
Hujan deras perlahan berganti menjadi gerimis tatkala mobil Mang Ujang berhenti di pekarangan rumahku, namun suhu udara tetap saja rendah membuatku mengeratkan jalinan pakaianku saat hendak turun dari mobil.
Mang Ujang dengan sigap menurunkan tasku yang cukup besar dan berat dari bagasi, mengangkatnya sampai ke depan pintu rumahku.
Sementara Bibi tetap duduk diam menunggu di dalam mobil.
Menggunakan telapak tangan, aku menghalau air hujan yang menetes ke wajahku agar tidak masuk ke dalam mataku. Cepat-cepat aku menyusul langkah Mang Ujang yang sudah berdiri di depan pintu rumahku.
Setelah aku mengucapkan terima kasih kepada Mang Ujang dan Bibi, mereka lantas pamit undur diri untuk segera pulang.
Aku mengambil kunci rumah dari dalam saku, membuka pintu rumah dengan gerakan terburu mengingat dinginnya suhu udara di luar rumah semakin mencekik diriku.
"Selamat datang di rumah!"
Belum ada dua langkah aku masuk ke dalam rumah, aku sudah di sambut dengan senyuman penuh nan hangat dari Luccane yang sedang berdiri di ruang tamu menyambut kepulanganku.
Kali ini penampilan Luccane cukup berbeda dari biasanya, ia mengenakan pakaian djas toetoep serba putih khas era kolonial Belanda yang membuatnya terlihat semakin tampan.
Aku juga baru tahu kalau selain bisa berubah wujud menjadi yang mereka inginkan hantu juga bisa berganti pakaian seperti itu. Ajaib.
"Dalam rangka apa kau memakai pakaian seperti itu? Tidak biasanya," ucapku sedikit curiga sambil membawa tas masuk ke dalam rumah.
"Tidak dalam rangka apa pun, aku hanya sedang ingin tampil beda," balas Luccane sambil melepas topi putihnya.
Usai menaruh tas di kamar, aku lantas duduk di sofa ruang tamu bersebelahan dengan Luccane.
Seperti ada sesuatu yang janggal, lagi-lagi aku tidak mempercayai Luccane sepenuhnya seperti beberapa hari belakangan.
"Aku akui kalau kau hari ini nampak jauh lebih tampan, Luccane," kataku memberikan pujian dengan seulas senyum.
Aku menelisik dengan teliti penampilan Luccane hari ini, bahkan aroma tubuh Luccane yang terasa lembut pun kini terasa lebih mencolok meningkatkan rasa curiga yang sudah bergejolak dalam benakku.
Aku jadi semakin yakin kalau Luccane memang menyembunyikan sesuatu dariku.
Tapi hal apa yang ia sembunyikan dariku sampai sejauh ini?
Hatiku tidak tenang meski aku dapat tersenyum dan bercanda dengan Luccane saat ini.
Otakku terus berpikir, apa yang dia lakukan dibelakangku selama aku tidak pulang ke rumah ini?
Apa semua kecurigaan dalam hatiku ini ada sangkut pautnya dengan Jolanda?
"Akhirnya kamu mau mengakui ketampananku setelah sekian lama," balas Luccane percaya diri sambil membetulkan kancing bajunya.
Kali ini dia semakin nampak seperti orang Belanda dengan pakaian serba putih itu. Selain tampan, Luccane juga terlihat lebih berwibawa dengan setelan djas toetoep ini.
"Luccane, apa kau tadi pergi ke jalan Asia-Afrika dengan pakaian hitam yang biasa kau pakai?" tanyaku setelah teringat dengan kejadian janggal di perjalanan pulang tadi.
Aku yakin itu Luccane yang sengaja ingin memperkenalkan dirinya kepada Mang Ujang dan Bibi karena setahuku aku tidak mengenal hantu Belanda lain yang suka menggunakan pakaian hitam selain Luccane.
Sialnya aku tidak melihat sosok itu disaat Mang Ujang dan Bibi yang tidak memiliki kepekaan khusus sepertiku melihatnya dengan sangat jelas.
"Jalan Asia-Afrika? Untuk apa aku pergi ke tempat ramai seperti itu? Bukankah kamu tahu kalau aku malas muncul di tempat ramai?"
