Luccane

Luccane
Bab 33 : Kesaksian Jansen



"Baiklah, aku janji. jadi kau bisa mengatakan rahasia seperti apa yang kau maksud, Jansen."


Aku berujar demikian dengan mantap sambil menatap Jansen lamat, menunggu rahasia apa yang akan dia ungkapkan kepadaku.


Cuaca yang tadinya bersahabat tiba-tiba berubah drastis, angin bertiup kencang membuat dahan dari pohon-pohon besar di sekitar rumahku terayun dengan keras beriringan dengan hujan deras yang turun tanpa aba-aba.


Listrik pun ikut padam secara tiba-tiba, beruntung aku masih menyimpan lentera merah dari Luccane dan buru-buru menyalakannya sebagai sumber penerangan sementara.


Tapi entah sejak kapan lentera merah itu sudah duduk dengan manis di atas nakas lengkap dengan sekotak korek api kayu, seolah tahu bahwa aku akan segera menggunakannya.


"Apa Mevrouw Vishabea tahu apa penyebab Jolanda kini lenyap tanpa sedikit pun jejak?" tanya Jansen dengan suaranya yang menggemaskan namun terkesan dipaksakan untuk menjadi tegas.


Dahiku mengernyit, sedikit merasa sebal dengan pertanyaan yang diajukan oleh Jansen.


"Aku tidak mau tahu karena itu bukan urusanku. Lagi pula bukankah kamu juga tahu kalau aku hampir mati karena ulah Jolanda yang sangat jahat itu?"


Meski penasaran, aku memang sama sekali tidak pernah mau menanyakan lebih lanjut mengenai Jolanda kepada Luccane. Sebab, selain menganggap hantu perempuan muda itu sebagai saingan cintaku aku juga ingin hubungan aku dan Luccane kembali menjadi tenang seperti semula.


Lagi pula, Luccane selalu mengalihkan topik saat aku mulai menyebut-nyebut nama Jolanda ke dalam perbincangan kami.


"Memang. Aku yang tidak melihat langsung kejadiannya pun tahu akan hal itu, tapi apa Mevrouw sama sekali tidak merasa penasaran? Bagaimana bisa dia lenyap begitu saja?"


"Sejujurnya aku sedikit penasaran, memangnya apa yang terjadi kepada hantu perempuan angkuh itu?" tanyaku dengan sedikit ragu sekaligus penasaran.


Jansen menatapku lurus. "mungkin tidak dapat dipercaya namun sebenarnya semua ini ada sangkut pautnya dengan Jonge Meester Luccane karena dialah sosok yang melenyapkan Jolanda."


Aku tersentak kaget mendengar penuturan Jansen. Naluriku secara cepat menolak untuk mempercayai apa yang dikatakan oleh Jansen barusan, memangnya bagaimana bisa Luccane melenyapkan Jolanda sebagai sesama makhluk astral? Bukankah itu hal yang sangat mustahil?


Makhluk seperti mereka tidak akan serta merta menghilang atau kembali ke tempat yang seharusnya sebelum apa yang menjadi urusan mereka di dunia selesai.


Jadi bagaimana mungkin lenyapnya Jolanda ada sangkut pautnya dengan Luccane?


Bukankah itu terlalu aneh dan tidak masuk akal?


"Apa katamu, Jansen?! Itu tidak mungkin! Bagaimana bisa kalian yang sesama hantu bisa saling melenyapkan?!" jeritku enggan mempercayai entitas anak laki-laki itu.


"Mungkin Mevrouw Vishabea selama ini tidak pernah tahu bahwa Jonge Meester Luccane adalah satu dari sekian persen dari bangsa kami yang bisa menggunakan sihir hitam tingkat tinggi yang kesaktiannya sangat luar biasa bahkan bisa untuk melenyapkan lima puluh sesama hantu sekaligus dalam satu kali ritual," beber Jansen dengan pandangan serius.


Jansen memusatkan perhatiannya kepadaku.


"Jadi akan sangat mudah bagi Jonge Meester Luccane untuk melenyapkan satu orang seperti Jolanda, terlebih setelah perempuan itu melukai Mevrouw Vishabea dengan sangat fatal. Mungkin Mevrouw pernah mendengar istilah bahwa setitik dendam dapat menyebabkan pertumpahan darah? Dendam kesumat yang sudah terlalu lama terpendam itu menjadi motivasi kuat untuknya melenyapkan Jolanda."


