
"Pejamkan matamu sebentar, sudah lama kita tidak pergi ke taman bunga, bukan?"
Bak terhipnotis, aku lantas memejamkan mataku menikmati lembutnya sentuhan jemari Luccane di atas puncak kepalaku.
Aku sangat merindukan laki-laki itu hingga terasa sangat menyiksa diriku.
Sepersekian detik kemudian berlalu setelah Luccane menjentikkan jarinya, aku sudah merasakan atmosfer yang amat berbeda langsung membuka mataku.
Benar saja, kini aku dan Luccane sudah berada di taman bunga milik Luccane yang sebelumnya sudah pernah aku kunjungi.
Aroma semerbak wangi yang menguar dari berbagai jenis bunga di dalam taman itu membuat aku terkenang kembali masa-masa manis yang pernah aku lalui bersama Luccane.
Mulai dari pertemuan pertama kami yang cukup membuatku terganggu, kesabaran lelaki itu dalam mengajari aku mengerjakan berbagai tugas kuliah yang menumpuk, lembutnya sikap dan tutur kata Luccane kepadaku sampai ciuman pertama kami yang rasanya begitu sukar untuk dilupakan.
Semua kenangan itu terlalu berharga untukku, akan selalu aku simpan lekat-lekat di dalam memori dan sanubariku sampai akhir hayatku nanti.
"Saat aku tidak memiliki cukup energi untuk datang kepadamu, aku berada di sini sambil terus berharap agar bisa kembali bertemu denganmu," ucap Luccane seraya memberikan aku setangkai bunga mawar merah yang begitu cantik.
"Kau berada disini setiap hari?"
"Ya, setiap hari, Visha. Aku selalu merindukan kamu selama ini tapi tidak bisa melakukan apa-apa karena energi yang aku miliki sangat terbatas."
"Luccane, bolehkah aku menanyakan sesuatu?"
Aku menggamit pergelangan tangan Luccane, membawa pemuda itu untuk ikut duduk bersamaku di bawah pohon Wisteria.
"Aku akan menjawabnya dengan senang hati. Katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan," Luccane menyahut dengan lembut, menatapku penuh minat.
"Apa yang membuatmu jatuh cinta kepadaku, Luccane?"
Luccane tersenyum mendengar pertanyaanku yang sepertinya terdengar konyol bagi dirinya.
Tetapi Luccane tetaplah Luccane, dia selalu mau menjawab pertanyaanku meski kadang aku suka menanyakan hal yang tidak masuk akal.
"Cinta itu tersirat bukannya tersurat, jadi aku tidak bisa mengarahkan kepada siapa aku akan jatuh cinta. Mungkin jawabanku ini terdengar klise, tapi memang begitu adanya. Aku mencintai kamu bukan karena sebuah alasan yang pasti tetapi aku melakukannya dengan tulus dan sepenuh hati," jawab Luccane kemudian menangkup wajahku dengan kedua tangannya.
Sepasang obsidian biru itu menatapku lekat penuh peneguhan, berusaha meyakinkan diriku akan kekuatan cinta Luccane kepadaku yang tidak main-main. Pemuda itu sangat tulus mencintai aku, hanya saja perbedaan dimensi yang membuat kami tidak bisa bersatu.
Meski kisah kasih antara aku dan Luccane memang begitu rumit dan menyedihkan, namun aku tidak pernah menyesal telah mencintai lelaki yang sangat luar biasa itu.
Tidak tertinggal satu titik pun penyesalan dalam diriku meski aku harus menerima kenyataan pahit bahwa mencintai sosok hantu hanya akan menyakiti diriku sendiri.
"Seperti biasanya, kau selalu menjawab pertanyaanku dengan sangat memuaskan," cicitku dengan pandangan tertuju pada sepasang netra indah milik Luccane.
"Itu semua karena aku sangat mencintai kamu, Vishabea. Aku tidak memiliki alasan yang lain."
"Aku juga mencintaimu, Luccane. Aku mungkin bodoh karena mencintai sosok yang bahkan tak bisa aku kenalkan kepada orang tuaku, tapi aku sama sekali tidak menyesalinya."
Luccane perlahan memangkas jarak di antara kami, memiringkan sedikit kepalanya untuk menjangkau bibirku hingga akhirnya dapat menyatu dengan begitu lembut.