Jawaban dari Luccane kontan membuatku menelan ludah. Lalu siapa yang menampakkan diri di depan Mang Ujang dan Bibi tadi?
...****************...
Luccane juga tidak muncul sejak tadi, ia hanya datang saat aku baru tiba di rumah tadi sore.
Aku berselimutkan keheningan malam, memandang ke luar jendela yang gordennya sengaja tak aku tutup, menikmati keindahan pemandangan malam yang tersaji.
Di atas beberapa pohon tak jauh dari rumahku, nampak koloni kuntilanak yang sedang tertawa-tawa entah mentertawakan apa tapi sepertinya sangat seru.
Bagiku yang memiliki kelebihan yang satu ini, melihat hal yang seperti itu sudah sama halnya seperti melihat ibu-ibu tetangga yang sedang bergosip di warung.
"Mevrouw?"
Aku yang sedang fokus menikmati pemandangan malam dikagetkan dengan suara seorang anak laki-laki yang memanggilku dengan sapaan Belanda.
Suara itu berasal dari luar kamarku, membuat aku langsung melemparkan pandangan ke arah pintu kamarku yang tertutup.
"Siapa kau?" tanyaku sambil terus memandang pintu kamarku yang masih tertutup.
"Bolehkah aku masuk, Mevrouw Vishabea?"
"Masuklah," sahutku tanpa pikir panjang.
Detik berikutnya aku dikagetkan dengan kehadiran seseorang anak laki-laki Belanda dengan tubuh gembul. Leher anak itu nampak terluka, mengeluarkan darah segar yang mengenai kemeja putih yang dikenakannya.
Jika saja lehernya tidak terluka parah seperti itu, anak laki-laki itu terlihat sangat menggemaskan dengan sepasang pipi tembam miliknya.
Suaranya pun terdengar menggemaskan dan ramah, membuat jiwaku yang menyukai anak-anak mulai bergejolak.
"Kau siapa? Kenapa kau bisa tahu kalau aku bisa melihat dan berkomunikasi denganmu?" aku bertanya bingung kepada anak itu, memandangnya penasaran.
"Namaku Jansen, semasa hidup aku juga tinggal di sekitar sini bersama orang tuaku," jawabnya masih dengan posisi berdiri di depan pintu kamarku.
"Ada perlu apa sampai kau datang kemari? Aku bahkan belum pernah melihatmu selama tinggal di rumah ini."
"Aku memang tidak begitu sering kemari tetapi aku ingin memberi tahu sesuatu yang sangat penting kepada Mevrouw, tapi bisakah ini menjadi rahasia kita berdua saja?" anak itu berkata dengan pelan sambil berjalan mendekatiku.
Aku duduk menghadap anak laki-laki itu, menatapnya lurus mencoba membaca air mukanya.
Dia nampak jujur, ingin berkata serius menyampaikan sesuatu yang sepertinya memang sangat penting.
"Rahasia? Memangnya soal apa? Kenapa kau sepertinya serius sekali?"
"Tentu saja aku harus serius! Ini menyangkut kehidupan Mevrouw mana bisa aku bercanda," mata bulat Jansen nampak semakin bulat, berusaha meyakinkan aku untuk mendengarkan perkataannya.
"Kalau begitu cepat katakan, kau membuatku jadi penasaran," pintaku.
"Rahasia ini menyangkut Mevrouw Vishabea, Jonge Meester Luccane dan juga Jolanda. Aku rasa Mevrouw memang harus tahu lebih awal. Tapi berjanjilah kepadaku untuk tidak memberitahu kepada siapa pun," bisik Jansen, matanya mengerling waspada melihat situasi sekitar untuk memastikan bahwa kami benar-benar hanya berdua saja saat ini.
Aku tercenung, memandang anak itu tak percaya sekaligus bingung setelah mendengar ucapannya.
Bagaimana bisa anak ini tahu mengenai hal sepenting itu sementara aku tidak tahu?
Aneh sekali.
"Baiklah, aku janji. jadi kau bisa mengatakan rahasia seperti apa yang kau maksud, Jansen."