
"Neng, bisa ngobrol sebentar?" panggil seorang pria paruh baya kepadaku, membuat aku dan Carly kontan saling bertukar pandangan bingung.
"Ada apa ya, Pak?" aku bertanya bingung kepada pria paruh baya yang mengenakan pakaian serba putih dan sorban di kepalanya itu.
"Bapak lihat aura kamu gelap sekali, Neng. Kamu pernah berhubungan dengan 'sosok' ya?"
Mendengar pertanyaan itu, aku kontan terhenyak. Saat itu juga aku yakin kalau bapak itu bukanlah sembarang orang karena ia bahkan bisa menyadari aura gelap yang terpancar dariku.
"Hah? Benar-benar gelap ya, Pak?" tanyaku agak sangsi sembari memandang si bapak.
"Kalau hubungan dengan 'sosok' itu mungkin karena saya memiliki kemampuan untuk bisa melihat 'mereka', Pak," tambahku.
Pria paruh baya itu tersenyum penuh arti, memandangku lurus.
"Padahal, Neng tahu betul 'kan dengan apa yang sedang bapak bicarakan?"
Aku meneguk ludah, jangan-jangan bapak ini tahu kalau aku memang menjalin hubungan dengan Luccane yang memang merupakan bagian dari 'mereka' yang tidak kasat mata?
"Tapi sebelum itu perkenalkan, nama bapak Sajad, salah satu imam di masjid ini."
Setelah saling memperkenalkan diri, Pak Sajad dengan lembut kembali mempertanyakan bagaimana aku bisa mendapatkan aura yang sangat gelap itu.
"Jadi begini, Pak. Saya kenal dengan 'sosok' laki-laki Sinyo yang ternyata merupakan pemilik asli dari rumah kontrakan tua yang selama ini saya tinggali. Dia selalu memperlakukan saya dengan penuh cinta, tidak sekali pun dia melakukan sesuatu yang membahayakan diri saya," terangku.
Pak Sajad menghela. "justru itu masalahnya, neng. apakah selain dengan 'dia' kamu pernah menjalin hubungan dekat dengan laki-laki lain?"
Aku menggeleng pelan mendengar pertanyaan dari Pak Sajad sebagai jawaban.
Selama ini setelah mengenal Luccane, aku bahkan tidak memiliki perasaan tertarik kepada laki-laki lain di sekitarku. Sedikit pun tak pernah terbesit perasaan tertarik di benakku saat melihat laki-laki lain selain Luccane.
Yang ada, aku malah semakin mendambakan Luccane saat ada laki-laki lain yang mencoba menarik perhatianku.
Kak Eliezer yang bahkan tadinya menjadi sosok yang paling getol berusaha menarik atensiku sejak pertama aku masuk kuliah bahkan kini kudengar sudah berpacaran dengan gadis lain dari Fakultas Hukum.
"Kamu bisa berhubungan dengan 'dia' karena kamu dapat melihat dan berkomunikasi dengan mereka. Bapak lihat 'dia' sedang berusaha membuat kamu tidak menjalin hubungan dengan laki-laki lain dengan cara menimbulkan aura gelap ini. Jika dibiarkan terus, kamu bisa terjerat bahaya," terang Pak Sajad yang jelas membuat aku mau pun Carly kaget mendengarnya.
Namun, dengan penuh pengertian, Carly tidak menanyakan lebih jauh mengenai pernyataan dari Pak Sajad. Aku akan menjelaskan padanya nanti dengan lebih perlahan.
"Jadi saya harus bagaimana, Pak?" aku bertanya dengan cemas, kian mengkhawatirkan diriku sendiri.
"Kalau kamu mau, kita bisa menghilangkan aura gelap itu dengan cara ruqyah secepatnya," jawab Pak Sajad.
"Menurut lo gimana, Car?" kini aku bertanya kepadamu Carly, meminta pendapat darinya.
"Lebih baik lo di ruqyah aja, Sha. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa lagi," ucap Carly sambil menepuk pundakku samar.
Aku mengangguk penuh peneguhan, berusaha menyingkirkan semua keraguan yang berebut masuk ke dalam hatiku.
Namun, aku harus tegas dan berani mengambil keputusan terbaik untuk hidupku sendiri.
"Baiklah kalau begitu, Pak. Saya mau di ruqyah hari ini juga."
Pak Sajad lantas mengajak aku dan Carly kembali masuk ke dalam masjid untuk melakukan ruqyah.
