
"Ya. aku mengerti sekarang, Luccane. Kuharap Vishabea pulih secepatnya sebelum waktu terakhirmu tiba," Meneer Kerkoof berkata dengan seulas senyum, berusaha sedikit menghibur Luccane.
Luccane tersenyum sendu, mengangguk kemudian.
Setidaknya sekarang dia sudah melakukan yang seharusnya untuk lebih melindungi Vishabea sang terkasih.
Sepasang obsidian biru milik Luccane yang menawan mengerling kemudian, mengalihkan atensinya ke arah bangunan-bangunan tua terbengkalai yang masih nampak berdiri dengan kokoh itu.
Kompleks perumahan tempat mereka berada memang merupakan lokasi pemukiman orang-orang Belanda pada masanya.
Bangunan tua peninggalan zaman kolonial Belanda masih berdiri meski sama sekali tak tersentuh dengan perawatan, menampilkan ciri khas bangunan pada masa itu.
"Tentu saja, Han. Aku tahu cepat atau lambat kita akan pergi dari dunia ini setelah berpuluh tahun berlalu begitu saja tanpa ada tempat pulang untuk kita."
Menjadi hantu bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh kedua hantu berparas tampan itu.
Sejujurnya mereka juga ingin kembali pulang ke tempat yang seharusnya namun Tuhan masih belum memberikan waktu yang tepat.
"Kalau begitu, pergilah ke rumah sakit sepertinya operasi Vishabea sudah selesai dilakukan. Secepatnya temuilah dia," hantu yang lebih tua memberikan masukannya, berharap meski kisah cinta antara Luccane dan Vishabea akan berakhir pada waktunya mereka akan tetap memiliki momentum perpisahan yang terbaik.
Luccane mengangguk patuh, kemudian menghilang sepersekian detik berikutnya menuju rumah sakit tempat Vishabea di rawat.
Dia sudah sangat merindukan kekasihnya itu, melebihi ia merindukan kehidupannya yang telah berlalu di masa silam.
...****************...
Malam tanpa terasa kini sudah kembali datang, membungkus Vishabea bulat-bulat di dalam kesunyian. Gadis cantik itu sedang membuka-buka ponselnya, membalas pesan singkat yang dikirimkan oleh beberapa temannya.
Tiba-tiba saat Vishabea sedang asyik-asyiknya bertukar pesan dengan para sahabat, dia dikagetkan dengan wangi khas yang amat familiar sekaligus amat ia rindukan itu.
"Luccane?" Vishabea yang baru siuman satu jam yang lalu itu kini dibuat kaget dengan kehadiran sosok Luccane di dalam ruang rawatnya.
Kedua orang tua sang gadis sedang pergi makan di kantin rumah sakit membuat Luccane berusaha memanfaatkan waktu yang ada sebaik mungkin.
"Iya. Aku datang kemari setelah membereskan masalah yang sebaiknya sudah lama aku selesaikan, Visha," Luccane berujar seraya berdiri di sisi kiri Vishabea, tepat di sebelah tiang infus gadis itu.
"Apa maksudmu?"
"Jolanda. Aku sudah berhasil melenyapkan dia dan sekarang kamu tidak akan mendapatkan gangguan dari makhluk astral mana pun lagi setelah ini," terang sang pemuda.
Vishabea merasa aneh mendengar Luccane menjelaskan bagaimana situasi saat ini yang seharusnya menjadi saat yang melegakan serta menyenangkan bagi mereka berdua.
Bagaimana bisa dalam kondisi menguntungkan seperti itu Luccane menyembunyikan sinar mata yang sangat jauh berbeda dari kata bahagia dengan seulas senyum? Vishabea yakin, ada sesuatu yang tidak beres dibalik keberhasilan Luccane ini namun ia tak mau buru-buru menarik kesimpulan sendiri.
"Aku sangat lega mendengarnya, Luccane. Terima kasih sudah melakukan banyak hal baik untukku," Vishabea berujar dengan suaranya yang masih sangat lemah.
"Bagaimana dengan operasimu?"
