
"Hah? Apa-apaan semua yang tertulis di buku ini?!"
Aku tak dapat menyembunyikan rasa terkejut yang mendera diriku setelah melihat isi dari beberapa lembar buku itu.
Di dalam buku itu tertulis dengan lengkap nama orang-orang Belanda yang memiliki pengaruh besar, mulai dari tokoh pemerintah, petinggi militer pada masa itu hingga pebisnis sukses.
Buku itu juga menuliskan bahwa seorang Vin sedikitnya telah menghabisi nyawa dua puluh orang dengan tangannya sendiri atas dasar yang begitu abu-abu membuat aku mengernyitkan dahi tak habis pikir kenapa dia sampai melakukan itu.
Aku bergidik ngeri, sumpah, pemuda itu memang seorang pembunuh berantai dan aku harus melakukan sesuatu setelah ini.
Aku sungguh tidak menyangka bahwa keluarga yang aku pikir sempurna dan penuh kasih itu malah memiliki sisi kelam yang amat mengerikan seperti ini, pantas saja Papa dan Mama Luccane membuat pengakuan bahwa Vin sudah mati saat masih kecil karena anak itu memang sangat berbahaya.
Kedua kakiku bangkit dari duduk, membawa serta buku tebal itu dengan tanganku. Aku kemudian melangkah keluar dari kamar itu hendak menuju kamar agar dapat membaca buku itu sampai selesai dengan lebih nyaman di kamarku.
Pikiranku seketika kusut, karena harus berhadapan dengan misteri baru keluarga kaya raya ini.
"Apa ini sebabnya Luccane tidak mau menyebutkan nama keluarganya?" gumamku sambil memutar kunci kamar Vin agar kembali terkunci.
Mungkin saja, keluarga ini memang benar-benar tercatat dalam sejarah penting seperti yang pernah Luccane katakan sejak awal pertemuan kami kala itu.
Ah, secepatnya aku harus bergerak cepat untuk mencari tahu lebih banyak.
Aku beringsut ke kamar, menaruh buku milik Vin ke atas meja. Belum saja aku mulai membaca kembali buku itu perutku tiba-tiba terasa keroncongan mulai berisik minta diisi.
"Sial. Disaat aku serius begini perutku malah lapar," aku mendecak sebal, keluar dari kamar berbalik menuju dapur untuk mengisi kembali perutku.
Meneer Willem, apa yang sebenarnya Anda sembunyikan dengan sangat rapi seperti ini?
...****************...
"Neng Visha mau makan apa? Biar Bibi buatkan kalau malam ini mau menginap," tawar Bibi ramah dan lembut seperti biasanya, menyambut kedatanganku ke rumah keluarga Mang Ujang.
Sudah lama sejak aku terakhir berkunjung kemari, dan lagi aku memang harus bertemu dengan sepasang suami istri Willem yang kerap berdiam diri di kamar tamu itu.
"Nggak usah repot-repot, Bi. Apa saja yang Bibi buatkan Visha akan makan kok," balasku santun, masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Bibi.
Rumah keluarga Mang Ujang juga sama dengan seperti rumahku, dihuni pula oleh para makhluk tak kasat mata yang mendiami beberapa titik di dalam rumah. Namun mereka tidak mengganggu, hanya memandangku dalam diam dengan wajah yang begitu pucat.
Namun ada yang sedikit berbeda, jika hampir seluruh makhluk astral penghuni rumahku merupakan hantu domestik berwajah lokal asli Indonesia seperti kuntilanak atau pocong, hampir semua hantu penghuni di rumah Mang Ujang itu berwajah Eropa atau serdadu Jepang yang masih memakai seragam militer hijau khas mereka.
Di sudut ruang tamu aku dapat melihat sosok hantu wanita Belanda berambut pirang dengan gaun pengantin putih yang hampir semua permukaannya terkena bercak darah, sepasang mata hantu itu juga tidak berada pada tempatnya membuat aku bergidik ngeri. Sepertinya ia mati dengan cara begitu mengenaskan dihari pernikahannya, malang sekali nasibnya.
"Andri sebentar lagi pulang, sambil nunggu mau makan dulu nggak?" tawar Bibi sekali lagi saat aku sudah mendudukkan tas ransel yang aku bawa di atas sofa.