Lagi-lagi aku tidak dapat mempercayai ucapan Jansen sama sekali meski apa yang dikatakan olehnya terdengar sangat logis.


Entah mengapa apa yang dikatakan oleh anak laki-laki itu hanya terdengar seperti guyonan tanpa makna penting bagiku.


"Memangnya kalau Jolanda hilang, apa hubungannya denganku? Bukannya itu bagus untuk hubunganku dan Luccane?" tanyaku tak mau peduli.


Aku sungguh membenci hantu perempuan itu dengan segenap hatiku. Walau aku penasaran bagaimana nasibnya kini tapi aku sungguh tidak peduli, toh dia juga hampir membuatku mati hanya karena Luccane yang memilih untuk mencintai aku dari pada dirinya.


"Karena penggunaan sihir hitam tingkat tinggi yang sangat berbahaya itu, Jonge Meester Luccane bisa saja kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan bisa membahayakan Mevrouw. Setiap penggunaan sihir hitam tentu saja akan menimbulkan dampak negatif," balas Jansen dengan air muka khawatir yang kentara.


"Sulit bagiku untuk mempercayai semua yang kau katakan sekarang, Jansen. Tapi aku akan tetap menepati janjiku untuk menjaga rahasia ini."


...****************...


Malam telah berganti kembali menjadi hari, namun mataku sama sekali belum tertidur barang satu detik. Rasanya aku sama sekali tidak mengantuk selama semalaman suntuk.


Aku terus kepikiran dengan pembicaraanku dan Jansen semalam mengenai Luccane dan sihir hitam yang sepertinya sangat mengerikan itu.


Selama ini aku hanya pernah mendengar sedikit kalau dukun yang bisa menggunakan sihir hitam pun jumlahnya tidaklah banyak. Tapi bagaimana mungkin Luccane yang bukan seorang manusia bisa menggunakan sihir hitam itu?


Terlalu banyak tanda tanya besar yang kini memenuhi kepalaku hingga akhirnya aku hanya bisa menghela napas panjang.


Di rumah ini, tidak ada entitas yang berani menampakkan diri di depanku lagi karena teguran keras dari Luccane. Padahal, mereka bisa saja menjadi sumber informasi yang relevan untukku.


Apa iya mereka semua takut kepada Luccane karena keahliannya dalam menggunakan sihir hitam itu?


Meski pandanganku kini tertuju pada roti bakar dan segelas susu cokelat hangat yang tersaji di atas meja makanku sebagai sarapan, namu otakku terus berpikir keras berusaha untuk kembali berpikir rasional selayaknya manusia.


Ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang?


Apa aku harus menuruti saran dari Andri sekarang? Tapi... Kenapa hatiku menjadi sangat tidak tenang seperti ini?


Tanganku terulur meraih roti yang seolah sudah memanggilku sejak tadi untuk memakannya.


Selai strawberry yang melapisi roti itu menimbulkan sensasi manis dan asam bersamaan dalam mulutku, namun itu terasa jauh lebih baik ketimbang sarapan roti tawar atau oat tanpa rasa selama di rumah sakit kemarin.


Aku kembali mendengarkan lagu tradisional Belanda yang sengaja aku putar dengan gramophone dan piringan hitam sebagai teman sarapanku pagi ini.


Setiap ketukan dalam melodinya kembali mengingatkan aku kepada Luccane, ciptaan Tuhan dari dimensi seberang yang sialnya sangat aku cintai.


Aku sama sekali tak dapat mengendalikan perasaanku jika itu berhubungan langsung dengan Luccane. Rasanya seperti ada dorongan besar dari dalam dadaku untuk terus mencintai pemuda hantu itu dengan sepenuh hati.


Cinta yang membutakan sekaligus memabukkan dalam satu waktu itu membuatku gundah.


Namun lagi-lagi hatiku tak mampu menyingkirkan bayang-bayang Luccane begitu saja semudah aku mengembuskan napas.


"Luccane, kau dimana? Bukankah kita harus bicara sekarang juga?"