar hampa, aku bagaikan kehilangan separuh dari jati diri mengingat aku memang sudah akrab dengan penampakan makhluk astral sejak masih kecil.


Dan lagi apa yang telah aku lalui belakangan ini memang sungguh tidak dapat aku cerna mentah-mentah dengan akal sehat.


Setelah Mang Ujang setuju dengan ucapanku, aku lantas mendekat ke rumah bermaksud untuk berpamitan dengan Bibi dan Andri yang sejak tadi memperhatikan kami dari serambi rumah.


"Bibi, Visha pulang dulu ya. Nanti Visha bakalan sering telepon kok," ucapku sambil salim kepada Bibi.


"Iya hati-hati ya sayang. Neng harus istirahat yang banyak jangan mikirin yang aneh-aneh lagi," peringat Bibi seraya memeluk aku sekilas.


"Siap, Bibi."


Andri yang tengah berdiri di sebelah Bibi hanya tersenyum, menyodorkan kantung plastik berlogo khas mini market kepadaku kemudian.


"Camilan, kamu harus makan yang banyak ya," kata Andri dibarengi seulas senyum lebar.


Aku langsung menghambur ke dalam pelukannya, merasa sangat berterima kasih atas semua hal yang sudah Andri lakukan untukku.


Aku tak tahu akan jadi seperti apa diriku ini jika tanpa bantuan dari Andri dan keluarganya.


"Terima kasih banyak ya, Andri," aku berujar lembut, berusaha menyembunyikan tangisku yang sudah lolos tanpa permisi.


Tak kusangka, keluarga yang awalnya aku hindari ini malah menjadi tempat perlindungan terakhir yang paling aman serta nyaman bagiku.


"Iya, iya. Ya sudah kamu nggak usah nangis buruan nanti malah ketinggalan pesawat," balas Andri sambil mengusap air mataku menggunakan sapu tangan berwarna biru muda dari dalam saku kemejanya.


Aku mengangguk yakin, berupaya untuk tetap tegar menghadapi semuanya dengan seulas senyum terbaik yang bisa aku tampilkan.


"Aku akan segera kembali dan menyelesaikan pendidikanku dengan sebaik-baiknya," sahutku seraya masuk ke dalam mobil Mang Ujang.


Langit fajar yang masih belum berhiaskan sinar mentari itu masih nampak muram, sama muramnya dengan perasaanku. Tidak hanya muram, aku merasa hatiku kini sangat hancur, patah karena kenyataan pahit yang tak dapat aku hindari.


Mobil yang dikendarai oleh Mang Ujang melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang lengang kian membuat pikiranku berkecamuk.


Seolah mengerti apa yang sedang aku rasakan, Mang Ujang sama sekali tidak pernah mau membuka pembicaraan mengenai apa yang aku dan Andri temukan kala itu.


"Semua yang terjadi kepada kita sudah menjadi ketentuan dari Tuhan, Neng Visha. Sekali pun itu sangat berat dan menyakitkan kita tidak punya pilihan lain selain menerima dengan lapang dada."


Tiba-tiba Mang Ujang yang sejak tadi diam mengatakan hal itu, cukup membuatku tersentak kecil sedikit kaget tak menyangka akan mendengar kata-kata itu dari Mang Ujang.


"Iya, Mang. Visha berusaha ikhlas menerima semuanya walau pun rasanya berat sekali," aku menyahut pelan, memandang nanar ke arah jalanan yang tersaji dari kaca depan mobil.


"Tapi satu yang pasti, semua yang telah terjadi membuat Visha jadi belajar banyak. Terlebih mengenai ketulusan cinta serta mahalnya nilai dari sebuah kejujuran."


Langit biru berhiaskan awan kelabu menyambut kepulanganku di tanah kelahiranku kali ini.


Nampak Mama dan Papa menyambut kedatanganku di pintu bandara, membuat senyumku terbit.


Terima kasih, Tuhan.


Aku bersyukur masih bisa bertemu lagi dengan mereka, orang-orang yang sangat aku cintai.


Senyuman Mama nampak merekah lebar, sedikit berbeda dengan Papa yang masih setia memasang tampang tenang khas miliknya.


"Mama, Papa!" aku berseru bahagia, menyambut rentangan tangan Mama dan Papa.


Kami bertiga berpelukan, berupaya melepaskan sisa rindu yang selama ini tertahan di dalam lubuk hati.


Baru kali ini aku merasa bahwa kehadiran Mama dan Papa adalah sebuah anugerah yang selama ini tak pernah aku syukuri.


"Anakku akhirnya pulang juga. Mama selama ini kangen dan khawatir banget tahu sama kamu," kata Mama seraya menciumi kedua belah pipiku penuh kasih sayang.


Mama, seperti biasa masih begitu mudah menangis karena perasaannya yang memang sensitif.


Sementara Papa tidak berkata apa-apa, beliau hanya sibuk menggenggam tanganku dengan begitu erat seakan tidak mau melepaskan aku.


"Aku pulangnya lama kok, Ma, Pa. Liburan masih dua bulan lagi jadi Mama sama Papa bisa puas habiskan banyak waktu bareng sama aku," aku berucap sambil mengusap lembut punggung Mama yang masih sesenggukan.


"Kuliah di sini saja ya, Nak?" pinta Papa tiba-tiba, dengan pandangan memohon membuat hatiku mencelos.


Aku tak bisa membayangkan betapa khawatirnya Mama dan Papa selama ini atas semua hal yang sudah aku lalui di tanah rantau.


Namun tekadku sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat lagi, aku akan tetap melanjutkan pendidikan di Bandung sampai selesai meski aku tahu itu bukanlah hal yang mudah.


"Papa, aku sudah nggak bisa mundur lagi. keputusanku sudah bulat aku akan tetap lanjutkan kuliah di Bandung sampai selesai. Aku janji aku nggak akan kenapa-kenapa lagi 'kan ada Bibi, Mang Ujang dan Andri yang selalu jagain aku," aku berkata lembut berusaha membujuk Papa.


"Iya, Pa. Kasihan Visha kalau harus mengulang lagi dan belajar di tempat yang tidak dia sukai," imbuh Mama mencoba membelaku.


Papa masih belum melepaskan pegangan tangannya, berusaha meyakinkan aku bahwa keputusan yang aku ambil bukanlah langkah yang tepat dan rasional setelah apa yang sudah terjadi.


"Kami mana mungkin sanggup kalau sampai kehilangan kamu, Vishabea Lazuardi," tambah Papa dengan mata yang menggulirkan rasa khawatir serta cemas yang begitu kentara.


Seumur hidup, baru kali ini aku melihat Papa begitu mencemaskan diriku. Beliau selama ini hanya menampakkan sisi dingin serta tegasnya sebagai seorang Ayah membuat aku merasa sangat segan kepadanya.


"Aku janji itu nggak akan terjadi, Papa," balasku sambil meletakkan tangan Papa di pipiku.


Sejak kecil aku memang suka melakukan itu setelah Papa memarahiku, biasanya setelah itu amarah Papa akan cepat reda.


"Aku pergi ke Bandung untuk meraih cita-cita, jadi aku hanya akan pulang setelah aku berhasil. Papa dan Mama tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak penting yakin saja kalau aku akan menjadi anak yang bisa kalian banggakan," aku berujar optimis meski dengan suara bergetar menahan tangis.


Luccane, sungguh ini semua terasa sangat berat dan menyakitkan.


Apakah kau juga merasakan hal yang sama?