
"Itu bukan masalah besar. Kalau begitu ayo kita pergi berkencan dengan romantis, Vishabea kekasihku," ujar Luccane dengan seulas senyum menawan seraya menggamit tanganku.
Aku mengangguk, mengikuti langkah Luccane yang kemudian membuatku terbawa ke dimensi waktu yang lain. Luccane membawaku keluar dari rumah Mang Ujang, aku mendapati banyak sekali yang berubah dari dimensi waktu ini.
Bangunan-bangunan bergaya arsitektur khas Eropa di zaman kolonial Belanda menyapa netraku begitu indah nan elegan membuat aku serasa sedang berada di Eropa.
Bangunan yang berdiri di depan kami masih nampak jarang dan sangat tertata, masih banyak pohon dan rumput yang menyejukkan mata. Angin malam juga terasa jauh lebih sejuk namun menenangkan, terasa berbeda dengan yang biasa aku rasakan.
"Bandung nampak sangat berbeda, aku seperti sedang berada di Eropa," kataku takjub.
"Itulah mengapa pada masanya orang-orang menyebut kota ini sebagai Parijs Van Java. Sekarang kita sedang berada di jalan Braga, pusat dari segala hiburan di kota ini pada masa kejayaan Belanda," terang Luccane sambil membimbing langkahku untuk berjalan lebih jauh menikmati keindahan kota Bandung malam itu.
Ukuran jalan itu masih nampak sama dengan yang ada di masa depan, bangunan-bangunan megah berdiri dengan kokoh di sisi kiri dan kanan jalan.
"Dulu sebelum sebagus ini, jalan ini dikenal dengan nama Karrenweg dan digunakan sebagai jalan penghubung antara gedung kopi milik Meneer Andreas de Wilde dengan jalan raya pos," Luccane kembali menjelaskan sejarah tempat ini layaknya seorang guru sejarah membuat aku tersenyum.
Sudah lama aku tidak belajar bersama dengan Luccane seperti ini, apalagi langsung melihat tempatnya dalam tempo waktu yang berbeda.
Ini sangat ajaib, hanya Luccane satu-satunya hantu luar biasa yang dapat membawa aku melintasi paradoks waktu.
"Jalan raya pos? Sekarang sudah berganti nama menjadi jalan Asia-Afrika, bukan?" tanyaku antusias.
"Betul. Di jalan itu juga masih terdapat beberapa bangunan asli dari era kolonial yang masih berdiri kokoh. Waktu aku masih kecil, Papa sering mengajakku pergi melewati jalan itu dan bangunan-bangunan itu sudah ada," balas Luccane, kembali mengenang masa lalunya.
"Itu masa-masa yang cukup menyenangkan sebelum aku masuk sekolah," tambahnya dengan seulas senyum.
"Luccane?"
"Ya, sayang?"
"Apa kita bisa makan malam bersama seperti pasangan pada umumnya? Setidaknya untuk malam ini saja," kataku mencoba membujuk Luccane.
Luccane tersenyum sendu. "maafkan aku, tapi aku tidak bisa mengabulkan permintaan kamu yang satu ini, tapi aku bisa menggantinya dengan yang lain."
Jemari Luccane merogoh saku celana bahan panjang berwarna putih yang ia kenakan kemudian menyodorkan sebuah kotak beludru berwarna biru tua kepadaku.
"Apa ini?" tanyaku bingung.
"Buka saja. Kamu pasti akan menyukainya," titah Luccane dengan semburat merah padam yang menghiasi wajah rupawan miliknya.
Aku tanpa pikir panjang kemudian membuka kotak beludru itu dengan rasa penasaran.
Lagi-lagi, Luccane berhasil membuatku takjub dengan tingkahnya yang kerap kali tak terduga itu.
Sepasang netraku dibuat terpesona oleh sebuah kalung cantik berhiaskan berlian biru safir di dalam kotak pemberian dari Luccane.
"Ini adalah kalung pemberian Mama. Dulu, Mama memintaku memberikan kalung ini kepada wanita yang aku pilih sebagai istri nantinya. Tapi seperti yang kamu tahu, aku mati sebelum bisa menikah jadi aku memutuskan untuk memberikan ini padamu," Luccane menjelaskan dengan sungguh-sungguh, sepasang obsidian biru indah miliknya bersitatap denganku menghantarkan rasa sayangnya yang begitu besar.