Aku menggeleng pelan. "nanti aja makannya, Bi. Visha masih kenyang tadi baru habis makan dari rumah."
Bibi tersenyum, mengambil setangkai bunga sedap malam yang sudah layu dari vas kaca di atas meja ruang tamu persis di hadapanku.
"Kalau gitu mau bantu Bibi petik bunga di halaman belakang?" tanya Bibi kemudian, membuat aku langsung mengangguk setuju tanpa pikir panjang.
Sambil bercakap-cakap ringan, aku dan Bibi berjalan beriringan menuju halaman belakang rumah keluarga Mang Ujang. Selayaknya rumah tua lainnya, halaman depan dan belakang rumah ini terbilang luas. Karena Bibi adalah tipikal ibu rumah tangga yang rajin, jadilah kedua halaman besar itu terawat dengan ditumbuhi beraneka ragam bunga.
Aku tertawa kikuk menutupi kebodohanku, entah kemana pikiran ini rasanya kacau sekali setelah membaca buku milik Vin.
"Mungkin karena Visha lagi kangen sama Mama dan Papa," kilahku, kembali melanjutkan pekerjaanku seperti seharusnya.
"Kehidupan di rantauan memang berat, sayang. Sabar ya," balas Bibi lembut.
"Assalamualaikum," sebuah suara mengalun, membuat aku dan Bibi kompak menoleh ke sumber suara.
Itu Andri yang baru saja pulang dari kampus, namun kini dia sedang memandangku penuh selidik.
"Waalaikumsalam," jawabku dan Bibi berbarengan.
"Nah karena sekarang Andri sudah pulang ayo kita makan bareng-bareng," ajak Bibi setelah memasukkan semua bunga yang sudah ia petik ke dalam keranjang.
Aku dan Andri hanya saling melemparkan pandangan, lantas berjalan mengekor mengikuti Bibi yang lebih dulu berjalan.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Andri setengah berbisik.
...****************...
Seperti yang sudah aku dan Andri janjikan tadi siang, kini kami berdua sudah duduk berhadapan di paviliun belakang rumah keluarga Mang Ujang.
Rumah ini memang jauh lebih megah ketimbang rumah tempat aku tinggal meski dimiliki oleh pemilik awal yang sama yaitu keluarga Luccane.
Rumah tempat aku tinggal hanya memiliki satu bangunan utama, sementara rumah ini memiliki paviliun yang terletak di belakang rumah tak jauh dari halaman belakang.
"Ada apa? Nggak biasanya kamu datang sampai mau menginap begini," Andri buka suara sambil menuangkan teh tarik buatannya ke dalam gelasku.
"Kamu bisa bahasa Belanda 'kan?" tanyaku ragu-ragu, karena aku tak begitu ingat apakah Andri masih bisa berbahasa Belanda atau tidak.
Sepasang alis tebal milik Andri kini menukik, menatapku bingung.
"Memangnya kenapa? jangan balas pertanyaanku dengan pertanyaan dong."
"Aku menemukan sesuatu yang sangat menarik," jawabku sambil menyodorkan buku tebal tua nan usang milik Vin kepada Andri.
"Buku apaan ini, Sha? Ampun deh, judulnya saja sudah aneh bisa-bisanya kamu pungut," protes Andri tapi tetap membuka buku itu.
Sepasang obsidian karamel milik Andri menelisik setiap baris kata yang berjajar dengan rapi di dalam buku itu. Ia membaca dengan teliti setiap kalimat yang ada, mengingat tulisan tangan orang zaman dulu memang jauh berbeda dibandingkan dengan tulisan tangan masa kini.
"Buku itu aku temukan di kamar ujung lorong dekat dapur. Aku tidak bisa melakukan apa-apa kalau sendirian makanya aku kemari minta bantuan dari kamu," tuturku jujur setelah merasa Andri mulai memahami isi buku itu.
"Visha, buku ini isinya... Terlalu menyeramkan," Andri bergumam namun sepasang netra miliknya masih setia menelisik setiap kata yang tertulis dalam buku itu.
"Tentu saja karena buku itu ditulis oleh seorang pembunuh berantai yang tak pernah diduga-duga oleh siapa pun pada masa itu," balasku serius.
Andri kini menatapku lurus, aku dapat melihat dengan jelas guratan tanya di wajah tampannya.
"Pembunuh berantai yang tak terduga? Siapa?"