Luccane

Luccane
Bab 34 : Kembali ke Rutinitas



Usai menyelesaikan sarapanku dengan enggan, aku beranjak menuju kampus dengan mengendarai sepeda motor seperti biasanya.


Karena kelas yang aku hadiri hari ini tak terlalu pagi, makan jalan yang harus aku tempuh pun tidak begitu ramai sehingga aku bisa memacu kecepatan sepeda motorku dengan sedikit lebih cepat.


Setelah aku pulang dari rumah sakit, untuk berjaga-jaga, dokter telah meresepkan obat khusus yang harus aku minum satu hari dua kali selama masa pemulihan agar lukaku benar-benar sembuh dengan sempurna.


Tak lama setelah berkendara dengan sepeda motorku, aku akhirnya berhasil tiba dengan selamat di pelataran parkir kampus.


Aku sengaja memarkirkan motorku di lahan parkir depan Fakultas Teknik, lebih dekat menuju kelasku hari ini.


Kedua tungkaiku beringsut masuk ke dalam area kampus, cukup gugup setelah sekian lama tidak menginjakkan kaki di sini.


Menyadari eksistensiku di kampus, teman-teman yang sudah tiba di kelas menyambut kedatanganku dengan berbagai macam kehebohan.


Ada yang memelukku dengan erat, mengusap kepalaku atau sekedar mengucapkan selamat sambil menjabat tanganku.


Dapat kulihat bahwa mereka semua melakukan ini dengan sangat tulus, cukup membuatku merasa sedikit terharu.


Baru kali ini aku merasakan pertemanan yang setulus ini seumur hidupku.


Aku sudah sangat merindukan lingkungan sosial ini, lingkungan yang membuatku bersikukuh untuk tetap tinggal di sini meski aku tak tahu apa lagi yang akan terjadi kepadaku kedepannya.


Tetapi dalam hati aku selalu berharap, kehidupanku setelah ini akan menjadi lebih baik.


"Gimana bekas operasinya? Udah nggak apa-apa?" tanya Dimas setelah aku mendudukkan tas di atas mejaku.


"Udah baikan kok. Gue cuma perlu kontrol seminggu sekali selama sebulan ini," sahutku dibubuhi segurat senyuman.


Dimas mengangguk takzim, mempersilakan aku duduk di sebelahnya sementara teman-teman yang lain masih masih sibuk mengerumuni aku.


Aku senang memiliki teman-teman yang kompak dan sangat perhatian seperti mereka.


Meski aku tidak memiliki banyak teman seperti anak jurusan lain, aku tetap bersyukur mereka sangat baik dan kompak seperti ini.


Selama aku dirawat di rumah sakit pun, mereka datang silih berganti untuk menjengukku dengan berbagai macam buah tangan.


"Gue lega akhirnya lo bisa kembali masuk kuliah, Visha. Akhirnya gue punya teman ghibah yang mantap lagi," Carly yang baru datang menimbrung, ikut duduk di sebelah Dimas dengan seulas senyum.


"Selamat pagi teman-teman, mari kita mulai kelas hari. Apa Vishabea sudah masuk hari ini?" suara Pak Bian menginterupsi, membuat teman-temanku lantas membubarkan diri dan kembali duduk ke tempat mereka masing-masing.


Kelas yang dibawakan oleh Pak Bian lantas dimulai, meski kini konsentrasi otakku sedang kacau balau.


Mataku memang tertuju ke depan kelas, namun sel kelabu otakku terus saja memikirkannya Luccane tanpa diperintah.


Luccane, kau ada dimana? Terlalu banyak tanda tanya dalam benakku yang harus kita selesaikan segera.


...****************...


Langit yang masih berwarna biru nan cerah kini pun tak bisa membuat hatiku merasa cerah.


Sejak tadi aku termenung di serambi rumah bertemankan segelas cokelat hangat yang aku buat sendiri.


Semilir angin berhembus lembut menyapa helaian rambut dan kulitku, namun tak juga mampu membuat perasaanku menjadi tenang.


Walau Luccane bukanlah seorang manusia, aku tetap saja merasa risau takut kalau terjadi sesuatu kepadanya tanpa sepengetahuan aku.