"Aku tidak punya apa-apa yang lebih berharga untuk diberikan kepada kamu selain kalung ini," tambah Luccane.
Air mata seketika menggenang di pelupuk mataku, hati ini merasa terenyuh sekaligus sedih karena nasib kisah cinta kami yang tidak direstui oleh semesta namun tak banyak yang bisa aku dan Luccane lakukan meski kami begitu saling mencintai.
Tanpa bicara, Luccane hanya merengkuh tubuhku membawanya ke dalam dekapan eratnya.
Dengan lembut Luccane mengusap punggungku berusaha menenangkan diriku.
"Sudahlah. Ini semua bukan salah kita berdua, semuanya murni karena garis takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Setelah kepedihan ini, aku yakin kamu bisa hidup bahagia," bisik Luccane lembut seraya membelai helaian rambutku.
"Aku akan berusaha untuk hidup dengan lebih baik, Luccane."
"Bagus. Kalau begitu kemarikan kalungnya karena aku harus memakaikannya langsung," titah Luccane masih sama lembutnya.
Aku mengangguk, kemudian berbalik membelakangi Luccane. Perlahan, ia memasangkan kalung berlian cantik itu di leher jenjangku.
"Lihat, kalungnya terlihat semakin cantik setelah kamu memakainya. Sepertinya kalung itu memang tercipta untuk kamu," puji Luccane dengan seulas senyuman puas.
Berlian biru safir yang menghiasi kalung itu nampak sangat berkilauan tertimpa cahaya bulan purnama membuatku kian terkesima.
Aku yakin harga kalung itu bahkan bisa membiayai hidupku selama beberapa tahun ke depan mengingat mahalnya harga berlian biru safir langka yang menghiasi kalung itu.
"Kalung ini bukan kalung biasa, aku harap kamu bisa terus menjaganya," kata Luccane dengan air muka serius penuh harap.
"Iya. Terima kasih sudah memberikannya kepadaku," balasku dengan senyuman yang merekah.
Perasaanku kini terasa campur aduk, tetapi yang paling jelas aku merasakan bahwa hati ini tetap menggebu-gebu mencintai Luccane.
Dadaku berdegup kencang saat Luccane kembali meraih jemariku, menakutkannya dengan jemari panjang dan kokoh miliknya.
Dengan sisa tawa yang kami punya, aku dan Luccane kembali menyusuri jalan Braga malam ini bertemankan dengan sang purnama yang menerangi jalan kami.
Suasana sunyi namun romantis mengiringi setiap detik yang kami miliki untuk bersama malam ini, aku berusaha mengingat setiap detik yang berharga ini tanpa melewatkan satu momen pun.
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menyatakan perasaan ini, tetapi sungguh aku sangat mencintaimu, Vishabea Lazuardi," Luccane berujar dengan lembut, suaranya terdengar sedikit teredam oleh hembusan angin yang berlalu di antara kami.
"Huh, sudah kubilang aku juga mencintaimu," balasku pura-pura marah membuat Luccane menghentikan langkahnya lantas menoleh kepadaku.
"Kamu marah? Sini, kamu harus diberikan kecupan yang manis dulu kalau begitu!" Luccane berseru penuh semangat, menggodaku.
Aku terkekeh jahil. "kalau begitu, kau harus menangkap aku lebih dulu!"
"Kamu menantang aku? Oh, baiklah aku akan menangkap kamu dan memberikan kamu pelajaran!"
"Kalau begitu kejar aku sekarang juga, Luccane!"
Kakiku mulai mengambil langkah seribu, berlari menjauhi Luccane sambil terus melayangkan ejekan kepadanya agar cepat menangkapku.
Namun, sejauh apa pun aku melangkah perasaanku kepada Luccane tidak akan pernah berubah.
Aku bahkan yakin sampai kapan pun, di dalam relung hati ini selalu ada ruang untuk mencintai Luccane sampai akhir hidupku.
Ya, Luccane akan selalu ada di dalam hidupku meski diri ini tahu bahwa nanti aku tidak akan bisa melihat dirinya lagi cepat atau lambat.