"Maaf sudah membuat kamu sampai harus terluka seperti ini, Visha... Sungguh aku tidak mau lagi membuatmu terluka seperti ini," sesal Luccane dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Biar bagaimana pun ini semua bukanlah salahmu, Luccane. Sekarang kau hanya perlu berdoa semoga orang tuaku tetap mengizinkan aku untuk terus kuliah di sini setelah apa yang terjadi."
Sepertinya orang tua Vishabea tak akan lagi mengizinkan anak mereka itu untuk melanjutkan pendidikannya di Bandung mengingat apa yang terjadi pada Vishabea bukanlah hal kecil terlebih jika terlambat sedikit saja nyawa gadis itu bisa benar-benar menghilang.
"Apa kamu sudah membahasnya dengan Mama dan Papamu?"
Pertanyaan Luccane dibalas dengan gelengan lemah oleh Vishabea.
Gadis itu meringis. "belum, Luccane. sepertinya aku butuh waktu untuk membahasnya dengan Mama dan Papa bisa gawat kalau aku langsung membahasnya setelah aku baru membuka mata."
"Aku harap kamu tetap bisa melanjutkan kuliah di sini, Sayang. Aku akan terus berdoa agar izin dari orang tuamu itu tidak akan berubah," hibur Luccane berusaha tetap tegar di depan sang terkasih.
Sungguh, Luccane tak mampu mengatakan yang sebenarnya mengenai bagaimana cara ia melenyapkan Jolanda beberapa saat yang lalu. Terlalu menyakitkan buatnya untuk mengatakan bahwa mereka tak lama lagi akan berpisah meski pun Luccane enggan.
"Aku juga berharap seperti itu, Luccane."
"Visha! Kamu ngomong sama siapa, nak?" pertanyaan dari sang Mama secara tiba-tiba itu membuat Vishabea dan Luccane kaget.
Sepasang suami istri itu lantas masuk ke dalam ruang rawat Vishabea dengan sang Papa yang menenteng sebuah kantong plastik sedang berwarna putih.
"Ah, Mama sama Papa udah makannya? Itu, tadi Visha telepon sama temen," dalih sang gadis cepat, melirik ke arah Luccane yang masih setia berdiri di samping tiang infusnya.
Vishabea sejujurnya juga bingung bagaimana bisa kedua orang tuanya itu mendapatkan anak yang memiliki kepekaan terhadap hal-hal tak kasat mata seperti dirinya meski keduanya sama sekali tak memilikinya.
Di dalam keluarga inti, hanya Vishabea yang mampu melihat keberadaan makhluk-makhluk yang tak kasat mata sementara anggota keluarganya yang lain tak bisa. Namun sejak kecil, Vishabea memutuskan untuk menutup rapat-rapat keahliannya itu di depan semua orang termasuk Mama dan Papa.
Hanya Andri sang sepupu yang bernasib sama yang mengetahui kelebihan Vishabea yang satu itu. Berbeda dengan Andri yang memiliki teman sesama indigo di kampusnya, Vishabea sama sekali tidak memiliki teman yang senasib.
"Oh gitu, Papa kira kamu lagi ngobrol sama hantu," canda sang Papa sambil membuka kantong plastik putih yang ia bawa.
Memang betul, Pa.
Andai saja kalian bisa melihat Luccane, semuanya pasti akan memiliki cerita yang lain.
Vishabea tersenyum masam. "mana mungkinlah, Pa! lagian 'kan Papa mukanya lebih seram dari pada hantu."
Mendengar anak mereka yang sudah bisa diajak bercanda, Mama dan Papa tertawa renyah.
Itu merupakan tanda baik bagi perkembangan kesehatan mental Vishabea anak mereka.
Selain membutuhkan makanan yang sarat akan gizi dan nutrisi, dokter juga mengatakan bahwa Vishabea juga memerlukan sentuhan psikologis untuk memperbaiki psikis gadis itu setelah mengalami pengalaman traumatis seperti itu.
"Ngomong-ngomong kamu kenapa bisa sampai terluka seperti itu sih, nak? Pelipis kamu pecah, perut kamu tertusuk pisau, itu mana mungkin terjadi karena masalah sepele 'kan?" tanya Mama yang kini membuat Vishabea keringat dingin bingung harus mengarang alasan logis seperti apa.