Dibawah naungan langit kelam bertaburan bintang dan bertemankan aroma wangi semerbak dari para bunga di dalam taman ini, aku dan Luccane bertukar kecupan manis saling menghantarkan perasaan cinta masing-masing sebaik mungkin.
Meski semesta tidak akan pernah memberikan restu untuk kami selamanya, aku tetap tidak dapat membohongi perasaanku yang begitu membara kepada Luccane.
Suara Luccane terdengar begitu rendah sekaligus lembut membelai indera pendengaranku, sukses membuat aku mabuk kepayang dan hanya mampu membalas ucapannya dengan anggukan.
Senyuman manis lagi menawan khas Luccane kemudian terpatri di wajah rupawan miliknya, semakin membuat aku enggan untuk berpisah darinya jika saja keadaan tidak memaksa.
"Apa tidak ada cara untuk kita agar bisa terus bersama selamanya, Luccane?"
"Aku tidak mau melakukannya, Vishabea."
"Artinya, kau tahu caranya?"
Luccane mengangguk. "ya, tapi aku mana mungkin bisa membunuh kamu dengan tanganku sendiri."
Aku menengadahkan kepala, melihat indahnya daun pohon Wisteria berwarna ungu yang menjuntai di atas kepalaku.
Pikiranku sekarang terasa sangat kusut, memikirkan nasib percintaanku yang terasa sangat malang dan menyedihkan.
Kenapa nasib percintaanku sangat tidak masuk akal dan berbeda dari orang normal seperti ini?
Aku sendiri pun tidak tahu kenapa harus mengalami semua ini.
"Lebih baik kamu pikirkan bagaimana caranya membuat Mama dan Papamu bangga. Ingat, kamu punya hutang janji dengan Papamu saat masih di rumah sakit," peringat Luccane sambil tersenyum masam, mengingatkan aku akan perjanjianku dengan Papa tempo hari.
Aku tertawa hambar. "iya aku tahu, nilai A di semua mata kuliah inti tidak bisa datang secara tiba-tiba di hasil evaluasi belajarku nanti."
Jika aku bisa meminta kepada Tuhan seperti apa jodoh yang aku inginkan, maka aku akan dengan lantang bahwa aku menginginkan Luccane menjadi jodohku.
Kau tahu apa alasannya? Karena banyak hal yang ada di dalam diri Luccane tidak pernah aku dapatkan dari laki-laki lain yang pernah aku kenal sepanjang hidupku.
Kasih sayang yang tulus, kesabaran, sikapnya yang lembut dan santun selalu menggiring rasa kagumku atas Luccane yang memang sangat luar biasa.
"Sebenarnya aku punya satu permintaan kepada Tuhan yang ingin sekali bisa aku wujudkan," Luccane berujar lembut sambil menggenggam kedua tanganku.
Aku memandang Luccane penuh tanya.
"Permintaan apa itu?"
"Aku ingin bisa selalu menjaga kamu sampai matahari berhenti terbit, Vishabea. Aku selalu berdoa kepada Tuhan walau aku tahu mungkin saja Tuhan sudah enggan mendengarkan doaku. Mungkin hanya itu satu-satunya hal terbaik yang bisa aku lakukan untukmu."
Aku menarik kedua sudut bibirku membentuk senyuman meski kedua pelupuk mataku mulai mengeluarkan air mata.
Sebuah tangis haru yang baru pertama kali ini aku rasakan karena sebuah perasaan yang disebut sebagai cinta.
Ya, cinta. Perasaan yang umum dirasakan bagi sepasang insan anak manusia namun tidak umum untuk dirasakan bagi seorang manusia dan sesosok hantu seperti aku dan Luccane kini.
"Aku yakin Tuhan selalu punya rencana yang jauh lebih indah dari pada keinginan kita, Luccane."
"Itu betul, Visha. Aku tahu, kita ini berbeda dari berbagai sudut dan itu tidak akan pernah bisa dirubah. Namun aku tetap berterima kasih kepada Tuhan karena telah mempertemukan kita berdua."
Kurasa, langit pun tahu sudah berapa banyak doa yang aku utarakan untuk kebaikan Luccane dan aku.
Tapi Tuhan, bolehkah aku sedikit egois untuk bertahan sejenak?