Jansen, Meneer Kerkoof bahkan sampai hantu-hantu lain yang aku temui pun mengatakan kalau mereka tidak mengetahui dimana keberadaan Luccane selama beberapa hari belakangan.


Mereka malah berpikir bahwa Luccane menghilang karena sedang berada di rumahku membuat aku semakin bingung lagi.


Sebenarnya pergi kemana lelaki itu? Kenapa ia tidak memberitahu siapa pun?


Dengan perasaan tak menentu, aku menyeruput cokelat hangat yang masih sedikit mengepulkan asap tipis transparan itu.


Hari ini aku sedang libur kuliah, tetapi sudah mengatur janji temu dengan Carly untuk pergi berbelanja di pusat grosir.


Entah dalam rangka apa, gadis itu tiba-tiba berjanji akan mentraktirku makan mie ayam di dekat pusat grosir sehabis belanja.


Tepat setelah aku menyelesaikan tegukan terakhir, Carly tiba dengan sepeda motornya di pekarangan rumahku. Seperti biasanya, senyuman ramah serta hangat menghiasi wajah gadis itu.


"Lo udah siap?" tanya Carly masih enggan turun dari motornya.


"Udah kok. Tunggu bentar ya, gue mau ambil helm dulu," jawabku sambil berjalan masuk ke dalam rumah untuk mengambil helm.


Carly dengan setia menunggu di atas motornya, mengedarkan pandangannya ke segala penjuru rumahku. Pandangan sang gadis nampak sangat serius, membuat aku sedikit bertanya-tanya dalam hati perihal apa yang sedang ia pikirkan.


"Yuk jalan!" ajakku sambil mengancingkan helm.


Carly mengangguk, mempersilakan aku naik ke atas motor maticnya. Setelah merasa aku duduk di posisi yang sudah aman dan nyaman, Carly melajukan motornya menuju pusat grosir tujuan kami di pusat kota Bandung.


"Sha, kok gue ngerasa ada yang aneh gitu ya sama rumah lo?" tanya Carly tiba-tiba setelah motornya yang membawa kami sudah keluar dari kompleks perumahan tempatku tinggal.


"Aneh gimana maksud lo?" aku balik bertanya, agak bingung dengan maksud dari pertanyaan Carly barusan.


"Gue kok ngerasa rumah lo auranya gelap banget, udah gitu berasa agak panas," papar Carly saat motornya berhenti di sebuah persimpangan lampu lalu lintas.


Rupanya Carly juga cukup sensitif, sungguh diluar dugaanku. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa merasakan hal-hal seperti itu.


"Mungkin karena itu rumah udah ada dari zaman Belanda, Car. Makanya auranya jadi begitu," jawabku sekenanya enggan memusingkan hal seperti itu.


"Gue juga ngerasa di rumah itu ada banyak aktifitas lain selain dari aktifitas lo yang tinggal disitu," Carly kembali berujar, kali ini sedikit lebih keras karena adanya angin yang cukup meredam suara gadis itu.


"Gue paham kok apa yang lo maksud, tapi gue ngerasa nggak apa-apa," ucapku yakin, berusaha membuat Carly tidak khawatir.


Belum sempat kami tiba di pusat grosir tujuan, azan maghrib sudah berkumandang lantang dari sebuah masjid besar.


Aku dan Carly sepakat untuk berhenti sejenak guna mengikuti sholat maghrib berjamaah di masjid itu. Setelah memarkirkan motor di pelataran masjid, kami lantas masuk ke dalam tempat wudhu wanita untuk mensucikan diri dari hadas kecil.


Setelah berwudhu, kami masuk ke dalam masjid untuk memulai sesi ibadah sholat maghrib berjamaah.


Lantunan ayat suci Al-Qur'an sudah mulai terdengar, membuatku lantas memfokuskan diri untuk beribadah, melangitkan doa-doa yang ada dalam benakku.


Usai menyelesaikan sesi ibadah sholat, aku dan Carly lantas bergegas keluar dari masjid untuk melanjutkan perjalanan kami menuju pusat grosir.


"Neng, bisa ngobrol sebentar?" panggil seorang pria paruh baya kepadaku, membuat aku dan Carly kontan saling bertukar pandangan bingung.