Aku memakai mukena yang diberikan oleh Carly, setelah itu Pak Sajad mulai melantunkan ayat-ayat ruqyah dari kitab suci Al-Qur'an dengan lantang.
Sekujur tubuhku terasa sakit sekali bagaikan tertusuk ribuan belati, hingga air mataku keluar dengan begitu derasnya. Tetapi aku tetap bertahan, ini semua demi diriku sendiri.
Keringat dingin pun turut membasahi tubuhku, pertanda ada begitu banyak energi yang aku keluarkan dalam proses ruqyah ini.
Tiba-tiba, kepalaku terasa sangat sakit dan berat seperti tertimpa sebuah batu gunung tepat di atas ubun-ubun kepalaku.
Namun, belum sempat aku bertanya apa yang terjadi, aku kehilangan kesadaranku.
...****************...
"Lo nggak apa-apa?" pertanyaan bernada khawatir yang dilayangkan oleh Carly membuka aku langsung bersyukur bahwa aku masih hidup saat ini.
"Gue nggak apa-apa, tapi badan gue rasanya sakit semua. Ini gimana, Carly?" kataku yang berusaha memaksakan diri untuk berbicara meski sekujur tubuhku ini terasa lemas luar biasa.
Dari arah luar masjid, Pak Sajad datang dengan sebotol air mineral di tangannya.
"Diminum sampai setengah ya, Neng," titahnya kemudian, mengulurkan air mineral itu padaku.
Tanpa banyak bertanya, aku langsung saja menenggak air mineral itu dibantu oleh Carly.
Masjid yang tadinya tentram, tak banyak orang di dalamnya kini sudah ramai oleh orang-orang yang sepertinya tadi berdatangan saat aku tak sadarkan diri.
Setelah yakin aku sudah meminum setengah air mineral botol pemberian Pak Sajad, aku berhenti meminum air itu.
"Sisanya, kamu minum di tengah malam sampai habis ya, Neng. Jangan sampai lupa," ucap Pak Sajad mengingatkan.
"Kenapa harus diminum tengah malam, Pak?" tanyaku masih dengan suara lemah.
"Kekuatan 'mereka' akan berada pada puncaknya tepat saat tengah malam sampai pukul tiga dini hari. Dengan meminum airnya di tengah malam, kamu dapat melemahkan kekuatan 'mereka' yang sedang berusaha mempengaruhi kamu," jelas Pak Sajad dengan rinci.
Setelah mendengar penjelasan Pak Sajad, aku jadi teringat akan sesuatu dan ingin buru-buru langsung menanyakannya kepada Pak Sajad.
"Apakah Bapak bisa menutup mata batin saya?"
Pak Sajad memandangku sangsi.
"Memangnya neng yakin mau menutup mata batinnya? bukankah ada 'seseorang' yang sampai detik ini masih kamu rindukan?"
Tepat sekali.
Pertanyaan dari Pak Sajad seolah memberikan tamparan keras untukku.
Aku masih memikirkan Luccane, masih merindukan Luccane juga masih menginginkan Luccane.
Tidak akan mudah bagiku untuk melupakan Luccane yang sudah terlanjur aku cintai sejak lama, terlebih selama ini dialah yang selalu menemani dan mengisi hari-hariku.
Luccane yang baik, Luccane yang selalu berusaha melindungi aku, mengajarkan aku mengerjakan tugas dan selalu setia memberikan dukungan terbaik untukmu selama ini tanpa ada seorang pun yang tahu.
Bayang-bayang Luccane kembali masuk ke dalam lubuk hatiku yang paling dalam, menyadarkan aku betapa aku mencintai lelaki yang berasal dari dimensi yang berbeda denganku itu.
Cinta ini begitu manis dan memabukkan namun juga begitu menyakitkan, mengapa aku harus jatuh cinta sedalam ini kepadanya, makhluk yang bahkan tak bisa menjanjikan hubungan serius denganku?
Perbedaan ini terlampau jauh dan menyakitkan bagiku mau pun Luccane, membuat tangisku tanpa sadar lantas pecah dengan sendirinya, menyadari sekali lagi bahwa aku dan Luccane tidak akan pernah bisa bersatu selamanya.
Aku menangis tersedu-sedu, merasakan perih luar biasa yang menyayat hati ini. Carly berusaha menenangkan aku, sementara Pak Sajad hanya memandangku iba tanpa mengatakan apa pun.
"Yakinkan hatimu terlebih dahulu, Neng. Nanti kalau sudah yakin kamu dengan sendirinya akan datang lagi ke sini untuk menemui bapak."